
Senin pagi kegiatan di dapur cafe Murtini berjalan seperti hari biasa. Sibuk dan seru! Suara bising blender yang terus berputar. Loyang kue yang tak henti keluar masuk ke dalam oven serta kukusan yang terus terpanggang di atas kompor.
Para pekerja yang tidak seberapa banyak itu membuat berbagai jenis kue. Mencoba berbagai resep dan meningkatkan kualitas rasa dari kue yang telah mereka kuasai.
Mengingat hari ini ada begitu banyak orderan, Semua butuh tenaga extra dan suplai tambahan energi untuk stamina mereka.
Dari satu sisi meja. Rian terlihat tengah menyeruput kopi panasnya, sedangkan Aluna sedang membersihkan sisa sisa bubur kacang hijau dari dalam mangkok.
“Bikin lagi ah, kurang. Eyke begadang semalam, jam segini pas ngantuk ngantuk nya, kalau nggak di doping ni mata, bisa kelelep dalam adonan dong eyke,” ucap Rian. Ia kembali ke dispenser, merobek satu sachet kopi instan ke dalam gelas kemudian menuang air panas.
“Yan, 1 dong buat kakak,” teriak Raniya.
“Baik kak,” balas Rian. Ia langsung membuat 1 gelas lagi kopi untuk Raniya.
“Kamu mau juga Hon?” teriak Rian.
Honey menggelengkan kepala. “Biar Honey buat sendiri kalau mau kak,” balas Honey.
“Ya sudah,” Rian membawa segelas kopi ke samping Raniya.
“Thanks Yan,” ucap Raniya.
“Sami sami kak,” Rian kembali ke meja adonan.
Dapur terus sibuk hingga menjelang pukul sepuluh.
Tiba tiba seorang pria berjas hitam dan dua orang pengawal masuk ke dalam cafe. Mereka berniat untuk bertemu dengan bu Tini.
“Kami ingin bertemu dengan pemilik cafe ini yang bernama Murtini Suleyman.” ucap seorang pria.
__ADS_1
“Ya saya,” ucap bu Tini sedikit penasaran.
“Saya Sandri pengacara Travor Primary Corp. Datang ke sini dengan tujuan ingin bernegosiasi mengenai cafe yang anda tempati saat ini.”
“Client saya, Keanu Travor ingin membeli cafe ini. Dalam berkas ini sudah ada daftar harga yang sudah kami survei. Di lihat dari letak, luas tanah, dan fisik bangunan yang kami sudah perhitungkan sedetail mungkin. Bisa ibu lihat di sini detail harga nya,” ucap Sandri.
Sontak bu Tini kaget. “Apa apa an ini? Siapa yang ingin menjual bangunan ini? Siapa yang memberi harga? Dan darimana kalian tau informasi luas tanah dan bangunan ini? Aku tidak akan menjual tanah dan bangunan ini!” bentak bu Tini.
“Bu Murtini sebaiknya baca daftar harga, dan ketentuan jual beli nya dulu,” ucap Sandri sambil menyodorkan map berwarna putih.
“Nggak, aku nggak mau lihat. Aku nggak mau jual bangunan ini!” ucap bu Tini dengan suara nyaring.
Sementara itu, Aluna dan Rian sementara mengintip dari balik pintu yang terbuka kecil.
“Ibu, baca dulu surat itu. Atau?!” ucap seorang pengawal yang berdiri di belakang Sandri sambil mengajukan tangan nya di leher.
“Ya sudah, terpaksa ibu akan kami laporkan ke pihak kepolisian. Saya sekarang juga akan menggugat ibu, kemudian beberapa saat lagi polisi akan datang ke sini menangkap ibu!” ucap Sandri tegas seakan sedang menakut nakuti.
“Atas dasar apa? Saya tidak melakukan kesalahan!” teriak bu Tini semakin resah.
“Ibu sudah menyebabkan kerugian terhadap Client saya Keanu Travor.” ucap Sandri.
“Kapan?” suara bu besar, ia terus melawan.
“Ibu telah menyebabkan kerugian besar terhadap Keanu Travor. Saat dia ke sini ibu telah menyebabkan wawancara launching nya batal hingga peluncuran game dan perusahan menjadi rugi senilai 8 miliar rupiah. Sekarang beberapa iklan telah mencabut kontrak dengan perusahan game tersebut.”
“Kalian mengancam saya?” ucap bu Tini. Suaranya bergetar, terdengar sedikit melemah. Ia menjadi kurang percaya diri tidak seperti sebelumnya.
“Saya beri waktu tiga menit. Silahkan ibu putuskan sekarang,” ucap Sandri sambil mendekatkan map ke hadapan bu Tini. “Ibu tidak akan rugi apa pun jika ibu melihat ini. Harga beli kami tidak merugikan ibu.”
__ADS_1
Dengan berat hati bu Tini meraih map di hadapannya. Ia membaca dengan teliti selama lebih dari lima menit. Dengan segala perhitungan bu Tini tidak menemukan kerugian apapun dari pihaknya, mereka membeli sesuai pasaran. Bahkan karyawan nya saat ini akan menjadi karyawan yang bekerja di bawah naungan Travor Primary Corp.
“Beri saya waktu satu minggu, saya akan memikirkan tawaran kalian,” ucap bu Tini.
“Tidak bisa, ibu hanya punya waktu satu hari. Besok sore kami akan kembali ke sini dengan notaris, surat jual beli harus di tanda tangani besok,” jelas Sandri.
Bu Tini terdiam, ia termenung di balik meja kasir nya. Ia larut dalam pikiran nya sendiri.
Sementara itu dari balik pintu, Rian dan Aluna berlari menghampiri Marwah, Raniya, Rita dan Honey.
“Gaes, kumpul kumpul kumpul sini,” panggil Rian sambil berlari melambai ke arah mereka.
“Cafe kita mau di ambil alih gaes, kita akan jadi pengangguran. Owh tidak, ya alloh hamba belum punya tabungan,” ucap Rian panik..
“Apa apaan sih? Ngomong itu yang jelas.” ucap Marwah.
“Iya kak, itu di depan ada pengacara tiga orang,” lanjut Aluna.
Mendengar ucapan Aluna, mereka berempat tertegun.
Bagaimana nasib kami jika tempat ini di jual?
.
.
.
To be Continued ⬇️
__ADS_1