Resep Cinta Caramel

Resep Cinta Caramel
064-Aku Ingat


__ADS_3

Disebuah ruangan kamar bergaya khas kamar remaja laki laki, sebuah robot besar terpajang di atas sebuah rak di hampiri Honey. Di sekitar robot besar itu terdapat beberapa mainan mobil mobilan remote control.


Honey berjalan menuju sebuah meja belajar, buku buku bacaan sekolah tersusun rapih di sana. Honey menarik sebuah buku geografi yang tersusun di jejeran paling depan.


Di halaman pertama nama Keanu tertera di sana. Keanu Travor. Kelas III IPA 1.


Honey menghampiri sebuah rak dimana terpajang beberapa piala kejuaraan mata pelajaran matematika dan piala lomba basket antar sekolah. Ia mengamati satu oersatu piala yang berjejer di sana.


Sejak sekolah Dia sudah sangat berprestasi, wajar jika dia bisa seperti sekarang ini. Di usia mudanya Keanu sudah berhasil membesarkan perusahan keluarga nya.


Mata Honey kemudian tertuju ke sebuah foto yang terpajang di sela sela piala. Foto Keanu saat melakukan slam dunk dalam sebuah turnamen basket antar sekolah. Honey mengambil foto tersebut kemudian menatap lekat wajah Keanu.


Yang paling tampan di anatara teman teman nya, bukan kah aku beruntung. Aku memliliki suami setampan dia.


Kemudian sebuah foto lainnya menarik perhatian Honey. Foto Keanu dengan gaya rambut berponi pendek membuat wajahnya terlihat sangat lugu.


Tok tok tok.


“Masuk,” ucap honey dengan suara nyaring.


Lilian sudah berada di dalam ruangan kamar itu dengan beberapa potong pakaian miliknya.


“Ini baju baju ibu, baju baru, ibu belum pernah memakai nya,” ujar Lilian.


“Memakai baju bekas ibu, aku nggak apa kok bu,” ujar Honey masih memegang foto Keanu.


Lilian tersenyum lembut. Matanya tertuju pada bingkai foto di tangan Honey. “Ha, kamu pasti sedang terkesan dengan rambut Keanu di situ?” ucap Lilian menghampiri Honey.


“Iya, bu. Ia terlihat berbeda di foto ini,” ucap Honey.


“Itu saat Keanu berusia 10 tahun.”


Lilian kemudian mengambil sebuah bingkai foto yang sengaja di letak terbalik di atas rak.


“Lihat foto ini. Saat Kean berusia 14 tahun. Ada bekas jahitan di dekat alis nya. Kean kecelakaan sampai harus di rawat berminggu minggu di rumah sakit, itu sebelum dia berangkat ke Amrik,” ucap Lilian seraya menyerahkan foto tersebut ke tangan Honey.


Honey terus memperhatikan foto yang baru saja di tunjukkan Lilian. Foto yang menurut Honey sangat tidak asing dalam ingatannya. Dengan wajah sangat sedih dan luka pada dahi, membuat Honey terus menatap foto tersebut.


“Kenapa wajahnya sedih bu?” tanya Honey.


“Ceritanya panjang.” Lilian mulai teringat kenangan buruknya waktu itu.


“Kejadian naas itu terjadi di jalan Kartini. Beberapa lawan bisnis almarhum ayah Keanu, mencoba menyerang Keanu menggunakan preman di depan sebuah game center. Sebuah pisau hampir saja menusuk lehernya. Untung hanya terkena goresan di atas dahi itu dan beberapa luka pukulan di bagian badannya. Saat itu ia di tolong beberapa orang warga setempat.”


“Keanu ketahuan sering nongkrong dan bermain game di situ, dia ternyata sering bolos sekolah. Jadi ayahnya memutuskan membeli bangunan game tersebut kemudian menutup usaha itu. Keanu sangat marah, ia bahkan tidak makan dan minum beberapa hari karena hal itu. Entah kenapa ia sangat menyukai tempat itu,” ujar Lilian.


Honey tersenyum menatap selembar photo tersebut. Ingatan nya tentang Kean kembali samar dalam ingatannya, saat terjadi perkelahian di depan game Center tempat ayahnya bekerja. Honey bersembunyi di bawah sebuah meja. Ia melihat sendiri bagaimana ayahnya berkelahi melawan beberapa penjahat. Ayahnya lah yang menolong Kean saat itu.


Kak Kean. Caramel sudah mengingat kakak. Sejak kejadian itu, ayah menjadi pengangguran. Ia harus pindah kerja di tempat yang lebih jauh di pinggiran kota. Kami sekeluarga pindah ke rumah yang lebih kecil. Sejak saat itu, kita tidak pernah bertemu lagi.


“Caramel?” panggil Lilian.

__ADS_1


“Ya bu?”


“Kamu ingin tidur di sini atau di kamar tamu? Di sana lebih luas. Dan lebih dekat dengan kamar ibu,” ujar Lilian.


“Bisakah aku tidur di kamar ini?” tanya Honey.


“Bisa tentu saja bisa, sejak kepergian Kean ke luar negri, kamar ini menjadi kosong sejak saat itu. Dengan adanya kamu tidur di sini, suasana di sini pasti akan lebih hidup kembali,” ucap Lilian.


“Terima kasih bu,” ucap Honey ramah.


“Eh, Terimakasih lagi. Kamu apa apa kok ucapin terima kasih. Kamar ini hak kamu, kamar ini kamar suami kamu,” ujar Lilian.


“Ya sudah kamu istirahat, sudah larut. Besok, hari kita akan panjang. Ibu akan membawa kamu ke beberapa tempat,” ujar Lilian.


…o0o…


Di sebuah teras rumah, Rian terlihat sedang duduk rapih dengan kaki kanan di angkat menggantung di paha kiri. Sedangkan badan nya terlihat condong ke kanan menatap ke arah pintu. Dengan harap harap cemas ia menunggu sosok yang akan keluar dari dalam rumah itu.


Seorang pria berbadan tegap keluar dari dalam rumah, di ikuti Stefany di belakang pria itu.


“Malam om,” sapa Rian.


“Hmmm,” sebuah jawaban yang singkat dari pria di hadapannya.


“Saya ingin bicara dengan om. Ini me me me. Saya ingin meminta ijin.”


“Pergilah,” jawab pria itu.


“Ba baiklah pak. Ayo fany,” ajak Rian gugup.


Rian membawa pergi Stefany dari situ.


Selang beberapa meter dari teras rumah.


“Yan apa apa an sih tinggal bilang saja. Kenapa berbelit belit gitu?” ucap Stefany sambil terus di tarik Rian pergi dari situ.


“Aku takut fan, liat nih keringetan segede jagung. Tar kalo di hantam bokap kamu gimana?” ucap Rian sambil terus berjalan meninggalkan halaman rumah Fany.


“Balik yuk, langsung ngomong aja. Kan aku di situ. Tar kalo bokap marah kan kamu tinggal lari. Besok baru balik lagi,” ujar Fany.


“Lari? Kamu pikir anak kecil. Ngomong trus kabur,” ujar Rian.


“Ayolah Yan, mumpung kak Deny lagi di luar kota. Besok kak Deny pulang, kamu emang berani ngomong ada kak Deny?” Ujar Fany.


Fany dan Rian adalah teman semasa sekolah. Setiap kali ada tugas kelompok, Rian yang akan datang meminta ijin ke rumah Fany. Di mata kedua orang tua Fany, Rian adalah orang yang bisa mereka percaya. Namun berbeda dengan Deny. Dimata Deny, tak ada satu pun pria yang dipercayainya, adiknya Fany sangat di jaga nya dengan sangat baik. Jika ada yang berani macam macam dengan adik nya, tinjunya itu siap melayang menghantam si pengganggu adik nya.


“Siapa suruh kamu hidup di keluarga petinju, setelah bapak mu mantan seorang petinju nasional, kenapa kakak mu harus jadi petinju juga? Dari Sekian banyak olah raga kenapa harus milih tinju sih? Atlit catur kek, atlit lompat indah kek, atau sekalian balet,” ujar Rian.


“Ayolah Rian, kita sekarang mau kemana coba? Sekarang adalah waktu yang paling tepat,” ujar Fany.


“Hmm, perut kamu makin lama makin membesar,” ucap Rian agak kesal. “Ya sudah, aku coba lagi. Tapi janji, belai aku jika bokap kamu mengamuk,” ucap Rian kemudian berbalik arah kembali ke rumah Fany.

__ADS_1


“Iya, aku yang akan halangi bokap. Kamu tenang aja,” ucapan Fany sedikit membuat Rian lega.


Beberapa meter sebelum masuk ke teras rumah. Ayah Fany menatap Rian dan fany.


“Loh kenapa kembali?” ucap ayahnya dengan suara ngebas.


“Om, Rian ingin bicara dengan om,” ucap Rian mantap.


“Ya bicara lah.”


“Anu om, Rian ingin ijin meeeee. Maaf sebelumnya om, Rian ingin me nikahi Fany,” akhirnya kata kata itu keluar dari mulut Rian.


“Ha? Menikah? Kalian ingin menikah?” tanya ayah Fany masih dengan reaksi yang biasa saja.


“Iya om, Rian ingin tanggung jawab perbuatan Rian,” lanjut Rian.


“Tanggung jawab?” Wajah ayah Fany mulai keheranan serta penasaran.


“Maksudnya?”


“Pa, fany sekarang hamil,” ucap Fany blak blakan.


“Hamil kamu hamil? Maaa,” panggil ayah fany.


“Mama, sini ma,” panggilnya lagi.


Beberapa saat kemudian ibu fany sudah bergabung bersama mereka.


“Dengar ma, katanya mereka ingin menikah. Anak kita hamil. Papa salah dengar nggak ini?” ujar sang ayah.


“Hamil? Kamu hamil? Astagfirullah, Fany. Yang jelas kalau ngomong nak,” ucap ibu nya masih tak ingin percaya.


“Iya bu Fany hamil dua bulan sekarang,” jawab Fany.


Sang ayah sempoyongan duduk dikursi sambil memijit mijit pelipis kepepalnya. Sedangkan sang ibu mengambil bantal kursi kemudian mulai memukul mukul ke arah fany.


“Kamu hamil? Kamu ingin bikin malu keluarga? Aduh nak. Siapa pelakunya, anak bodoh nggak bisa jaga diri. Fany siapa yang memperkosa kamu?” ucap sang ibu histeris.


“Jangan pukul Fany lagi bu, pelaku nya Rian,” ucap Rian menengahi ibu dan anak itu.


“Kamu? Kamu memperkosa anak ku?”


Bantal kursi yang di pegang sang ibu mulai menghantam tubuh Rian. Ia pasrah tak ingin melawan. Seketika sebuah pukulan berat terasa menghantam tubuhnya beberapa kali. Rian terhuyung hingga tak sadarkan diri.


.


.


.


To be continue ⬇️

__ADS_1


__ADS_2