
...-----------------------------------...
********
Rindu sedang di dalam kelas dengan dosen ada di depan mereka, tiba-tiba Steven datang dengan hebohnya..
"Kak Rindu, kak Rindu, gawat."
Rindu memutar bola matanya malas melihat Steven yang heboh, beruntung hanya dia yang bisa melihat Steven.
"Ada apa sih Steven, jangan ganggu dulu, pergi. Nanti saja kalau mau ngomong."
"Hhmmmm baiklah, belajar yang benar Kak."
"Ciih tausah mengajari ku bocah, pergi kau."
Hahahahhaha
Steven menghilang dari hadapan Rindu, Rindu kembali memusatkan perhatiannya ke depan.
Akhirnya selesai juga mata kuliah kedua, Rindu dan Dewi keluar dari dalam kelas.
"Wi, habis ini mau ke mana?"
"Kayaknya langsung pulang deh Rin, ngantuk banget soalnya."
"Ia, aku juga kayaknya langsung balik deh, ngantuk parah aku tuh."
Keduanya melangkah hendak keluar dari kampus mereka, tiba-tiba Steven muncul di depan Rindu.
Plak...
"Jangan ngagetin bisa nggak sih, dasar bocil."
"Rindu, siapa yang kamu bilang bocil?"
"Biasalah, si Steven ngagetin aja tau. Nongol-nongol di depan kita, beruntung kamu nggak bisa lihat."
"Ada apa Steven?"
"Gawat Kak, sosok kepala yang tadi Kakak tendang kek bola, hahahaha, dia, dia marah Kak."
"Marah? Terus?"
"Ya, katanya dia mau balas dendam ke Kakak. Mungkin sekarang lagi menggelinding nyari Kakak, hahahah."
"Hahahaha, kok bisa sih?"
"Ya abis, dia tau kalau Kakak itu bisa melihat dia, makanya dia marah karena Kakak sengaja menendangnya."
"Ya udah lah, santai aja."
"Santai, santai gimana Kak. Steven aja ngeri sama sosok itu, sosoknya aja Kak yang tanpa tubuh hanya kepala doang. Tapi auranya, sungguh mengerikan."
Steven berucap dengan gaya dramatisnya.
"Wah, masa?"
"Ia benar Kak, Steven nggak mungkin bohong sama Kakak."
"Terus gimana dong?"
Dewi yang sejak tadi hanya mendengar, kini ikut nimbrung.
"Apanya yang gimana Rin?"
"Nanti aku ceritakan Wi, tapi ini gawat sebaiknya ayo kita kabur dari sini, ayo Wi."
Rindu menarik tangan Dewi dan berlari keluar kampus, keduanya langsung menahan taksi dan meninggalkan kampus.
"Husshh beruntung kita kabur, hahahahah."
"Rindu sayang, ada apa sih?"
"Tadi di kampus itu, waktu kita duduk di taman kamu ingat kan yang aku bilang kaki aku pegal?"
"Ia ingat, lalu?"
"Nah sebenarnya itu aku hanya pura-pura Wi, hahahah. Karena di dekat kaki aku ada sosok yang bentuknya hanya kepala saja, nggak ada tubuh lainnya."
"Heem, terus?"
"Awalnya dia itu ngomong nanya-nanya gitu, apa aku bisa liat dia, tapi aku pura-pura nggak liat aja. Soalnya malas ngurusinnya kan."
"Lalu?"
"Lalu saat aku hentak-hentakan kaki, itu mengenai kepala itu, hahahahah terus aku tendang kan. Jadilah dianya terlempar jauh hingga dekat pinggir kolam ikan hias itu Wi, hahahahha."
"Ya ampun Rindu, kasian tau anak orang digituin sama kamu. Lain kali kalau mau main nendang-nendang kek gitu, ajak-ajak ya Rin."
"Hahahahhaha, Dewi, Dewi, ada-ada saja kamu ini."
Hahahahhaha...
Kedua sahabat itu tertawa di dalam taksi, Steven yang duduk di depan bersama supir hanya menggelengkan kepalanya.
"Kak Rindu, Kak Rindu, iseng banget sih. Hahahahaha."
************
Akhirnya mereka sampai di rumah Rindu.
__ADS_1
"Wi, singgah yuk, sore aja baru balik."
"Baiklah, ayok."
Dewi akhirnya masuk mengikuti Rindu kedalam, mereka sampai di rumah ternyata sudah jam 3 sore.
"Sore Bi."
"Eh non Rindu sudah pulang?"
"Ia Bi, Siska di mana Bi?"
"Nak Siska sepertinya ada di dalam kamarnya Non."
"Baiklah, makasih ya Bi. Oya Bi, Rindu minta tolong siapin makanan untuk Rindu dan Dewi ya."
"Baik Non, akan bibi siapkan."
"Terimakasih Bi Ina."
"Sama-sama Non."
"Ayo Wi, ke kamar aku."
Rindu dan Dewi menaiki tangga ke lantai dua, mereka langsung menuju kamar Rindu.
"Lelah banget hari ini ya Wi, ngantuk."
"Ia Rin, aku juga. Eh, kamar Siska di mana?"
"Tuh di sebelah."
"Gue ke kamar Siska bentar ya Rin, kamu ganti deh."
"Ashiapp."
Dewi meninggalkan kamar Rindu dan melangkah ke kamar Siska.
Tok tok tok...
"Ia sebentar."
Siska membuka pintu kamarnya.
"Eh, Dewi. Kamu kesini sama Rindu?"
"Ia Sis, Rindu yang ngajakin. Kamu lagi ngapain?"
"Nggak ngapa-ngapain sih Wi, lagi baca novel aja."
"Oooohhh, ya udah aku ke kamar Rindu lagi ya."
Dewi kembali melangkah ke kamar Rindu.
"Rin aku masuk ya."
"Ia masuk Wi, Siska lagi ngapain Wi?"
"Katanya sih lagi baca novel aja."
"Ooohhh, makan yuk Wi."
Rindu mengajak Dewi untuk makan, sebelum turun ia mengetuk pintu kamar Siska.
"Sis, kamu lagi ngapain?"
"Nggak lagi ngapa-ngapain Rin, kenapa?"
"Turun yuk, makan."
"Tapi aku udah makan Rin."
"Oh, yaudah ayo temenin aku sama Dewi makan."
"Baiklah, ayo."
Ketiga gadis itu menuruni tangga dan menuju meja makan.
"Non, silahkan, bibi udah siapkan makanan di meja."
"Terimakasih ya Bi," ucap Rindu.
"Sama-sama Non."
"Nak Siska mau minum atau mau makan?"
"Nggak usah Bi, nanti Siska ambil sendiri kalau mau minum."
"Baiklah, bibi tinggal ke halaman belakang ya."
"Silahkan Bi."
"Ayo Wi, makan."
Dewi & Rindu duduk di meja makan dan mulai mengambil makanan ke dalam piring mereka masing-masing. Sedangkan Siska ia memilih untuk minum jus saja, ia melangkah ke dapur dan buat sendiri.
"Rin, mama sama papa kamu di mana?"
"Mama sedang di kantor Wi, kalau Papa udah nggak ada, Papa meninggal saat aku masih kecil."
"Oh maaf Rin, aku nggak bermaksud."
__ADS_1
"Santai aja Wi, nggak apa-apa kok, ayo dilanjutkan makannya."
Siska datang dari arah dapur dengan segelas jus jambu di tangannya, ia duduk di meja makan menemani Rindu dan Dewi yang sedang menyantap makanan mereka.
Ketiga gadis itu makan & minum sambil bercerita, Siska juga makin dekat dengan Dewi dan Rindu, mungkin karena usia mereka yang tidak jauh berbeda, sehingga mereka bertiga nampak kompak.
Setelah menyelesaikan makanan, mereka memilih ke luar dan duduk di halaman depan rumah dimana pohon besar itu tumbuh,.
"Om Besar, Steven woii lagi ngapain kalian berdua."
Rindu berteriak pada dua sosok yang sedang anteng-antengnya di atas sana.
"Siapa yang kamu panggil Om Besar itu Rin?" Dewi dan Siska bertanya.
"Biasa Wi, Sis, sosok yang ikut dan malah tinggal di sini, di pohon besar ini. Noh lagi anteng-antengnya dia di atas sana sama Steven."
Wuuuusshhhh..
Steven dan Om Besar sudah ada di hadapan mereka.
"Ada apa Rindu?"
"Ia Kak, ada apa?"
"Nggak sih, cuma sekedar menyapa."
"Ye, apaan sih Kak, udah kayak teman lama aja."
"Hahahaha."
Rindu malah tertawa mendengar perkataan Steven.
"Rindu, kamu ngomong sendiri, lah aku sama Siska bingung berdua," ucap Dewi
"Hahaha maaf, apa kalian mau melihat Om Besar dan Steven?"
"Emang Bisa Rin?" Siska dan Dewi kompak.
"Ehhmm, bisa nggak ya, sebentar aku tanyakan dulu."
Rindu malah mengelus cincin di jarinya.
Wuuuusshhhh...
"Ada apa Rindu?"
Sosok dari cincin Rindu berbicara pada Rindu, Steven dan Om Besar yang melihat sosok itu hanya bisa menganga.
"Rindu mau tanya, apa teman-teman Rindu bisa melihat Steven dan Om Besar?"
"Bisa Rindu."
"Bagaimana caranya?"
"Kau hanya perlu membuka mata batin mereka, setelah itu mereka akan bisa melihat makhluk seperti kami."
"Ooohh, tapi Rindu kan nggak bisa buka mata batin."
"Bis kok, kamu hanya perlu mengusap cincin itu ke kening kedua teman mu."
"Baiklah akan aku coba, terimakasih. Kau kembalilah."
"Baik."
Sosok itu kembali ke dalam cincin yang dipakai Rindu.
"Apa benar kalian mau lihat Om Besar dan Steven?"
"Ia benar Rindu, aku penasaran tau," ucap Dewi.
"Ia aku juga, hehehehe," sahut Siska.
"Baiklah, mereka berdua nggak serem-serem amat kok. Aku akan membuka mata batin kalian, setelah itu aku akan kembali menutupnya."
"Baiklah Rindu," jawab keduanya.
"Kalian siap?"
"Siap komandan," keduanya malah ngelawak.
"Hahahahhahaha."
Rindu mendekati Dewi dan Siska, ia mulai mengusap cincinnya di kening Dewi, lalu dilanjutkan ke kening Siska.
Dan... "Next episode. Hehehhe."
...--------------------------------...
...Hai hai hai....
...Terimakasih ya udah baca Novel Nunna sampai episode ini, semoga kalian suka ya. Jangan lupa kalau ada saran apapun, langsung di komentar ya....
...Thanks semuanya....
...Sehat-sehat ya kalian semua, jaga kesehatan apalagi pandemi kek gini kan....
...나는 당신 모두를 사랑합니다...
...Tuhan Yesus Memberkati kalian semua. †...
...--------------------------------...
__ADS_1