Rindu Indigo Usil

Rindu Indigo Usil
Menyelesaikan Masalah Astri


__ADS_3

...--------------------------------...


Setelah menempuh perjalanan beberapa waktu akhirnya mereka sampai ke rumah Alan.


"Benar nggak ini rumahnya."


"Coba ketuk aja pintunya sayang, langsung nanya aja."


"Ia benar Rin, biar pasti," ujar Dewi.


"Baiklah."


Tok tok tok tok...


Rindu mengetuk pintu rumah Alan, beberapa saat kemudian pintu terbuka.


"Maaf cari siapa ya?"


"Apa benar ini rumah Alan?"


"Ya benar, ada apa ya?"


"Boleh tau Tante siapanya Alan?"


"Saya pembantu di rumah ini."


"Oohh, apa Alan ada?" kali ini Andra yang bertanya.


"Den Alan tidak ada di rumah, ia sedang keluar."


"Ooohh seperti itu, baiklah terimakasih Bi."


"Ia sama-sama, maaf ya saya tutup lagi pintunya."


"Silahkan Bi."


Rupanya saat mereka ke rumah Alan, ia tidak berada di rumah...


"Gimana dong Rin, Alan nggak ada."


"Ya aku juga bingung Sis,"


Saat mereka akan meninggalkan rumah itu, tiba-tiba seorang laki-laki masuk dengan mengendarai motor sportnya.


Laki-laki itu turun dari motornya dan melangkah menemui mereka semua.


"Siapa kalian?"


"Maaf, apa kamu yang bernama Alan?" tanya Willy.


"Ya saya Alan, ada apa ya? Lalu kalian ini siapa?"


"Ternyata dia bilang keladinya Om."


"Ya kamu benar Steven, ganteng-ganteng tapi bejat. Seandainya saya yang ganteng seperti itu, saya pasti akan setia."


"Nggak percaya aku Om, orang jelek gini aja tukang selingkuh! Nanti ketauan Tante Kun baru tamat."


"Ye anak kecil mana paham."


"Ciih."


"Alan kamu bisa ikut kami sebentar?" ujar Rindu.


"Kenapa saya harus ikut kalian, saya bahkan tidak mengenal kalian semua. Sebaiknya kalian tinggalkan rumah saya."


"Alan, tolong kamu ikut kami. Nggak lama kok, ada yang ingin bertemu kamu." ujar Siska.


"Siapa, siapa yang ingin bertemu ku?"


"Astri, dia ingin bertemu dengan mu," ucap Rindu.

__ADS_1


"Astri, maaf aku tidak mengenal yang namanya Asri."


Buggh...


Andra yang kesal dengan kelakuan Alan tak dapat menahan emosinya dan akhirnya satu bogeman mendarat di rahan Alan.


"Ya hajar dia kak Andra, hajar lagi," Steven ngomporin.


"Apa-apaan kalian, beraninya kalian memukul ku."


Buggh...


"Jika kau masih banyak bicara dan tidak mau ikut, maka aku pastikan kau menerima lebih dari ini," ucap Willy setelah menonjok Alan.


"Lagi kak Willy, lagi! Gemush banget Steven sama cowok kek gini. Ya kan Om?"


"Ya kamu benar, rasanya ingin ku telan hidup-hidup dia."


"Tidak aku tidak akan ikut, aku akan melaporkan kalian ke polisi."


"Laporkan saja, setelah itu kami yang akan melaporkan kamu atas pembunuhan yang kamu lakukan di hotel XX pada Astri yang saat itu berstatus pacar kamu."


Ketika Alan mendengar perkataan Rindu, ia langsung diam mencerna semuanya.


"Bagaiman mereka bisa tau, bukankah kejadian itu sudah lama? Gawat, jangan sampai mereka menjebloskan aku ke penjara."


"Bukankah dia sudah mati, lalu untuk apa kalian meminta ku ke sana?"


"Dia ingin bertemu dengan mu, apa kau pikir dia bisa tenang setelah kau membunuhnya dengan kejam seperti itu?" ucap Dewi kesal.


"Tidak aku tidak mau, pergi kalian dari sini! Ingat ini rumah saya kalian nggak berhak mengatur saya."


Andra yang kesal langsung memukul tengkuk leher Alan membuatnya langsung pingsan.


"Banyak bacot dianya, emang lebih bagus dibuat diam kek gini. Will, Ndre, ayo bawa ke mobil."


"Hahhaha bagus kak Andra, kak Andra emang top."


*****


Andre dan Willy membopong Alan menuju taksi mereka, mereka semua membawa Alan ke hotel itu.


Mereka langsung membawanya ke kamar Rindu, Andra kemudian mengambil segelas air dan menyiramnya pada wajah Alan.


"Bangun, jangan keenakan tidur."


"Apa-apaan kalian, dimana aku?"


"Bukalah mata mu dan perhatikan dengan baik, kamu pasti tau tempat ini."


Alan kemudian mengedarkan pandangannya kesana-kemari dan ia akhirnya sadar dimana dia sekarang.


"Apa kamu sudah tau kamu dimana?"


"Untuk apa kalian membawaku ke sini?"


"Loh ini bego apa oon sih, bukanya tadi udah dikasih tau kalau Astri mau bertemu kamu," ucap Andre kesal.


"Mana mungkin, Astri sudah meninggal."


"Ya memang dia sudah meninggal, sosok Astri yang kini belum tenang dialah yang akan bertemu dengan mu."


"Hahahhaha jangan bercanda kalian, mana ada seperti itu."


"Baiklah jika kau tidak percaya."


"Astri di mana kau, ayo ke sini."


Tak lama Astri muncul dari luar masih dengan seperti biasa, ngesot di lantai.


"Astri lihatlah siapa ini."

__ADS_1


"Alan, ya dia Alan! Terimakasih sudah membawanya ke sini."


"Sekarang tunjukkan dirimu padanya, karena ia tidak percaya dengan perkataan kami semua.


Mereka semua akhirnya bisa melihat Astri, karena Astri menunjukkan dirinya.


"Husshh husshh pergi kamu, pergi! Kamu sudah mati, jangan mengganggu ku."


"Aku tidak akan mengganggu mu Alan, aku sangat mencintaimu. Karena itulah aku di sini menunggu mu, menunggu saat dimana kita akan pergi bersama dan bahagia di akhirat."


"Tidak, aku tidak mau! Kau pergi saja, aku masih mau hidup."


"Jika kau masih ingin hidup, lalu kenapa kamu melakukan ini padaku? Aku juga masih ingin hidup Akan," Astri berteriak pada Alan.


"Wih, ngeri juga tu teriakan si ngesot," ucap Steven.


"Hushh diam bentar, lagi serius ni," ucap Om Besar.


"Kenapa Alan? Kenapa kamu melakukan semuanya?"


"Maafkan aku Astri, maafkan aku, aku khilaf."


"Maaf kamu bilang? Apa maaf bisa membuat aku kembali hidup! Apa maaf bisa membuat aku kembali berkumpul bersama Ibu ku? Jawab Alan, jawab!"


"Maafkan aku, tapi aku mohon jangan bawa aku bersamamu."


"Aku akan membawamu, apa kau tidak tau aku sudah lama menunggu mu di sini. Ayolah sayang, ikut dengan ku."


"Tidak, tidak, pergi kau dari sini hantu. Kalian semua tolong usir dia."


"Kenapa apa kau takut? Apa kau lupa bagaimana kau memukul kaki ku hingga patah seperti ini? Kau membunuh ku Alan."


"Maafkan aku, maafkan aku Astri."


"Ikutlah dengan ku."


Astri tiba-tiba berteriak dan langsung mencekik leher Alan, Rindu yang melihat bahwa Astri sedang emosi langsung mendekatinya.


"Astri dengarkan aku, bukankah kamu sudah berjanji pada ku akan pergi dengan tenang?"


"Biarkan Alan menjadi bagian ku, akan aku pastikan dia mendekam di penjara dan mempertanggung jawabkan semua perbuatannya pada mu."


"Apa kau berjanji pada ku?"


"Ya, aku janji karena itu lupakan semua dendam mu. Pergilah dengan tenang Astri, kamu berhak bahagia di surga."


"Terimakasih Rindu, terimakasih kamu sudah banyak membantu ku."


"Ya sama-sama Astri, pergilah."


Astri perlahan berubah menjadi sosoknya sebelum meninggal, ia bahkan sudah bisa berdiri.


Alan yang melihat itu semua hanya bisa diam, kini ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi, sudah dipastikan setelah ini ia akan mendekam di penjara.


Astri akhirnya pamit pada Rindu dan yang lainnya, ia pergi dengan wajah yang tersenyum cantik.


"Bye Astri."


Mereka semua mengucapkan salam perpisahan pada sosok Astri.


...--------------------------------...


...Hai kesayangan :)...


...Thanks ya udah baca novel aku, jangan lupa like dan komen ya.. ♡...


...Jangan lupa vote juga, thank you semuanya. ♡...


...Sehat-sehat ya kalian di sana....


...Tuhan Yesus memberkati....

__ADS_1


...--------------------------------...


__ADS_2