Rindu Indigo Usil

Rindu Indigo Usil
Menemui Raisa di Kafe


__ADS_3

...-------------------------------...


Siang hari ini Rindu baru saja menyelesaikan skripsinya di kampus, tinggal menunggu hasilnya saja.


Saat ia dan Dewi sedang duduk, tiba-tiba handphonenya berdering.


"Siapa ya, nomor baru!" ucap Rindu.


"Angkat aja Rin, siapa tau penting," ucap Dewi.


Rindu mengangguk lalu mengangkat panggilan itu.


"Halo," ucap Rindu.


"Halo, benar ini Rindu?" tanya orang dari seberang.


"Ia benar, siapa ya!" ucap Rindu.


"Rin, ini aku Raisa," ucap Raisa.


"Oh kak Raisa, ada apa Kak?"


Rindu yang tau ternyata yang meneleponnya adalah Raisa, ia merasa sangat excited menunggu apa yang akan dikatakan oleh Raisa.


"Rin apa kita bisa bertemu?" ucap Raisa.


"Bisa Kak, bisa!" ucap Rindu.


"Kalau gitu kamu ke kafe ya, aku tunggu," ucap Raisa.


"Ok Kak, aku kesana sekarang!" ucap Rindu semangat.


Setelah obrolan itu berakhir, Rindu langsung membereskan laptopnya dan file lainnya lalu dimasukkan ke dalam tas.


"Apa Rin? Raisa bilang apa?" tanya Dewi.


"Raisa minta aku menemuinya di kafe Wi," jelas Rindu.


"Ya udah ayo aku temenin," ucap Dewi.


"Thank you ya Wi."


"Ia Rin, ayo."


Keduanya keluar dari kelas dan langsung menuju gerbang kampus, Rindu langsung memesan taksi.


Hari ini memang Andra dan Andre tidak masuk, jadi hanya mereka berdua di kampus. Taksi sampai dan mereka berdua pun langsung masuk dan taksi kembali melaju membawa mereka ke kafe Raisa.


 


Setelah beberapa saat dalam perjalanan akhirnya mereka sampai.


"Ayo Wi," ucap Rindu.


Mereka berdua langsung masuk ke dalam kafe.


"Permisi Mba, saya udah ada janji sama Mba Raisa," ucap Rindu.


"Sebentar ya, saya kasih tau non Raisa dulu," ucap sang kasir.


Kasir itu pun menelpon Raisa, setelah menelpon Rindu dan Dewi dipersilahkan untuk masuk ke ruangan Raisa.


Tok tok tok tok...


Rindu mengetuk pintu ruangan Raisa.


"Masuk Rin," ucap Raisa dari dalam.


Rindu menggandeng tangan Dewi dan keduanya masuk kedalam.

__ADS_1


"Hai Kak," ucap Rindu.


"Hai Rin, silahkan duduk." ucap Raisa.


"Oyahh Kak, kenalin ini sahabat aku namanya Dewi," ucap Rindu.


"Hai Dewi, salam kenal aku Raisa."


"Hai kak Raisa, salam kenal juga ya," ujar Dewi.


"Ada apa Kak? Apa kak Raisa sudah bertanya pada orang tua Kakak?" tanya Rindu.


"Ia Rin, makanya sekarang aku minta kamu ke sini. Kata Ayah dan Bunda aku memang memiliki saudara kembar Rin," ucap Raisa.


"Lalu di mana saudara kembar kak Raisa, apa dia cowok?" tanya Rindu.


"Ia dia cowok Rin, tapi kata Ayah dan Bunda dia terpisah sama kami sejak kecil. Saat Bunda melahirkan di rumah sakit, saudara kembar aku diculik. Dengan berbagai cara Ayah mencarinya namun tak ditemukan!"


"Tiga tahun kemudian Ayah baru tau kalau orang yang menculik kembaran aku adalah saingan bisnis Ayah, tapi ketika Ayah pergi dan menemui orang itu, dia mengatakan pada Ayah bahwa ia telah membuang kembaran ku."


"Ayah terus mencari tanpa putus asa, namun sampai saat ini tidak menemukan dia. Oleh karena itu aku meminta kamu ke sini Rin, apa aku bisa bertemu dengan orang yang kamu bilang mirip sama aku?" ucap Raisa.


Rindu yang mendengar semua penjelasan Raisa merasa kasihan pada Steven, kalau memang benar Steven adalah kembarannya Raisa, maka ia sudah hidup susah sejak bayi..


Dewi hanya bisa diam dan mendengarkan semuanya, ia tidak ingin memotong pembicaraan Rindu dan Raisa.


"Rin, kok diam?" ucap Raisa.


"Ah, maaf Kak! Aku hanya memikirkan bayi malang itu saja," ucap Rindu.


"Lalu apa aku bisa bertemu dengannya Rin?" ucap Raisa.


"Kak, sebenarnya bisa-bisa saja Kak, tapi.."


"Tapi apa Rin?" tanya Raisa penasaran.


"Maafin aku Kak, tapi dia yang aku bilang mirip dengan Kakak, dia sudah meninggal Kak," ucap Rindu pelan.


Rindu menganggukkan kepalanya, Raisa yang mendapatkan kenyataannya itu merasa semua harapannya pupus sampai di sini.


Air matanya jatuh, ia berharap bisa bertemu dengan adiknya. Namun sayang harapan itu semakin tipis, jika benar itu adiknya berarti ia tak akan bisa bertemu dengannya lagi.


"Kak," ucap Rindu.


"Kak, aku bisa bantu Kakak bertemu dengan dia! Hanya saja sekarang dia hanyalah sosok tak kasat mata Kak," ucap Rindu.


"Maksud kamu gimana Rin?" tanya Raisa.


"Kak, Rindu ini adalah seorang indigo. Mungkin dengan begitu dia bisa mempertemukan Kakak dengan sosok yang dikatakannya tadi," Dewi menjelaskan.


Rindu mengiyakan ucapan Dewi.


"Benarkah?" ucap Raisa.


"Ia Kak," ucap Rindu.


"Aku ingin bertemu dengannya Rin, walaupun hanya sekali. Aku akan mengajak Ayah dan Bunda sekalian," ucap Raisa.


"Ia Kak, dia ada di rumah aku Kak! Jadi kalau kak Raisa dan orang tua Kakak ingin bertemu dengannya, kak Raisa bisa ajak orang tua kak Raisa ke rumah aku," ujar Rindu.


"Baiklah Rin, terimakasih ya! Aku akan pulang dan menceritakan semuanya pada Ayah dan Bunda. Nanti aku hubungi kamu ya, kalau aku mau ke rumah kamu," ucap Raisa.


"Ia Kak, aku tunggu ya," ucap Rindu.


Setelah itu Rindu dan Dewi pun meninggalkan kafe Raisa.


"Dek, padahal kakak ingin sekali bertemu kamu! Kakak ingin melihat kamu masih hidup Dek, bukan sosok tak kasat mata," ucap Raisa dengan air matanya.


Ia merasa bahwa sosok yang dikatakan Rindu memang adik kembarnya.

__ADS_1


"Tapi setidaknya kakak bisa bertemu kamu Dek, kalau benar itu kamu, semoga kamu segera menemukan cahaya kamu ya," ucap Raisa lagi.


Setelah itu Raisa pun bersiap dan kembali ke rumahnya.


 


Rindu baru saja tiba di rumah setelah mengantarkan Dewi ke rumah.


"Sore Bi," Rindu menyapa Bi Ina.


"Sore non Rindu," ucap bi Ina.


Rindu terus melangkah menuju kamarnya di lantai dua, ia ingin bersih-bersih terlebih dahulu. Setelah mandi ia kembali turun dan menemui bi Ina di dapur.


"Bi Rindu minta tolong buatin kopi ya, bawain ke bangku di halaman depan," ucap Rindu.


"Siap Non," jawab bi Ina.


Rindu pergi dan menunggu kopinya di bangku yang ada di halaman depan rumahnya.


"Hai Kak," sapa Steven.


Rindu melihat Steven, entah kenapa ia merasa sedih mengingat cerita Raisa yang tadi.


"Kak, ko diam?" tanya Steven.


"Nggak kok, aku cuma lagi galau aja!" ucap Rindu ngeles.


"Galau kenapa? Nggak ketemu kak Andra hari ini?" tebak Steven.


"Hahahaha kamu memang paling bisa nebak ya," ucap Rindu.


"Hahaha so pasti Kak, Steven gitu loh!" ucap Steven.


"Om Besar lagi ngapain?" tanya Rindu.


"Lagi molor Kak, semalam kencan sama tante Kunti soalnya," ucap Steven.


"Hahahaha, kok kamu tau! Kamu pasti suka ngintip Om Besar dan tante Kun ya," ucap Rindu.


"Hahahaha so pasti itu Kak," ucap Steven santai tanpa rasa bersalah.


"Dasar kamu tuh ya," ucap Rindu sambil menggelengkan kepalanya.


Bi Ina datang dengan segelas kopi beserta kue buatannya untuk Rindu.


"Non, ini kopinya," ucap Bi Ina.


"Makasih ya Bi," ucap Rindu.


"Sama-sama Non," jawab Bi Ina.


Bi Ina pun kembali ke dapur.


"Wah, ada kue nih! Boleh cobain nggak Kak?" ucap Steven.


"Boleh, ayo duduk di sini!" ucap Rindu.


Steven duduk di bangku yang sama dengan Rindu, dan keduanya pun menikmati kopi dan kue buatan Bi Ina.


...--------------------------------...


...Hai kesayangan :)...


...Thanks ya udah baca novel aku, jangan lupa like dan komen ya.....


...Jangan lupa vote juga, thank you semuanya....


...Sehat-sehat ya kalian di sana....

__ADS_1


...Tuhan Yesus memberkati....


...--------------------------------...


__ADS_2