Rindu Indigo Usil

Rindu Indigo Usil
Astri


__ADS_3

...--------------------------------...


"Sok tau aja kamu, aku bukan mojok di sini sama pacar. Aku dikasih minuman yang diberi obat tidur olehnya dan dia membawa ku ke sini lalu melecehkan aku."


"Wah kurang ajar tu cowok, terus terus gimana kelanjutannya?"


"Saat aku sadar dan berusaha berontak ia malah memukul ku dan membuatku seperti ini."


"Kaki ku patah dan akhirnya aku tidak bisa jauh-jauh dari sini, hanya bisa ngesot kesana-kemari."


"Kasian sekali kamu, lalu siapa nama mu?"


"Nama saya Astri, lalu siapa kamu?"


"Aku Rindu, malam ini acara ulang tahun aku di sini. Makanya kami semua memilih nginap di sini setelah acara selesai."


"Ooohh, baru kali ini ada manusia yang melihat ku."


"Tapi kamu tidak mengganggu tamu-tamu hotel ini kan?"


"Tidak kok, aku hanya ingin pergi dari sini Rindu. Aku ingin menemui laki-laki yang sudah membuat ku seperti ini, setelah itu aku ingin tenang dan pergi ke akhirat."


"Ya memang seharusnya kamu ke sana, jangan malah di sini ngesot mulu kayak suster ngesot hehehehehe."


"Tapi aku bingung harus gimana ini, maukah kau membantuku?"


"Membantu Mu? Baiklah tapi sebaiknya besok saja kita bahas lagi ya, aku udah ngantuk banget ini."


"Baiklah, maaf sudah mengganggu tidur mu."


"Ya ya ya."


Rindu kembali berbaring dan tak lama iapun terlelap hingga pagi menjemput.


Andra, Andre dan Willy sudah bangun dan bahkan mereka sudah mandi pagi. Siska dan Dewi juga sama, Bu Mita pun sudah segar karena sudah mandi.


Di kamarnya Rindu baru saja bangun.


"Gara-gara si Astri ni semalam, aku jadi ngantuk banget dan telat gini."


Rindu langsung beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi dan langsung mandi. Setelah mandi ia keluar menemui mamanya dan yang lain.


"Maaf Mam, ngantuk banget semalam."


"Ia sayang, ayo sebaiknya kita sarapan dulu."


Mereka semuanya menyantap sarapan bersama, Om Besar dan Steven tiba-tiba datang dan ikut nimbrung.


"Hai hai selamat pagi."


"Pagi bocil hahahhaha."


"Ye kak Rindu tega amat sih, Steven loh udah 100 tahun."


"Ye, seratus tahun kek, seribu tahun kek, di mata aku kamu tetap bocil."


"Ahahahaha kasian amat kamu Steven."


"Om jangan ikut-ikutan, nanti Steven aduin sama Tante Kun ya."


"Kalian berdua dari mana saja?" tanya Bu Mita.


"Biasalah Tan, jalan-jalan nyari janda kembang buat Om Besar hahahhaha."


"Hahahaha ada-ada aja kamu Steven ih."


"Hahahaha beneran loh Tan."


"Jangan dengarkan Steven Nyonya, ia hanya bisa berbohong saja."


"Hahahhaha, lalu untuk apa kalian ke sini?"


"Mau sarapan sama kak Rindu, hehehehe."

__ADS_1


"Hantu kok bisa-bisanya nyari sarapan," ujar Rindu.


"Hahahaha kak Rindu, jangan judes-judes amat ah."


Mereka yang lainnya hanya bisa mendengar percakapan Rindu dan Steven, walaupun kenyataannya hanya suara Rindu yang mereka dengar.


"Benar-benar kocak ya si Steven dan Om Besar itu," ucap Andra.


"Biasa bocill nggak jail nggak hidup," ucap Rindu.


"Lah kan emang Steven udah mati Kak."


"Ya ya kamu memang udah mati, mau ku sedot pakai cincin ini sekalian biar nggak nongol-nongol lagi?"


Rindu sengaja mengarahkan cincinnya ke arah Steven dan Om Besar, keduanya dengan cepat langsung menghindar.


"Hahahaha, kenapa? Takut? Cemen!"


"Aku sebenarnya nggak takut Kak, hanya saja aku masih harus ada di sini sampai Om Besar nikah hahahahah."


"Hahahaha emang Om Besar mau nikah sama siapa?"


"Nggak tau Kak, masih seleksi kayaknya hahahah."


"Awas kamu bocill, beraninya kamu ya."


"Hahahah ampun Om."


Steven menghilang lalu dikejar Om Besar.


"Ciih dasar tukang ganggu."


Mereka kembali menikmati sarapan hingga selesai, setelah sarapan rencananya mereka akan pulang ke rumah.


"Mam, kita langsung pulang sekarang?"


"Ia sayang, emang kenapa? Ada yang mau kamu kerjakan lagi di sini?"


"Ia Mam, semalam aku janji sama salah satu sosok di sini bahwa aku akan membantunya."


"Mama nggak apa-apa?"


"Nggak kok sayang, mama nggak apa-apa."


"Ma, aku boleh ya di sini dulu sama Rindu."


"Ia sayang, tapi ingat nanti kabarin mama kalau mau pulang telat ya."


"Siap Mam," jawab Siska dan Rindu.


"Terus nak Andra, Andre, Willy dan Dewi apa kalian akan langsung pulang?"


"Andra kayaknya masih akan menemani Rindu Tan, nggak tau Andre dan yang lainnya."


"Aku juga di sini," ucap Willy.


"Hmmm kalau gitu aku juga di sini deh," ucap Dewi.


"Aku juga," ujar Andre cepat.


Akhirnya mereka semua memtuskan untuk tinggal menemani Rindu, Bu Mita akhirnya pulang lebih awal.


*****


Setelah Bu Mita pulang, Rindu dan yang lainnya berjalan ke kamar Rindu untuk menemui sosok Astri.


"Astri kamu di mana?"


"Hei aku di sini," Astri menjawab dari arah belakang pintu.


"Lah ngapain kamu di situ?"


"Duduk aja sih."

__ADS_1


"Aelahhhh santuy ya kamu."


"Hehehehe, lalu gimana sekarang?"


"Oh ia hampir lupa kalau kita ke sini mau bantuin kamu."


"Belum tua, udah pikun aja kamu Rindu."


"Berani kamu ngatain aku, ya udah aku nggak akan bantu kamu, huh!"


"Maaf maaf, aku bercanda kok."


"Baiklah, lalu siapa nama pacar kamu itu?"


"Namanya Alan, dia tinggal di Jln. Palapa no X."


"Hmmm lalu apa yang harus aku lakukan untuk membantu kamu?"


"Aku hanya ingin dia ke sini Rin, aku hanya ingin tau kenapa dia sampai tega melakukan ini sama aku? Padahal dia tau aku mencintainya tulus."


"Ya udah, aku akan menemuinya di rumahnya. Semoga dia mau ke sini, kalau dia nggak mau terpaksa aku culik dia ahahahah."


"Terimakasih Rin, kalau gitu aku tunggu di sini."


"Ok deh."


Rindu memberitahu teman-temannya tentang cerita Astri.


"Benar-benar cowok bejat," ucap Dewi.


"Ia, biar nanti aku tonjok aja sekalian."


"Ntar kamu malah dilaporin ke kantor polisi, mau kamu Ndre?" ucap Andra.


"Nggak mau lah, tapi tenang aja kayaknya kalau sekali dua kali ma masih aman hhehehehe."


"Ya udah sebaiknya kita beranjak sekarang ke rumah laki-laki itu," ucap Willy.


"Ya benar, tapi tunggu aku akan memanggil Steven dan Om Besar."


Rindu kemudian memanggil keduanya.


"Kenapa Kak?"


"Ayo ikut, kita punya misi."


"Misi apa Kak?"


"Ada sosok yang harus kita tolong, kita akan ke rumah cowok yang membunuhnya."


"Sosok yang dibunuh cowoknya? Jangan-jangan maksud kamu sosok yang hanya bisa ngesot itu?"


"Ya benar Om, kalian berdua udah tau?"


"Ia Kak, waktu itu kita sempat interogasi dia makanya aku dan Om Besar tau ceritanya."


"Oh baguslah, ayo kita pergi sekarang."


"Ok deh, let's go."


Mereka semua meninggalkan hotel dan menuju rumah Alan.


...--------------------------------...


...Hai kesayangan :)...


...Thanks ya udah baca novel aku, jangan lupa like dan komen ya.. ♡...


...Jangan lupa vote juga, thank you semuanya. ♡...


...Sehat-sehat ya kalian di sana....


...Tuhan Yesus memberkati....

__ADS_1


...--------------------------------...


__ADS_2