
...--------------------------------...
*******
Hari berganti hari kini sudah seminggu mereka dikampung, suasana di kampung memang selalu membuat semua orang betah, udaranya yang segar tidak seperti di Jakarta atau di kota lainnya.
Rindu dan teman-temannya sedang duduk dan menikmati kopi di pagi hari.
"Hai Wi."
"Hai Neng, akhirnya kamu datang juga."
"Maaf ya baru sempat ke sini, soalnya belakangan ini sibuk bantuin Mak di kebun."
"Ooohh nggak apa-apa Neng, ayo duduk."
Ternyata yang datang adalah Neneng teman Dewi dulu ketika mengunjungi neneknya.
"Oyahh Neng, kenalin ini teman-teman aku. Yang ini namanya Rindu, ini Siska, itu Andre, itu Andra dan yang satunya lagi Willy."
Mereka semua saling bersalaman, Neneng akhirnya duduk dan bercerita di sana bersama mereka semua.
"Gimana kabar kamu dan ibu kamu Neng?"
"Kami baik ko Wi."
"Syukurlah."
Neneng memang sudah tak mempunyai seorang ayah lagi, ia hanya tinggal bersama sang ibundanya sekarang ini..
"Oyahh Wi, kamu tau nggak kalau rumah yang di sebelah rumahnya aku itu kata orang banyak penunggunya loh."
"Kan bagus kalau banyak penunggunya," jawab Willy cepat.
"Lah kok bagus sih Mas?"
"Lah terus?" tanya Willy yang bingung.
"Penunggu yang dimaksud Neneng itu pasti makhluk tak kasat mata kan?"
"Nah benar tu kata mba Rindu, itu dia maksud Neneng."
"Oalahhh, hantu maksud kamu?" ucap Andre.
"Ya begitulah, malam-malam sering sekali terdengar keributan dari sana."
"Terus?"
Rindu yang penasaran langsung bertanya lagi pada Neneng.
"Ya gitu-gitu aja, wong aku juga takut Mba, nggak mau aku pergi ke sana sendiri. Iuuwh ngeri pasti."
"Lalu apa kata orang di sekitar rumah kamu?" tanya Dewi.
"Ya nggak apa-apa Wi, orang-orang menganggap itu hal biasa."
"Lalu?"
"Tapi sebenarnya aku wong sangat penasaran dengan rumah itu, tapi aku takut, hehehe."
"Kalau takut ya jangan coba-coba, aku juga takut," ujar Andre.
"Haiiizzz kamu ma semua takut," sahut Andra.
Hahahahaha..
Anak-anak malah menertawakan Andre.
"Udah, udah, terus kenapa kamu penasaran?" tanya Rindu.
"Gini Mba, pernah ni ya sekali aku mendengar suara teriakan dari sana. Tapi ya nggak tau itu teriakan manusia apa setan, heheheh."
"Pasti setan tu."
"Sok tau aja kamu Will."
"Ya kan cuma nebak Sis."
Mereka semua diam, sedangkan Rindu sedang memikirkan untuk pergi ke sana apa tidak..
"Gimana kalau kita ke sana."
__ADS_1
"What, ngapain?"
"Ya anggap aja kita uji nyali, ya kan?"
"Aku sih setuju sama kamu Rin," ujar Andra.
"Ya kalau Rindu pergi, aku dan Dewi pasti pergi, ya kan Wi?"
"That's right," jawab Dewi sambil senyum.
"Kalo kalian semua pergi, masa ia aku sama Andre doang di rumah, aku ma mendingan ikut."
"Ya wes lah, aku ikut."
Andre mengalah saat Willy berkata bahwa dia akan ikut, dari pada Andre sendiri di rumah bukankah lebih baik ikut teman-temannya.
"Anggap aja uji nyali, Ndre kamu tu cowok, jangan jadi penakut."
"Ah kamu kok ngomong gitu si Sis."
"Ya kan emang benar harus kek gitu."
"Hmmm benar juga apa kata Siska, Dewi pasti bakalan ilfil sama aku kalau aku penakut. Gimana mau jadi superhero untuk Dewi kalau penakut, huh baiklah semangat Andre."
Andre berucap dalam hatinya sambil melirik ke arah Dewi..
"Jadi kita akan ke rumah kosong itu?"
"Ia Neng, kamu mau ikut?"
"Tentu Wi aku akan ikut. Kebetulan ada kalian, hehehehhe. Kalo sendiri ma aku takut Wi."
"Ok, kalau gitu nanti malam kita ke sana, gimana?" ucap Rindu.
"Ok setuju."
********
Setelah pembahasan itu akhirnya Neneng pamit pulang soalnya hari sudah siang.
"Duh, mas Willy ganteng banget sih."
"Siang Mak."
"Siang Nak, dari mana saja kamu?"
"Neneng dari rumah Dewi Mak, Dewi cucunya Mpok Siti."
"Loh memangnya nak Dewi di sini?"
"Ia Mak, dia dan teman-temannya datang berlibur di sini."
"Ooohhh, ya sudah kamu segeralah mandi dan makan siang."
"Baik Mak."
Di kediaman Rindu dan yang lainnya mereka juga sedang makan siang bersama.
"Steven sama Om Besar di mana ya?"
Wuuuusshhhh...
"Ada apa Kak?"
"Kalian berdua dari mana saja, kok jarang kelihatan di sini."
"Heheheh maaf Rindu, saya dan Steven pergi jalan-jalan keliling kampung ini."
"Ia Kak benar kata Om Besar, Kaka tau nggak kita jalan-jalan keliling kampung dan kita nemuin sesuatu."
"Apa?"
"Rumah Kak."
"Lah kan emang rumah ada di mana-mana gimana sih kalian berdua ini."
"Hehehehe, maksud Steven sebuah rumah yang penuh dengan sosok-sosok mengerikan Kak."
"Di mana?"
"Kita nggak tau nama tempatnya di mana Rindu, kita hanya tau jika ke sana langsung."
__ADS_1
"Ooohh, lalu?"
"Nah di sana banyak sosok mengerikan, banyak juga yang dikurung Kak."
"Di kurung?"
"Ia Kak."
"Kenapa mereka dikurung."
"Nggak tau Kak, aku dan Om Besar nggak mau terlalu lama di sana, takut ketahuan."
"Ketahuan, sama siapa?"
"Sama penjaga rumah itu Kak?"
"Penjaga rumah itu sosok seperti kalian atau manusia?"
"Sosok seperti kita berdua Kak, tapi katanya serem banget. Emang sih Steven sama Om Besar belum lihat langsung."
"Ooohh gitu, nanti deh kita cek ke sana. Malam ini aku dan yang lainnya ada misi."
"Misi apa Kak, Steven dan Om Besar ikut ya."
"Boleh, tapi kalian jangan ngilang lagi ok."
"Siap Kak."
Teman-temannya yang lain hanya berpikir bahwa Rindu sedang menikmati makanannya, soalnya dari tadi mereka ngomong-ngomong pun Rindu hanya diam sambil mengunyah makanannya. Padahal Rindu sedang berbicara dengan Steven dan Om Besar makanya dia fokus dan akhirnya tidak dengar apa yang dibicarakan teman-temannya.
"Kakak makan apa itu?"
"Nasi lah."
"Ia tau Kak, yang itu maksud aku."
Steven menunjuk ke rendang yang ada dalam piring Rindu."
"Oh ini namanya rendang."
"Nendang?"
"Rendang Om, rendang."
Steven menegaskan pada Om Besar yang salah ucap yang maksudnya rendang malah jadi nendang..
"Pasti enak ya Kak."
"Enaklah, enak banget malah. Jangan bilang kalau kalian berdua mau coba juga."
"Hehehehe kak Rindu benar-benar peramal yang handal ya, bisa tau apa yang dipikirkan Steven dan Om Besar, ya kan Om?"
"Peramal otak mu, hehhehe."
"Ya udah, tapi kali ini kalian ambil sendiri di dapur ya, tadi masih ada kok. Kebetulan tadi yang masak, aku dan Siska."
"Ok deh, terimakasih Kak."
"Terimakasih Rindu."
Keduanya melayang dan berlalu ke dapur, Rindu kembali menyantap makanannya dengan tenang hingga makanannya habis.
"Loh kemana anak-anak?"
Rupanya yang lain meninggalkan Rindu di meja makan, lebih tepatnya mengerjai Rindu karena makannya terlalu sangat lama. Hahahah.
...--------------------------------...
...Hai hai hai....
...Terimakasih ya udah baca Novel Nunna sampai episode ini, semoga kalian suka ya. Jangan lupa kalau ada saran apapun, langsung di komentar ya....
...Thanks semuanya....
...Sehat-sehat ya kalian semua, jaga kesehatan apalagi pandemi kek gini kan....
...나는 당신 모두를 사랑합니다...
...Tuhan Yesus Memberkati kalian semua. †...
...--------------------------------...
__ADS_1