
...--------------------------------...
*******
Rindu, Dewi, Siska, Andra, Andre dan Willy. Tiga cowok dan tiga cewek, kini mereka semua sedang di jalan menuju rumah kepala desa, tentu Dewi yang memimpin di depan, karena Dewi yang lebih tau daerah sekitar.
Setelah berjalan sekitar 15 menit dari rumah neneknya Dewi, akhirnya mereka sampai di rumah kepala desa.
Saat mereka sampai di sana, rupanya di sana berkumpul beberapa warga desa, entah apa yang sedang di bahas, mungkin perihal hilangnya anak kepala desa mereka.
"Selamat pagi bapak-bapak," Andra menyapa.
"Selamat pagi juga nak, maaf kalo boleh bapa tau, siapa kalian ini soalnya baru pertama kali bapa melihat kalian."
"Kami dari Jakarta Pak, kami teman-temannya Dewi. Kami ke sini hanya sekedar berlibur saja Pak," ujar Rindu.
"Dewi? Apa Dewi cucunya nek Siti?"
"Ia benar Pak, saya Dewi dulu saya sering di sini, tapi karena nenek sudah meninggal makanya saya jarang ke sini lagi."
"Wah, dulu kamu masih kecil, sekarang semakin dewasa semakin cantik ya."
"Bapa bisa aja mujinya," ucap Dewi.
"Oyah Pak perkenalkan teman-teman Dewi, yang ini Rindu, ini Siska, ini Andra, ini Andre dan yang itu Willy."
"Salam kenal bapak-bapak," Willy mewakili yang lainnya.
Bapak-bapak yang sedang berkumpul di sana membalas dengan senyuman ke arah mereka semua.
"Lalu ada apa kalian pagi-pagi ke sini Nak?"
"Begini Pak, semalam kami mendengar bunyi kentongan dan kata mang Supri anaknya kepala desa hilang, apa benar itu Pak?"
Rindu mewakili teman-temannya bertanya.
"Ia benar Nak, semalam memang seperti itu kejadiannya."
"Lalu apakah anaknya pak kepala desa sudah ditemukan?" tanya Andra.
"Belum Nak, makanya kami bapak-bapak berkumpul di sini untuk membahas soal itu."
"Ooohhh seperti itu ya Pak, lalu di mana kepala desa?" tanya Siska.
"Bapak kepala desa ada di dalam rumahnya Nak, sedang menenangkan istrinya yang dari semalam histeris karena kehilangan anaknya."
"Ya ampun kasian sekali ibunya, pasti sangat sedih mendapatkan kenyataan anak yang disayanginya hilang," ujar Dewi.
"Ia nak Dewi, karena ibu desa sangat menyayangi anak semata wayangnya itu."
Mereka mengangguk-angguk mendengar penjelasan dari bapak-bapak yang ada di sana.
"Lalu bagaimana menurut bapak-bapak perihal hilangnya anak kepala desa, apa benar sudah lima kali kejadian seperti ini Pak?"
"Ya benar nak Rindu, kami semua bingung. Kami sudah mencarinya kesana-kemari tapi kami tidak menemukan tanda-tanda keberadaan anaknya kepala desa."
"Hhmmmm, seperti itu ya Pak."
Andre berucap seraya berpikir kira-kira ke mana anak ini? Dicari dimana-mana pun tak ditemukan, itulah pertanyaan yang ada di kepala mereka semua kecuali Rindu.
Rindu berpikir mungkin ini ada kaitannya dengan sosok tak kasat mata, sebab ini bukan kejadian pertama kali ini kali keenam soalnya..
"Sebaiknya aku minta Steven dan Om Besar berkeliling mencari anaknya kepala desa."
__ADS_1
Rindu berpikir mungkin dengan begitu akan lebih cepat menemukan anak yang hilang ini.
"Steven, Om Besar come here."
Wuuuusshhhh...
"Ckckckck apa-apa kak Rindu ini, pake bahasa English segala. Untung Steven sedikit paham, ia kan Om Besar. Kalau nggak bisa berabe nanti."
"Ia benar, untung Steven mengerti."
"Ckckkckc makanya belajar kalian berdua, jangan jalan-jalan melulu nyari pacar kesana-kemari."
"Hahahaha, itu ma Om Besar Kak, bukan Steven."
"Sudah, sudah, aku memanggil kalian berdua karena aku mau minta tolong."
"Minta tolong apa Rindu?"
"Begini Om Besar, anaknya kepala desa hilang semalam. Nah Rindu mau minta tolong kalian berdua keliling desa dan mencari anak itu."
"Hmmmm baiklah, saya dan Steven akan mencarinya. Ya kan Steven?"
"Tentu Om, perintah nyonya muda harus dituruti," Steven malah ngeledek Rindu.
"Awas kamu ya, berani ngeledek aku, hah?"
"Hahahahaha ampun kanjeng mami, hahahaha."
Steven langsung menghilang dan diikuti Om Besar.
"Dasar hantu sialan, awas kamu bocah minta dihukum rupanya."
Rindu mengomel sendiri dalam hatinya.
Setelah diam beberapa saat, Rindu mengajak teman-temannya pulang. Sebenarnya sih bukan pulang, lebih tepatnya pergi mencari anaknya kepala desa.
"Pak terimakasih sudah berbincang bersama kami. Kami mohon pamit dan pulang ke rumah."
"Baiklah Nak, silahkan."
Mereka semua menyalami bapak-bapak yang ada di sana lalu kemudian meninggalkan rumah kepala desa..
"Rin kita mau ke mana sekarang?"
"Kita mau cari tau di mana anaknya kepala desa Wi."
"Tapi kan kata bapak-bapak yang tadi mereka sudah mencarinya kemana-mana tapi tidak menemukan anak itu," ucap Andre.
"Ndre, Ndre, apa kamu lupa kalo Rindu punya dua sosok tak kasat mata di sini?" ucap Siska.
"Lalu?" Andre belum conect rupanya.
"Ckckck lambat banget sih otak kamu, pasti Rindu akan meminta sosok itu untuk mencari anaknya kepala desa. Jadi misalnya anak kepala desa diambil atau diculik oleh sosok tak kasat mata, maka akan lebih mudah menemukannya. Benar seperti itu Rin?" tanya Andra.
"Yupsss benar."
"Ya sorry, otak gue lagi ngelag ni say, hahahaha."
"Ngelag melulu otak kamu tu," ucap Willy.
"Udah, udah, tadi sih aku udah minta bantuan Om Besar dan Steven, pasti sekarang mereka sedang mencari anak itu. Sebaiknya kita ikut mencari, siapa tau kita menemukan petunjuk keberadaan anak itu."
"Nah benar tu kata Rindu, dari pada kalian bahas otak kalian yang ngelag melulu, sebaiknya kita cari anak itu," ucap Dewi.
__ADS_1
"Yes aku setuju sama Dewi," sahut Siska.
"Baiklah, kalo gitu ayo kita cari sekarang," ujar Andra.
Mereka akhirnya mulai mencari anak itu kesana-kemari, padahal bahkan mereka belum tau seperti apa wajah dari anak kepala desa yang hilang ini..
"Oyahh katanya siapa nama anak itu, kan kalian tadi ngobrol sama tu bapak-bapak."
"Katanya sih namanya Didi Rin," jawab Dewi.
"Ok deh."
Mereka mencari kesana-kemari bahkan mereka sudah masuk ke area hutan dari desa itu.
"Didi."
"Didi."
"Didi."
Mereka bersahut-sahutan memanggil nama Didi dengan harapan anak itu mendengar teriakan mereka.
Ggggrrrrrrr....
Tiba-tiba terdengar geraman harimau dari dalam hutan.
"Duh suara apa itu?" tanya Andre
"Ya suara harimau lah, itu aja kamu nggak tau." jawab Willy santai.
"Terus apa kamu nggak takut Will?"
"Nggak lah, ngapain takut sama harimau," jawabnya enteng.
"Apa.???"
"Harimau?"
Willy kaget sendiri dengan ucapannya, padahal ia sangat takut pada harimau. Semua orang tentu akan takut, takut kalau-kalau harimau itu menerkam mereka. Othor juga takut kok, hehehehe.
"Loh kenapa teriak? Bukannya kamu nggak takut sama harimau?" tanya Siska.
"Ehhhmmmmm, bukan itu sih, aku aku sebenarnya takut sama harimau. Yang tidak aku takuti itu adalah kucing."
"Ckckckck kita cewek-cewek juga suka kalau kucing, gimana sih kamu Will."
"Hahahahaha," Andra dan Andre tertawa mendengar perkataan Siska.
Setelah menertawakan Willy, kompak mereka semua diam. Entah apa yang seketika bisa membuat mereka bungkam.
...--------------------------------...
...Hai hai hai....
...Terimakasih ya udah baca Novel Nunna sampai episode ini, semoga kalian suka ya. Jangan lupa kalau ada saran apapun, langsung di komentar ya....
...Thanks semuanya....
...Sehat-sehat ya kalian semua, jaga kesehatan apalagi pandemi kek gini kan....
...나는 당신 모두를 사랑합니다...
...Tuhan Yesus Memberkati kalian semua. †...
__ADS_1
...--------------------------------...