Rindu Indigo Usil

Rindu Indigo Usil
Sang Raja


__ADS_3

...--------------------------------...


*******


Angin kencang itu ternyata menghadirkan satu sosok besar di hadapan mereka, sosok yang tinggi dan besarnya tiga kali lipat dari Om Besar-nya Rindu.


Mereka semua melihatnya dengan kengerian yang nampak jelas di wajah mereka. Bahkan Rindu yang biasanya anteng-anteng saja kini merasakan ketakutan.


"Gawat, apa ini raja yang mereka katakan, bagaimana ini?" Rindu berucap dalam hatinya.


Dewi dan yang lainnya juga sama bahkan lebih takut dari pada Rindu, Steven dan Om Besar.


"Ya Tuhan hanya pada Mu Dewi memohon, lindungilah kami semua ya Tuhan, selamatkan kami dari sosok mengerikan ini."


"Ya Allah, hanya pada Mu Siska berpasrah, apapun yang terjadi kami tahu bahwa semuanya atas izin Mu. Kami percaya bahwa Engkau akan melindungi kami dari bahaya apapun termasuk sosok mengerikan ini. Lindungi kami semua ya Allah, amin."


"Ya Allah lindungilah Neneng, jangan sampai Neneng mati di sini, mati muda benar-benar tidak bagus ya Allah. Neneng masih harus menikah, kasian Mak kalau Neneng tinggalkan. Lindungilah kami semua ya Allah, amin."


Neneng, Andra, Andre dan Dewi juga melakukan hal yang sama. Doa-doa mereka panjatkan dalam hati merek semua.


Kini sosok itu berdiri tepat di depan mereka, bahkan bayangannya menutupi mereka semua. Rindu mendekati anjing penjaganya.


"Paman anjing, bagiamana ini?"


"Jangan takut Rindu, sebesar apapun masalah yang kamu hadapi sekarang, pasrahkan semuanya pada Tuhan. Tuhan pasti akan melindungi kalian semua."


"Ia paman anjing, Rindu pasti akan selalu berdoa. Rindu juga tidak mau teman Rindu kenapa-napa."


"Yakinlah Rindu, kita pasti bisa."


"Baik paman."


Rindu kemudian berdoa dalam hatinya, kini ia pasrah apapun yang akan terjadi. Tapi sebelum itu, ia juga akan berjuang sekeras mungkin agar teman-temannya bisa pulang dengan baik-baik saja dari sana, intinya mereka semua selamat, itu adalah harapan dan doanya..


"Kenapa kalian membebaskan tahanan ku?"


"Ya siapa suruh kamu mengurung mereka di sini, itu tidak baik tau," sarkas Rindu.


"Duh, kak Rindu nggak ada takut-takut apa? Malah ditantang," ucap Steven.


Steven yang mendengar perkataan Rindu menggelengkan kepalanya.


"Bukan Rindu namanya kalau diam-diam bae Steven."


"Ia juga ya Om, haiiizzz semoga kita semua baik-baik saja ya Om."


"Ia Steven, semoga kita masih bisa makan makanan enak sama Rindu nanti."


"Hahahaha ia deh Om."


"Beraninya kalian membebaskan mereka semua, rasakan ini."


Makhluk mengerikan itu mengerahkan kekuatannya, angin kencang kembali menerjang mereka semua, dengan sekuat tenaga mereka berusaha bertahan.

__ADS_1


Anjing Rindu dan Om Besar serta Steven tidak tinggal diam, saat sosok itu sedang menyerang Rindu, mereka bertiga menyerang sosok itu dari berbagai arah.


*******


Terjadilah pertarungan hebat yang mengakibatkan pohon-pohon di sana terguncang hebat, mungkin karena sudah larut malam makanya sudah tidak ada warga lagi yang berkeliaran.


Anjing penjaga dan Om Besar sangat kewalahan menghadapi sosok itu, mereka mengerahkan semua kekuatan yang ada pada diri mereka.


"Bagaimana ini, aku tidak bisa tinggal diam seperti ini. Aku harus membantu mereka."


"Ayo Rindu mikir, mikir Rindu."


Rindu berdialog dalam hatinya sendiri, tiba-tiba suara buyutnya kembali terdengar di pikirannya.


"Rindu sayang."


"Buyut."


"Ia sayang ini buyut, dengarkan buyut sayang. Sosok yang sedang kalian hadapi bukanlah sosok yang mudah dikalahkan, karena itu mintalah semua teman-teman mu untuk selalu berdoa pada yang Maha Kuasa, tentu kamu tau bukan bahwa semuanya berasal dari Tuhan Yesus."


"Ia Buyut, Rindu paham. Lalu apalagi yang harus Rindu lakukan Buyut, Rindu nggak mau mereka kenapa-napa. Rindu juga harus membantu Om Besar dan Paman anjing yang sepertinya sudah sangat kelelahan melawan sosok itu."


"Sayang, setelah buyut jelaskan maka segeralah lakukan sesuai apa yang akan buyut katakan."


"Baiklah Buyut, cepat katakan apa yang harus Rindu lakukan."


"Cincin itu sayang, letakan cincin itu tepat di pusar mu. Akan ada sebilah pedang yang keluar dari tubuh mu, pergunakan pedang itu untuk membunuh makhluk yang sedang kalian lawan. Pedang itu adalah pedang yang buyut tanamkan di dalam tubuh kamu, lakukan sekarang sayang sebelum kalian ada yang terluka."


"Baiklah Buyut, terimakasih sudah datang walau hanya lewat suara."


"Baik Buyut, sampai jumpa lagi. Rindu sayang banget sama Buyut."


"Buyut juga sangat menyayangi mu sayang, sampaikan salam buyut untuk ibu mu nanti."


"Baik Buyut, akan Rindu sampaikan nanti."


Seiring berakhirnya percakapan itu, Rindu langsung melakukan sesuai apa yang dikatakan buyutnya, ia meletakan cincin itu tepat di pusarnya.


Kemilau cahaya hadir di tengah-tengah mereka, teman-temannya hanya bisa diam dan melihat apa yang akan terjadi.


Tiba-tiba dari dalam diri Rindu keluar secara perlahan sebilah pedang lengkap dengan sarungnya, perlahan dan akhirnya sudah ada di hadapannya.


Cahaya kemilau itu berasal dari pedang itu.


"Wow, kok bisa?"


Andre menganga melihat pedang yang hadir di depan Rindu. Yang membuat mereka menganga adalah pedang itu keluar dari tubuh Rindu.


Rindu mendekati mereka semua.


"Teman-teman, aku akan melawan sosok itu. Aku mohon kalian selalu mendoakan kami berempat agar kami bisa melawan dan melenyapkan sosok itu."


"Rin, tanpa kamu minta pun kami akan selalu berdoa untuk kamu dan yang lainnya."

__ADS_1


"Thanks ya Wi, aku akan membantu paman anjing, Steven dan juga om Besar."


"Rin, hati-hati ya."


"Thanks ya Ndra."


Andra tersenyum tapi dalam hatinya ia khawatir akan keselamatan Rindu.


Rindu mendekati Om Besar, anjing penjaga dan Steven.


"Om aku akan membantu."


"Baiklah Rindu, semoga kita berhasil."


"Semangat kak Rindu, semangat."


"Kamu juga Steven, semangat."


Mereka kemudian bersatu dan menyerang makhluk itu, makhluk itu langsung menyerang mereka satu persatu, tapi dengan gesitnya juga mereka menghindar sehingga serangan-serangan yang dilepaskan sosok itu menghantam sebagian rumah kosong itu.


Steven juga ikut menyerang, bahkan sosok-sosok yang mereka bebaskan juga ikut membantu. Walaupun kekuatan mereka tak seberapa, tapi bagi mereka semua, mereka harus membantu Rindu dan yang lainnya.


Serangan dari berbagai sisi membuat sosok itu semakin murka, tangannya yang besar bergerak kesana-kemari dan menghantam beberapa sosok yang ada, salah satunya adalah Steven.


Steven yang kurang siaga terkena pukulan makhluk itu membuatnya terhempas jauh dan menghantam sebuah pohon besar yang ada di sana.


Rindu yang melihat Steven kesakitan langsung mengangkat pedangnya, dengan lincahnya ia bergerak kesana-kemari seakan ia adalah ahli pedang.


Teman-temannya yang melihat pergerakan Rindu melongo sendiri.


"Sejak kapan Rindu mahir mengendalikan pedang?"


"Nggak tau Sis, Neng, aku yang udah lama kenal Rindu aja baru tau kalau dia mahir mengendalikan sebilah pedang."


Andra yang melihat Rindu yang sedang menari dengan pedangnya dan menyerang sosok itu hanya bisa berucap dalam hatinya.


"Rindu, sungguh banyak kejutan dalam diri kamu, apalagi yang belum kami semua ketahui Rin?"


"Wah hebat banget si Rindu bermain pedangnya."


"Ia Ndre, aku benar-benar nggak nyangka," ucap Willy.


...--------------------------------...


...Hai kesayangan :)...


...Thanks ya udah baca novel aku, jangan lupa like dan komen ya.. ♡...


...Jangan lupa vote juga, thank you semuanya. ♡...


...Sehat-sehat ya kalian di sana....


...Tuhan Yesus Memberkati....

__ADS_1


...--------------------------------...


__ADS_2