Rindu Indigo Usil

Rindu Indigo Usil
Steven Galau


__ADS_3

...--------------------------------...


Raisa tiba di rumahnya.


"Ayah, Bunda," Raisa menyapa kedua orang tuanya.


"Sayang, tumben pulang lebih awal. Bagaimana? Apa kamu sudah bertemu dengan Rindu itu?" tanya bundanya.


"Sudah Bun," jawab Raisa.


"Lalu apa yang dikatakannya Nak, apakah kita bisa bertemu anak itu?" tanya ayahnya.


"Itu dia Ayah, makanya Raisa pulang untuk menemui Ayah dan Bunda," ucap Raisa.


"Ada apa sayang?" tanya bundanya.


"Yah, Bun. Rindu mengatakan bahwa orang yang disangkanya kembaran Raisa, itu sudah meninggal Bu," ucap Raisa.


"Meninggal!" ucap ucap Bu Susi.


"Ia Bun," ujar Raisa sedih.


Air mata bundanya kembali mengalir, ia kembali merasakan kesedihan.


"Lalu bagaimana sekarang Ayah? Kita sudah tidak bisa bertemu dengannya lagi," ucap Bu Susi.


"Ayah juga nggak tau Bun, ayah juga bingung!" ucap Pak Rudi.


"Ayah, Bunda. Tadi Rindu juga ngasih tau Raisa kalau dia itu ternyata seorang indigo, dia bisa melihat makhluk tak kasat mata Yah, Bun!" ucap Raisa.


"Lalu apa hubungannya sayang?" tanya Bu Susi.


"Itu dia Bun, kata Rindu anak itu ada di rumahnya! Dia kini hanya sosok tak kasat mata, namun karena Rindu bisa melihatnya, makanya sekarang dia tinggal di rumah Rindu," jelas Raisa.


"Lalu bagaimana kita bisa melihatnya Nak, kita bukan indigo seperti Rindu kan!" ucap Pak Rudi.


"Ayah, kata Rindu ia bisa membantu kita! Rindu meminta kita ke rumahnya jika kita ingin bertemu anak itu," ucap Raisa.


"Sayang, kita harus ke sana! Ayah, kita harus ke sana!" ucap Bu Susi.


"Tenanglah Bu, kita akan ke sana sama-sama. Tapi karena ini sudah malam, besok saja ya kita ke rumah Rindu temannya Raisa itu!" ucap Pak Rudi.


"Ia Bun, benar kata Ayah. Besok saja kita ke sana ya, sekarang sudah malam," ucap Raisa.


"Baiklah, besok kita ke sana ya!" ucap Bu Susi.


Raisa dan ayahnya mengangguk.


Raisa meninggalkan kedua orang tuanya dan pergi ke kamarnya, ia hendak mandi karena hari sudah malam.


Setelah mandi, Raisa kembali menemui kedua orang tuanya yang ternyata sudah menunggunya di meja makan.


"Ayo sayang, kita makan malam," ucap Pak Rudi.


"Ia Yah," jawab Raisa sambil duduk di kursinya..


Di rumah Rindu.


Setelah makan kue bersama Rindu, kini Steven sudah kembali nongkrong di pohon besar. Om Besar yang juga ada di sana melihat Steven yang diam saja menjadi penasaran, karena nggak biasanya Steven diam seperti itu.


"Steven kamu kenapa? Kok tumben diam, nggak pecicilan!" ucap Om Besar.

__ADS_1


"Steven lagi galau Om," ucap Steven.


"Galau? Kenapa, apa karena kamu sudah punya pacar makanya kamu sudah tau galau sekarang!" ucap Om Besar.


"Nggak Om, bukan karena itu," ucap Steven.


"Lalu karena apa?" tanya Om Besar.


"Steven galau karena kalau misalnya urusan Steven udah selesai di dunia ini, maka Steven akan ninggalin kak Rindu, Bu Bos, dan Om deh," ucap Steven.


"Memangnya kapan kamu akan menyelesaikan semuanya Steven?" tanya Om Besar.


"Sepertinya sebentar lagi Om, makanya Steven galau nih!" ucap Steven.


"Ia juga ya, bakalan sepi ni rumah kalau nggak ada kamu! Nggak ada yang pecicilan lagi di sini," ucap Om Besar.


"Itu dia Om, nanti Steven nggak bisa jahil lagi sama kunti-kunti, poci, dan yang lainnya yang ada di sini," ucap Steven.


"Haiiizzz sepertinya memang lebih baik kalau kamu pergi ke akhirat, kan kasian mereka yang kamu usilin," ucap Om Besar.


"Heheheh namanya juga aku masih bocil Om," ucap Steven.


"Ckckckc," Om Besar berdecih..


Di kamar Rindu.


Handphone Rindu berdering.


"Halo kak Raisa," ucap Rindu.


"Halo Rin, aku mau ngasih tau sama kamu kalau orang tua aku ingin bertemu dengan sosok yang kamu bilang," ucap Raisa.


"Boleh Kak, boleh banget," ucap Rindu.


"Ok Kak," ucap Rindu.


Setelah obrolan itu berakhir, Rindu mengirim alamat rumahnya ke Raisa..


Handphone Rindu kembali berdering.


"Halo sayang," ucap Rindu.


Ternyata yang menelpon adalah Andra.


"Lagi ngapain sayang? Belum tidur?" ucap Andra.


"Belum Ndra," jawab Raisa.


"Oyahh sayang, besok kamu ke kampus?" tanya Andra.


"Nggak sayang, besok aku nggak ke kampus!" jawab Rindu.


"Oh ia sayang. Sayang, besok kita dinner ya," ucap Andra.


"Dinner?" ucap Rindu.


"Ia sayang," jawab Andra.


"Hmmm baiklah sayang," jawab Rindu.


"Ya sudah kamu tidurlah sayang, aku juga mau tidur sekarang!" ucap Andra.

__ADS_1


"Ia sayang, night!"


"Night sayang," ucap Andra.


Obrolan itu berakhir dan Rindu pun langsung mengambil sikap doa lalu berdoa, setelah itu ia merebahkan tubuhnya di kasur, menarik selimut dan tak lama ia terlelap.


Di rumah Siska.


"Hhoooaammm, ngantuk! Udah malam banget rupanya, sebaiknya aku tidur deh," ucap Siska.


Setelah mengucapkan doa, Siska pun merebahkan tubuhnya di kasur.


Jam satu dini hari, Siska merasa kepalanya sedang dielus-elus oleh seseorang. Tapi karena sedang terlelap ia mengabaikan hal itu, saat ia kembali terlelap bunyi langkah kaki terdengar di kamarnya.


Sontak saja hal itu membuat Siska takut, ia takut kalau sampai maling masuk ke kamarnya.


Dalam hatinya Siska berucap masih dengan matanya yang tertutup, "Ya ampun langkah kaki siapa itu, jangan-jangan maling! Aduh gimana ini ya Allah."


Tapi setelah beberapa saat ia menunggu, tak ada apapun yang terjadi di kamarnya.


"Di mana dia? Kok nggak ada pergerakan apa-apa," ucap Siska dalam hatinya.


"Jangan-jangan hantu lagi."


"Aduh gimana ini," Siska mulai takut kalau-kalau yang ada di kamarnya adalah hantu.


Namun karena penasaran, Siska memutuskan untuk melihat siapa yang ada di kamarnya.


Siska pura-pura berbalik badan masih dengan mata tertutup, setelah itu ia membuka matanya perlahan-lahan.


"Loh, kok nggak ada! Kemana orang itu?"


"Tadi beneran suara langkah kaki kan!" ucap Siska pada dirinya sendiri.


Ia memutuskan untuk menyalakan lampu, setelah melihat sisi-sisi kamarnya ia tak menemukan apapun di sana.


"Masa ia aku linglung?" ucap Siska lagi.


"Sebaiknya besok aku ceritakan pada Rindu sajalah, mungkin dia lebih paham!"


Setelah itu, ia pun kembali naik ke kasurnya untuk kembali melanjutkan tidurnya.


"Maafin ayah Nak, maaf karena ayah banyak menyakiti kamu semasa hidup ayah."


"Ayah hanya ingin bertemu kamu dan meminta maaf secara langsung."


"Biarlah untuk sekarang ayah melihat mu seperti ini saja, semoga kamu selalu bahagia sayang!"


Sosok itu tetap diam dibalik gorden kamar Siska, tanpa Siska ketahui.


Siska ternyata sudah kembali memasuki mimpinya, ia terlelap hingga pagi menjemput.


...--------------------------------...


...Hai kesayangan :)...


...Thanks ya udah baca novel aku, jangan lupa like dan komen ya.....


...Jangan lupa vote juga, thank you semuanya....


...Sehat-sehat ya kalian di sana....

__ADS_1


...Tuhan Yesus memberkati....


...--------------------------------...


__ADS_2