Rindu Indigo Usil

Rindu Indigo Usil
Pertemuan Steven dan Raisa


__ADS_3

...--------------------------------...


Hari ini adalah hari dimana Rindu menunggu kejelasan, apakah Steven kembarannya Raisa atau tidak.


Malam ini, Raisa dan kedua orang tuanya akan bertamu ke rumah Rindu, perasaan Rindu saat ini antara sedih dan senang. Dia senang kalau Steven dan Raisa benar-benar kembaran, tapi dia juga sedih karena setelah ini, Steven pasti akan meninggalkannya, meninggalkan mereka semua.


Sore harinya Rindu terlihat tidak bersemangat untuk melakukan apa-apa, ia bahkan sudah menunda makan malamnya bersama Andra.


Karena ternyata orang tua Raisa datangnya malam, dan Andra juga mau menyaksikan semuanya sebentar malam. Dewi, Siska, Andra dan Andre, mereka semua akan berkumpul di rumah Rindu sebentar malam.


Rindu duduk termenung di halaman depan rumahnya, ia melihat ke arah pohon besar yang dihuni Steven dan Om Besar. Tiba-tiba ia merasa sedih, sampai air matanya menetes dengan sendirinya.


"Ya Tuhan, aku harus ikhlas! Steven harus menemukan terangnya, ia harus kembali ke hadirat Mu, beri aku hati yang ikhlas ya Tuhan!" Rindu berucap dalam hatinya.


Steven dan Om Besar ternyata memperhatikannya dari sana.


"Kak Rindu kenapa ya?" ucap Steven.


"Dia pasti sedih Steven, kalau benar mereka adalah keluarga kamu, kamu pasti akan meninggalkan kami semua!" Om Besar berucap dengan sedih.


"Ia Om, Steven juga berat banget jika harus berpisah dengan kak Rindu, dengan kalian semua!" ucap Steven sedih.


"Tapi Steven juga tidak bisa berbuat apa-apa, ini takdir Steven Om, sejatinya kita semua akan kembali menghadap Allah SWT," ucap Steven lagi.


"Ia Steven, Om setuju sama ucapan kamu!" ucap Om Besar.


Keduanya kembali memperhatikan Rindu.


Bu Mita baru saja kembali dari kantor.


"Sayang, kenapa? Kok sedih?" tanya Bu Mita.


"Ah, enggak kok Ma," ucap Rindu.


"Oh ayolah, kamu nggak bisa bohongin mama sayang! Ada apa?" tanya Bu Mita.


Bu Mita malah khawatir kalau-kalau Andra yang membuat Rindu sedih.


"Rindu cuma sedih Mam, kalau benar Raisa adalah kembarannya Steven, pasti sebentar lagi Steven akan ninggalin Rindu Mam, ninggalin kita semua," ucap Rindu.


"Oh, rupanya anak mama yang cantik ini sedih karena Steven!" ucap Bu Mita.


"Ia Mam," jawab Rindu.


"Sayang, sekeras apapun kita berusaha menahan Steven, itu akan sia-sia. Jika waktu Tuhan sudah tepat, Steven pasti akan meninggalkan kita semua! Kita hanya bisa pasrah, dan mengikuti jalan Tuhan, kita akan doakan Steven jika dia sudah kembali ke akhirat," ucap Bu Mita.


"Ia Mam," jawab Rindu.


"Kita harus ikhlas sayang, nggak mungkin kan dia di sini terus! Kasian juga dianya kan," ucap Bu Mita.


"Ia Ma, Rindu akan berusaha ikhlas. Rindu hanya merasa akan kesepian lagi Ma, biasanya Steven selalu jahil, tapi juga selalu ada saat Rindu butuh dia! Walau jahil tapi dia penurut anaknya, semua tingkahnya yang akan membuat Rindu merasa kehilangan Mam," ucap Rindu.


"Ia sayang, mama ngerti perasaan kamu!" Bu Mita memeluk anak semata wayangnya.

__ADS_1


Steven yang melihatnya merasa terharu, betapa Rindu dan Bu Mita menyayanginya, walaupun kenyataannya mereka adalah makhluk beda alam. Tapi Rindu dan Bu Mita selalu memperlakukan mereka dengan baik.


Air matanya menetes.


"Maafin Steven Kak, maaf karena Steven pasti akan ninggalin kak Rindu!" ucap Steven.


"Kamu yang sabar ya Steven, kami semua sedih memang, tapi kami juga pasti akan bisa ikhlas," ucap Om Besar.


"Ia Om," ucap Steven.


Bu Mita dan Rindu akhirnya masuk ke dalam rumah.


----------------


Malam harinya seperti janji Raisa dan kedua orang tuanya, mereka akan berkunjung ke rumah Rindu untuk memastikan apakah Steven adalah kembaran Raisa.


"Bun, udah siap?" tanya Raisa.


"Udah sayang, Ayah kamu?" tanya Bu Susi.


"Ayah udah nunggu di luar Bun, sekalian ngeluarin mobil dari garasi," jawab Raisa.


"Ya udah ayo sayang kita berangkat," ucap Bu Susi.


Sang ibu dan anak itu pun langsung keluar dan menemui Pak Rudi yang sudah menunggu mereka.


"Sayang, Bunda ayo masuk," ucap Pak Rudi.


Raisa dan Bu Susi masuk ke dalam mobil dan merekapun meninggalkan rumah mereka dan mobil melaju membawa mereka ke rumah Rindu.


"Ia Bu, ayah juga berharap seperti itu," ucap Pak Rudi.


"Raisa juga mengharapkan hal yang sama Bun, Yah," ucap Raisa.


"Ia sayang," jawab kedua orang tuanya.


Setelah berkendara beberapa saat akhirnya mereka tiba di alamat yang diberikan Rindu.


"Apa benar ini rumahnya sayang?" tanya Bu Susi.


"Kalau menurut yang dikasih Rindu sih ini Bun," jawab Raisa.


Tak lama Rindu keluar dari dalam rumahnya, ia menunggu kedatangan Raisa dan kedua orang tuanya di depan pintu.


Raisa keluar dan bertanya pada satpam yang menjaga di depan.


"Permisi Pak, apa benar ini rumahnya Rindu?" tanya Raisa.


"Ia Mba, ini memang rumahnya non Rindu!" jawab pak satpam.


"Oh ia Pak, saya udah ada janji sama Rindu!" ucap Raisa.


"Oh gitu, ya udah ayo masuk Mba," ucap pak satpam seraya membuka gerbang.

__ADS_1


Raisa kembali ke mobil dan memberitahu ayah dan ibunya. Merekapun masuk ke halaman rumah Rindu, melihat mobil yang masuk ke halaman rumahnya, Rindu langsung mendekat.


"Hai Rin," sapa Raisa.


"Hai Kak, ayo masuk!" ucap Rindu.


"Om, Tante, silahkan masuk," ucap Rindu lagi.


"Nak Rindu, terimakasih ya udah ijinkan Om dan tante ke sini," ucap Bu Susi.


"Ia Tan," jawab Rindu.


Merekapun masuk ke dalam rumah Rindu.


Sedangkan Steven yang ada di pohon merasa gundah gulana.


"Steven kamu kenapa? Kok mutar-mutar kayak rollercoaster saja dari tadi," ucap Om Besar.


"Aku merasa risau Om, malam ini bisa saja malam terakhir aku bersama kalian semua," ucap Steven.


Saat mereka sedang berbincang tiba-tiba Rindu memanggil mereka berdua, keduanya pun langsung menghilang dan muncul di hadapan Rindu dan yang lainnya.


Ternyata di ruang tamu rumah Rindu sudah ada Bu Mita, Rindu, Andra, Andre, Dewi, Siska, Willy, Raisa dan kedua orang tuanya.


Steven yang melihat Raisa seperti melihat dirinya sendiri.


"Steven, jangan-jangan dia orangnya. Benar-benar mirip sama kamu," ucap Om Besar.


Steven tak bisa berucap apa-apa sekarang, ia terus memperhatikan Raisa dan kedua orang tuanya tanpa menjawab perkataan Om Besar.


Semakin lama ia melihat Raisa, ia merasa ditarik ke masa lalunya, kepalanya tiba-tiba sakit.


"Aaakkkhhhhh sakit Om, kepala Steven tiba-tiba sakit ini," Steven berucap dengan memegang kepalanya.


Rindu yang melihat Steven kesakitan langsung mendekat.


"Steven kamu kenapa?" Rindu khawatir.


"Ini nggak tau kenapa Rin, tiba-tiba kepalanya sakit katanya," ucap Om Besar.


Steven memegang kepalanya sembari menahan rasa sakit yang kini hinggap di kepalanya.


...--------------------------------...


...Hai kesayangan :)...


...Thanks ya udah baca novel aku, jangan lupa like dan komen ya.....


...Jangan lupa vote juga, thank you semuanya....


...Sehat-sehat ya kalian di sana....


...Tuhan Yesus memberkati....

__ADS_1


...--------------------------------...


__ADS_2