Rindu Indigo Usil

Rindu Indigo Usil
Masih Tentang Steven dan Raisa


__ADS_3

...--------------------------------...


Beberapa menit kemudian sakit kepala yang dirasakan Steven mereda.


"Gimana Steven? Apa kamu ingat sesuatu?" tanya Rindu.


"Steven ingat Kak," ucap Steven.


"Apa Steven, apa yang kamu ingat!" ucap Rindu.


Mereka yang ada di sana hanya diam melihat apa yang dilakukan Rindu, tentu hanya Bu Mita dan Rindu yang bisa melihat Steven dan Om Besar.


"Saya hanya ingat waktu itu saya lagi ngamen di dekat mall itu Kak, tiba-tiba saat saya akan menyebrang, ada sebuah mobil yang menabrak saya," ucap Steven.


"Steven juga ingat Kak, waktu itu Steven tinggal di jalanan bersama anak jalanan lainnya, kami disuruh ngamen dan menyetor uang kepada bos Karis Kak," ucap Steven.


"Siapa Karis itu?" tanya Rindu.


"Karis itu kepala pengamen di sana Kak, kami anak-anak yang tinggal di tempatnya disuruh ngamen dan menyetor hasil ngamen kami pada bos Karis," ucap Steven.


"Lalu apa kamu tau kenapa kamu bisa ada di sana?" tanya Rindu.


"Kata teman-teman yang sama-sama ada di sana, waktu kecil saya ditemukan bos Karis lalu bos Laris merawat saya untuk dijadikan pengamen, seperti itu Kak," jelas Steven.


"Seperti itu rupanya, baiklah."


Rindu kembali duduk di sofa tepat di samping Bu Mita.


"Ada apa sayang?" tanya Bu Mita.


Rindu kemudian menceritakan pada Bu Mita apa yang diceritakan Steven padanya.


"Nak Rindu, ada apa?" tanya Pak Rudi.


"Ah, Steven Om kepalanya tadi tiba-tiba sakit!" ucap Rindu.


"Steven siapa? Apa dia sosok yang mirip Raisa anak saya?" tanya Pak Rudi.


"Ia Om," jawab Rindu.


"Rin, terus gimana kami bisa melihatnya?" tanya Raisa.


"Aku akan membantu kalian, tapi maaf! Apa ada sesuatu yang bisa menjadi pencocokan apakah Steven dan Raisa kembaran!" ucap Rindu.


"Ia Nak, saya tau! Saya pasti akan mengenalnya jika saya melihatnya," ucap Pak Rudi.


Memang saat itu hanya Pak Rudi yang lebih mengenal anaknya yang hilang, soalnya Bu Susi masih harus dirawat, ia hanya melihat sekali saja anaknya.


"Baik, saya akan membantu Om, Tante dan Raisa untuk bertemu Steven dan memastikan semuanya," ucap Rindu.


Dalam hatinya Rindu merasa sedih, ia harus siap jika Stevan akan meninggalkannya malam ini.

__ADS_1


"Steven sini," Rindu menyuruh Steven mendekat.


Steven melihat Om Besar terlebih dahulu.


"Pergilah, apapun kenyataannya, kami pasti tidak akan melupakan kamu Steven! Kamu akan selalu ada di hati kami," ucap Om Besar.


"Ia Om, makasih ya," jawab Steven.


Steven lalu mendekat ke arah Rindu dan Bu Mita.


"Kak, Bu Bos," ucap Steven.


"Steven, kamu siap?" tanya Rindu.


"Siap Kak, tapi Steven juga takut! Steven takut kalau Steven akan ninggalin kak Rindu, Bu Bos, kak Siska, kak Dewi, kak Andra, kak Andre dan Om Besar. Selama ini Steven sudah nyaman di sini Kak, tapi Steven juga tau kalau nggak mungkin selamanya Steven di sini bersama kak Rindu," ujar Steven.


Rindu yang mendengar perkataan Steven merasa sangat terharu, sedih, semua campur aduk dirasakannya. Bahagia tentu, tapi yang namanya perpisahan pasti akan menyakitkan bukan!


Rindu menghapus air matanya, Bu Mita yang melihat itu menepuk pelan pundak Rindu.


"Sayang, kalaupun Steven akan meninggalkan kita malam ini, kita harus kuat ya!" ucap Bu Mita.


"Ia Mam," jawab Rindu sedih.


Rindu kemudian meminta bantuan anjingnya untuk membuka mata batin mereka semua di sana, energi Rindu tidak bisa membuka semua mata batin mereka jadi dia di bantu oleh anjingnya.


"Rindu, jangan sedih ya! Aku tau ini berat, tapi kamu harus kuat dan ikhlas kalau misalnya malam ini Steven akan meninggalkan kamu," ucap anjingnya.


Rindu beralih dan mendekat ke arah Raisa dan kedua orang tuanya.


"Om, Tante, Raisa, permisi ya! Saya akan membuka mata batin kalian," ucap Rindu.


"Baik Nak, kami siap! Silahkan," ucap Pak Rudi.


Ketiganya bersiap, mereka sudah tidak sabar melihat Steven. Rindu melakukan tugasnya, begitu juga anjing Rindu, ia membuka mata batin Andra dan yang lainnya.


Setelah mata batin mereka terbuka, kini mereka bisa melihat ketiga makhluk tak kasat mata yang ada di sana.


Bu Susi, Pak Rudi dan Raisa sangat terkejut melihat adanya Om Besar dan anjing berkepala dua di hadapan mereka.


"Si-siapa mereka Rin?" tanya Raisa.


"Mereka adalah sahabat aku Om, Tante, Raisa. Yang paling besar, namanya Om Besar. Kalau itu, dia adalah anjing penjaga aku, nah yang satunya kalian pasti tau, dia adalah Steven," ucap Rindu.


Mereka bertiga memperhatikan Steven, memang benar adanya Steven dan Raisa bak pinang dibelah dua.


Bu Susi tak kuasa menahan air matanya, Raisa juga sama. Mereka menangis, dalam benak mereka, mereka berharap bahwa Steven masih manusia seperti mereka.


"Om, silahkan! Pastikan apakah dia anaknya Om dan Tante atau tidak," ucap Steven.


Steven kemudian mendekat ke hadapan Pak Rudi, Pak Rudi kemudian meminta ijin untuk melihat bagian belakang telinga Steven.

__ADS_1


Pak Rudi mulai memeriksa, ternyata benar adanya di bagian belakang telinga Steven ada tahi lalat dan sama persis dengan yang dipunyai kembaran Raisa.


Melihat kenyataan itu, Pak Rudi merasa sangat sedih. Kini tak ada lagi harapan menemukan anaknya dalam keadaan hidup, kini ia melihat anaknya sudah menjadi sosok tak kasat mata seperti ini.


"Ayah, gimana?" tanya Raisa.


"Dia, dia benar saudara kembar kamu sayang!" ucap Pak Rudi dengan mata yang berkaca-kaca.


"Ya Allah, kenapa engkau mempertemukan kami saat anak hamba sudah seperti ini, kenapa bukan saat dia masih baik-baik saja ya Allah," ucap Bu Susi dengan air mata yang mengalir deras.


Raisa menenangkan ibunya, walau dirinya juga sama sedihnya, ia hanya akan melihat Steven pertama dan terakhir malam ini.


"Kak, jadi benar aku anak Om dan Tante ini?" Steven bertanya pada Rindu.


"Ia Steven, itulah kenyataannya," ucap Rindu.


Rindu menangis ketika mendapati kenyataan itu, Dewi dan Siska mendekat lalu memeluknya.


"Rin, sabar ya! Kita harus ikhlas, walaupun kita merasakan kesedihan kalau Steven meninggalkan kita nanti," ucap Dewi.


"Ia Rin, ini adalah yang terbaik untuk Steven. Kita harus ikhlas ya," ucap Siska.


"Ia Sis, Wi, aku akan berusaha ikhlas. Selama ini aku sudah menganggap Steven adik aku, makanya aku merasa sedih sekarang," ucap Rindu.


"Ia Rin, aku juga sedih," ucap Dewi.


Mereka bertiga pun berpelukan.


"Jadi kalian orang tua saya?" tanya Steven.


Pak Rudi dan Bu Susi mengangguk.


"Jadi kamu kembaran saya?" Steven bertanya pada Raisa.


Raisa mengangguk mengiyakan.


"Lalu kenapa kalian tidak mencari saya selama ini?" tanya Steven lagi.


...--------------------------------...


...Hai kesayangan :)...


...Thanks ya udah baca novel aku, jangan lupa like dan komen ya.....


...Jangan lupa vote juga, thank you semuanya....


...Sehat-sehat ya kalian di sana....


...Tuhan Yesus memberkati....


...--------------------------------...

__ADS_1


__ADS_2