Rindu Indigo Usil

Rindu Indigo Usil
Bertarung


__ADS_3

...--------------------------------...


Rindu dan Siska berangkat ke rumah Andra menggunakan mobil, kali ini Rindu sendiri yang menyetir.


10 menit dalam perjalanan akhirnya mereka tiba di rumah Andra.


"Hai Rin, Sis, ayo masuk."


Rindu dan Siska mengikuti langkah kaki Andra ke dalam rumah, di sana ternyata ada Andre dan Willy.


"Eh, kalian tumben ke sini."


"Ia Will, aku emang ada perlu ke sini, kalau Siska ma datang buat jenguk kamu yang katanya nggak enak badan, heheheh."


"Rindu, apaan sih."


"Hahahaha cie malu, bercanda sayangku."


Rindu gemush melihat tingkah malu-malu Siska.


"Ayo duduk Rin, Sis, atau mau berdiri terus hehehe."


"Enak aja, bisa pegel kaki ku Ndre kalau berdiri terus."


Siska dan Rindu duduk di sofa dan mereka langsung memulai membahas perihal kedatangan Rindu ke rumah Andra dan Andre.


"Will, Ndre, Rindu ke sini itu atas permintaan aku."


"Emang ada apa Ndra?" tanya Andre.


Andra lantas menceritakan mimpinya kepada Andre dan Willy serta Siska yang belum tau soal itu, tentu saja itu membuat Willy kaget bukan main karena tadi pagi bahkan ia sempat bermimpi dan mimpi itu hampir sama dengan mimpi Andra.


"Andra tadi pagi aku kan sempat ketiduran tu, nah pas aku tidur aku bermimpi seperti itu juga. Dalam mimpi aku, aku didatangi oleh seorang perempuan tapi aku tidak mengenalnya, ia berkata bahwa ia mencintai aku, tapi aku benar-benar tidak mengenalnya."


"Jadi kamu juga mengalami mimpi seperti itu?"


"Ia Rin, bedanya kalau Andra didatangi oleh sosok yang waktu itu tapi aku, aku didatangi seorang perempuan berambut pendek, mukanya sangat pucat. Bahkan ia berkata kalau ia akan membawa ku ke dunianya."


"Hmmm berarti orang yang berbeda yang datang ke mimpi kamu dan Andra, kalau yang mendatangi Andra berkata bahwa ia disuruh tuannya, maka yang datang langsung menemui kamu dalam mimpi itu adalah sosok yang dipanggilnya tuan."


"Ya aku sepakat sama analisis kamu Rin," ujar Siska.


"Wah ngeri juga tuh, emang siapa dia Will kenapa sampai segitunya?" tanya Andre.


"Aku benar-benar nggak kenal cewek itu Ndre."


"Terus gimana dong kita bisa menyelesaikan masalah ini, apalagi kalau menurut cerita Andra malam saat ia bermimpi dan kemudian berusaha tidur lagi, atap rumah seperti dihantam sesuatu."


"Ah ia Sis, aku sampai lupa soal itu. Sebentar biar aku minta Steven dan Om Besar mencari tahu jejak itu."


"Silahkan Rin."


Rindu kemudian memanggil Steven dan Om Besar yang sedang berada di luar rumah.


"Ada apa Kak?"


"Ia Rin, ada apa?"


"Aku minta tolong Om dan Steven ngecek atap rumah ini, cari tahu apa yang terjadi semalam di rumah ini."


"Baiklah Rindu."


"Siap Ibu Negara."


"Haiiss dasar bocill."


******


Steven dan Om Besar pergi mengecek atap rumah Andra, mereka berdua berusaha mencari tau apa yang terjadi.


"Hmmm sepertinya memang terjadi sesuatu semalam Steven."


"Ya benar Om, bahkan auranya masih tersisa di sini."


Mereka berdua kembali berkeliling kesana-kemari untuk mencari tahu lebih detail.


"Om ke sini."


Steven memanggil Om Besar ketika ia merasakan aura yang lebih kuat dari arah plafon sebuah kamar, entah kamar siapa itu.


"Ada apa Steven?"


"Sini deh Om, aku merasakan aura yang lebih besar di sana. Ayo kita cek."

__ADS_1


"Ayok."


Mereka berdua melayang menembus plafon kamar dan mencari sosok yang sedang bersembunyi di sudut paling gelap yang ad di loteng rumah itu.


"Jangan bersembunyi, keluarlah kami tau kau di sini."


"Ya benar, jangan bersembunyi kayak tokek, ayo keluar."


Steven malah mengatai sosok itu tokek, perlahan sosok itu keluar dari kegelapan dan langsung nampak di hadapan Steven dan Om Besar.


"Untuk apa kalian di sini?"


"Harusnya aku dan Om Besar yang bertanya seperti itu sama kamu."


"Ya benar, untuk apa kamu di sini membawa hawa tidak baik untuk manusia."


"Bukan urusan kalian, sebaiknya kalian pergi sebelum tuanku datang dan kalian akan dihabisinya.


"Tuan mu? Apa kamu pikir aku dan Om Besar takut, huh percaya diri sekali kamu kalau tuan mu itu bisa menghabisi kami berdua. Belum tau kan kamu kalau tuan kita berdua marah, lebih serem dari wajah kamu yang jelek itu."


"Hahahaha benar kata Steven, tuan kita berdua kalau marah serem amat, kamu bisa disedot dan dibuang ke neraka."


Keduanya malah gibahin Rindu di depan sosok itu. Saat mereka sedang berbicara saling adu mulut tiba-tiba hawa di sana terasa semakin pengap.


"Siapa kalian?"


"Kenalin Kak saya Steven dan ini Om Besar."


"Buat apa kalian ke sini?"


"Buat cari kalian berdua lah, ayo ikut aku dan Om Besar kalian berdua dicari tuan kami."


"Tuan, siapa? Lagian saya tidak ada urusan dengan kalian semua, pergi kalian dari sini."


"Nggak kalian berdua harus ikut kami, kalian berdua kan yang ganggu kak Willy."


"Willy itu calon suami aku, jadi kalian jangan ikut campur."


"Calon suami, calon suami, calon suami kak Willy itu kak Siska bukan perempuan hantu kayak kamu."


"Beraninya kamu mengata-ngatai aku."


Sosok perempuan berambut pendek itu langsung menyerang Steven dan Om Besar, anak buahnya pun ikut menyerang, terjadilah perkelahian antara mereka di atas loteng rumah Andra.


Sedangkan Om Besar dan sosok berambut pendek beradu kekuatan membuat loteng rumah Andra bergemuruh.


Rindu dan yang lainnya sampai merasakan getaran dari pertarungan mereka.


"Ada apa ini Rin?"


"Nggak tau Ndra, tapi sepertinya Om Besar dan Steven sedang bertarung. Aku merasakan aura mereka berdua, sebaiknya kita cari asal aura itu."


"Baiklah ayo kita cari sekarang," ucap Willy yang sudah tak sabar.


Mereka semua mencari asal aura yang menyebabkan getaran itu, Willy menggandeng tangan Siska, setelah beberapa saat mereka menemukan sumbernya di kamar Willy.


"Ini kamar siapa?"


"Ini kamar aku Rin," jawab Willy.


"Boleh kita masuk Will, aku merasa auranya dari dalam."


"Boleh Rin, ayok."


Mereka semua masuk kedalam kamar Willy.


"Benar mereka di atas sana."


"Maksud kamu mereka di loteng Rin?"


"Ia Ndra kita nggak akan bisa melihat pertarungan merek, aku akan meminta paman anjing mengecek ke atas."


Rindu menggosok cincinnya dan anjing berkepala dua itupun hadir di sana.


"Paman, Rindu minta tolong cek keadaan di atas, seperti Om Besar dan Steven sedang bertarung."


"Ia Rindu kamu benar, mereka sedang bertarung. Tunggulah di sini, aku akan mengecek ke atas."


"Terimaksih paman."


Anjing Rindu langsung menembus plafon dan hadir di tengah-tengah pertarungan keempat sosok di sana.


"Hai paman anjing, ayo bantu Steven."

__ADS_1


Steven yang sedang memegang rambut panjang sosok itu langsung melayang-layang dan berusaha menghantam tubuh sosok itu ke tembok.


Anjing Rindu langsung membantu, dengan tangan dan kukunya yang tajam ia langsung menarik gaun panjang yang dipakai sosok itu. Jadilah mereka berdua seperti sedang bermain sambil memutar-mutar tubuh sosok itu.


"Hentikan, kepala ku pusing."


"Hahahaha rasakan itu, siapa suruh kamu dan tuan mu itu mengganggu kak Willy dan yang lainnya, rasakan ini."


Rambut panjang sosok itu ditarik oleh Steven sedangkan anjing Rindu menarik gaunnya dari arah berlawanan, saking pusingnya sosok itu dijadikan mainan oleh Steven dan anjing Rindu akhirnya ia terjatuh dengan sendirinya.


"Hahahaha kenapa, bukankah tadi kamu sangat sombong dan ingin menghabisi ku?"


"Paman anjing, bawa dia pada kak Rindu, aku akan membantu Om Besar."


"Tidak, sebaiknya kamu yang membawanya pada Rindu. Aku yang akan membantu si Besar."


"Baiklah Om."


Steven menarik rambut sosok itu dan merekapun langsung hadir di hadapan Rindu dan yang lainnya, kali ini mereka semua tidak melihat Steven dan sosok rambut panjang itu, hanya Rindu lah yang bisa melihat mereka.


"Kak Rindu, ini dia salah satu dalangnya, satunya lagi masih bertarung dengan Om Besar dan sekarang dibantu paman anjing."


"Oh, jadi dia yang dalam mimpi Andra."


"Apa dia di sini Rin?" tanya Andra.


"Ya dia di sini, Steven sedang menarik rambutnya hahahaha memang Steven ini sangat jahil, apa kalian mau melihatnya? Aku akan membuka mata batin kalian."


"Ia Rin, kami mau melihatnya," jawab Siska.


Rindu membuka mata batin teman-temannya dan akhirnya mereka bisa melihat Steven dan Om Besar.


"Ya benar dialah sosok itu Rin."


"Hahahaha, kenapa dia ini kenapa kayak manusia sedang mabuk," Andre menertawakan sosok yang sedang dijambak Steven.


"Hahahaha kak Andra, dia ini habis main rollercoaster sama aku dan paman anjing. Lihat gaun cantiknya sampai sobek-sobek karena paman anjing ahahahaha."


"Puas kalian?"


"Puas banget malah," ujar Steven.


"Kak Rindu sebaiknya Kakak sedot aja dia ke neraka, hahahahhaha."


"Maksud kamu?" tanya Andre.


"Ye kak Andre ngelag aja, maksud Steven ya disedot ke dalam cincinnya kak Rindu, biar tamat sekalian riwayatnya."


"Oooohhhh ia juga ya, aku lupa sorry sorry."


"Baiklah, sosok jelek berambut panjang, gaun compang-camping, katakan say goodbye pada dunia," ucap Rindu.


"Apa maksud kalian?"


"Ya maksud kak Rindu, kamu akan tamat sampai di sini, oon banget sih."


Hahahaha..


Mereka semua tertawa mendengar Steven mengata-ngatai sosok itu, Rindu kemudian mengarahkan cincinnya kepada sosok berambut panjang itu.


Perlahan-lahan cahaya itu seperti menariknya.


"Jangan, jangan lenyapkan saya, ampun ampuni saya."


Namun sayang teriakannya tidak mengubah apapun, ia akhirnya tersedot dan masuk ke dalam cincin Rindu.


"Akhirnya the end," ucap Steven.


"Hahahahaha ada-ada saja perkataan kamu Steven," ucap Siska.


Mereka kini hanya menunggu Om Besar dan anjingnya Rindu yang sedang bertarung di atas sana, rupanya sosok yang dilawan mereka lumayan kuat.


...--------------------------------...


...Hai kesayangan :)...


...Thanks ya udah baca novel aku, jangan lupa like dan komen ya.. ♡...


...Jangan lupa vote juga, thank you semuanya. ♡...


...Sehat-sehat ya kalian di sana....


...Tuhan Yesus memberkati....

__ADS_1


...--------------------------------...


__ADS_2