
...--------------------------------...
"Ia sayang, kak Rindu dan teman-teman balik lagi karena kami semua kangen sama Putri."
"Bener Kak?"
"Ia dong sayang."
Pak Musa kembali mempersilahkan mereka untuk duduk di rumahnya, Rindu kemudian menyampaikan tujuan mereka kembali lagi ke kampung ini.
"Begini Pak, kami kembali lagi ke sini karena kami sangat penasaran dengan apa yang terjadi. Bolehkah kami menginap di sini malam ini Pak?"
"Boleh Nak, boleh sekali! Tapi seperti yang kalian ketahui bahwa malam harinya akan terasa sangat gelap tanpa bantuan cahaya lampu, beruntungnya hari ini sepertinya bulan terang."
"Ia Pak, kami semua sudah paham akan hal itu. Maafkan jika kami merepotkan Bapak dan Ibu," ucap Andra.
"Tidak Nak, sedikitpun kami tidak kerepotan."
"Baiklah, terimakasih Pak."
Setelah menyampaikan niat mereka, mereka mengeluarkan bawaan mereka dari bagasi mobil ke dalam rumah Pak Musa. Mereka juga menjelaskan pada Pak Musa bahwa esok hari sebelum mereka pulang, mereka akan membagikan makanan itu..
Setelah itu mereka ijin pada Pak Musa untuk berkeliling sebentar.
"Pak, apa kami boleh berkeliling sebentar?"
"Silahkan Nak, tapi pesan bapak tetaplah berhati-hati."
"Tentu Pak, terimakasih," ucap Andra.
Mereka berlima melangkahkan kaki menelusuri sekitar, cewek-cewek dibarisan depan, sedangkan Andra dan Andre di bagian belakang. Sebenarnya sih bukan hanya mereka berdua, tapi ada juga Om Besar dan Steven yang menjaga mereka dari belakang.
Mereka terus berjalan sehingga ketika mereka melewati rumah-rumah penduduk yang kemarin, mereka akan singgah dan memberikan beberapa roti untuk mereka yang sengaja mereka bawa.
Beras dll akan mereka bagikan esok hari saja.
"Terimakasih Nak, semoga kalian selalu di berkati."
"Amin, terimakasih Pak, Bu."
Seperti itulah ucapan yang di terimah mereka saat mereka membagikan roti.
"Sungguh anak-anak kota yang berhati baik, lindungilah mereka ya Allah."
Doa seorang laki-laki yang kini tinggal sendirian karena istrinya sudah ikut hilang, ia mendoakan Rindu dan yang lainnya.
Setelah berkeliling mereka benar-benar tidak menemukan apapun.
"Hmmmm tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan petunjuk untuk kita ya."
"Ia Rin, kampung ini memang terasa mencekam! Namun sejak kita berkeliling, kita tidak menemukan apapun."
"Ia benar, kira-kira apa yang sebenarnya terjadi?" Andre bingung.
"Mungkin sebentar malam kita akan mendapatkan jawabannya."
"Ya benar kata Dewi, sepertinya malam kita akan melihat apa yang sebenarnya terjadi," sambung Siska.
"Guys, pesan aku untuk kalian semua! Jangan ada yang pergi sendirian, misalnya mau pipis atau apa harus ajak orang lain, ok!"
"Ia Rin, kita paham," ucap Dewi.
Karena tak menemukan apapun mereka akhirnya melangkahkan kaki untuk kembali ke rumah Pak Musa.
"Om, kok kita nggak nemu apa-apa ya?"
"Ia Steven, apa dia berada di satu tempat yang belum kita lewati?"
"Bisa jadi sih Om."
Keduanya berbincang-bincang sambil mengikuti Rindu dan yang lainnya dari belakang. Saat mereka melewati semak-semak yang akan membawa mereka kembali ke rumah Pak Musa, Steven melihat sesuatu yang terasa lengket di beberapa semak itu.
Karena penasaran ia langsung memberitahu Rindu.
__ADS_1
"Kak Rindu, kak Rindu."
Rindu yang mendengar Steven memanggil namanya langsung berhenti. Yang lainpun ikut berhenti jadinya.
"Ada apa Rin?" tanya Siska.
"Bentar ya guys, Steven manggil aku soalnya."
"Di mana dia?" tanya Andra.
"Dia di belakang kalian, dia dan Om Besar aku minta untuk menjaga kita dari arah belakang."
"Ooohh," mereka mengangguk bersamaan.
Rindu kemudian berbicara dengan Steven dan Om Besar.
"Ada apa Dek?"
"Kak itu di semak-semak aku melihat sesuatu."
"Apa? Apa sosok itu?"
"Bukan Kak, bukan! Tapi sebaiknya kita cek saja Kak."
"Baiklah."
Rindu memberitahu teman-temannya perihal apa yang dikatakan Steven, merekapun langsung mengecek semak yang dimaksud Steven.
Ketika mereka melihat itu, mereka mengerutkan keningnya masing-masing.
"Apa ini?" ucap Andre.
"Ia, apa ini Rin?" ucap Dewi dan Siska bersamaan.
"Aku juga belum tau, tapi kenapa bau dan berlendir seperti ini?"
"Rindu, menurut saya lendir ini berasal dari sosok itu. Mungkin dia semalam melewati semak-semak ini dan tidak sengaja lendirnya mengenai semak-semak ini," Om Besar berspekulasi.
"Ya bisa jadi benar seperti yang dikatakan Om Besar Kak."
"Udah sebaiknya kita pulang ke rumah Pak Musa, soal ini apa pasti nanti kita akan menemukan jawabannya."
--------
Mereka kembali ke rumah Pak Musa, karena sudah jam 4 sore mereka langsung saja memasak makanan bersama Bu Laila agar mereka makan sebelum jam 6.
Karena setelah jam 6 mereka akan diam di dalam rumah. Bu Laila, Rindu, Siska, Dewi, merekalah yang kini sedang memasak.
Putri yang tau bahwa hari ini ia akan makan nasi lagi merasa sangat senang.
"Ayah, apakah sebentar kita akan makan nasi?"
Putri bertanya pada ayahnya saat mereka para lelaki sedang duduk bersama di teras rumah.
"Ia sayang, semua karena kak Rindu, kak Andra dan yang lainnya."
"Putri senang?" tanya Andra.
"Ia Kak, senang sekali," jawab Putri excited.
"Putri harus makan yang banyak ya, supaya cepat besar."
"Siap kak Andre."
Pak Musa tersenyum melihat anaknya yang terlihat sangat bahagia.
Bu Laila dan yang lainnya sudah selesai memasak, mereka hanya masak nasi, mie, dan telur goreng.
Memang hanya itulah bahan makanan yang dibawa mereka, tapi itu sudah cukup untuk Bu Laila dan keluarganya, mereka sangat berterimakasih pada Rindu dan teman-temannya.
Setelah menata makanan di lantai beralaskan karpet itu, Dewi pergi memanggil Pak Musa dan yang lainnya untuk makan.
"Pak, Andra, Andre ayo makan. Putri sayang, ayo makan."
__ADS_1
"Ia Nak Dewi, terimakasih ya."
"Ok Kak."
Merekapun masuk ke dalam rumah, Steven dan Om Besar hanya diam santuy di teras rumah.
"Mari Pak, kita makan bersama," ucap Rindu.
"Terimakasih nak Rindu, Dewi, Siska, kalian sudah membantu ibu memasak," ucap Bu Laila.
"Ia Bu sama-sama."
Merekapun membagi makanan satu persatu dan mulai menikmatinya, Pak Musa, Bu Laila sangat bersyukur bisa makan lagi hari ini. Terlebih melihat putri kecil mereka yang sangat lahap.
Setelah menyantap makanan itu, mereka langsung membersihkan piring-piring dan duduk sebentar sebelum akhirnya senja menjemput dan merekapun langsung masuk ke kamar yang sudah disiapkan.
Rindu, Dewi dan Siska satu kamar. Andra dan Andre juga satu kamar, namun mereka bukannya diam di kamar masing-masing tapi mereka berkumpul di kamar yang ditempati Rindu dan yang lainnya.
Mereka ingin sama-sama melihat apa yang akan terjadi.
Kegelapan menyelimuti dan sinar bulan hadir memberikan sedikit cahaya bagi mereka yang diam di kegelapan malam.
"Guys, ingat apapun yang terjadi kita harus selalu bersama."
Mereka semua mengangguk tanda mengerti, di luar Steven dan Om Besar sedang diam di atap rumah Pak Musa, mereka sangat penasaran dengan apa yang terjadi di kampung ini.
Karena itulah mereka memutuskan untuk melihatnya dari ketinggian.
"Steven, menurut kamu apa dia akan datang?"
"Ya semoga saja Om, biar kita bisa tau apa yang terjadi."
Om Besar mengangguk, mereka terus menunggu begitupun dengan Rindu dan yang lainnya.
Saat jam menunjukkan pukul 10 malam, sosok yang mereka tunggu datang. Sosok tak berbentuk itu melayang-layang di sekitar dan mendekat ke arah rumah Pak Musa.
Sosok bergerak seperti gel, tidak berbentuk namun memiliki sepasang mata merah menyala, kini Steven dan Om Besar bisa melihatnya dengan benar.
Rindu dan yang lainnya juga melihat dari balik jendela kamar mereka.
"Sosok apa itu sebenarnya? Kenapa bentuknya seperti itu?"
Karena penasaran Rindu mengeluarkan anjing penjaganya.
"Paman anjing, apakah kau tau sosok apa yang sebenarnya ada di luar sana?"
Rindu berbicara melalui pikirannya.
"Itu bukanlah sosoknya yang sebenarnya Rindu."
"Maksud kamu?"
"Ia hanya merubah bentuknya menjadi seperti itu, tapi sebenarnya ia bisa membuat wujudnya seperti manusia kok."
"Oohh, jadi ia hanya memanipulasi saja."
"Ya seperti itulah, dengan bentuknya yang seperti itu, orang-orang akan kesulitan mengetahui bentuk aslinya bukan!"
Mereka terus memperhatikan sosok yang sedang mondar-mandir melayang di luar sana, entah apa yang kini dicarinya.
Tiba-tiba sosok itu merubah bentuknya dan perlahan-lahan di hadapan mereka tergambar jelas bentuk dari sosok itu, yang tadinya kaki, tangan, kepala dll tidak terlihat, kini ia terlihat seperti manusia.
Mata merah menyala itu seakan mencari mangsanya ke berbagai penjuru kampung.
...--------------------------------...
...Hai kesayangan :)...
...Thanks ya udah baca novel aku, jangan lupa like dan komen ya.....
...Jangan lupa vote juga, thank you semuanya....
...Sehat-sehat ya kalian di sana....
__ADS_1
...Tuhan Yesus memberkati....
...--------------------------------...