
...--------------------------------...
********
Ayunan pedang Rindu mengenai paha besar sosok itu, tak berhenti di situ Rindu terus menyerang bertubi-tubi, Om Besar dan anjing Rindu juga terus membantu Rindu.
Serangan dari berbagai arah membuat sosok itu mulai kewalahan, kesempatan itu tidak disia-siakan mereka. Sosok-sosok yang dibantu Rindu langsung menyerbu dan menyerang di bagian kepala lawan mereka.
Rindu kini sedang memikirkan bagaimana ia bisa menebas leher sosok itu, karena sosok yang menjadi lawannya ini sangat besar dan tinggi.
"Om Besar, apa kau bisa mengangkat ku ke atas, aku akan berusaha menebas lehernya."
"Baiklah Rindu, aku akan mengangkat kamu ke atas, kamu berhati-hati ya."
"Baik Om, paman anjing bisakah kau menjaga Om Besar saat ia membantu ku?"
"Tentu Rindu, semoga kamu berhasil."
"Terimakasih paman anjing, terimaksih Om Besar."
Om Besar dengan tangan besarnya mengangkat Rindu bak sedang mengangkat anak kecil, ia mengangkat Rindu setinggi mungkin.
Dewi dan yang lainnya hanya bisa berdoa melihat betapa bahayanya aksi Rindu, mereka hanya bisa berharap bahwa Rindu akan baik-baik saja.
Rindu yang kini sedang berada diketinggian mengayunkan pedangnya kesana-kemari, Om Besar pun memutar tangannya kesana-kemari.
Sosok yang dilawan Rindu terus menyerang walaupun ia harus menahan serangan dari berbagai arah, kekuatannya semakin ia tambahkan.
Sosok-sosok yang membantu Rindu pun tak berhenti, mereka terus berjuang membantu Rindu.
Tebasan pedang Rindu mengenai lengan sosok besar itu, darah hitam keluar dan mengakibatkan bau busuk yang membuat mereka seakan mau muntah.
"Duh, darahnya aja bau banget lagi."
"Ia Ndre, bau banget," sahut Willy.
"Ciihh setan soalnya, makanya darahnya saja sangat menjijikkan," ucap Neneng.
"Ia Neng kamu benar hehehehe," ujar Dewi.
"Semoga Rindu berhasil melenyapkannya," ucap Siska.
"Amin."
Mereka mengaminkan secara bersama, sedangkan Andra ia sedang sangat serius melihat pertarungan antara Rindu dan sosok besar itu, walau harus mengadah ke atas terus, ia tetap melakukannya..
Rindu dengan dibantu gerakan tangan Om Besar terus mengayunkan pedangnya, sosok yang dilawannya menghindar dengan berbagai cara.
Hingga akhirnya tebasan pedang Rindu kembali mengenai bahu sosok itu, membuatnya sedikit merasa kesakitan. Lagi-lagi dan lagi darah hitam berbau busuk itu keluar dari sana, dengan susah payah Rindu menahan diri agar tidak muntah.
Kembali ia ayunkan pedangnya tanpa memberi jeda pada sosok itu untuk membalas, hingga tebasan pedang Rindu tepat mengenai titik lemah makhluk itu.
Lehernya yang terkena tebasan pedang Rindu perlahan kulit-kulitnya seakan terlepas dengan sendirinya, hingga kepala itu terpisah dari tubuhnya yang lain.
Buuummmm...
Sosok itu tumbang dan mengakibatkan goncangan yang hebat, sedikit demi sedikit meleleh bagaikan timah yang dipanaskan lalu kemudian berubah menjadi abu dan lenyap.
"Huh, terimakasih Tuhan Yesus akhirnya Rindu berhasil mengalahkannya. Terimakasih untuk penjagaan Mu yang luar biasa untuk kami semua."
Rindu menaikan doa dan ucapan syukurnya. Om Besar kembali menurunkan Rindu kembali ke bawah.
"Kita berhasil Rindu."
"Ya Om, kita berhasil."
"Rindu, selamat kamu makin hebat sekarang."
"Paman anjing, terimakasih ya."
"Sama-sama Rindu."
__ADS_1
"Oyahh Steven mana ya?"
"Nggak tau Rin, tadi sih dia terkena pukulan sosok itu."
"Duh, kasian tu anak. Di mana ya dia?"
Tiba-tiba Steven datang.
"Aduh, sakit banget punggung aku Kak."
"Steven kamu nggak apa-apa kan?"
"Lumayan sakit Kak, encok juga ini."
"Hehehehe sabar ya, nanti pulang dari sini kita makan enak deh, gimana?"
"Wah, bagus tu Kak, hehehehe."
******
Rindu mendekati teman-temannya, Dewi dan Siska langsung memeluk Rindu.
"Rin, kamu nggak apa-apa kan?"
"Wi, aku nggak apa-apa kok."
"Syukurlah Rin, kami khawatir."
"Ia Sis, makasih ya udah khawatir dan selalu berdoa."
Neneng mendekati mereka bertiga.
"Rin, kamu hebat sekali tau, mana pedang keluar dari badan lagi, hehehehe daebak."
"Hahahaha, Neng kamu ada-ada aja deh."
"Akhirnya kita semua selamat," ucap Andre yang datang mendekati mereka.
"Ia Ndra."
"Thanks ya Rin, kamu keren, hehehehe."
"Hahhaha thanks ya Will."
Sosok-sosok yang dibantu mereka dan yang masih stay di sana langsung mendekat.
"Rindu, terimakasih atas bantuan kalian semua kini kami bisa bebas."
"Sama-sama, semoga segala urusan kalian cepat selesai dan kalian bisa tenang."
"Ia Rindu, semuanya terimakasih ya."
"Kalau begitu kami semua akan pamit, sampai jumpa lagi Rindu dan semuanya."
"Bye."
Sosok-sosok itu melayang dan menghilang dari sana, Rindu dan yang lainnya pun memutuskan untuk pulang.
"Jam berapa ya sekarang?"
"Ya ampun, udah jam 3 pagi ternyata."
"What? Yang benar Wi?"
"Ia Sis, bener udah jam 3."
"Ya ampun, bahkan kita semua tidak merasakan kantuk," ujar Neneng.
"Ia bener, mungkin karena kita sibuk."
"Hahahaha, kamu kali Rin yang sibuk," ujar Willy.
__ADS_1
"Ia Rin, kamu yang sibuk, mana jago banget lagi main pedangnya."
"Hahahaha, Ndre kamu ada-ada aja, b aja kali."
"Ye beneran loh aku bilang," ucap Andre.
"Ya sudah, sebaiknya kita pulang sekarang."
"Ia benar kata Andra, sebaiknya kita sekarang," sahut Rindu.
Mereka semua keluar dari halaman rumah kosong itu dan melangkahkan kaki kembali ke rumah neneknya Dewi yang mereka tempati.
Setelah beberapa saat di perjalanan akhirnya mereka sampai di rumah.
"Huh, akhirnya sampai juga."
"Ia, akhirnya sampai juga, paling tidak kita bisa beristirahat sebentar matahari pagi menjemput," ucap Rindu.
"Ia ayok semuanya kita masuk," ujar Andra.
Rindu dan yang lainnya masuk ke dalam rumah, Om Besar dan Steven mencari tempat istirahat, sedangkan anjing berkepala dua penjaga Rindu sudah kembali masuk ke dalam cincin yang dipakai Rindu.
Mereka semua langsung masuk kamar masing-masing dan beristirahat, saking capeknya tidak membutuhkan waktu yang lama, akhirnya mereka langsung terlelap.
Pagi menjemput, mereka semua bangun jam 8. Mungkin karena mereka kelelahan semalam.
"Hoooamm, Good morning world."
Rindu bangun lalu kemudian menepuk pantat Dewi yang sekamar dengannya, sedangkan Siska semalam tidur dengan Neneng.
"Wi bangun, ayo mandi."
"Ia Rin, kamu mandi dulu aja, ntar gantian."
"Ok deh."
Rindu mengambil handuk dan berlalu ke kamar mandi, setelah Rindu gantian Dewi yang mandi.
Rupanya cowok-cowok juga sudah bangun, mereka langsung bergerak cepat ke kamar mandi.
Siska dan Neneng juga sudah bangun. Setelah semuanya selesai mandi, kini mereka sedang duduk dan menyantap sarapan mereka.
"Wi thanks ya, aku udah tidur di sini semalam."
"Santai aja Neng."
Setelah sarapan selesai Neneng pamit untuk pulang ke rumahnya.
"Semuanya aku pamit ya, thanks untuk semalam, keren kalian semua. Hehehehe."
"Hahahaha, Neng kamu tu lebih keren dari Willy dan Andre."
"Hahahaha, Sis kamu ada-ada aja."
"Lah, kan benar Wi."
Hahahahaha...
Mereka semua tertawa, lebih tepatnya menertawakan Andre dan Willy..
...--------------------------------...
...Hai kesayangan :)...
...Thanks ya udah baca novel aku, jangan lupa like dan komen ya.. ♡...
...Jangan lupa vote juga, thank you semuanya. ♡...
...Sehat-sehat ya kalian di sana....
...Tuhan Yesus Memberkati....
__ADS_1
...--------------------------------...