
...--------------------------------...
Pagi-pagi sekali Rindu sudah siap karena hari ini ia harus ke kampus, dan ternyata Andra pun sudah menjemputnya.
"Ma, Rindu pamit ya," ucap Rindu.
"Ia sayang, kalian hati-hati di jalan ya," balas Bu Mita.
"Siap Mam," ujar Rindu.
Rindu keluar dan menemui Andra.
"Pagi Ndra," ucapnya.
"Pagi juga sayang, berangkat sekarang?" tanya Andra.
"Ia sayang," jawab Rindu.
Mereka berdua meninggalkan rumah Rindu dan melaju menuju kampus mereka, Andre dan Dewi juga pasti dalam perjalanan ke kampus.
Mereka berdua tiba di kampus.
"Pagi Rin," ucap Dewi.
"Pagi Wi, udah dari tadi?" tanya Rindu.
"Nggak, baru juga sampe dijemput Andre," jawab Dewi.
"Oh, hay Ndre," Rindu menyapa Andre.
"Hay Rin," jawab Andre.
Mereka duduk sembari membahas soal skripsi mereka, dengan serius mereka sama-sama mengerjakan skripsi agar cepat selesai.
Siang harinya mereka berhenti dari segala kesibukan dan pergi ke kantin.
"Makan dulu yuk, lapar nih," ucap Dewi.
"Ayok, aku juga lapar," ujar Rindu.
Andra dan Andre pun hanya bisa mengikuti kedua kekasih hati mereka. Keempatnya melangkah santai menuju kantin, Andra dan Andre langsung memesan makanan untuk mereka semua.
Setelah beberapa saat, Bu kantin mengantarkan pesanan mereka.
"Makasih Bu," Andra mewakili temannya.
"Sama-sama nak Andra," jawab ibu kantin.
Mereka menyantap makanan sambil bercerita.
"Kenapa Rin? Ada yang kamu pikirkan?" tanya Dewi.
"Ini Wi, aku lagi mikir habis ini mau ke kafe yang waktu itu kita ngumpul," ujar Rindu.
"Ngapain ke sana sayang?" tanya Andra.
"Nyari pacar baru, hahahahaha," Andre mengejek Andra.
"Ye, nanti Dewi nyari pacar baru baru tau rasa loh," ucap Andra.
"Ya jangan kek gitu juga," ucap Andre.
"Hahahaha makanya jangan suka ngadi-ngadi deh," ucap Andra.
Rindu dan Dewi hanya bisa menggelengkan kepala mereka mendengar celotehan yang dikeluarkan si kembar.
__ADS_1
"Aku ke sana mau cari tau seorang wanita yang mukanya mirip Steven!" jelas Rindu.
"Steven! Steven si hantu maksud kamu Rin?" tanya Dewi.
"Ia Wi, mau Steven siapa lagi!" jawab Rindu.
"Emang kapan kamu ngeliatnya sayang, dan untuk apa?" tanya Andra.
"Waktu kita ngumpul di sana! Aku hanya ingin Steven bisa pergi dengan tenang ke akhirat, mungkin karena ada sesuatu makanya sampai sekarang dia masih berkeliaran di dunia ini," ucap Rindu.
"Ooohhh gitu ya, jadi kalau orang yang meninggal lalu ternyata ia masih punya urusan yang belum selesai, dia akan berkeliaran di dunia ini seperti Steven?" tanya Andre.
Rindu mengangguk tanda mengiyakan ucapan Andre.
"Ya udah kalau gitu ntar aku temenin ya," ucap Andra.
"Makasih ya," jawab Rindu.
"Aku juga ikut ya Rin," sahut Dewi.
"Boleh, asal kamu nggak punya kesibukan Wi," ucap Rindu.
"Nggak kok, aku pengen ikut serta membantu Steven! Wah nanti kalau misalnya dia udah nggak sama-sama kita lagi, pasti sepi deh," ucap Dewi.
"Ia Wi, apalagi aku yang biasanya ngobrol sama dia! Tapi ya mau gimana lagi, aku nggak boleh egois, aku harus bantu dia menemukan terangnya," ucap Rindu.
"Ia Rin, aku setuju sama kamu," ucap Andre.
----------------
Setelah menghabiskan makanan mereka, dua pasangan itu pun keluar dari kantin. Rencananya mereka akan langsung ke kafe yang dikatakan Rindu tadi.
Andra dan Andre mengeluarkan motor dari parkiran sedangkan Rindu dan Dewi menunggu di gerbang.
Mereka akhirnya meninggalkan kampus, motor melaju dengan kecepatan sedang.
"Makasih ya Ndra, sampai saat ini kamu masih sabar dengan sifat aku. Kamu mencintai aku apa adanya," ucap Rindu dalam hatinya.
Setelah beberapa saat dalam perjalanan, akhirnya mereka sampai di kafe yang mereka tuju.
"Ayo masuk," ucap Andra.
Merekapun masuk ke dalam kafe, mereka lalu duduk di kursi yang ada di sana. Rencananya Rindu akan bertanya pada pelayan yang ada terlebih dahulu.
"Permisi Mba, saya boleh nanya?" ucap Rindu.
"Boleh, silahkan," jawab pelayan itu.
Rindu pun menanyakan wanita dengan ciri-ciri seperti yang diketahuinya.
"Ooohhh, jangan-jangan yang dimaksud sama Mba adalah non Raisa?" ucap pelayan itu.
"Non Raisa? Siapa dia Mba?" tanya Rindu.
"Dia adalah anak dari pemilik kafe ini Mba, dia juga seorang desainer terkenal," ucap pelayan itu.
"Terus kira-kira kapan saya bisa bertemu sama dia Mba?" tanya Rindu.
"Biasanya dia ke sini hari Rabu Mba," ujar pelayan itu.
"Kan hari ini hari Rabu Mba," sahut Rindu cepat.
"Oh ia ya, lupa saya Mba hehehe. Mungkin sebentar lagi dia datang Mba," ucapnya.
"Oh gitu, baiklah! Makasih ya Mba," ucap Rindu.
__ADS_1
"Ia sama-sama."
Mereka akhirnya memesan minuman saja di sana, nggak mungkin kan mereka duduk diam saja di sana, tanpa minum atau makan, yang ada mereka diusir dari sana.
Mata Rindu selalu tertuju ke pintu masuk, ia ingin melihat wanita itu saat nanti dia akan masuk dari sana.
Lama mereka menunggu, hingga akhirnya wanita yang di tunggu-tunggu datang.
"Itu bukan Rin?" ujar Dewi.
"Ia Wi, mirip banget kan sama Steven!" ucap Rindu.
"Ia, banget, kayak kembaran," ucap Dewi.
Andra dan Andre yang melihat wanita itu juga setuju dengan ucapan Dewi, wanita itu memang sangat mirip dengan Steven, kata orang bak pinang dibelah dua.
Setelah wanita itu masuk dan menuju sebuah ruangan yang ada di sana, Rindu meyakini ruangan itu pasti ruangan pemilik kafe ini.
Rindu rasanya ingin sekali menjumpai wanita itu, tapi gimana caranya?
"Gimana caranya yah aku bisa ngomong sama dia," ucap Rindu.
"Ya temuin aja langsung Rin," ujar Andre santai.
"Haiiizzz, sayang kamu gimana sih, apa kamu lupa apa yang dikatakan pelayan tadi? Dia itu anak pemilik kafe ini sekaligus seorang desainer terkenal, apa kamu pikir mudah bertemunya?" ucap Dewi.
"Hhmmmm gitu ya," ucap Andre.
"Sayang, kamu coba aja temui kasir yang di sana. Katakan kalau kamu ingin membahas soal desain pakaian dengannya, mungkin kasir itu bisa membantu kamu," ucap Andra.
"Ah, kamu benar sayang! Ya udah kalian tunggu di sini ya," ucap Rindu.
Mereka semu mengangguk. Rindu langsung mendekat ke arah kasir itu.
"Permisi Mba," ucapnya.
"Ia Mba, ada apa? Ada yang bisa saya bantu?" tanya kasir itu.
"Gini Mba, saya ingin bertemu dengan anak pemilik kafe ini. Saya ingin membahas beberapa desain pakaian bersamanya, apa bisa?" ucap Rindu.
"Sebentar ya Mba, saya coba tanyakan beliau."
Kasir itu langsung menelepon dan menyampaikan niat Rindu ingin bertemu Raisa.
"Mba, mari ikut saya," ucap kasir itu.
Rupanya Rindu diijinkan untuk bertemu dengan dirinya, Rindu pun nampak sangat senang, ia melihat ke arah Dewi dan yang lainnya lalu memberikan jempolnya.
"Syukurlah dia berhasil," ucap Dewi.
"Ia benar Wi," ucap Andra.
Mereka bertiga memutuskan untuk duduk di sana terus, sembari menunggu Rindu keluar dari ruangan itu.
...--------------------------------...
...Hai kesayangan :)...
...Thanks ya udah baca novel aku, jangan lupa like dan komen ya.....
...Jangan lupa vote juga, thank you semuanya....
...Sehat-sehat ya kalian di sana....
...Tuhan Yesus memberkati....
__ADS_1
...--------------------------------...