Rindu Indigo Usil

Rindu Indigo Usil
Rumah Kosong


__ADS_3

...------------------------...


******


"Bener-bener ya kalian, masa aku ditinggal?"


"Ya siapa suruh makannya lama banget."


"Ya kan menikmati makanan."


"Menikmati juga harusnya nggak tuli kali, masa disapa pun nggak dengar," ujar Dewi.


"Hahahaha sorry, sebenarnya tadi aku tuh lagi ngobrol sama Steven dan Om Besar, makanya nggak dengar kalian ngomong apa."


"Ckckckck dasar kamu ya."


"Hehehehe sorry Sis."


"Yang lain ke mana?"


"Tuh lagi pada santuy di depan."


"Ooohhh, terus kalian berdua ngapain di sini?"


"Ya nungguin kapan loh sadar kalau kita nggak di sana lagi, hehehhe," ujar Dewi cengengesan.


"Ye, dasar loh berdua."


"Terus kamu sama dua peliharaan kamu itu ngomongin apa tadi, sampe serius gitu."


"Gini tadi tu Steven cerita kalau mereka keliling kampung ini, nah katanya mereka menemukan sebuah rumah kosong yang ternyata di dalam rumah kosong itu banyak sosok yang dikurung di sana."


"Lalu?"


"Ya awalnya mereka mau ngajak aku ke sana, tapi ya aku bilang aja kalau ntar malam kita ada misi, jadi lain kali aja ke rumah yang dikatakan mereka."


"Sosok dikurung, lalu kenapa nggak mereka lepasin?" tanya Siska.


"Katanya banyak sosok seram di sana, dan di sana juga dijaga oleh sosok yang katanya lebih menyeramkan, mereka takut ketahuan akhirnya mereka kembali ke sini saat aku manggil mereka berdua."


"Sosok menyeramkan? Ngerii deh."


"Hahhaha santai aja kali Wi."


"Ye, kamu ma santai Rin, aku mana bisa santai."


"Hahahaha."


Mereka lalu duduk sambil bercerita dan membahas perihal mereka yang akan keluar malam ini, bagaimana cara mereka pamit sama mang Supri?


Keasikan bercerita ketiganya malah terlelap di sofa, Andra, Andre dan Willy masuk dan hendak ke kamar.


"Ya astaga, bagaimana bisa merek terlelap di sini."


"Ia Ndra, bisa-bisanya."


"Mungkin keasikan cerita sampai ngantuk," ujar Willy.


"Terus ini gimana dong, kita tinggal aja mereka di sini atau?"


"Atau apa Ndra?" tanya Andre.


"Atau kita pindahin ke kamar mereka."


"Maksud kamu kita angkat mereka bertiga ke kamar gitu?" tanya Willy.


Andra dan Andre kompak mengangguk, Willy hanya bisa menggaruk tengkuknya.


"Baiklah ayo, kasian juga kalau tidur model gini terus."


"Ndre, kamu angkat Dewi ya, Will kamu angkat Siska, Rindu aku yang angkat."

__ADS_1


"Ok siap."


Mereka bertiga kemudian mengangkat ketiga gadis itu ke kamar mereka.


"Rin, Rin, tidur aja kamu cantik."


Andra tersenyum melihat Rindu yang terlelap dalam tidurnya. Andra kemudian menidurkan Rindu di kasur kamar mereka.


"Dewi, cantik banget sih kamu, gemushh deh aku."


Andre mencubit gemush pipi Dewi, Dewi yang terlelap hampir saja bangun karena cubitan Andre.


"Duh, untung Dewi nggak bangun. Bisa gaswat kalau dia bangun."


Andre menidurkan Dewi di kasur tepat di samping Rindu..


"Siska, kamu ternyata sangat cantik jika dipandang dari jarak dekat seperti ini."


Willy tersenyum dan masuk ke dalam kamar lalu menidurkan Siska di samping Dewi.


Setelah itu mereka bertiga masuk ke kamar masing-masing untuk istirahat siang.


*********


Malam telah datang, kini mereka sedang duduk di teras rumah menunggu Neneng yang akan datang menjemput mereka.


"Akhirnya kamu sampai Neng, gimana?"


"Tadi aku ijin ke Mak untuk tidur di sini Wi."


"Oohh gitu, ya udah ayo duduk dulu."


Mereka duduk sebentar sembari menunggu mang Supri.


Mang Supri datang dan merekapun berpamitan.


"Mang, kami pamit sebentar ya, kami mau ke rumahnya Neneng, nanti kami semua balik ke sini kok."


"Ya sudah, tapi apa kalian sudah makan?"


"Baguslah kalau kalian sudah makan."


Setelah berpamitan mereka meninggalkan rumah dengan membawa 3 buah senter untuk mereka gunakan.


Mereka melangkah ke arah rumah Neneng, jika mereka bertemu warga kampung di jalan. Mereka akan mengatakan kalau mereka mau ke rumahnya Neneng.


Padahal itu hanyalah alasan mereka, tujuan mereka yang sebenarnya adalah rumah kosong yang berada tak jauh dari rumah Neneng.


Ketujuh anak muda itu terus melangkah menuju rumah Neneng, lebih tepatnya menuju rumah kosong itu.


Mereka akhirnya sampai di sana. Steven dan Om Besar yang ikut serta kaget melihat rumah yang didatangi Rindu dan yang lainnya, rumah ini adalah rumah yang dimaksud mereka juga.


"Kak Rindu."


"Ya ada apa Steven?"


"Kak, rumah yang aku dan Om Besar maksud itu adalah rumah ini."


"What?"


Rindu yang kaget tanpa sengaja mengeraskan suaranya.


"Sssstttttt, Rin kamu kenapa?"


"Eh maaf aku kaget soalnya."


"Emang ada apa Rin?" tanya Dewi.


"Ini Wi, kalian ingat kan cerita yang tadi siang aku ceritain?"


"Ya ingat, kenapa?"

__ADS_1


"Rumah yang dimaksud Steven dalam ceritanya adalah rumah ini."


"What? Bener?"


Kali ini Dewi dan Siska yang kaget, mereka ingat sekali cerita Rindu bahwa di rumah ini banyak sekali sosok menyeramkan dan banyak yang dikurung, satu yang membuat keduanya masih bisa bernafas lega. Mereka tidak bisa melihat makhluk yang mengerikan seperti kata Rindu.


Entah bagaiman kaget dan takutnya mereka kalau melihatnya nanti.


"Ia benar, Steven dan Om Besar sendiri yang ngasih tau, soalnya mereka berdua ikut."


"Ah maaf kalau aku nyela pembicaraan kalian, Steven dan Om Besar siapa sih? Perasaan dari tadi hanya kita bertujuh deh di sini."


"Ooohh, maaf ya Neng, gini Rindu itu bisa melihat makhluk tak kasat mata. Nah, Steven dan Om Besar itu adalah dua sosok sahabatnya Rindu, mereka selalu ikut dan jagain Rindu selama ini."


Dewi memberikan sedikit penjelasan pada Neneng agar nanti ia tidak kebingungan.


"Oooohhh gitu, bagus dong. Dengan adanya Rindu, kita bakalan tau ada apa di sini, ya kan?"


Ternyata Neneng tidak sepenakut Dewi dan Siska.


"Sebenarnya di sekitar sini sudah ada mereka, tapi masih yang biasa-biasa aja sih."


"Ckckckck Rindu, semua mah biasa buat kamu. Gimana kalau buat kita, itu bukan biasa Rin, tapi luar binasa," ujar Andre.


"Hahahaha, ya benar juga kata kamu Ndre," Dewi berucap.


"Kalian takut?"


"Aku sih nggak Rin," jawab Neneng.


"Aku juga nggak kok," ucap Andra.


"Aku dan Dewi juga nggak, ya kan Wi, heheh."


"Ia Sis."


Dewi tersenyum pada Siska lalu mereka berdua bergandengan tangan.


"Ye katanya nggak takut, tapi udah saling pegangan tangan aja," ujar Willy.


"Ya kan jaga-jaga Will," ujar Siska.


"Ya terserah kalian berdua sajalah, kalau gitu kita berdua juga pegangan tangan yuk Will."


"Iuwh, ogah banget gue Ndre."


"Hahahaha, sabar Ndre, sabar."


Andra mengolok kembarannya yang penakut itu.


"Gini aja, karena kita punya tiga senter aja, maka kita berkelompok dan saling jaga. Willy memegang satu senter lalu Dewi dan Siska bergabung, satu senternya lagi dipegang Andre bersama Neneng, satunya lagi aku dan Andra. Kalian semua berjalan dibelakang aja, biar aku dan Andra yang di depan. Nanti aku minta Steven dan Om Besar buat jagain kalian dari bagian belakang, gimana?"


"Ok setuju."


"Gini aja, aku sama Dewi. Willy sama Neneng dan Siska," ujar Andre.


"Ya udah deh, mana-mana aja," ujar Rindu.


Akhirnya mereka berjalan perlahan mendekati rumah itu, Steven dan Om Besar pun ikut melayang di belakang mereka. Mereka berdua menjaga teman-teman Rindu, jangan sampai ada makhluk usil yang mengganggu mereka dari belakang.


...--------------------------------...


...Hai hai hai....


...Terimakasih ya udah baca Novel Nunna sampai episode ini, semoga kalian suka ya. Jangan lupa kalau ada saran apapun, langsung di komentar ya....


...Thanks semuanya....


...Sehat-sehat ya kalian semua, jaga kesehatan apalagi pandemi kek gini kan....


...나는 당신 모두를 사랑합니다...

__ADS_1


...Tuhan Yesus Memberkati kalian semua. †...


...--------------------------------...


__ADS_2