Rindu Indigo Usil

Rindu Indigo Usil
Kembali ke Rumah


__ADS_3

...--------------------------------...


*******


"Selamat malam, maaf bapak-bapak jika kami mengganggu," Rindu mengucap salam.


Mereka yang sedang berdiskusi bagaimana lagi caranya agar Didi ditemukan mendengar salam Rindu dan yang lainnya langsung menoleh.


Bu desa yang kebetulan ada diantara mereka bersama kepala desa juga, ketika melihat Didi anak mereka bersama Rindu dan yang lainnya betapa senangnya mereka.


"Ibu."


"Didi anak ku, akhirnya kamu pulang nak, dari mana saja kamu?"


"Maafin Didi Ayah, Ibu, sudah buat Ayah dan Ibu khawatir."


"Tidak apa-apa sayang, asalkan kamu sudah kembali kami sangat bahagia, ia kan Yah?"


"Ia Bu, benar kata ibu kamu sayang, kamu kembali saja sudah menjadi berkat yang tak terhingga untuk kami."


"Lalu nak, kalian ini siapa?"


Kepala desa bertanya pada Rindu dan yang lainnya, memang waktu itu mereka belum sempat bertemu kepala desa dan istrinya.


"Pak kepala desa, ini Dewi dan teman-temannya dari kota. Dewi cucunya nek Siti," ucap salah seorang bapak-bapak yang ada di sana.


"Oooohhh, jadi kamu Dewi yang sering ke sini Nak?"


"Ia Pak, dan ini teman-teman saya. Ini Rindu, Siska, Willy, Andra dan Andre Pak."


Dewi memperkenalkan teman-temannya pada kepala desa sekaligus isterinya. Mereka yang lainnya langsung memberikan salam pada kepala desa dan bu desa.


"Lalu bagaimana kalian bisa bersama Didi Nak, di mana kalian menemukannya?"


"Begini Pak, setelah kami bertanya pada bapak-bapak yang berada di sini tadi pagi, kami memutuskan untuk membantu mencari Didi Pak. Kami semua berkeliling ke sana kemari, hingga kami masuk ke dalam hutan di sebelah sana."


"Kami terus berjalan dan tanpa kami sadari kami masuk terlalu dalam ke dalam hutan itu, di sanalah kami menemukan Didi anak Bapak dan Ibu, Didi disekap di sebuah gubuk kecil yang ada di bagian terdalam hutan itu."


"Ternyata di sana Didi ditahan untuk dijadikan tumbal ilmu hitam dari laki-laki ini Pak."


Rindu menjelaskan lalu Willy dan Andre mendorong laki-laki yang diseret mereka tadi dari hutan hingga sampai di rumah kepala desa, laki-laki itu tampak keletihan.


"Jadi dia orang yang sudah menculik Didi anak saya?"


"Ya benar Pak," jawab Andra.


"Jangan-jangan selama ini dia biang keladi dari hilangnya beberapa anak di desa kita Pak," ucap seorang warga.


"Ya benar, tidak salah lagi, pasti dia biang keroknya," sahut yang lain.


Pak kepala desa mendekat untuk melihat siapa laki-laki yang sedang tersungkur itu, saat laki-laki itu mengangkat kepalanya, betapa terkejutnya kepala desa dan yang lainnya.


Hal itu tentu saja membuat Rindu dan teman-temannya kebingungan.


"Ada apa bapak-bapak, Pak ada apa kenapa kalian terlihat terkejut seperti itu?"


"Kamu, bisa-bisanya kamu melakukan ini semua."


Kepala desa bukannya menjawab pertanyaan Rindu, ia malah memarahi laki-laki itu.

__ADS_1


"Memangnya kenapa, kenapa kalau aku melakukan hal itu, hah?"


"Aku hanya ingin abadi, jika keabadian aku dapatkan maka aku akan bisa menguasai desa ini dan aku akan membunuhmu."


"Jadi karena itu kamu melakukan semua ini, benar-benar sudah dibutakan oleh keserakahan kamu Parno."


Ya ternyata laki-laki itu bernama Parno, laki-laki yang usianya hampir sama dengan kepala desa. Rupanya laki-laki itu adalah saingan kepala desa waktu pemilihan kepala desa dulu.


"Ahahhaha, bukan urusan kamu."


"Sudahlah Pak, sebaiknya kita laporkan saja pada polisi agar dia merasakan hidup di penjara saja," ucap salah seorang warga.


Rindu dan yang lainnya masih terus menyimak apa yang terjadi, mereka tidak mau terlalu ikut campur soal ini semua, sebab mereka hanyalah pendatang di sini.


********


Bapak-bapak yang geram akan perbuatan Parno langsung memberikan bogeman beberapa kali di pipi Parno membuat darah segar mengalir dari sudut bibirnya.


"Sudah sudah, sebaiknya kita serahkan semuanya pada polisi, saya akan menelpon polisi," ucap kepala desa.


Kepala desa mengambil handphonenya dan langsung menelpon polisi, setelah menelpon polisi ia mengucapkan terimakasih pada Rindu dan yang lainnya.


"Anak-anak, terimakasih atas bantuan kalian Didi bisa kembali kepada kami."


"Sama-sama Pak, kami senang bisa membantu," Dewi menjawab disertai senyumannya.


"Duh, Dewi cantik banget lagi," ucap Andre dalam hatinya.


"Hei ngapain senyum-senyum?"


Willy berbisik pada Andre yang dilihatnya sedang senyum-senyum sendiri.


Tak lama mobil polisi datang..


"Terimakasih Pak sudah mau datang ke sini malam-malam seperti ini," ucap kades.


"Sama-sama Pak, ini sudah menjadi tugas kami. Kalau begitu kami mohon pamit dan tersangka ini akan kami bawa ke kantor untuk diperiksa."


"Baik Pak, silahkan."


Polisi memborgol Parno dan membawanya ke dalam mobil polisi.


"Awas saja kalian, aku akan membalas kalian," Parno berteriak."


"Ckckckckc, lagaknya kayak jagoan aja, udah ditangkap juga," sungut Rindu.


"Hahahaha ia," sahut Siska.


Mereka akhirnya berpamitan pada kepala desa beserta isterinya dan warga yang ada di sana karena sudah jam 8 malam.


"Bapak kades, Ibu dan semuanya kami mohon pamit. Karena hari sudah malam," ucap Andra.


"Baiklah anak-anak, sekali lagi kami semua mengucap terimakasih banyak atas bantuan kalian. Jika kalian tidak keberatan, besok datanglah dan kita makan siang bersama di sini."


"Terimakasih banyak atas undangannya Pak, besok kami akan sempatkan untuk datang dan makan siang bersama di sini," jawab Dewi.


"Kalau begitu sekali lagi kami mohon pamit Pak, selamat malam," ucap Rindu.


"Silahkan nak, hati-hati di jalan."

__ADS_1


Rindu dan yang lainnya meninggalkan rumah kepala desa, hari sudah malam mungkin mang Supri pasti sedang mengkhawatirkan mereka.


Setelah beberapa saat akhirnya mereka sampai.


"Akhirnya sampai juga, lelah, gerah banget lagi."


"Ia Rin, aku juga," sahut Dewi.


"Aku juga sih," sahut Siska.


"Kita semua kali," ucap Andre.


"Hehehehe," ketiga gadis itu cengengesan.


Sedangkan Steven dan Om Besar sudah pergi entah ke mana, mungkin jalan-jalan di sekitar, hehehe.


Mang Supri keluar dari dalam rumah dengan tergesa-gesa.


"Aduh non Dewi, non Dewi dan yang lainnya dari mana saja? Mang pikir kalian nyasar, mang cari kemana-mana nggak ketemu."


Mang Supri rupanya sangat mengkhawatirkan mereka semua.


"Maaf ya Mang, maafin Dewi dan yang lainnya udah buat Mang kepikiran dan harus mencari kesana-kemari."


"Tadi kami semua mencari Didi Mang, anaknya kepala desa yang hilang itu loh. Kami akhirnya menemukan Didi di hutan sebelah sana Mang, hutan yang terkenal angker itu, dia diculik untuk dijadikan tumbal oleh Pak Parno."


"Parno?"


"Ia Mang, katanya Parno yang dulu lawannya pak kepala desa waktu pemilihan kepala desa."


"Oooohhhh, lalu?"


"Ya jadilah kami sekalian menangkapnya dan membawa Didi pulang, makanya kami pulangnya malam-malam, maaf ya Mang."


"Ia nggak apa-apa Non, asalkan kalian semua sudah pulang dengan selamat mang udah tenang, lalu bagaimana si Parno?"


"Udah dibawa polisi Mang, ke kantor polisi."


"Syukurlah kalau begitu, sebaiknya sekarang kalian masuk dan mandi lalu makan malam. Mamang sudah siapkan makanan di meja untuk kalian."


"Terimaksih ya Mang."


"Sama-sama Non."


Mereka semua masuk ke dalam rumah dan langsung mandi..


...--------------------------------...


...Hai hai hai....


...Terimakasih ya udah baca Novel Nunna sampai episode ini, semoga kalian suka ya. Jangan lupa kalau ada saran apapun, langsung di komentar ya....


...Thanks semuanya....


...Sehat-sehat ya kalian semua, jaga kesehatan apalagi pandemi kek gini kan....


...나는 당신 모두를 사랑합니다...


...Tuhan Yesus Memberkati kalian semua. †...

__ADS_1


...--------------------------------...


__ADS_2