
...--------------------------------...
*******
Kini ketiga gadis yang habis berbelanja itu sedang dalam perjalanan pulang ke rumah, mereka menggunakan satu taksi saja.
Mereka akan mengantarkan Dewi lebih dulu, setelahnya tinggal Rindu dan Siska yang satu rumah.
"Thanks ya Rin, Sis sampai jumpa nanti."
"Ok Wi, see you," ucap Siska dan Rindu.
Dewi memasuki halaman rumahnya dan taksi pun melaju membawa Siska dan Rindu ke rumahnya.
"Rin thanks ya untuk hari ini."
"Ia Sis, sama-sama. Udah deh, nggak usah makasih mulu."
"Hehehehe."
Taksi yang mereka tumpangi akhirnya sampai.
"Makasih ya Pak."
"Makasih Pak."
Siska dan Rindu mengucapkan terimakasih pada supir taksi.
"Sama-sama Neng."
Keduanya langsung masuk ke halaman rumah mewah Rindu, belum juga masuk ke dalam rumah. Rindu dihadang Steven.
"Kak Rindu dari mana sih, pergi nggak ngajak-ngajak Steven ya sekarang."
"Hehehehhe maap ya bocil, tadi kakak belanja ke mall sama Siska dan Dewi. Makanya kakak nggak ngajak kamu, i'm so sorry."
"Hizzhhh so sorry, so sorry. Lain kali ajak Steven ya, nggak mau tau, harus. Steven kan juga mau jalan-jalan."
"Ya elahh, kamu kan hantu, tinggal jalan-jalan sendiri aja ribet amat idup lu. Hahahha."
"Steven kan maunya sama kak Rindu."
"Ok ok fine, nanti ya kalau kakak jalan-jalan lagi, kakak ajak Steven sekalian."
"Yeiiii, gitu dong Kak, ok deh. Bye."
Steven menghilang dan langsung kembali ke pohon besar.
"Dasar hantu," omel Rindu.
Siska yang sejak tadi ada di samping Rindu hanya bisa diam, kalau sudah kek gini kejadiannya. Siska yakin 1000% Rindu lagi ngomong sama hantu..
"Ayo masuk."
"Tadi pasti kamu ngomong sama hantu kan? Steven?"
"Ya siapa lagi kalau bukan tuh bocah."
"Kamu nggak takut apa Rin?"
"Nggak, awalnya sih ia. Namun lama kelamaan biasa aja kok."
"Hiiiisszzzz, ia sih biasa kalau yang diliat Steven, kalau yang seremnya nggak ketulungan gimane tu?"
"Hahahaha ya hajar aja."
"Kamu ma main hajar-hajar aja Rin."
"Hahahahaha."
Keduanya melangkah dan masuk ke kamar masing-masing.
"Lumayanlah belanja hari ini."
"Sebaiknya aku mandi deh, gerah banget habis berantem ama tu sosok sialan."
Rindu langsung ke kamar mandi dan memulai rutinitas mandinya. Sedangkan Siska di kamarnya sedang melihat belanjaannya.
__ADS_1
"Segini banyak aku dibelanjain sama Rindu, terimakasih ya Allah, engkau memberikan mereka yang sangat baik pada hamba tanpa melihat masa lalu hamba yang seperti apa. Semoga engkau selalu menjaga dan melindungi Rindu dan Tante Mita. Amin."
Siska kemudian langsung mengatur pakaiannya ke dalam lemari, setelah itu ia juga langsung mandi, karena hari sudah sore.
*******
Bu Mita baru saja pulang dari kantor.
"Sore sayang, Siska."
"Sore Mam, Tante," jawab Siska dan Rindu.
"Mama ke kamar dulu ya."
"Ia Mam."
Tiba-tiba Bi Ina datang membawakan kopi untuk Siska dan Rindu.
"Nah ini bibi bawakan kopi, biar duduk-duduk sambil ngopi gitu."
"Bibi emang paling top deh, thanks ya Bi," ucap Rindu.
"Sama-sama Non."
"Makasih ya Bi."
"Sama-sama nak Siska."
"Oyah Bi, tolong siapkan makanan untuk Mama ya, soalnya Mama udah pulang."
"Jadi Nyonya sudah pulang Non, baiklah akan bibi siapkan."
"Ia Bi, makasih ya."
Bi Ina meninggalkan Rindu dan Siska, keduanya kini sedang menikmati kopi buatan Bi Ina. Bu Mita turun dari lantai dua menemui keduanya.
"Sayang."
"Ya Mam."
"Aman kok Mam."
"Baguslah."
"Ya udah Mama makan gih, tadi Rindu udah minta Bi Ina siapkan makanan untuk Mama."
"Makasih ya sayang, kalau gitu Mama makan dulu, Sis kamu udah makan?"
"Udah kok Tante."
"Ya sudah tante ke meja makan dulu ya."
"Ia Tan silahkan."
Bu Mita berlalu ke meja makan dan keduanya pun melanjutkan cerita mereka.
Tiba-tiba handphone Rindu berdering.
"Halo Wi, ada apa?"
"Rin, tolong aku Rin, tolong."
"Wi, kamu kenapa, ada apa Wi?"
"Kamu secepatnya ke rumah aku ya Rin, please tolongin aku."
"Ok, ok aku kesana sekarang ya. Kamu tunggu aku."
Sambungan telepon langsung ditutup oleh Rindu.
"Dewi kenapa Rin?"
"Nggak tau Sis, tapi sepertinya dia sedang tidak baik-baik saja, aku harus ke sana."
"Aku ikut ya Rin."
"Ya udah ayo, ambil jacket dan kita pamit sama Mama."
__ADS_1
Keduanya berlari ke kamar masing-masing mengambil jacket dan langsung turun menemui Bu Mita di meja makan.
"Mam, Rindu sama Siska pamit bentar ya."
"Ada apa sayang, ko kalian kelihatann buru-buru sekali."
"Dewi teman Rindu butuh batuan Rindu Ma, nanti Rindu ceritain ya Ma, sekarang Rindu sama Siska harus pergi dulu. Syallom Ma."
"Assalamualaikum Tante."
"Syallom sayang, Waalaikumsalam Nak."
Kedua gadis itu berlarian keluar rumah dan langsung meninggalkan rumah menggunakan mobil, kali ini Rindu sendiri yang menyetir, ia tak mau membuat Pak Agung kesusahan harus mengantar mereka ke rumah Dewi.
Sedangkan di rumah Dewi.
"Mama apa yang terjadi?"
"Pa, Papa kenapa, ada apa ini Pa?"
Papa dan mamanya Dewi tiba-tiba kejang-kejang saat mereka sedang duduk bersama di sofa ruang tamu keluarga mereka. Hal itu tentu saja membuat Dewi kebingungan dan akhirnya memutuskan untuk menelepon Rindu.
"Ya Tuhan, apa yang terjadi sama Mama dan Papa, kenapa tiba-tiba seperti ini?"
"Semoga Mama sama Papa nggak apa-apa Tuhan, Dewi benar-benar takut ini."
Dewi menunggu kedatangan Rindu dengan harap cemas, sedangkan papa dan mamanya bahkan sudah berguling-guling di lantai, kejang-kejang bola mata keduanya membulat sempurna seakan-akan sebentar lagi akan keluar dari tempatnya.
"Aaarrrrrggghhhhh panas, panas."
Tiba-tiba papanya Dewi merasa kepanasan diseluruh tubuhnya dan diikuti teriakan kepanasan mamanya.
"Arrggghhh panas panas, hentikan ada apa ini, kenapa sangat panas."
"Hiks hiks hiks hiks ya Tuhan, apa yang terjadi sama Mama dan Papa, kenapa bisa seperti ini?" Dewi menangis melihat kondisi kedua orang tuanya.
Mobil yang di kendarai Rindu dan Siska akhirnya sampai di depan rumah Dewi. Keduanya langsung keluar dan buru-buru masuk ke dalam rumah Dewi, beruntung pintu rumah Dewi tidak dikunci.
Saat keduanya sampai di dalam, mereka terkejut melihat Dewi yang menangis sambil melihat mama dan papanya yang terkapar di lantai setelah berulang kali berteriak karena merasakan panas di sekujur tubuhnya.
"Astagfirullah."
"Ya Tuhan, mama sama papa kamu kenapa ini Wi?"
"Hiks hiks hiks hiks."
Dewi langsung memeluk Rindu.
"Aku nggak tau Rin, tadi aku Mama dan Papa sedang duduk di ruang tamu, kami sedang duduk bercerita. Tapi tiba-tiba Mama dan Papa merasakan sakit di dada mereka, sesaat kemudian Mama dan Papa kejang-kejang hingga jatuh ke lantai."
"Aku bingung melihatnya, aku juga tidak tau apa yang terjadi. Aku memutuskan untuk menghubungi kamu Rin, siapa tau kamu bisa membantu Mama dan Papa, tadi Mama dan Papa tiba-tiba berteriak katanya panas panas panas, seperti itu Rin."
"Hingga kemudian Mama dan Papa tak sadarkan diri. Hiks hiks hiks hiks aku takut Rin, Sis."
"Wi kamu tenang ya, kita akan cari tau apa yang dialami mama sama papa kamu."
"Ia Wi, kamu tenang ya, sebaiknya kamu berdoa agar mama dan papa kamu nggak apa-apa," Siska menimpali.
"Makasih Rin, Sis kalian udah mau datang ke sini."
"Ia Wi, sama-sama kita kan sahabat," jawab Siska dan Rindu.
...--------------------------------...
...Hai hai hai....
...Terimakasih ya udah baca Novel Nunna sampai episode ini, semoga kalian suka ya. Jangan lupa kalau ada saran apapun, langsung di komentar ya....
...Thanks semuanya....
...Sehat-sehat ya kalian semua, jaga kesehatan apalagi pandemi kek gini kan....
...나는 당신 모두를 사랑합니다...
...Tuhan Yesus Memberkati kalian semua. †...
...--------------------------------...
__ADS_1