Rindu Indigo Usil

Rindu Indigo Usil
Rindu Birthday


__ADS_3

...--------------------------------...


Waktu cepat berlalu, hari ini adalah hari ulang tahun Rindu yang ke 22 tahun. Sesuai apa yang sudah mereka rencanakan, Bu Mita dan Siska akan keluar dari rumah sejak pagi hingga malam, dan beralasan pada Rindu bahwa Siska menemaninya di salon.


Karena Rindu tidak suka menunggu lama, jadilah dia mengiyakan hal tersebut, kini ia sendirian di rumah.


Di hotel yang disiapkan untuk acara ulang tahun Rindu kini Dewi, Siska, Bu Mita, Andra, Andre dan Willy sedang sibuk mempersiapkan semuanya.


"Terimakasih ya kalian semua sudah mau membantu tante menyiapkan semuanya."


"Ia Tante sama-sama, lagian Rindu kan sahabat kami, sudah pasti kami akan ikut senang membantu di hari spesial Rindu," jawab Dewi.


Mereka kemudian melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing, setelah siang hari mereka berhenti sejenak untuk makan siang.


"Semuanya sebaiknya kita makan siang dulu."


"Siap Tante," Andra mewakili yang lainnya.


Mereka meninggalkan hotel dan pergi ke kafe yang ada di sekitar hotel itu.


"Sekali lagi terimakasih Andra, Andre, Willy, Dewi dan Siska sayang. Makasih ya, kalian teman-teman yang baik yang dimiliki Rindu."


"Ia Tante sama-sama," jawab Andre.


Mereka kemudian memesan makanan dan menyantapnya.


Steven dan Om Besar sedang berkeliling hotel.


"Wow hotel yang Kerenn."


"Ia Steven, memang keren tapi lihatlah banyak sosok berkeliaran di sini."


"Kita kan juga sosok Om heheheheh."


"Ia sih, hehehehe."


Keduanya berputar-putar mengelilingi hotel, mereka melihat ada sosok wanita yang ngesot di lantai.


"Om coba lihat, kasian ya ngesot kek gitu, padahal bukan suster ngesot."


"Ia ya, kasian juga. Coba kamu tanyakan kenapa dia nggak jalan atau melayang kek kita."


"Cusss kita interogasi dianya Om."


Steven dan Om Besar mendekati sosok yang sedang ngesot di pojok.


"Hei hei hei cantik, kenapa ngesot?" tanya Steven.


"Bukan urusan kamu."


"Ye orang Steven nanya baik-baik kok, malah ngegas."


"Ia, cantik-cantik kok suka ngegas ya," ucap Om Besar.


"Hahaha apa Om Besar lupa gimana kak Rindu?"


"Hahahaha."


Keduanya tertawa ketika harus mengingat bagaimana kelakuan Rindu.


"Kenapa kamu di sini?"


"Saya di sini bukan urusan kalian berdua."


"Ya ampun judes amat neng, gini kalau misalnya ada yang bisa Steven dan Om Besar bantu, kan kita bisa bantu sekarang."


"Ia benar tu kata Steven."

__ADS_1


"Saya seperti ini karena laki-laki seperti kalian," teriak sosok itu.


"What is this, malah ngamuk sama Steven dan Om Besar lagi. Slow Mba slow."


"Apa kamu dibunuh pacar kamu atau suami kamu, gitu?" tanya Om Besar.


"Ia, dia membunuh saya di hotel ini."


"Dasar laki-laki brengsek, bisa-bisanya dia mempermalukan derajat kita sebagai laki-laki," ucap Om Besar.


"Hahahaha, ia Om benar. Coba dia di sini, udah kita hajar hehehehe."


"Gimana ceritanya Mba?" tanya Steven.


"Dia membawa saya ke hotel ini, dia memberi saya minuman yang sudah dicampur obat tidur. Saat saya pingsan ia melecehkan saya, lalu saat saya sadar dan berontak ia memukul saya hingga kaki saya patah dan saya tidak bisa berjalan."


"Wah wah wah benar-benar keterlaluan tu cowok, Mba yang sabar ya. Semoga nanti cowoknya ke hotel ini lagi. Nah kalau dia ke sini, langsung dibunuh aja."


"Ya, saya pasti akan membunuhnya. Karena dia saya harus seperti ini sekarang."


"Kasian sekali nasib mu cantik, baiklah interogasinya selesai dan kami berdua mohon pamit. Ayo Steven kita go."


"Ayo Om, let's go."


Mereka berdua meninggalkan sosok itu sendiri di sana, memang benar-benar kurang kerjaan tu berdua makanya malah jadi intel dan interogasi sosok yang tadi.


*****


Di rumah Rindu.


"Duh bosan banget kalo sendirian di rumah, mana Mama dan Siska lama bener lagi."


"Ngapain ya aku? Steven sama Om Besar ke mana sih, awas aja mereka berdua."


Bi Ina tiba-tiba datang mendekati Rindu.


"Hmmm boleh deh Bi, Rindu mau jus alpukat ya Bi."


"Siap Non."


Bi Ina pergi ke dapur membuatkan jus untuk Rindu.


"Terpaksa deh utak-atik handphone, sungguh membosankan."


Rindu memainkan handphonenya, ia melihat-lihat halaman Instagram lalu beralih lagi ke Twitter.


"Non ini jusnya."


"Makasih ya Bi Ina."


"Sama-sama Non, kalau gitu bibi ke halaman belakang dulu ya."


"Silahkan Bi."


Rindu melihat-lihat kembali halaman instagramnya hingga ia menemukan sebuah berita tentang banyaknya orang hilang di sebuah desa.


"What, bagaimana bisa?"


"Apa nanti aku kesana aja ya."


"Tapi kan aku belum libur."


"Tapi kan, desanya nggak jauh-jauh amat. Mungkin bisa di tempuh dalam waktu tiga jam dari sini dengan mobil."


"Hmmm nanti aku bicarakan dengan yang lain."


Hari sudah sore, jam sudah menunjuk pada pukul 5 sore, tiba-tiba handphone Rindu berdering.

__ADS_1


"Halo Mam, ada apa?"


"Sayang, kamu ke sini ya temui Mama dan Siska kita makan malam bersama. Maaf Mama lupa kalau hari ini ulang tahun kamu."


"Ulang tahun?"


"Jangan bilang kamu juga lupa sayang."


"Hahahaha maaf Ma, Rindu juga lupa."


"Ya ampun, kamu ini ya. Sekarang kamu siap-siap ya, nanti Mama minta Pak Agung jemput."


"Baiklah, kita makan di mana Mam?"


"Udah kamu siap-siap aja, nanti juga kamu sampai kok di sini."


"Ya ya ya baiklah Mama ku sayang."


Setelah obrolan itu berakhir, Rindu bersiap untuk makan malam bersama mamanya dan Siska. Makan malam sederhana, begitulah kata mamanya.


Setelah bersiap, ia turun dan ternyata Pak Agung sudah menunggunya di sana, Bi Ina pun diajak serta.


"Non sudah siap?"


"Ia Pak, ayo kita berangkat."


"Ayo Bi," Rindu menggandeng tangan Bi Ina.


Mereka meninggalkan rumah dan mobil melaju ke hotel yang sudah disiapkan untuk birthday party nya Rindu.


Rindu yang taunya hanya akan makan malam sederhana, ia hanya memakai pakaian yang biasa saja.


Setelah menempuh perjalanan beberapa waktu dan sebelum sampai di hotel, Pak Agung meminggirkan mobil sebentar.


"Loh ada apa Pak?"


"Non, tadi kata Nyonya sebelum sampai tempat mata non Rindu harus ditutup pakai ini."


"Loh kok gitu Pak?"


"Bapak juga nggak tau Non."


"Baiklah, Mama ini ada-ada saja."


Bi Ina mengikat kain di mata Rindu sehingga menutup penglihatannya. Setelah beberapa saat akhirnya mereka tiba di hotel itu.


Bi Ina dan Pak Agung menuntun Rindu masuk kedalam, Bu Mita kemudian mengambil alih.


"Ma, kenapa pake tutup mata segala sih."


"Udah deh sayang, nurut aja kenapa."


"Haiiiz Mama ini ada-ada aja deh."


Semua orang memakai pakaian bagus, Bu Mita yang melihat Rindu berpakaian seperti itu hanya bisa menggelengkan kepalanya.


...--------------------------------...


...Hai kesayangan :)...


...Thanks ya udah baca novel aku, jangan lupa like dan komen ya.. ♡...


...Jangan lupa vote juga, thank you semuanya. ♡...


...Sehat-sehat ya kalian di sana....


...Tuhan Yesus memberkati....

__ADS_1


...--------------------------------...


__ADS_2