
...--------------------------------...
"Apa yang harus kita lakukan Om?"
"Sebaiknya kita temui Rindu sekarang."
"Ayok."
Steven dan Om Besar menemui Rindu dan yang lainnya di kamar mereka.
"Kak gimana selanjutnya? Kakak udah liat kan?"
"Ia Steven, aku sudah melihatnya! Jika semua ini ulahnya, dibawa ke mana orang-orang kampung ini olehnya?"
"Itu dia yang harus kita cari tau Rindu, apakah mereka masih hidup atau sudah mati!" ucap Om Besar.
"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?"
"Bagaiman kalau kita ikuti saja dia?"
"Aku setuju Om, paman anjing gimana menurut kamu?"
"Aku setuju-setuju aja Rindu, aku akan ikut kamu kemanapun."
Rindu kemudahan memberitahu teman-temannya perihal usulan Om Besar yang disetujui olehnya.
Rindu juga memberi kebebasan bagi mereka, terserah mereka mau ikut atau tidak. Jika takut, silahkan tinggal di rumah Pak Musa seperti itulah yang dikatakan Rindu pada mereka.
Andra tentu saja ikut, begitupun Siska dan Dewi. Kini hanya tersisa menunggu keputusan Andre.
"Andre kalau kamu nggak yakin, kamu boleh tinggal di sini."
"Ya benar kata Rindu, jangan memaksakan dirimu jika memang kau tak ingin pergi," sahut Andra.
"Cepatlah Andre, keburu pergi sosok itu nanti," Dewi kesal.
"Aku pergi!"
"Kamu yakin?"
"Ya aku yakin!"
"Ok kalau gitu ayo kita keluar dari sini, tapi sebelum itu kita harus meninggalkan pesan untuk Pak Musa dan Bu Laila. Jangan sampai nanti mereka khawatir ketika tidak menemukan kita di kamar," ucap Rindu.
Siska langsung gerak cepat menuliskan pesan di sehelai kertas untuk Pak Musa, setelah itu mereka keluar perlahan dari dalam rumah, dengan susah payah dan tidak menimbulkan keributan apapun.
Bersyukur karena cahaya bulan sedikit memberikan mereka penerangan di malam yang gelap.
Steven, Om Besar dan anjing Rindu pun ikut serta. Mereka menjaga Rindu dan yang lainnya, Om Besar di depan, Steven di samping Rindu dan anjing Rindu di bagian belakang.
Mereka melihat sosok itu yang terus bergerak kesana-kemari dengan hidungnya yang terus mengendus, entah apa yang diendusnya.
__ADS_1
Setelah beberapa saat mengikuti sosok itu mereka melihat adanya cahaya dari sebuah rumah warga, entah apa yang terjadi sehingga mereka harus menyalakan api, padahal mereka tau bahwa api itu akan membawa malapetaka untuk mereka.
Sosok yang diikuti Rindu dan yang lainnya ternyata melihat cahaya api itu, sosok itu bergerak ke arah rumah yang ada cahaya itu.
Rindu dengan cepat meminta Steven dan Om Besar untuk pergi ke rumah itu sebelum sosok itu sampai lebih dulu ke sana. Beruntung rumah itu berada tak jauh dari mereka semua.
Steven dan Om Besar langsung menghilang dan muncul diantara anggota keluarga itu, ternyata di sana seorang anak kecil sedang menangis karena digigit kalajengking.
Karena itulah orang tuanya menyalakan api, mungkin menurut mereka itu hanya beberapa saat. Steven dan Om Besar langsung memadamkan api itu, membuat mereka yang di dalam rumah itu kebingungan.
Namun kemudian mereka apa yang menjadi larangan di kampung mereka dan itu untuk keamanan mereka sendiri, jika masih ingin hidup jangan pernah menyalakan api di malam hari seperti ini.
Sepasang suami istri itu langsung melihat ke luar rumah, dan di sana mereka melihat makhluk itu yang kembali sedang mengendus daerah sekitar.
Sosok itu seperti memiliki mata yang tidak akan bisa melihat tanpa bantuan cahaya, padahal biasanya sosok tak kasat mata akan bisa melihat apapun di kegelapan malam, tapi kini ia hanya bisa mengendus mencari-cari aroma manusia.
Beruntung Rindu dan yang lainnya dilindungi oleh anjing berkepala dua, sehingga mereka tidak cepat diketahui oleh sosok itu.
"Bu, beruntung api itu padam ya. Gimana kalau sampe makhluk itu melihat kita semua, syukurlah ya Allah."
"Ia Pa, syukurlah. Nak kamu udah nggak terlalu sakit kan?"
"Ia Bu, udah mendingan kok sakitnya."
---------
Setelah menyelesaikan misi mereka, Steven dan Om Besar kembali menemui Rindu dan yang lainnya.
"Good job Steven, Om."
"Nggak usah lebay, biasa aja."
"Hahahaha kak Rindu ma gitu nggak bisa liat kita senang, ya nggak Om?"
"Ia, tega bener sama kita berdua."
"Haiis."
Setelah beberapa saat mengendus dan tidak mendapatkan mangsanya, sosok itu melayang dan menjauh dari sana. Mereka yang bersembunyi langsung bergerak cepat mengikuti sosok itu.
Mereka bahkan melewati semak-semak hingga tak sengaja Andre menginjak ranting dan menghasilkan suara di kesunyian malam.
Sosok yang diikuti merekapun langsung berbalik dan mencari kesana-kemari, namun sayang ia seakan tak bisa melihat apa-apa! Sepertinya ia hanya menggunakan indra penciumannya saat ini.
Ia kembali bergerak menjauh dan merekapun terus mengikutinya, yang membuat Rindu bingung adalah dimana ia tak bisa melihat namun ia tau jalan pulang.
"Mungkin karena ia hafal jalannya," Rindu berucap dalam hatinya.
Sesaat kemudian ternyata mereka tiba di sebuah gua yang ditutupi tanaman rambat.
"Gua?" Andra berucap pelan.
__ADS_1
"Ya, dan dia masuk ke sana," ucap Rindu.
Andre dan yang lainnya hanya bisa mengangguk, ia takut membuat kekacauan lagi.
Rindu kemudian berbicara pada anjingnya.
"Paman anjing, bagaimana menurutmu?"
"Lebih baik separuh dari kalian tetap di sini, lalu kamu dan Andra bisa lebih mendekat lagi ke gua itu."
"Baiklah paman anjing, lalu siapa yang akan menjaga mereka?"
"Aku akan menjaga mereka, kamu pergilah dengan Steven dan Besar. Jika kamu butuh bantuan, panggil aku maka aku akan langsung berada di samping mu."
"Baiklah paman anjing, terimakasih ya."
Rindu kemudian memberitahu Andra dan yang lainnya dan merekapun setuju dengan apa yang dikatakan Rindu. Saat seperti ini, hanya Rindu lah yang paling mereka percaya.
Rindu dan Andra langsung mendekat ke arah gua, Steven dan Om Besar melayang mengikuti mereka. Saat mereka sampai di pintu gua, Rindu berusaha mengintip ke dalam gua.
Di sana ia melihat sosok itu sedang duduk bagaikan manusia elastis yang bisa membentuk tubuhnya seperti apa saja.
"Ckckck hebat bener tu, bisa gaya kek gitu."
"Kamu mau seperti itu Steven?"
"Nggak lah Om, jelek gitu! Mending yang sekarang, cakep ya kan?"
"Gayanya kamu."
Rindu dan Andra sedang serius melihat ke dalam gua.
"Lalu apa yang harus kita lakukan sayang?"
"Kita tidak bisa langsung masuk saja ke dalam gua ini Ndra, karena kita tidak tau bahaya apa yang menunggu kita. Sebaiknya besok kita kembali lagi ke sini, yang terpenting sekarang kita tau di mana dia berdiam diri."
"Baiklah jika itu keputusan kamu, aku ikut saja."
Mereka berdua kembali ke tempat Siska, Dewi dan Andre. Mereka memberitahukan apa yang dilihat mereka di sana, dan bagaimana perkataan Rindu yang memutuskan untuk kembali besok pagi ke sini.
Semuanya setuju, akhirnya mereka kembali ke rumah Pak Musa karena jam sudah menunjukan pukul 3 dini hari.
...--------------------------------...
...Hai kesayangan :)...
...Thanks ya udah baca novel aku, jangan lupa like dan komen ya.....
...Jangan lupa vote juga, thank you semuanya....
...Sehat-sehat ya kalian di sana....
__ADS_1
...Tuhan Yesus memberkati....
...--------------------------------...