Rindu Indigo Usil

Rindu Indigo Usil
Lenyapnya Sosok Kepala Tanpa Tubuh


__ADS_3

...--------------------------------...


********


"Akkkhhhh... Setan, setan, setan."


"Hahahahhaha, hahahhah."


Siska dan Dewi kompak berteriak saat mata batin mereka terbuka, dan tampaklah dengan jelas Steven dan Om Besar di depan mereka.


"Hei, hei, buka mata kalian berdua. Katanya mau kenalan sama Om Besar dan Steven."


"T-tapi itu sungguh menakutkan Rindu," ucap Dewi.


"Yang mana yang menakutkan?"


"Yang kukunya panjang itu Rindu, apa itu yang namanya Om Besar?"


Siska bertanya pada Rindu, Rindu dan Steven malah tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Siska.


"Tenanglah, hanya wajah mereka yang serem, aslinya mereka baik kok. Ia kan Om Besar?"


"Ia benar Rindu, tapi kan aku lumayan tampan Rindu, tu nyai kunti aja suka sama aku."


"Itu kan kuntilanak Om, kita berdua kan beda, ya kan Sis?"


"Ia bener."


"Baiklah baiklah, buka saja mata kalian nggak apa-apa kok."


Siska dan Dewi pelan-pelan membuka mata mereka, keduanya berusaha baik-baik saja.


"Tenanglah, karena kalian teman Rindu, aku nggak akan marah sama kalian."


"Baiklah Om Besar, bagus deh kalo gitu," ucap Dewi.


Siska mengangguk tanda setuju sama ucapan Dewi.


"Nah, Om kenalin kedua teman Rindu. Yang ini Siska, yang ini Dewi. Siska ini yang tinggal di sini sama kita."


"Ooohh, ok deh Rindu."


"Nah Siska, Wi, itu Steven."


"Hai Steven."


"Hai kak Dewi, kak Siska."


Steven tersenyum pada Siska dan Dewi. Setelah tahap perkenalan, Rindu kembali menutup mata batin kedua temannya.


"Aku tutup kembali ya mata batin kalian, kalian pasti nggak mau kan lihat yang serem-serem."


"Nggak mau lah, tutup sekarang deh."


Setelah menutup mata batin kedua temannya, Rindu, Dewi dan Siska kembali masuk ke dalam rumah, sedangkan Steven dan Om Besar kembali nyantai di atas pohon besar itu.


"Rin, gue pamit sekarang ya. Udah sore soalnya."


"Ok deh, gue pesenin taksi ya."


"Thanks ya Rin."


Taksi yang dipesan Rindu untuk Dewi akhirnya sampai.


"Bye Wi."


"Bye Rin, sampai jumpa besok."


"Ok Wi."


Taksi melaju membawa Dewi kembali ke rumahnya, sedangkan Rindu kembali masuk ke dalam rumah..

__ADS_1


Bu Mita kembali dari kantor setelah Rindu masuk kedalam.


"Mam, udah pulang?"


"Ia sayang, mama ke kamar dulu ya, mau langsung mandi."


"Silahkan Mam."


Rindu duduk di sofa sedangkan mamanya langsung ke kamar.


Malam datang memberikan kegelapan untuk seisi dunia, di dalam rumah Rindu, Rindu Siska dan mamanya kini berada di kamar masing-masing..


"Tidur aja deh, udah ngantuk banget soalnya."


Rindu berucap pada dirinya sebelum akhirnya ia terlelap.


Saat semua orang sedang terlelap dalam tidurnya, di kamar Rindu tiba-tiba.


Pranggg...


Rindu yang terlelap sampai membuka matanya karena kaget dengan bunyi kaca yang pecah.


"Kaca? Kaca apa yang pecah?"


Rindu melihat kesana kemari, ternyata kaca jendelanya yang pecah, tapi karena apa?


Suasana di dalam kamarnya tiba-tiba menjadi sangat mencekam.


"Ada apa ini?"


Rindu belum tau bahwa yang membuat kaca jendelanya adalah sosok kepala tanpa tubuh yang pernah ditendangnya.


Dan kini kepala itu tepat berada di kolong tempat tidurnya. Rindu mengelus cincin di jarinya, ia memutuskan untuk bertanya pada sosok penjaganya.


"Ada apa Rindu, apa kau kebingungan kenapa suasana dalam kamar mu menjadi mencekam?"


"Ya benar, itulah yang mau Rindu tanyakan."


Rindu menunduk dan melihat langsung di bawah kolong tempat tidurnya.


"Aaakhhh siitt.. Ternyata dia penyebabnya."


Sosok itu menggelinding dan kini berada di depan Rindu.


"Ada apa? Kenapa kau mengganggu tidur ku?"


"Karena kau menendang ku tadi pagi."


"Siapa yang menyuruh mu berada tepat di kaki ku, ya ku tendang saja."


"Tapi kau bahkan tak menjawab pertanyaan ku."


"Itu artinya pertanyaan kamu nggak penting untuk dijawab, itu aja kok nggak paham, gimana sih kamu."


Rindu menjawab dengan entengnya, padahal sosok yang kini ada di depannya sedang marah besar.


Tiba-tiba sosok itu melayang dan hendak menerjang ke arah Rindu, sosok penjaga Rindu langsung menghalaunya membuat sosok itu terpental ke tembok..


Buggh..


Sosok itu kembali menyerang, kali ini ia menyerang sosok penjaga Rindu, Rindu dengan santainya malah duduk sambil menonton pertarungan yang ada di depannya.


Beruntung ini sudah jam 1 pagi, hingga semua orang masih terlelap dalam tidur mereka..


Sosok penjaga Rindu menyambut serangan sosok tanpa kepala itu, sosok yang matanya bahkan semerah darah sekarang karena kebenciannya terhadap Rindu dan sosok penjaga Rindu.


Barang-barang di kamar Rindu sampai terbang kesana-kemari karena pertarungan dua sosok itu, namun tidak dengan Rindu, dia masih santai saja duduk di kasurnya.


Sosok penjaga Rindu menangkap sosok yang hanya kepala itu, dengan kukunya yang tajam dan giginya yang runcing, penjaga Rindu mencabik-cabik kepala dalam genggaman tangannya itu hingga tak berbentuk lalu kemudian hancur lebur menjadi abu.


Sosok penjaga Rindu adalah seekor anjing berkepala dua.

__ADS_1


"Kan sudah Rindu kasih tau, jangan cari gara-gara sama Rindu, jadi abu kan sekarang, heheheheh."


Rindu berucap pada sosok kepala yang sudah menjadi abu itu.


"Terimaksih ya, sudah membantu Rindu."


"Sudah menjadi tugas ku Rindu, aku sudah berjanji pada buyut mu untuk selalu menjaga keturunannya."


"Baiklah sekali lagi terimakasih dan silahkan kembali ke cincin. Soalnya Rindu mau tidur juga, hooammm, mana udah jam 2 lagi, ngantuk banget."


Sosok penjaga Rindu kembali ke dalam cincin, sedangkan Rindu kembali berusaha tidur walau dengan kamar yang berantakan bak kapal pecah.


********


Pagi-pagi Rindu sudah bangun, saat ia akan keluar dari kamarnya, Siska juga akan melangkah ke arah tangga, namun saat melewati kamar Rindu betapa terkejutnya Siska melihat kamar Rindu.


"Astagfirullah Rindu, kamar kamu kenapa berantakan gitu? Apa semalam gempa? Tapi kamar aku baik-baik aja kok."


"Heheehhe ia semalam gempa, gempa karena dua sosok yang berkelahi. Aku bahkan sangat menikmati pertarungan mereka.


"Maksud kamu?"


"Semalam ada sosok yang datang, jadilah berantem sama sosok penjaga aku. Akhirnya begitulah kondisi kamar ku, hahahha."


"Ckckckck, ada-ada saja kamu, tapi kamu nggak apa-apa kan?"


"Santai aja, aku nggak apa-apa kok. Yuk sarapan, aku juga mau minta Bi Ina rapikan kamar kembali."


"Ayo."


Siska dan Rindu berjalan menuruni tangga dan langsung ke meja makan.


"Bi."


"Ya Non."


"Bibi tolong beresin kamar Rindu ya, soalnya semalam gempa."


"Gempa, tapi kok Bi Ina nggak ngerasain sih Non."


"Ya itu karena Bibi yang tidur sambil ngorok tu pasti."


"Nggak Non, bibi nggak ngorok beneran deh."


"Hahahahaha, ya ya ya, terserah Bibi saja. Tapi ingat rapikan kamar Rindu ya Bi."


"Baik, siap Non."


Siska yang melihat dan mendengar interaksi antara Bi Ina dan Rindu hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Ayo makan, ngapain berdua pada diam."


Bu Mita tiba di meja makan dan mengajak keduanya untuk sarapan bersama.


"Ok Mam."


"Ia Tante."


...--------------------------------...


...Hai hai hai....


...Terimakasih ya udah baca Novel Nunna sampai episode ini, semoga kalian suka ya. Jangan lupa kalau ada saran apapun, langsung di komentar ya....


...Thanks semuanya....


...Sehat-sehat ya kalian semua, jaga kesehatan apalagi pandemi kek gini kan....


...나는 당신 모두를 사랑합니다...


...Tuhan Yesus Memberkati kalian semua. †...

__ADS_1


...--------------------------------...


__ADS_2