Rindu Indigo Usil

Rindu Indigo Usil
Tiba di Kampung Sukawati


__ADS_3

...--------------------------------...


"Maaf baru nyampe, kalian udah dari tadi?"


"Nggak kok, kita juga baru nyampe," jawab Dewi.


"Ndre loh jadi ikut juga?"


"Ya mau gimana lagi, Dewi ikut otomatis aku juga ikut."


"Aku nggak minta ya, kan aku udah bilang kalau kamu nggak mau ikut ya aku nggak maksa. Lagian aku kan biasa pergi sama Rindu dan Siska."


Dewi berucap dengan kesal karena di dalam mobil tadi Andre ngoceh melulu meminta Dewi agar tidak ikut ke sana. Namun Dewi tetaplah Dewi yang keras kepala seperti Rindu, akhirnya Andre lah yang kalah dan ikut serta dalam misi ini.


"Ok, kalau gitu Dewi dan Andre satu mobil aja. Nanti mobil aku biar Andra yang nyetir, gimana?"


"Ok fine, aku sih ok ok aja," jawab Andra.


"Ya udah ok," jawab Andre.


Akhirnya mereka berangkat dengan Siska, Rindu dan Andra satu mobil. Dewi, Andre, Steven dan Om Besar satu mobilnya lagi, hanya saja Andre dan Dewi tentu tidak melihat dua penumpang lainnya.


Mereka mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi jika berada di jalanan sepi, jika di jalanan ramai maka Andre dan Andra akan mengurangi laju kecepatan mobil mereka.


"Om, ini kita ngapain ya kira-kira ke sana?"


"Nggak tau sih, orang Rindu aja belum ngasih tau kita berdua! Ya kan?"


"Ia Om, walaupun aku sudah sangat penasaran."


"Ya biarlah, kita hanya perlu bersiap-siap. Jika di sana kita akan melawan makhluk seperti kita maka kita harus berjuang keras, tapi kalau yang akan kita lawan adalah manusia, biarlah mereka yang bekerja keras hahaha."


"Ye si Om, mau kabur ya, nggak mau susah? Ntar aku laporin sama kak Rindu, mau?"


"Ciih si bocill sukanya ngancem."


"Hahahaha namanya juga bocil Om."


"Ya ya ya."


Di mobil Andra, Rindu dan Siska.


"Sis kamu nggak apa-apa kan ikut ke sana, apa kamu udah ngasih tau Willy?"


"Nggak apa-apa kok Rin, tadi aku udah ngasih tau Willy saat kita dalam perjalanan menemui Andra dan yang lainnya. Dia ngasih ijin kok, jadi aman deh."


"Baguslah kalau gitu."


"Ndra, kamu nggak terpaksa kan ikut?"


"Ya nggak lah sayang, semisalnya semua teman-teman nggak mau ikut kamu ke sana, aku orang yang akan tetap ikut kamu! Aku bisa pastikan itu."


"Cie cie cie yang bucin, takut sayangnya kenapa-napa ya," Siska meledek Andra.


"Ya ialah Sis, hehehehe."


Rindu menahan malu karena ucapan Andra yang terang-terangan kalau ia takut Rindu kenapa-kenapa.


"Jangan malu-malu gemush gitu napa Rin."


"Siska, awas kamu ya ngeledek aku terus."


"Hehehe ampun sayangku."


Setelah bercakap-cakap Rindu dan Siska malah ketiduran, tinggallah Andra yang terus mengemudikan mobil. Begitupun di mobil Andre dan Dewi, keduanya masih ngambek-ngambekan dan Dewi sudah terlelap meninggalkan Andre sendiri sambil menyetir.

__ADS_1


"Ckckckck kasian kak Andre, kak Dewi pasti lagi ngambek makanya ditinggal tidur."


"Sok tau aja kamu Steven."


"Beneran Om, kalau yang kayak gini Steven ma paham bener."


"Tau dari mana kamu?"


"Dari banyaknya insan di dunia Om heheheh."


"Kamu pikir ini lagu?"


"Ya nggak sih Om, kan kebetulan lirik lagunya sama dengan perkataan aku."


"Yo wes lah."


Mobil terus melaju membawa mereka ke kampung Sukawati, setengah jam lagi mereka akan sampai.


Rindu dan Siska juga sudah bangun, begitupun Dewi di mobil yang satunya lagi.


"Apa kita udah mau sampai sayang?"


"Ia Yang, bentar lagi! Paling kurang lebih 30 menit lagi."


"Hmm baiklah."


Keduanya kembali diam sembari memperhatikan jalanan sekitar.


Di mobil Andre dan Dewi.


"Sayang, bentar lagi kita sampai."


"Bener?"


"Ia benar sayang, kalau memang tempatnya sesuai dengan yang kita ketahui."


"Om, katanya kita bakalan sampai."


"Ia Steven, berhati-hatilah semoga tidak ada bahaya."


"Amin, semoga ya Om."


 


Tiga puluh menit kemudian akhirnya mereka memasuki pintu masuk ke kampung yang bernama Kampung Sukawati itu.


Di mobil Rindu, ia terus memperhatikan jalanan sekitar. Ada banyak rumah warga di sana, namun sepertinya banyak yang sudah tak berpenghuni, berarti berita itu benar.


"Rin, sepertinya rumah-rumah ini banyak yang ditinggalkan pemiliknya."


"Ya Ndre, kamu benar."


"Serem juga kalau kek gini ya Rin, sepi sekali! Padahal baru jam dua siang."


"Ia Sis, kamu benar."


Mereka terus berada di dalam mobil, mobil Andre dan Dewi mengikuti dari belakang. Om Besar dan Steven menjaga mereka berdua atas perintah Rindu.


Kampung itu kini nampak benar-benar seperti kampung mati, rumah-rumah kosong tak berpenghuni menimbulkan kesan mistis, entah kasus ini ada hubungannya dengan hal mistis apa tidak, itu yang harus mereka cari tau.


Setelah beberapa saat berkeliling mencari warga yang masih tinggal di sini, akhirnya mereka menemukan sebuah rumah yang masih ada penghuninya.


Nampak di depan rumah itu ada sepasang suami isteri dan seorang anak perempuan berusia sekitar 7 tahun duduk di sana.


Mereka hanya duduk diam tanpa tau harus berbuat apa, seakan pasrah dengan hidup yang kini mereka jalani.

__ADS_1


Sang anak terlihat sedang menangis dan memegangi perutnya, mungkin dia kelaparan.


Rindu yang melihat itu langsung meminta Andra menepikan mobil, Andre pun melakukan hal yang sama. Mereka kemudian keluar dari dalam mobil dan menemui keluarga itu.


Tiga orang yang duduk diam itu terkejut melihat ada dua mobil yang mendekati rumah mereka. Mereka tak menyangka akan ada orang luar yang berani masuk ke kampung mereka, sementara di luar sana berita tentang apa uang terjadi sudah beredar luas.


"Selamat siang Pak, Bu."


"Siang Nak, siapa kalian ini? Kenapa bisa datang ke sini? Pergilah Nak, apa kalian nyasar?"


Bapak itu langsung membandrol mereka dengan pertanyaan demi pertanyaan.


"Maaf Pak, kami bukan nyasar! Kami memang sengaja datang ke sini, perkenalkan kami berasal dari Jakarta dan kami ke sini ingin mengetahui apa yang terjadi di sini," ucap Andra.


Rindu yang melihat anak kecil masih menangis memegang perutnya, ia langsung pergi ke mobil dan mengambil beberapa roti dan minuman dari bagasi.


"Beruntung aku dan Siska belinya banyak, kasian sekali mereka ya Tuhan," Rindu berucap dalam hatinya sambil melangkah kembali.


Anak kecil yang melihat makanan yang dipegang Rindu, matanya berbinar menandakan ia menginginkan roti dan minuman itu.


"Dek, apa Adek lapar? Nih kakak punya roti dan minum."


Rindu memberikannya pada si kecil.


"Terimakasih Kak."


"Sama-sama sayang, dimakan ya! Pak, Bu, ini sedikit makanan yang kami bawa, mohon Bapak dan Ibu makanlah."


"Terimaksih Nak, terimakasih! Kami pikir mungkin kami akan mati kelaparan di sini, namun ternyata Allah sungguh maha kuasa. Kalian datang dan menjadi harapan buat kami, terimakasih Nak," ucap sang isteri.


"Sama-sama Bu, kalau boleh saya tau, siapa nama Bapak, Ibu dan adik manis ini?"


"Nama bapak Musa ini isteri bapak namanya Laila," ucap Pak Radit


"Nama saya Putri Kak," Putri langsung memperkenalkan namanya.


"Pak Musa, perkenalkan saya Andra, yang ngasih roti namanya Rindu, yang itu Andre, itu Dewi dan yang satunya Siska."


Mereka semua yang namanya disebut oleh Andra hanya balas mengangguk dan tersenyum tanda perkenalan.


Setelah perkenankan mereka memberikan waktu untuk Pak Musa, Bu Laila dan Putri untuk menikmati roti dan minuman yang dikasih Rindu.


Ketiganya nampak sangat kelaparan, Putri makan sampai coklat belepotan di bibirnya. Pak Musa dan Bu Laila hanya bisa tersenyum bahagia melihat anaknya yang akhirnya bisa makan lagi setelah hampir seminggu persediaan makanan mereka habis dan mereka hanya bisa minum air lagi dan lagi.


Setelah mereka menyelesaikan makan mereka, Rindu yang tak sabar ingin tau apa yang terjadi langsung bertanya pada Pak Musa.


"Lalu Pak, bisakah Bapak menceritakan pada kami apa yang terjadi di sini?" ucap Rindu


"Bisa Nak, Bapak bisa menceritakan sedetail-detailnya yang Bapak ketahui."


"Silahkan Pak," ucap Dewi dan Siska yang ternyata sama seperti Rindu, orangnya nggak sabaran.


"Begini Nak Rindu..."


Next... Hihihi..


...--------------------------------...


...Hai kesayangan :)...


...Thanks ya udah baca novel aku, jangan lupa like dan komen ya.....


...Jangan lupa vote juga, thank you semuanya....


...Sehat-sehat ya kalian di sana....

__ADS_1


...Tuhan Yesus memberkati....


...--------------------------------...


__ADS_2