
...--------------------------------...
******
Steven menceritakan apa yang mereka lakukan beberapa waktu lalu sebelum kembali menemui Rindu dan yang lainnya.
Keduanya menyeret Rendi sampai ke jalan perbatasan kampung.
"Huh, dasar laki-laki cabul. Kita buang aja di sini Om."
"Yoi."
Rendi yang diseret keduanya lunglai sejenak saat ia menemukan dirinya bukan lagi di hutan, tapi sudah di jalan perbatasan antara hutan itu dengan kampung tempat ia tinggal.
"Loh, perasaan tadi aku di dalam hutan, gimana bisa sampai sini?"
"Dih ngeri, jangan-jangan tadi aku diseret oleh setan lagi ke sini."
"Duhh, mending aku pulang deh. Jangan sampai tu setan datang lagi, merinding banget."
Steven dan Om Besar yang mendengar perkataan Rendi merasa kesal.
"Beraninya dia ngatain kita setan Om, minta dikasih pelajaran tambahan ini."
"Ia Steven, gasskannn."
Steven dan Om Besar dengan isengnya malah melepas pakaian Rendi, keduanya susah payah melepas pakaian Rendi. Rendi yang bingung pakaiannya seperti ditarik-tarik berusaha menahan agar pakaiannya tidak sampai lepas.
Om Besar memegang kedua tangan Rendi, Steven bertugas melepas pakaian Rendi.
"Duh apalagi ini, jangan-jangan setannya ngamuk lagi, duh gawat."
Tangan Rendi mengambang karena ditahan Om Besar, tak berapa lama entah bagaimana caranya Steven melepas pakaian Rendi.
Pakaian Rendi melayang-layang di atas karena dipegang Steven, tinggallah Rendi dengan celana boxer yang ia pakai.
"Hahahhaha, emang enak. Pulanglah dengan seperti itu, siapa suruh kamu ngatain kita berdua setan."
"Ia benar, berani sekali dia. Ayo Steven kita tinggalin dia."
"Ayo Om, let's go."
Keduanya membawa serta baju dan celananya Rendi pergi dari sana, mereka membuang pakaian Rendi di dalam hutan..
"Jadi gitu Kak, ceritanya. Hahaha."
"Ya ampun, kalian ya iseng banget."
"Hahahaha, Steven yang ngajarin saya Rindu."
"Ye, kok jadi Steven. Bilang aja kita sepaket Om."
"Hahahaha, sudah-sudah. Kalian mau makan sosis nggak?"
"Mau Kak, mau."
"Mau Rindu."
"Bener bener ya kalian berdua, kalo soal makanan paling cepat."
"Hehehe, na itu Kakak tau. Ia nggak Om?"
"Yoi."
"Hahaha, so gaul loh berdua ya."
Hahahahhaha, mereka bertiga tertawa bareng sedangkan teman-temannya Rindu hanya bisa menggelengkan kepala mereka, hal seperti ini sudah menjadi suatu yang biasa bagi mereka.
Di tempat Rendi ditinggalkan Steven dan Om Besar.
"Aduh, gimana aku pulangnya ini. Dasar setan laknat, awas saja kalian."
Rendi memaki-maki Steven dan Om Besar, saat ia memaki Steven dan Om Besar rupanya di sana ada kuntilanak yang mendengarnya.
Hihihihihi...
__ADS_1
"Duh, suara apa lagi itu. Jangan-jangan kuntilanak lagi, duh kabur ajalah."
Rendi berlari dengan pontang-panting kembali ke rumahnya.
"Hihihihihi dasar manusia tidak tau adab," ucap si kunti.
********
Kini Rindu dan yang lainnya sudah kembali ke rumah mereka.
"Enak juga liburan kita kali ini ya."
"Ia Wi, enak banget malah. Aku senang udah diajak kalian ke sini," ucap Siska.
"Hari sudah malam, sebaiknya kita langsung mandi aja deh, bersih-bersih lalu kita makan malam bersama."
"Ok Rin, siap."
Dewi dan Siska langsung menuju kamar dan bersih-bersih, sedangkan Neneng ia sudah kembali ke rumahnya sejak tadi.
Ketiga cowok yang sedang duduk di teras rumah sejak tadi kini masuk ke dalam rumah.
"Rin."
"Ya ada apa Ndra?"
"Yang lain ke mana?"
"Oh, Siska dan Dewi ke kamar keduanya pasti sedang bersih-bersih sekarang. Kalian bertiga sebaiknya mandi gih, nanti kita makan malam bersama."
"Ok deh," jawab Andra.
Andra melangkah diikuti Andre ke kamar mereka, sedangkan Willy ke kamarnya sendiri.
Setelah semuanya mandi, kini mereka sedang duduk bersama dan menikmati makan malam mereka.
Setelah makan malam, mereka menyempatkan waktu untuk duduk bersama di teras rumah dan menikmati sinar bulan.
"Indah ya bulannya."
"Ia Rin, kalau di Jakarta mana bisa kita menikmati suasana seperti ini."
"Rin cantik banget sih, gimana caranya ya ngungkapin perasaan ke kamu, aku takut kamu nggak nerima pernyataan cinta aku."
Andra melihat Rindu yang sedang berbincang dengan Siska dan Dewi.
"Gimana caranya ya nembak Dewi, Dewi suka nggak ya sama aku, duh ribet bener ternyata kalau mau nembak cewek."
Andre berucap dalam hatinya, selama mereka liburan Andre semakin menyukai Dewi. Andre kerap kali curi-curi pandang pada Dewi.
Malam telah larut dan mereka pun memutuskan untuk beristirahat.
Dewi, Siska dan Rindu masuk ke kamar mereka. Si kembar ke kamar mereka dan Willy ke kamarnya sendiri karena ia tidur sendirian.
Tepat tengah malam, Siska merasa haus hingga memaksanya untuk bangun dan pergi ke dapur mencari minum.
"Duh, malam-malam haus. Mana gelap banget lagi, tapi ya udahlah dari pada aku kehausan, sebaiknya aku ke dapur."
Siska berjalan pelan ke arah dapur, kondisi rumah yang gelap karena lampu dimatikan oleh mang Supri saat mereka sudah tertidur.
Bermodalkan senter handphonenya ia akhirnya sampai di dapur, Siska langsung mengambil gelas dan menuangkan air lalu diteguk-nya.
"Alhamdulillah akhirnya nggak haus lagi deh."
"Sebaiknya aku langsung balik ke kamar, ngantuk banget."
Saat Siska berbalik dan hendak kembali ke kamar, ia kaget karena senternya mengenai muka seseorang.
"Aaakkkkhhh, setan, setan pergi kamu. Jangan ganggu aku," Siska berteriak.
"Hei Sis, hei ini aku Willy."
"Willy?"
Siska ngebug, sesaat kemudian ia akhirnya bernafas lega.
__ADS_1
"Ya ampun Will, kirain tadi kamu tuh setan, hehehehe. Maaf ya."
"Ye ganteng gini dikatain setan, gimana sih kamu Sis."
"Pede amat kamu Will, hahahah."
Keduanya malah tertawa ditengah malam buta.
"Sis."
"Hm ada apa Will? Serius amat kayaknya
"Gimana kalau kita duduk sebentar."
"Hmmm baiklah."
Keduanya melangkah dan duduk di kursi yang ada di ruang tamu rumah itu.
"Sis aku mau ngomong sesuatu sama kamu."
"Apa Will, ngomong aja."
"Sis, selama kita semua berlibur di sini perlahan-lahan aku menyukai kamu. Jujur ini kali pertama aku menyukai seorang cewek, karena selama ini aku selalu merasa nggak ada yang satu frekuensi sama aku."
Siska masih diam mencerna perkataan Willy.
"Tapi sejak aku kenal kamu, entah kenapa aku mulai menyukai kamu Sis, dan semakin ke sini perasaan aku semakin bertambah."
"Sis apa kamu mau menjadi pacar ku?"
Siska yang mendengar pernyataan cinta Willy melongo sendiri, bukan karena ia tidak menyukai Willy tapi karena ia sadar akan masa lalunya.
Siska merasa tak pantas mendapatkan cinta Willy, apalagi jika ini akan menjadi cinta pertama Willy.
"Will maaf, bukan aku tidak menyukai kamu, tapi aku nggak pantas untuk kamu Will."
Air mata Siska jatuh, tak menyangka akan ada laki-laki yang mencintainya.
"Kenapa Sis, kenapa kamu ngomong kek gitu?"
"Aku, aku nggak pantas Will, maaf."
"Sis, kasih aku alasan kenapa kamu bilang kamu nggak pantas Sis. Aku mau dengar alasan kamu."
"Aku bukanlah gadis sempurna untuk kamu Will, sejak aku kecil Ayah menjual ku ke rumah bordil, aku ada di sini sekarang semua karena pertolongan Dewi dan Rindu."
"Will percayalah kamu bisa menemukan perempuan yang lebih baik dari aku."
"Sis, jangan berkata seperti itu. Semua terjadi bukan karena keinginan kamu, itu ujian hidup kamu, aku yakin kamu yang sekarang adalah pribadi yang jauh lebih baik dari yang dulu."
"Tapi Will, aku.."
"Sis, apa kamu nggak suka sama aku."
"Bukan gitu Will, aku, aku juga suka sama kamu."
"Kamu mau yah jadi pacar aku, jangan bahas masa lalu kamu Sis. Semuanya sudah berlalu, sekarang kita hanya perlu menjadi pribadi yang lebih baik."
"Terimakasih Will."
"Jadi kamu mau jadi pacar aku?"
"Ia Will aku mau."
Willy memeluk Siska yang sedang menangis haru, Siska bersyukur karena ketulusan Willy yang mau menerima Siska tanpa melihat masa lalu Siska yang seperti apa.
...--------------------------------...
...Hai kesayangan :)...
...Thanks ya udah baca novel aku, jangan lupa like dan komen ya.. ♡...
...Jangan lupa vote juga, thank you semuanya. ♡...
...Sehat-sehat ya kalian di sana....
__ADS_1
...Tuhan Yesus Memberkati....
...--------------------------------...