
...--------------------------------...
*******
Kini Andra yang lebih dulu berkelahi dengan orang itu, Andra berusaha sebisa mungkin memberikan pukulan pada lawannya, Rindu yang melihat Andra kesusahan turut ambil bagian.
Saat Andra menyerang dan Rindu menemukan peluang, saat itulah ia akan mendaratkan pukulannya.
Anjing penjaga Rindu masih berdiri diam di sana, ia memperhatikan Rindu dan Andra yang sedang melawan manusia itu.
"Kalian tidak akan bisa menghalangi ku, pergilah."
"Kami tidak akan pergi, kami kesini untuk menjemput Didi dan membawanya pulang," teriak Andra.
"Jangan mengganggu ritual ku, sebentar lagi aku akan menjadi manusia abadi. Hahahhaha."
"Ciih, abadi kau bilang? Mana ada, entar juga Tuhan udah cabut nyawa kamu kok, percaya deh," ucap Rindu.
"Kurang ajar, beraninya kamu."
Orang itu kembali menyerang Andra dan Rindu, Andra yang mendapatkan kesempatan langsung meninju orang itu.
Buggh.
Tinjuan Andra mengenai punggungnya, Rindu langsung memutar kakinya dan menendang tepat di bagian perut orang itu lagi.
Bruukk...
Laki-laki itu terjatuh, entah apa yang dilakukannya, ia tiba-tiba bersila dan mengucapkan mantra-mantra yang tak dimengerti Rindu dan Andra.
"Rindu sebaiknya kalian menghindar biar saya yang mengurusnya."
"Tapi paman anjing, Rindu masih kuat kok."
"Biar kan dia menjadi urusan saya Rindu,"
Belum selesai ia berucap, tiba-tiba angin kencang menerjang mereka membuat Rindu dan juga Andra terhempas ke belakang dan mengenai pohon-pohon kecil yang ada di sekitar.
Ternyata angin itu disebabkan oleh orang yang mereka lawan kini sedang duduk dengan mulut yang komat kamit, entah apa yang sedang dilakukannya.
"Rin ada apa ini?"
"Nggak tau Ndra, tapi sepertinya ia sedang melakukan sesuatu yang untuk mengalahkan kita, kita lihat dan tunggu apa yang akan terjadi."
Lama orang itu komat-kamit hingga akhirnya suara geraman seekor binatang memekikkan telinga mereka.
Ternyata yang muncul adalah seekor harimau berwarna hitam, Rindu dan Andra yang melihatnya menganga.
Sedangkan Andre, Willy, Dewi dan Siska, kini mereka sedang berusaha membebaskan Didi.
"Sssstttttt, jangan berisik kami ke sini untuk membantu kamu," ucap Dewi.
Didi hanya mengangguk dengan air mata yang terus mengalir dari matanya, sepertinya ia terus menangis terlihat jelas dari matanya yang sembab.
Andre dan Willy berusaha membuka tali yang mengikat tubuh Didi, setelah beberapa saat akhirnya mereka berhasil. Buru-buru mereka membawa Didi keluar dari dalam gubuk itu, dengan langkah pelan agar tidak sampai mengakibatkan bunyi yang bisa saja didengar oleh orang yang menculik Didi.
Saat mereka sudah keluar dari gubuk itu, tanpa sengaja Siska menginjak ranting pohon yang menimbulkan bunyi, cepat-cepat mereka bersembunyi agar tidak dilihat siapa-siapa.
"Aduh kak Siska, untung nggak ketahuan. Bisa berabe kita nanti kalo ketahuan," ucap Steven yang tentu saja tak didengar siapapun.
__ADS_1
Beruntung si penculik sedang sibuk dengan Andra dan Rindu.
Mereka membawa Didi menjauh dari sana, dari jauh mereka melihat harimau yang sangat besar terpampang jelas di hadapan Andra dan Rindu.
"Ya Tuhan, lindungilah Andra dan Rindu, Amin."
"Ya Allah, lindungilah Rindu dan Andra agar kami bisa pulang dengan selamat ke rumah."
Dewi dan Siska berdoa dalam hati mereka.
******
Kembali ke situasi Rindu dan Andra.
"Hahahahaha kenapa, apa kalian takut melihat harimau peliharaan ku?"
"Takut? Siapa yang kau bilang takut?"
Rindu bangun diikuti oleh Andra, Rindu malah menantang dan membalas ucapan orang itu.
"Oh, apa yang kau maksud adalah kamu berdua?"
"Kalo ia maka kau salah besar, aku dan teman ku sedikitpun tak takut melihat harimau jadi-jadian ini."
"Harimau jadi-jadian kau bilang?" harimau itu bersuara.
"Ya, kamu harimau jadi-jadian. Mana ada harimau beneran bisa ngomong, itu aja nggak paham. Apa tuan mu yang bodoh ini tidak mengajari mu?"
"Jangan mengatai ku bodoh."
"Lalu, apa aku harus bilang kau songong, oon, atau idiot?"
Harimau itu hendak menyerang Rindu, dengan cepat anjing penjaga Rindu langsung menghalanginya dan terjadilah perkelahian antara dua sosok itu.
Harimau hitam yang besar dan anjing berkepala dua yang sudah mengubah wujudnya tak kalah besar dari harimau yang ada di hadapannya.
Pertarungan hebat terjadi membuat pohon-pohon di sekitar tumbang dan berjatuhan, Rindu dan Andra dengan sigap langsung menghindar.
Satu pohon besar menghantam gubuk yang ada di sana, sang pemilik gubuk tiba-tiba teringat bahwa ia memiliki sandera di dalamnya.
Cepat-cepat ia berlari ke arah gubuk untuk mengeceknya, Andra dan Rindu mengikutinya. Namun saat ia sampai di sana sandera yang diculiknya sudah tak ada, yang ada hanyalah gubuk yang hancur.
"Aaarrghhhh, kemana dia."
Orang itu menoleh ke belakang dan menemukan Rindu dan Andra yang mengikutinya.
"Kalian, pasti kalian yang melakukan ini. Di mana anak itu?"
"Anak, siapa? Ooohh, apa yang kau maksud adalah Didi?" ejek Rindu.
"Ya, kemana dia?"
"Hhmmmm, sepertinya dia sudah kabur dibawa oleh teman kami, bukan begitu Rindu," Andra ikut mengejek.
"Ya benar, hahahaha kasian sekali kau, cup cup cup cup jangan menangis."
"Aaarrghhhh, awas saja kalian, akan ku bunuh kalian tapi sekarang aku harus mencari anak itu."
Laki-laki itu hendak pergi dan mencari Didi yang sudah dibawa Dewi dan yang lainnya, namun tentu saja Rindu dan Andra tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
__ADS_1
"Hap, mau kemana?" ucap Andra.
"Jangan menghalangi ku, pergilah dari hadapan ku sebelum aku marah."
"Tidak, sedikitpun aku tidak akan beranjak dari sini."
Orang itu sangat marah dengan kelakuan Andra, ia berbalik hendak memutar arah, namun..
Buggh...
Rindu yang berada di belakangnya memberikan bogeman tepat di hidung orang itu.
"Auuwhhh."
"Duh, maaf maaf, emang sengaja kok. Apa hidungnya patah, hahahahah."
Rindu berucap sambil menertawakan orang itu, darah keluar dari hidungnya. Saat ia hendak mengangkat tangannya dan memberi pukulan pada Rindu, dengan sigap Andra yang ada di belakangnya langsung memegang tangan dan memelintirnya ke belakang.
Kesempatan baik tak di sia-siakan Rindu, saat Andra memelintir kedua tangan orang itu, Rindu kembali mendaratkan tinjunya ke perut laki-laki itu.
Buggh buggh buggh..
"Kurang ajar kalian, lepaskan aku, lepas."
"Hahahaha, maaf maaf ni ya Om, masa udah susah-susah ditangkap mau dilepas lagi, kan nggak mungkin, hehehehe."
"Lihat saja, harimau ku akan membunuh kalian semua."
"Yakin? Atau jangan-jangan harimau peliharaan kamu yang akan aku bunuh dan aku jadikan dendeng, heheheh."
"Hahahaha Rindu, Rindu, ada-ada aja kamu," ucap Andra.
Rindu mencari sesuatu kesana-kemari dan melihat tali bekas ikatan Didi, dengan cepat ia mengambil tali itu dan kemudian mengikat laki-laki yang masih ditahan oleh Andra.
"Nah, selesai."
"Jangan nangis ya Om, jangan teriak-teriak juga, ini hutan nggak akan ada yang bantuin Om."
"Lepaskan, lepaskan aku."
"Nggak, nggak akan."
Rindu berteriak dengan nada seperti teriakan orang itu.
"Hhahahaha," Andra tertawa melihat tingkah konyol Rindu.
...--------------------------------...
...Hai hai hai....
...Terimakasih ya udah baca Novel Nunna sampai episode ini, semoga kalian suka ya. Jangan lupa kalau ada saran apapun, langsung di komentar ya....
...Thanks semuanya....
...Sehat-sehat ya kalian semua, jaga kesehatan apalagi pandemi kek gini kan....
...나는 당신 모두를 사랑합니다...
...Tuhan Yesus Memberkati kalian semua. †...
__ADS_1
...--------------------------------...