Rindu Indigo Usil

Rindu Indigo Usil
Awal Mula Kejadian di Kampung Sukawati


__ADS_3

...--------------------------------...


"Begin Nak, awalnya ketika ada yang hilang satu persatu, kami berpikir bahwa mereka mungkin pergi ke kota untuk bekerja seperti kebanyakannya."


"Tapi kemudian hilangnya warga-warga mulai semakin banyak dan tak pernah kembali. Kami sebagai warga telah mencari kemana-mana tapi tidak menemukan mereka, hingga akhirnya kami hanya bisa pasrah dengan keadaan."


"Hari berganti hari satu persatu warga di sini hilang seperti ditelan bumi, sehingga kami hanya bisa pasrah karena tak bisa melakukan apapun, segala macam cara kami lakukan untuk mencari mereka, namun hasilnya nihil."


"Ada yang pergi untuk melapor ke polisi, namun tidak kembali sampai sekarang! Akhirnya kami semua putus ada dan hidup seperti biasa, lalu ketika ada warga yang hilang kami menganggap itu hal biasa."


"Dan sekarang kami hanya bisa bersembunyi di dalam rumah ketika hari sudah senja hingga pagi menjemput, kami hanya bisa bersembunyi dibalik kegelapan."


"Karena biasanya jika malam menjemput, kampung ini sangat mengerikan! Lebih mengerikan dari siang hari."


"Maksud Bapak?" tanya Rindu.


"Jika malam hari kami tidak berani menyalakan lampu ataupun api, karena biasanya malam-malam jika ada yang menyalakan api, sudah dipastikan esok hari salah satu dari keluarga itu akan hilang."


"Kok Bapak dan warga bisa menyimpulkan seperti itu, kenapa?" tanya Andra.


"Karena pernah sekali listrik padam total di kampung kami, ketika tengah malam semua rumah saat itu rata-rata mematikan lampu lentera mereka. Namun ada satu keluarga yang katanya mereka menyalakan lampu sampai pagi, malam itupun salah satu dari anggota keluarga mereka hilang."


Rindu dan yang lainnya yang mendengar penjelasan Pak Musa kini mulai paham, dan dapat Rindu simpulkan hal ini pasti ada hubungannya dengan hal mistis.


Rindu kemudian berbicara pada Steven dan Om Besar melalui pikirannya. Karena sejak tadi keduanya juga ada di situ dan mendengar penjelasan Pak Musa.


"Om, Steven, gimana menurut kalian?"


"Menurut saya hal ini memang berhubungan dengan dunia lain Rindu."


"Benar kak Rindu, saya juga setuju sama Om Besar bahkan kampung ini seperti kampung mati sekarang. Auranya juga sangat pekat, padahal auranya hanya aura sisa kedatangannya semalam."


"Maksud kamu?"


"Makhluk itu Kak, entah makhluk apa, tapi aura yang ditinggalkannya sangat pekat."


"Hmmm baiklah, maukah kalian berdua berkeliling mencari tau?"


"Ok Kak."


"Tapi ingat! Kalian jangan berpisah, kembali dengan baik-baik saja ke sini dan jangan terlalu lama ya."


"Baik Rindu," jawab Om Besar.


Mereka berdua meninggalkan Rindu dan yang lainnya lalu berkeliling di sekitar, mereka tidak pergi terlalu jauh. Rindu berpesan agar mereka selalu saling menjaga.


Rindu dan yang lainnya sedang berunding apa yang akan mereka lakukan selanjutnya, sedangkan sekarang sudah jam empat sore.


"Lalu bagaimana selanjutnya Rin?" tanya Andra.


"Itu dia yang sedang aku pikirkan Ndra, sepertinya ini memang ada kaitannya dengan makhluk tak kasat mata. Aku sudah meminta Steven dan Om Besar untuk berkeliling di sekitar, sebaiknya kita tunggu mereka kembali lalu menentukan langkah selanjutnya."


"Baiklah Rin, kami mengikuti apa keputusan kamu," ucap Dewi.


Siska, Andra dan Andre mengangguk tanda sepakat dengan apa yang diucapkan Dewi.

__ADS_1


Merekapun duduk sambil berbincang-bincang dengan keluarga Pak Musa.


"Lalu Pak sekarang ada berapa kepala keluarga lagi yang masih hidup di sini?"


"Kini yang tinggal di kampung ini hanya sisa 7 keluarga Nak."


"Tujuh?"


Mereka semua nampak sangat terkejut karena dari sekian banyak warga di kampung itu, kini hanya tinggal tujuh kepala keluarga yang masih hidup di sana.


"Ya ampun, lalu di mana mereka sekarang Pak?" tanya Siska.


"Mereka mungkin sedang diam seperti kami di rumah mereka masing-masing Nak, karena hanya itu yang bisa kami lakukan sekarang. Tidak ada apa-apa lagi yang bisa kami makan, semuanya sudah habis."


"Pak, apa Bapak bisa mengantar kami menemui enam kepala keluarga yang lainnya? Kami ingin memberikan mereka sedikit makanan yang kami bawa."


"Bisa Nak, kita bisa pergi sekarang karena hari masih terang."


"Baiklah Pak, ayo kita jalan sekarang," ucap Rindu.


Mereka mengambil makanan dari bagasi mobil Rindu dan membawanya untuk diberikan pada enam kepala keluarga lainnya, mereka juga lebih dulu meninggalkan beberapa untuk Pak Musa dan anak istrinya.


--------


Setelah berjalan sekitar tiga menitan, mereka sampai disalah satu rumah warga.


"Permisi Kang."


"Eh kang Musa ada apa? Tumben kemari."


"Begini Kang, ada anak-anak dari Jakarta yang datang ke sini dan mereka ingin memberikan sedikit makanan yang mereka bawa dari Jakarta."


"Tidak apa-apa Pak, lagian ini masih terang," jawab Andra.


Mereka memperkenalkan diri lalu memberikan beberapa roti, minuman dan jajanan lainnya yang mereka bawa.


"Terimaksih Nak, karena kalian semua kami bisa makan lagi hari ini."


"Sama-sama Pak, kalau begitu kami pamit," ucap Dewi.


"Silahkan Nak, kalian berhati-hatilah."


Mereka kembali melanjutkan perjalanan ke rumah warga yang lainnya, satu persatu mereka membagikan makanan dan minuman yang dibawa Rindu.


"Rin, beruntung tadi kita beli banyak ya."


"Ia Sis, nggak nyangka sangat bermanfaat untuk mereka yang sudah menahan lapar beberapa hari seperti ini."


"Ia Rin."


Setelah membagikan semua kepada enam keluarga itu, mereka kembali ke rumah Pak Musa.


"Nak Rindu, terimakasih kalian sudah sangat membantu kami."


"Sama-sama Pak, lagian kami senang bisa membantu."

__ADS_1


"Ya benar apa yang dikatakan Rindu Pak, dan insyaallah kami senang dan kami ikhlas," ujar Siska.


Mereka terus melangkahkan kaki untuk kembali ke rumah Pak Musa.


"Ternyata sangat menyenangkan jika berbagi seperti ini Rin," ucap Dewi.


"Ia Wi, kamu benar."


"Sayang sekali tadi aku tidak sempat membeli roti ataupun jajan."


"Nggak apa-apa Wi, lagian yang aku bawa puji Tuhan cukup untuk mereka."


"Ia sayang, aku nggak nyangka kamu kepikiran untuk membeli banyak makanan seperti itu," ucap Andra.


"Sebenarnya bukan ide aku sendiri Ndra."


"Lalu saran siapa itu?" tanya Andre yang dari tadi diam.


"Saran itu datangnya dari Steven dan Om Besar."


"Wah, hebat ya mereka berdua," ucap Dewi dan Andre kompak.


"Ya begitulah."


Mereka akhirnya sampai di rumah Pak Musa.


"Bu, Putri ayah kembali."


"Ayah, kak Rindu, kak Siska, kak Dewi, kak Andra, kak Andre."


Putri berteriak menyambut mereka dan menyebut nama mereka satu persatu.


Mereka yang mendengar Putri menyebut nama mereka satu persatu hanya bisa memamerkan senyum padanya, kini mereka hanya bisa duduk sambil menunggu kedatangan Om Besar dan Steven yang entah sudah di mana hingga belum kembali juga.


Tak lama keduanya kembali dengan berlari sehingga membuat keduanya ngos-ngosan, padahal mereka bisa melayang dengan cepat, kenapa malah lari?


"Ngapain kalian malah lari? Kan bisa ngilang, bisa melayang."


"Oh ia ya, ya ampun si Om sih kan aku jadi ikutan lari."


Steven menepuk dahinya sendiri karena malah ikutan lari ketika Om Besar lari.


Lalu kenapa mereka berdua lari-larian ya?


Next..


...--------------------------------...


...Hai kesayangan :)...


...Thanks ya udah baca novel aku, jangan lupa like dan komen ya.....


...Jangan lupa vote juga, thank you semuanya....


...Sehat-sehat ya kalian di sana....

__ADS_1


...Tuhan Yesus memberkati....


...--------------------------------...


__ADS_2