
...--------------------------------...
"Maafkan kami Nak, bukan kami tidak mencari kamu! Sejak kamu diculik, kami terus mencari kesana-kemari, bahkan ibu mu sampai frustasi padahal waktu itu ibu mu masih dalam masa pemulihan."
"Ayah terus mencari kamu sampai akhirnya orang yang menculik kamu memberitahu ayah bahwa ia membuang kamu, ayah tidak putus asa Nak. Ayah terus mencari namun ayah tak menemukan apapun, hingga saat ini!"
"Maafkan ayah Nak, maafkan kami semua yang tidak bisa memberikan kasih sayang dan hidup yang layak untuk kamu sejak kecil," Pak Rudi mengakhiri ceritanya dengan air mata yang terus berderai.
"Nak, maafkan ibu. Maaf karena sejak kecil ibu tidak bisa menjaga kamu dengan baik, maafkan ibu dan ayahmu Nak," ucap Bu Susi.
"Hiks hiks hiks hiks, jadi seperti itu! Baiklah aku tidak akan marah sama kalian, karena semuanya juga sudah lewat, sudah menjadi masa lalu buat aku. Sekarang bahkan aku sudah seperti ini, tapi aku bersyukur kok, aku bisa bertemu kalian sebelum aku pergi dan tak akan kembali lagi," ucap Steven.
"Bu, terimakasih sudah melahirkan Steven. Susah payah Ibu melahirkan Steven ke dunia ini, maaf karena Steven tidak bisa menjadi anak yang baik untuk Ayah dan Ibu," ucap Steven.
"Nak, jangan berkata seperti itu! Ibu bahagia bisa melahirkan kalian berdua ke dunia ini, ibu sayang sama kalian berdua Nak," ucap Bu Susi.
"Dek, maafin kakak ya! Karena kita nggak bisa bersama lagi, kakak doakan semoga kamu tenang dan bahagia di surga nanti," ucap Raisa.
"Terimakasih Kak, Steven titip Ayah dan Ibu ya Kak! Steven sayang sama kalian semua," ucap Steven.
Suasana sedih memenuhi ruangan itu, semua yang terjadi sukses membuat mereka semua meneteskan air mata.
Setelah memeluk kakak kembarnya dan kedua orang tuanya, Steven lalu kembali mendekat ke arah Rindu dan Bu Mita.
"Kak," ucap Steven.
"Kak, maafin Steven ya kalau selama Steven ada di sini, Steven selalu jahil sama Kakak. Bu Bos, maafin Steven ya. Makasih juga karena selama ini, kak Rindu dan Bu Bos selalu baik sama Steven," ucap Steven.
"Bocill apa sekarang kamu bahagia?" tanya Rindu dengan air mata yang mengalir.
"Walaupun ini berat, tapi aku ikhlas bocill. Setidaknya kami tidak jadi pengganggu lagi, heheheh," ucap Rindu dengan tawa garing.
"Steven, makasih ya kamu sudah menjadi teman untuk aku selama ini! Kamu dan Om Besar selalu menghibur aku, selalu ada kapanpun aku butuh. Sekarang kamu akan pergi, tinggal aku dan Om Besar yang bakalan galau karena kamu," ucap Rindu.
"Hehehe Kak jaga Om Besar baik-baik ya, soalnya Om sering kelayapan nyari kunti yang ada disekitar, hahahha," ucap Steven.
"Hahahaha, ya biarin aja! Lagian dia kan udah besar, nggak kayak kamu masih bocill," ucap Rindu.
"Hahahaha, gini-gini mah aku banyak pahamnya Kak," ucap Steven.
"Hahahaha, ya ya ya, terserah kamulah," ucap Rindu.
Steven berusaha mencairkan suasana, karena sejak tadi hanya ada air mata makanya dia berucap seperti itu.
"Kak Siska, kak Dewi, kak Andra, kak Andre dan kak Willy. Sampai jumpa ya, Steven senang bisa kenal kalian. Kak Andre jangan suka buat kak Dewi kesal lagi, hahahah," ucap Steven.
"Hahahaha kamu tu ya, bisa aja," ucap Dewi.
Merekapun tertawa mendengar celotehan Steven yang menggoda Dewi dan Andre.
"Kak Siska dan kak Willy semoga makin bucin ya. Maaf nanti saat kalian menikah, Steven nggak ikut makan-makan lagi hahahaha, nggak bisa ngajak yang lain party," ucap Steven.
__ADS_1
"Bakalan sepi kalau nggak ada kamu sih," ucap Siska.
"Ya gitu Kak, Steven kan anaknya gemoy, ya kan hahahah," Steven tertawa.
Walau Steven bercanda tetap saja mereka merasa sedih, hal inilah yang akan membuat mereka selalu mengingat Steven dan akan merasa kehilangan.
"Kak Andra dan kak Rindu, semoga cepat nyusul kak Siska dan kak Willy ya hahahah! Jangan cuma bucin lewat hape hahahah," Steven berucap sambil ngakak.
"Ciih dasar bocill, masih berani kamu godain aku?" ucap Rindu.
"Hahahaha ampun suhu," ucap Steven sambil tertawa.
Kembali hal itu membuat mereka tertawa.
Setelah itu Steven pun mulai serius dan berpamitan pada mereka semua.
"Ayah, Bunda kak Raisa, aku pamit ya! Jangan lupa doakan aku selalu," ucap Steven.
"Nak, pergilah insyaallah kami akan berusaha ikhlas. Kami akan selalu mendoakan kamu Nak," ucap Pak Rudi.
"Ia Nak, pergilah. Kami semua akan selalu mendoakan kamu dari sini," ucap Bu Susi.
"Dek, semoga kamu bahagia di surga ya," ucap Raisa.
"Terimakasih Yah, Bun dan kak Raisa, semoga kalian selalu bahagia," ucap Steven lalu kembali memeluk mereka semua.
"Bu Bos, kak Rindu, Steven pamit ya! Terimakasih untuk semuanya," ucap Steven.
"Kami pasti akan selalu mengirimkan doa untuk kamu Nak," ucap Bu Mita.
"Makasih Bu Bos, kak Rindu," ucap Steven.
"Om, sekarang tinggal Om di sini! Jaga kak Rindu dan Bu Bos ya!" ucap Steven.
"Ia Steven, kamu tenang saja. Kamu pergilah dengan tenang," ucap Om Besar.
"Ingat Om! Jangan selingkuh terus, nanti ketahuan bisa digantung sama Tante Kun hahahaha," Steven tertawa.
"Haiiizzz kamu ini, dasar anak kecil," ucap Om Besar.
"Paman anjing, sampai jumpa lagi ya," ucap Steven.
"Ia Steven, sampai jumpa lagi," ucap anjing Rindu.
"Steven pergi ya, ingat jangan kangen-kangen sama Steven!" Steven berucap dengan air mata yang mengalir.
Sedih, namun ia tak bisa melakukan apapun, memang inilah yang akan terjadi. Sudah menjadi kodrat manusia yang meninggal akan pergi ke akhirat setelah urusannya selesai di dunia.
Cahaya datang menjemput sosok Steven yang perlahan-lahan ditelan oleh cahaya itu dengan lambaian tangan dan senyumannya ia meninggalkan Rindu dan yang lainnya.
"Sampai jumpa Steven, terimakasih selama ini kamu sudah menjadi teman aku di sini. Kamu sudah menjadi anak yang baik, aku pasti akan merindukan kamu. Kamu yang usil, kamu yang selalu bikin aku tertawa sendiri, sampai jumpa di surga nanti ya," ucap Rindu dalam hatinya.
__ADS_1
Bu Susi tak sanggup menerima semuanya, tangisannya membuat Bu Susi pingsan.
"Ya ampun Bu," ucap Raisa.
"Nak Raisa, sebaiknya kita bawa ibu kamu ke kamar tamu saja," ucap Bu Mita.
"Baik Tante, terimakasih!" ucap Raisa.
Pak Rudi dan Raisa membawa Bu Susi ke kamar tamu yang ditunjukkan Bu Mita.
"Astagfirullah Bu, ikhlas Bu, semoga Ibu bisa ikhlas dengan kepergian anak kita," ucap Pak Rudi.
Bu Mita memberikan minyak telon pada Pak Rudi untuk menyadarkan Bu Susi.
Beberapa saat kemudian akhirnya Bu Susi sadar, Pak Rudi langsung memberikan minum pada istrinya seraya berucap agar istrinya ikhlas.
Setelah Bu Susi tenang, merekapun berpamitan pada Rindu dan yang lainnya.
"Rin, makasih ya. Karena kamu, setidaknya aku bisa lihat adik aku untuk terakhir kalinya," ucap Raisa.
"Ia Nak, terimakasih ya untuk bantuan kamu. Terimakasih juga karena selama ini kamu sudah memperlakukan dia dengan baik," ucap Bu Susi.
"Ia kak Raisa, Tante, sama-sama," ucap Rindu.
Pak Rudi pun tak lupa mengucapkan terimakasih, dan berpamitan pada Bu Mita juga. Setelah itu mereka meninggalkan rumah Rindu.
Setelah kepulangan Raisa dan kedua orang tuanya, Andra dan yang lainnya juga berpamitan.
"Rin, kita semua juga pamit ya. Tante, Dewi, Siska dan yang lainnya pamit ya," ucap Dewi.
"Ia Wi, kalian hati-hati di jalan ya," ucap Rindu.
"Ia Nak, hati-hati di jalan kalian semua ya. Jangan ngebut-ngebut karena sudah malam," ucap Bu Mita.
"Ia Tante," jawab mereka semua.
Andra dan yang lainnya meninggalkan rumah Rindu, kini tinggallah Rindu dan Bu Mita di rumah dan Om Besar di pohon sedangkan anjing Rindu sudah kembali ke dalam cincin.
...--------------------------------...
...Hai kesayangan :)...
...Thanks ya udah baca novel aku, jangan lupa like dan komen ya.....
...Jangan lupa vote juga, thank you semuanya....
...Sehat-sehat ya kalian di sana....
...Tuhan Yesus memberkati....
...--------------------------------...
__ADS_1