Rindu Indigo Usil

Rindu Indigo Usil
Bakar-bakar


__ADS_3

...--------------------------------...


*******


Hari berganti hari kini tinggal satu minggu lagi masa liburan mereka berakhir, sejak kejadian saat itu Neneng semakin sering berkunjung ke tempat Rindu dan yang lainnya.


Seperti saat ini, Neneng sedang berada bersama Rindu dan teman-temannya. Mereka sedang duduk di halaman depan rumah, hari saat ini sudah malam. Karena itu pula mereka berkumpul di halaman rumah neneknya Dewi.


Malam ini mereka semua sedang mengadakan bakar-bakaran, ada jagung, daging dan juga sosis yang mereka bakar.


Andra, Andre dan Willy tentu saja mendapat bagian untuk membakar jagung dll.


"Om, hari ini kita makan enak kayaknya."


"Ia Steven, rupanya Rindu dan yang lainnya sedang bakar-bakar hehehe, rezeki nomplok ni kita berdua."


"Hahaha ia Om, pulang capek-capek dari tetangga sebelah malah disambut makanan enak kek gini, enak tenan."


"Hahahahaha, wah wah wah Steven kamu makin jago aja ngomong kek gitu ya."


"Hahahaha yoi Om."


Steven dan Om Besar rupanya baru saja berkeliling kompleks dan bertamu di rumah sebelah rumah neneknya Dewi, di sana ada sosok kuntilanak dan juga beberapa sosok arwah gentayangan lainnya.


"Oyahh Om, Tante Kunti kok nggak balik-balik ya. Jangan-jangan Om ditinggal lagi, hahahaha jomblo ngenes nanti si Om, hahahahaha."


"Ye, katanya dia ada urusan makanya belum pulang. Katanya sih mau ke Mars, makanya ngilang lama amat."


"Hahahahah, na itu makanya Om, kalau Tante Kunti ke Mars, gimana baliknya tuh."


"Lah tinggal balik aja kek biasa kan."


"Mana bisa Om."


"Loh, maksud kamu?"


"Ya dengar-dengar ya Om, kalo udah ke Planet Mars, kagak bisa balik lagi. Om tau kenapa?"


"Nggak tau, kenapa emang?"


"Mmmmm itu karena di Mars banyak hantu-hantu tampan dan keren."


"Hah, yang benar kamu?"


"Ia benar Om, ngapain Steven bohong coba."


"Duh gawat dong, jangan-jangan dia sudah lupain aku lagi."


"Kayaknya sih gitu Om, duh kasian banget Om aku ini."


Steven sedang berusaha menahan tawanya, ia benar-benar menipu Om Besar sekarang.


"Huuuwaaa.... Ku menangis, membayangkan betapa kejamnya dirimu atas diriku. Kau duakan cinta ini, kau pergi bersamanya. Ku menangiiisss."


"Hahahhahaha, ko malah nyanyi sih Om hahahahah."


Steven tertawa puas melihat Om Besar yang sedang galau tapi malah bernyanyi ku menangis.


Rindu dan yang lainnya sedang duduk bersama, kini semua hasil bakaran ketiga cowok itu sudah ditata di hadapan mereka beralaskan tikar kecil yang ada.


Mereka juga mengajak Mang Supri agar sama-sama menikmati hasil bakar-bakaran mereka.


"Mang ayo duduk."


"Ia neng Rindu, makasih ya udah ajak mang sekalian untuk makan enak malam ini, hehehhe."


"Ia Mang, sama-sama."


"Hummmm wanginya, enak banget ini pasti."


"Hahahaha ia Neng, pasti enak dong. Siapa dulu yang bakar, ya kan Will."


"Yupsss bener Ndre."

__ADS_1


"Ye, kamu salah Ndre. Harusnya gini, siapa dulu yang nyiapin bumbunya, ia kan Wi, Rin."


"Hahahaha yups seratus persen untuk kamu Sis," ucap Dewi dan Rindu.


"Hahahahaha."


Neneng tertawa melihat muka cemberut Andre dan Willy, tadinya mau sombong ye kan, eh malah kagak jadi, hahahahah.


Andra hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan adik kembarnya dan sepupunya yang tengil itu.


"Sudah sebaiknya sekarang kita berdoa lalu kita makan bersama-sama."


"Ok deh."


Merekapun berdoa sesuai keyakinan masing-masing.


*******


Doa selesai, saat mereka hendak makan, tiba-tiba Steven dan Om Besar nongol di samping Rindu, otomatis Rindu langsung menghentikan gerakan tangannya.


Teman-temannya yang melihat Rindu seperti itu akhirnya ikut berhenti, mereka melihat apa yang dilakukan Rindu.


"Kak Rindu gitu ya sekarang, lupa ya sama Steven dan Om Besar. Ngambek ni Steven sama Kakak."


"Ye siapa suruh kalian ngilang seharian hah.!"


"Hehehe maap Kak, kita berdua keliling kompleks dari tadi pagi, sekalian bertamu ke rumah sebelah."


"Ckckckc gayanya kalian berdua ini."


"Hahaha ia Rindu, kami tadi jalan-jalan makanya nggak kelihatan di sini."


"Jadi salah siapa coba, salah aku apa salah kalian?"


"Salah siapa ya Om?" Steven bertanya.


"Nggak tau Steven, salah siapa ya?"


Keduanya malah berpikir.


Rindu memukul kepala keduanya.


"Ya salah kalianlah, masa ia aku yang salah."


"Hehehehe oh ia ya, ya udah deh salah Steven sama Om Besar. Ya kan Om?"


"Ia deh, salah kita aja."


"Tingkah loh berdua kayak orang yang ditindas ya."


"Hahahaha maap Kak, ah udahlah Kak ayo kita makan sekarang."


"Kalau makanan aja kalian berdua cepetan. Ya udah duduk diam di situ, ntar aku kasih."


"Makasih kak Rindu, kak Rindu terbaik deh."


"Makasih Rindu, you are the best."


"Ckckckck belagu banget ni bocah sama si tua."


"Ahahahaha," Steven dan Om Besar malah tertawa.


Keduanya duduk santai di samping Rindu, menunggu Rindu memberikan mereka makanan. Walaupun mereka berdua ceroboh dalam segala hal, tapi dalam hal seperti ini mereka hanya akan menunggu Rindu yang memberi mereka makanan itu.


"Kenapa Rin, apa ada Steven dan Om Besar?"


"Ia Ndra, biasalah kalau aku udah ngomong-ngomong kek gini pasti ada mereka berdua."


"Ooohhh, emang ada apa Rin?"


"Katanya mereka juga mau ikut makan, tuh pada sok ngambek gara-gara nggak diajak bakar-bakar."


"Hahahahah."

__ADS_1


Mereka yang mendengar penjelasan Rindu perihal Steven dan Om Besar langsung tertawa terbahak-bahak..


"Terus di mana mereka sekarang?"


"Biasa Neng, di samping aku."


"Oooohhh."


Mereka semua mulai mengambil makanan dan makan, Rindu juga sudah menyisihkan daging bakar untuk Steven dan Om Besar.


Teman-temannya hanya bisa tersenyum melihat Rindu yang seperti itu karena permintaan Steven dan Om Besar..


"Dah makan sekarang."


"Makasih kak Rindu."


"Makasih Rindu."


"Ya sama-sama Om, Steven."


Mereka menikmati daging bakar, jagung bakar, sosis bakar dengan sangat lahap.


Mang Supri dan Neneng yang memang jarang berada dalam suasana seperti ini sangat senang, Neneng senang bisa mengenal Rindu dan yang lainnya. Mang Supri juga senang karena mereka semua adalah anak-anak yang baik dan sangat menghormati mang Supri di sana.


"Duhh enaknya, aku sampai nggak bisa gerak."


"Hahahaha, makanya Ndre jangan rakus hahahah."


"Kamu salah Will, Andra itu bukan rakus tapi kayak orang yang nggak makan sepuluh tahun, hahahaha."


Puukkk... Andre menepuk lengan Andra.


"Enak aja."


Neneng, Siska dan Dewi pun sudah selesai makan sosis bakarnya.


"Enak banget, makasih ya karena kalian semua aku bisa rasakan makanan enak kek gini."


"Ia Neng sama-sama," ucap Dewi dan Siska.


Steven dan Om Besar pun kekenyangan makan daging bakar yang diberikan Rindu.


"Duh kak Rindu ini daging bakarnya enak pol. Enak tenan, hahahaha."


"Hahahaha, belajar dari siapa kamu Steven ngomong kek gitu?"


"Hahahhaha, dari sosok-sosok yang sering aku temui Kak."


"Hahahaha, ngeri ya kamu. Makin keren aja ngomongnya, hahaha."


"Yoi harus itu Kak, wkwkwkw."


"Makasih ya Rindu, emang benar apa yang dikatakan Steven dagingnya enak banget banget banget."


"Ialah enak Om, kan dikasih bumbu lalu dibakar, heheheheh."


"Ya pokoknya itulah Rin, enak banget pokoknya."


"Ya benar Om, enak benerrr."


Rindu tertawa melihat gaya bicara Steven dan Om Besar..


...--------------------------------...


...Hai kesayangan :)...


...Thanks ya udah baca novel aku, jangan lupa like dan komen ya.. ♡...


...Jangan lupa vote juga, thank you semuanya. ♡...


...Sehat-sehat ya kalian di sana....


...Tuhan Yesus Memberkati....

__ADS_1


...--------------------------------...


__ADS_2