
...--------------------------------...
Tanpa tau maksud Rindu makhluk itu terus menyerang, dan anjing Rindu pun terus mendesaknya dari arah belakang hingga akhirnya mereka keluar dari dalam gua itu.
Siska dan yang lainnya yang berada di balik semak-semak hanya bisa berdoa berharap Rindu berhasil melawan makhluk itu.
Pertarungan terus terjadi diantara mereka, Steven dan Om Besar pun kini ikut membantu. Sosok itu kini dikelilingi dari berbagai arah..
"Lihatlah gel, percaya tidak sebentar lagi kau akan musnah."
"Cobalah kalau kalian bisa memusnahkan ku, karena jika tidak! Maka kalian semua yang akan menjadi santapan ku."
"Wah, kurang ajar ni permen karet! Serang di Om."
"Ya kamu juga serang dong, jangan nyuruh aja."
"Haiiiz si Om benar-benar nggak bisa diajak kompromi, baiklah ayo kita serang dia Om."
Steven dan Om Besar kembali menyerang makhluk itu.
"Rin, disini sinar matahari terhalang pepohonan. Sebaiknya tuntun dia ke arah sana," Andra menunjuk pada tempat yang disinari oleh cahaya matahari.
Rindu mengangguk lalu kemudian memberitahukan rencananya dan Andra pada Om Besar dan Steven.
Setelah Om Besar dan Steven tau rencana itu, mereka mulai bekerja sama menuntun makhluk itu ke tempat yang dikatakan Rindu.
Makhluk itu belum tau rencana mereka semua, ia hanya mengira mereka bertarung seperti biasa. Dengan sigap ia terus menyerang Rindu dan yang lainnya, tentu saja mereka semua tidak tinggal diam.
Walaupun serangan mereka seakan tidak ada gunanya, mereka terus menyerang. Rindu terus menggunakan pedangnya untuk menyerang, walaupun sosok itu terkena tebasan pedang Rindu dan membuat sebagian tubuhnya terpisah, namun perlahan bagian yang terpisah itu akan kembali menyatu dengan tubuh lainnya.
Siska dan yang lainnya nampak heran, bagaimana bisa seperti itu.
"Sosok itu benar-benar susah untuk dihabisi."
"Ia Ndre, kamu benar. Kasian Rindu dan yang lainnya pasti sudah kecapean melawannya."
"Ia Sis, walaupun kita tidak melihat yang lainnya. Tapi pasti mereka sedang membantu Rindu."
Siska dan Andra menganggu.
"Siapa yang kalian maksud Nak, bukankah di sana hanya ada Rindu dan Andra?"
"Nanti saja Pak, heheheh. Biar Rindu saja yang menjelaskan."
"Baiklah Nak."
Pak Musa nampak benar-benar penasaran dengan semua yang terjadi, namun ia menahannya dan akan bertanya nanti saja pada Rindu.
Kembali ke tempat Rindu dan yang lainnya.
__ADS_1
Rindu dan yang lainnya akhirnya bisa mendorong makhluk itu semakin dekat ke arah sinar matahari, apalagi sekarang matahari nampak mulai terik dan panasnya seakan membakar kulit siapa saja yang berdiam terlalu lama dibawahnya.
Rindu mengayunkan pedangnya dan menebas bagian lengan makhluk itu, makhluk yang mengira bahwa tubuhnya akan kembali lagi nampak biasa saja.
Namun sesaat kemudian ia nampak sangat murka karena bagian tubuhnya yang terpisah itu langsung dibuang Andra menggunakan kayu tepat dibawah sinar matahari.
Bagian tubuh yang seperti gel itu tiba-tiba seperti terbakar hingga mengeluarkan asap yang baunya sangat menyengat, mereka semua langsung menutup mulut dan hidung mereka.
Dan sesaat kemudian bagian tubuh itu lebur dan tidak bisa kembali lagi pada bagian yang lainnya, Andra yang melihat trik itu berhasil nampak sangat senang.
"Hahaha rasakan kamu permen karet, gimana? Meleleh nggak tuh," ucap Steven.
"Diam kau anak kecil, beraninya kalian."
---------
Makhluk itu kembali menyerang, kali ini ia semakin ganas. Ia berusaha melilit Rindu dengan tubuhnya yang bisa melilit apa saja yang ada di dekatnya.
"Coba saja kalau kau bisa makhluk gel, akan aku pastikan kau tamat kali ini."
Rindu dengan dibantu Om Besar dan anjingnya kembali menyerang, anjing Rindu menyerang dengan kuku-kukunya yang tajam. Namun lagi dan lagi, seakan tidak melukai makhluk itu.
Rindu yang melihat itu merasa harus cepat menyelesaikan semua ini, kalau tidak maka mereka akan kelelahan melawannya.
Ia lalu memberi kode pada Steven dan Om Besar. Steven dan anjing Rindu bertugas mengalihkan perhatian makhluk itu dari Rindu, sedangkan Om Besar bertugas mengangkat Rindu agar bisa menebas di bagian leher makhluk itu.
"Hei permen karet, kalau kamu benar-benar jago lawan aku dan paman anjing."
"Buktikanlah kalau kamu mampu menjadikannya budak," ucap anjing Rindu.
Makhluk itu langsung menyerang Steven, Steven dengan lincah menghindar. Saat fokus makhluk itu tertuju pada Steven dan anjing Rindu, Om Besar dengan tangganya langsung mengangkat Rindu tinggi-tinggi hingga ke arah leher makhluk gel itu..
Dan..
Crraashhh...
Tebasan pedang Rindu tepat mengenai leher makhluk itu, Om Besar dengan cekatan meraih bagian kepalanya dan membuangnya ke tempat yang disinari oleh cahaya matahari..
"Aaakkkhhhh awas kalian, aku akan membalasnya."
Sosok yang hanya kepala itu berusaha pergi dari sinar matahari, namun Andra dengan kayu di tangannya langsung menghantam kepala itu hingga kembali ke bawah sinar matahari dan akhirnya panas matahari mulai membakarnya hingga lebur dan tak bisa kembali lagi.
Sedangkan bagian tubuh lainnya seakan lebur dan jatuh di tanah, Om Besar dan Steven langsung menarik bagian tubuh yang seperti gel itu ke bawah sinar matahari, mereka berdua melemparnya.
"Rasakan itu, makanya jangan sombong-sombong. Belum ketemu kak Rindu kan selama ini, makanya kamu sombong."
"Hahaha ia belum tau dia rupanya," ucap Om Besar.
"Terimakasih Om, Steven dan paman anjing. Kalian sudah membantu ku."
__ADS_1
"Tidak usah berterimakasih Kak, itu sudah pasti kami lakukan."
"Ia Rindu, tak perlulah."
"Sama-sama Rindu, kalau begitu ijinkan saya kembali."
"Silahkan paman anjing, beristirahatlah."
Rindu dan Andra menemui yang lainnya lalu menceritakan apa yang terjadi dan apa yang mereka temukan di dalam gua itu.
"Astagfirullah kasian sekali mereka," ucap Siska.
"Ya Allah, ternyata mereka semua meninggal di gua ini," ucap Pak Musa sedih.
"Lalu apa yang akan kita lakukan Pak?" tanya Rindu.
"Sebaiknya kita beritahu warga yang lain Nak, walau bagaimanapun kami masih tersisa 7 keluarga di sini, jadi kami perlu membahasnya bersama."
"Baiklah Pak, kami mengikuti saja," ujar Rindu.
Mereka akhirnya kembali terlebih dahulu, selama di perjalanan Rindu juga menjelaskan semuanya agar Pak Musa tidak kebingungan atau kepikiran dengan semuanya.
Setelah mendengarkan penjelasan Rindu, akhirnya Pak Musa paham semua hal yang terjadi tadi.
Merekapun tiba di rumah Pak Musa.
"Mama, Papa pulang."
Putri berteriak pada mamanya yang sedang berada di dalam, sedangkan ia sendiri sedang bermain di teras rumah.
Bu Laila datang dan menanyakan apa yang terjadi, Pak Musa pun langsung menjelaskan kepada istrinya.
Setelah itu Siska dan Dewi membantu Bu Laila memasak, karena mereka berencana mengundang enam kepala keluarga lainnya untuk makan bersama sekaligus Rindu akan menjelaskan apa yang terjadi.
Rindu sendiri langsung pergi ke kamar mandi dan mandi, soalnya ia nampak sangat berkeringat..
Andra, Andre dan Pak Musa pergi ke rumah warga satu persatu dan menyampaikan undangan makan siang bersama itu.
...--------------------------------...
...Hai kesayangan :)...
...Thanks ya udah baca novel aku, jangan lupa like dan komen ya.....
...Jangan lupa vote juga, thank you semuanya....
...Sehat-sehat ya kalian di sana....
...Tuhan Yesus memberkati....
__ADS_1
...--------------------------------...