Rindu Indigo Usil

Rindu Indigo Usil
Rendi Namanya


__ADS_3

...--------------------------------...


*******


Pagi menjemput mereka sedang lari pagi bersama di sekitar kampung, Neneng pun ikut lari pagi.


"Seger ternyata ya kalau lari pagi."


"Ia dong Neng, maka dari itu kita lari pagi sekarang," ucap Dewi.


Mereka terus berlari pelan, banyak warga yang mereka temui di jalan dan mereka menyapa warga-warga itu.


Mereka bertemu istirnya kepala desa dan anaknya yang bernama Didi.


"Eh Nak Rindu, kalian sedang lari pagi?"


"Ia Bu, apalagi udara di sini kan segar nggak kayak di Jakarta."


"Ia benar Bu, di sini masih asri," ujar Andra.


Yang lainnya mengangguk tanda setuju dengan ucapan Rindu dan Andra.


"Nak mampirlah ke rumah ibu, kita minum kopi bersama. Lagian rumah ibu kan nggak jauh dari sini."


Ternyata saat mereka lari pagi, mereka menuju ke arah rumahnya pak kepala desa.


"Ah maaf Bu, tapi kami tidak ingin merepotkan Ibu," ucap Andra.


"Tidak Nak, ibu tidak repot sama sekali."


"Ia benar kak Andra, kak Rindu, ayo ke rumah Didi."


"Baiklah Bu, nanti kita ke sana setelah keliling sebentar."


"Ibu dan Didi tunggu kalian semua di rumah ya."


"Baik Bu, terimakasih."


Bu desa meninggalkan mereka semua dan mereka pun kembali berlari-lari kecil.


Saat mereka sedang lari, tiba-tiba ada seorang pemuda yang mendekati mereka.


"Permisi."


"Ah, ada apa ya mas?"


"Maaf kalau saya mengganggu waktu kalian. Saya hanya ingin berkenalan, kenalin nama saya Rendi."


"Ooohhh gitu, kenalin aku Andra, itu Andre dan yang satunya lagi Willy."


Entah kenapa Andra malah jealous melihat bagaimana Rendi menatap ke arah Rindu, sedangkan Rindu nampak biasa saja.


"Ah ia Andra, kalau yang cewek-cewek namanya siapa ya.?"


"Ooohhh saya Neneng, ini Dewi, ini Siska dan yang satunya lagi Rindu."


"Ooohh, Rindu ya."


Rendi berucap pelan namun masih di dengar Andra yang ada di dekatnya. Hal itu tentu saja membuat Andra kesal bukan main, ia langsung menarik Rindu dan yang lainnya pergi dari sana.


Belum juga mereka melangkah jauh, lagi-lagi Rendi menahan mereka.


"Eh tunggu, maaf apa aku boleh minta nomor handphone kamu Rindu?"


"Aku?"


"Ia, boleh?"


Steven dan Om Besar yang baru tiba di sana dan melihat tatapan Rendi pada Rindu, Steven langsung kesal dan menumpuk kepalanya Rendi.


Plakk....


"Duh, siapa si iseng banget."


Dewi dan yang lainnya malah bingung, sedangkan Rindu malah sedang menahan tawa melihat kelakuan Steven.


"Dasar cowok playboy, berani-beraninya kamu liatin kak Rindu kek gitu, mau digampar lagi?"

__ADS_1


Steven tetap ngoceh walau Rendi tak bisa mendengar.


"Ia, enak aja dia sembarang sama Rindu. Belum tau apa, kalau ada kita yang jagain Rindu. Dasar laki-laki nggak jelas."


Plakk...


Om Besar malah menampar pipi Rendi, Rendi menjadi sangat bingung.


"Apa-apaan ini, kenapa seperti ada yang menampar dan memukul ku, tapi siapa?"


Mereka semua hanya dia melihat ke arah Rendi, hal itu membuat Rendi merasa canggung karena diperhatikan sejak tadi.


"Kamu kenapa?"


Rindu bertanya seakan tak tahu apa-apa.


"Eh, nggak kok aku nggak apa-apa. Oyah boleh nggak minta nomor hape kamu?"


Andra yang kesal langsung menghardik Rendi.


"Ribet banget sih loh, nih gue kasih nomornya Rindu. Sini hape loh."


Andra yang kesal bukannya ngasih nomor Rindu, malah nomornya yang ia kasih. Rendi yang senang mendapat nomor handphone Rindu langsung pergi dari sana.


"Ndra kamu beneran ngasih nomor aku?"


"Ya enggak lah, hahahhaha."


"Lah terus?"


"Aku ngasih nomor nggak jelas, aku hanya mengetik sembarangan."


"Wah wah wah, iseng ya kamu Ndra," ucap Andre.


"Hahahaha sekali-kali boleh kali ya."


"Enak aja dia mau minta-minta nomornya Rindu, awas aja kalo nanti dia chat, akan aku kasih pelajaran," ucap Andra dalam hatinya.


******


"Pagi Bu."


"Pagi Kakak, ayo masuk. Didi udah nungguin dari tadi loh."


"Hehehehe makasih ya sayang, udah nungguin kak Rindu dan yang lainnya."


"Ia Kak sama-sama, ayo masuk."


"Enak bener ni anak dipanggil sayang sama Rindu, aku aja belum jadian sa Rindu, eh tapikan Rindu nggak tau kalau aku suka sama dia. Aduh gimana caranya ya supaya Rindu tau kalo aku suka sama dia."


Andra berjalan sambil ngelamun hampir saja dia menabrak pintu.


"Woii kagak punya mata kamu Ndra, pintu mau ditabrak."


Andra langsung sadar dari lamunannya akibat suara Willy yang mengagetkannya.


"Eh, hampir aja nabrak pintu," ucapnya.


"Hahahahaha, ngelamunin apa sih Ndra?"


"Biasa Wi, masa depan."


"Ye, sok banget kamu mikir masa depan. Pacar aja belum punya," ucap Andre.


Hahahahaha..


Mereka semua tertawa mendengar perkataan Andre..


"Bisanya ngomongin orang saja, kamu sendiri belum punya pacar."


"Ya kan masih nyari."


"Ya sama dong berarti."


Keduanya malah berdebat soal pacar.


"Diam, ini rumah orang. Jangan berdebat mulu," ujar Rindu."

__ADS_1


Keduanya langsung diam mendengar perkataan Rindu, mereka sampai lupa kalau mereka sedang berada di rumah kepala desa.


Bu Asih mendekati mereka semua dengan membawa kopi dan singkong rebus.


"Nah ini kopi dan singkong rebus, silahkan dinikmati."


"Terimakasih banyak ya Bu, maaf merepotkan pagi-pagi."


"Tidak apa-apa Nak Dewi, lagian ibu yang meminta kalian ke sini kan, jadi ibu nggak repot sama sekali."


"Ia kak Dewi, nggak apa-apa kok," ucap Didi.


"Duh, kamu ini gemuushh."


Rindu mencubit pipi gembul Didi. Mereka semua kemudian menikmati kopi dan singkong rebus itu sambil bercerita dengan Bu Asih istrinya kepala desa.


"Kalian masih berapa lama di sini Nak?"


"Kami tinggal lima hari lagi di sini Bu."


"Wah bentar lagi kalian pulang ya, makasih ya Nak waktu itu kalian sudah menolong Didi anak ibu."


"Bu, jangan terimakasih terus dong. Waktu kita makan di sini udah terimakasih, sekarang lagi?" ujar Rindu bercanda.


"Hehehehe ia Nak, ibu sangat senang Didi masih ada di samping ibu."


"Semua karena kuasa Tuhan Bu."


"Ia Nak Dewi, kamu benar. Semua karena Allah, Allah menolong Didi lewat kalian semua."


Mereka tersenyum mendengar perkataan Bu Asih.


"Bu makasih ya, singkongnya enak banget."


"Ia Nak Andre, sama-sama silahkan dimakan sampai habis."


"Hehehehe baik Bu."


"Andre ma jagonya kalau makan Bu," ucap Willy.


"Jangan didengar Bu, fitnah itu namanya."


"Hahahahaha, Ndre Ndre, jadi itu fitnah ya," ucap Dewi.


"Hehehehe ia Wi," sahut Andre malu karena Dewi mengejeknya.


Setelah minum kopi dan berbincang sebentar, akhirnya mereka berpamitan untuk pulang karena sudah jam 9.


"Bu sekali lagi terimakasih, kami mohon pamit."


"Ia Nak, kalian hati-hati di jalan."


"Baik Bu," jawab mereka semua.


"Kak Rindu, kak Dewi nanti kalau liburan ke sini lagi ya."


"Ok deh sayang, nanti kalau kak Rindu sama kak Dewi dan yang lainnya libur lagi, kami akan ke sini."


"Janji ya Kak."


"Ia sayang."


Rindu memeluk sayang Didi yang menurutnya gemush.


...--------------------------------...


...Hai kesayangan :)...


...Thanks ya udah baca novel aku, jangan lupa like dan komen ya.. ♡...


...Jangan lupa vote juga, thank you semuanya. ♡...


...Sehat-sehat ya kalian di sana....


...Tuhan Yesus Memberkati....


...--------------------------------...

__ADS_1


__ADS_2