Rindu Indigo Usil

Rindu Indigo Usil
Di Jadikan Bola


__ADS_3

...--------------------------------...


Tiba-tiba sosok yang awalnya hanya ada dilayar kini perlahan keluar dari sana, matanya yang merah, kukunya yang runcing dan panjang, rambut panjang hampir menutup semua wajahnya.


Ketiga cowok yang ada di situ hanya bisa diam dan berdoa dalam hati, apalagi Andre si penakut.


Tak ada ucapan yang keluar dari mulut mereka maupun mulut sosok itu, sosok itu hanya terus merangkak dan semakin dekat dengan mereka, lidahnya keluar seakan ingin menjilati wajah mereka bertiga.


"Aakkhhh pergi, jangan ganggu kami, mau apa kau?"


Sosok itu hanya diam, Andre yang ketakukan hanya bisa memegang lengan Willy kuat-kuat.


"Aduh gimana ini Will, Ndra."


"Ayo bangun kita harus lari, dalam hitungan ketiga bangkit dan lari ke kamar ok. Will kamu juga ikut ke kamar aku."


"Ok Ndra," jawab Willy dan Andre.


"One, two, three go."


Ketiganya langsung bangkit dan berlari ke kamarnya Andra, mereka langsung mengunci kamar. Sosok yang tadinya mengganggu mereka kini sedang merangkak mengejar mereka ke dalam kamar, sesampainya di kamar Andra sosok itu mencakar-cakar pintu kamar Andra.


"Aduh, gimana ini Ndra?"


"Andre kamu tenang ya, sebaiknya kalian berdua berdoa deh, nanti kalau sosok itu masuk aku sendiri yang akan melawannya."


"Kamu yakin Ndra?"


"Ia Will aku yakin, kamu tenang aja ya."


Tiba-tiba sosok itu sudah berada di plafon kamar Andra.


"Aduh Ndra, liat tu malah udah nemplok kayak cicak di sana."


"Tenang aja Ndre, kamu jangan terlalu ketakutan seperti itu nanti dianya malah kesenangan."


"Ia benar kata Andra, sebaiknya kita berdoa agar kita baik-baik saja."


Mereka lalu memanjatkan doa pada yang Maha Kuasa, memohon agar mereka dilindungi dari bahaya apapun.


"Hei apa yang kau inginkan, kenapa mengganggu kami?"


Andra berteriak pada sosok yang sedang menempel bak cicak di plafon kamarnya, perlahan sosok itu turun melalui tembok dan samapi di lantai kamar, Andra yang melihat sosok itu langsung meraih besi gorden yang ada di sana kebetulan bibi baru saja mengganti besinya.


Andra mengayunkan besi itu dan menghantam sosok yang ada di depan mereka, sosok itu masih bisa mengelak, ia melompat kesana-kemari dengan lidah yang keluar dan kuku-kuku panjangnya mencakar-cakar lantai, ia melompat dan hendak menyerang Andre yang sedang berdiri tak jauh dari Andra.


Willy yang melihat sosok itu hendak menyerang Andre ia meraih guci kecil yang ada di atas meja belajar Andra, belum juga Willy menghajar sosok itu Andre sudah lebih dulu menendang sosok itu tepat di wajahnya.


"Rasakan itu, siapa suruh kamu berani mendekati ku, hahahah hancur nggak tu muka, emang enak."


Andre masih bisa mengejek sosok itu padahal ia sedang ketakutan yang amat, Andra yang melihat sosok yang ditendang Andre kelimpungan ia langsung kembali menghantam besi itu ke punggung sosok yang sedang merangkak di lantai.


Bruukkk...


"Rasakan itu, hajar Ndra hajar lagi."


Andre menyemangati Andra, Willy yang melihat sosok itu kembali bangun dan hendak menyerang Andra dan Andre langsung menghajar sosok itu dengan guci kecil yang dari tadi dipegangnya.


Buggh...

__ADS_1


Andre yang melihat Willy menghajar sosok itu tidak mau kalah, kali ini ia berusaha tidak takut, tanpa menunggu sosok itu bergerak Andre langsung menendang sosok itu, Andra melakukan hal yang sama, Willy pun ikutan. Jadilah sosok itu seperti bola untuk mereka bertiga, setelah dihajar terus menerus sosok itu menghilang dengan sendirinya dari tengah-tengah mereka.


Mereka yang tidak tau bahwa sosok itu tak ada lagi jadilah kaki mereka bertiga saling menendang.


"Auw auw auwh."


"Aduh gimana sih kamu Will, kok malah kaki aku yang ditendang."


"Ya maaf, tapi aku juga ditendang sama Andra."


"Loh aku juga ditendang sama kamu Ndra, bukannya kita harusnya nendang hantu itu?"


Mereka bertiga melihat ke bawah dan di sana tak ada lagi sosok yang mereka tendang-tendang dari tadi.


"Lah kemana dia?"


"Nggak tau Ndre, tapi bagus dong kalau dia udah pergi."


"Ia benar Will, bagus kan kalau dia pergi, emang kamu mau mau Ndre dia di sini terus?"


"Ya nggak mau lah, amit-amit."


Hahahahha..


Mereka bertiga duduk sejenak di kamar Andra lalu kemudian Willy dan Andre kembali ke kamar mereka masing-masing untuk beristirahat karena sudah larut malam.


*****


Malam berganti pagi, setelah ibadah minggu seperti biasa kini mereka sedang ngopi bersama, Bu Mita pun ikut duduk bersama kedua putrinya.


Bu Mita sudah menganggap Siska seperti putrinya sendiri.


"Sayang, gimana kalau kita ke mall ntar sore."


"Ia sayang, kita bertiga. Jarang-jarang kan kita belanja bersama."


"Hmmm baiklah Mam, aku dan Siska pasti ikut kok, ya kan Sis."


"Ia Rin, aku ikut kok."


"Baiklah, ntar sore ya kita ke mall jalan-jalan, belanja sekalian makan-makan."


"Ok Mam," jawab Siska dan Rindu.


Sembari menyeruput kopi, Siska dan Rindu menceritakan tentang liburan mereka di kampung Jatisari.


Handphone Siska berdering.


"Ma, Rin, aku angkat telepon dulu ya."


"Ia sayang, ia Sis," jawab Rindu dan Bu Mita.


Siska sedikit menyingkir dan mengangkat telepon dari Willy.


"Halo Will."


"Halo sayang, kamu lagi apa?"


"Lagi duduk aja sih tadi, sama Rindu dan mama Mita."

__ADS_1


"Oohh, gini sayang aku mau ngajak kamu dinner entar malam, kamu bisa nggak?"


"Dinner? Hmmmm ntar aku kasih tau Rindu dan mama Mita dulu ya, soalnya sore harinya kita mau jalan-jalan sama mama Mita, kalau pulangnya nggak kemalaman mungkin aku bisa, tapi takutnya ntar kemalaman sayang."


"Ooohh kamu udah ada janji, ya udah nggak apa-apa sayang. Kalau gitu besok aja gimana?"


"Hmmm emang nggak apa-apa sayang?"


"Ia sayang nggak apa-apa kok, besok aja ya. Ntar kamu jalan-jalan dulu sama tante Mita dan Rindu."


"Maaf ya sayang."


"Nggak apa-apa kok sayang, aku ngerti."


"Makasih sayang."


"Ia sayang, aku tutup teleponnya ya, bye sayang."


"Bye Yang."


Siska kembali menemui Bu Mita dan Rindu.


"Siapa Sis, Willy?"


"Ia Rin, mau ngajak dinner sih, tapi karena ntar kita mau jalan-jalan sama Mama, aku ngasih tau Willy, dan katanya dinner ditunda esok hari aja."


"Loh kok gitu sih, kan nggak apa-apa kalau kamu mau dinner Sis."


"Nggak Rin, aku mau jalan sama kamu dan Mama."


"Ya udah kalau itu keputusan kamu."


"Mama kemana?"


"Mama ke kamar Sis."


"Ooohhh."


Keduanya duduk di sofa sambil memainkan handphonenya masing-masing, tiba-tiba Steven datang menemui Rindu.


"Kak gawat."


"Gawat? Apa yang gawat Steven?"


"Om Besar Kak, Om Besar."


"Ia ia Om Besar, tapi Om Besar-nya kenapa?"


Othor: Hmmmmm Om Besar kenapa ya reader? Hehehe, ayo tebak.


...--------------------------------...


...Hai kesayangan :)...


...Thanks ya udah baca novel aku, jangan lupa like dan komen ya.. ♡...


...Jangan lupa vote juga, thank you semuanya. ♡...


...Sehat-sehat ya kalian di sana....

__ADS_1


...Tuhan Yesus Memberkati....


...--------------------------------...


__ADS_2