
...--------------------------------...
****************
"Kalian bertiga kok malah ketawa sih.!
Bagaimana Rindu, Siska dan Dewi tidak tertawa, sedangkan yang mereka lihat adalah Steven dan Om Besar. Steven dengan pose so cute-nya sedangkan Om Besar dengan pose super garangnya.
"Ya abis gimana aku dan Siska nggak ikut ngakak, yang difoto Andre itu Steven dan Om Besar," ucap Dewi.
"Steve? Om Besar?"
"Ia makhluk tak kasat mata yang sering ikut Rindu kemana-mana dan pasti mereka juga ikut ke sini, makanya saat Andre foto, mereka malah jail dan ikutan foto," Siska menjelaskan.
"Jadi maksud kalian Rindu bisa ngeliat sosok seperti itu?" tanya Andra.
Rindu mengangguk.
Andra, Andre dan Willy menganga.
"Rindu apa kamu nggak takut?" tanya Willy.
"Awalnya sih ia, tapi sekarang b aja sih."
"Ya ampun, ngeri gitu dibilang b aja," ucap Andre.
"Rindu, Rindu benar-benar cewek yang spesial," ucap Andra dalam hati.
"Aku dan Siska juga takut kayak kalian awalnya, tapi kalau liat pose mereka kek tadi, malah bikin ngakak. Ia kan Sis?"
"Ia Wi, kamu benar."
"Jadi mereka ngikutin kita dari kemarin?" tanya Andra.
"Ia mereka ikut sejak dari rumah aku, katanya bosan di rumah makanya mau ikut aku jalan-jalan. Ya udah aku bolehin aja, lagian nggak nyusahin aku kan."
"Ckckckckc benar-benar aneh kamu Rin," ucap Andre.
"Hahaahhaah, ya mau gimana lagi. Dikasih kelebihan sama Tuhan, nggak mungkin kan aku tolak."
Malam telah larut, akhirnya mereka masuk kamar dan beristirahat. Sedangkan Steven dan Om Besar sedang berkeliling di daerah sekitar.
Tengah malam, tepatnya jam 12 malam. Tidur mereka terganggu karena bunyi kentongan yang dibunyikan warga desa.
Ting tong ting tong...
Rindu mulai merasa terganggu.
"Aduh apaan sih bunyi malam-malam gini?"
"Ia apa sih?"
Ternyata Siska juga bangun tak lama kemudian Dewi pun bangun.
"Kayak bunyi kentongan di pukul-pukul gitu," ucap Dewi.
"Bukannya kalau ada bunyi-bunyi kek gitu berarti ada sesuatu yang terjadi ya Wi?"
"Ia Rin, biasanya sih gitu. Nggak tau juga apa yang terjadi."
Sedangkan di kamar si kembar, Andra yang lebih dulu bangun karena mendengar bunyi kentongan itu.
"Ndra, bunyi apaan sih?"
__ADS_1
Andre yang rupanya sudah bangun bertanya pada Andra, tak lama pintu kamar mereka diketuk.
Tok tok tok tok...
"Ndra, Ndre, ini aku Willy."
Andra yang tau bahwa itu adalah Willy, ia melangkahkan kakinya ke arah pintu untuk membuka pintu.
"Kalian berdua dengar kan bunyi itu?"
Andra hanya mengangguk, Andre menyusul ke depan pintu. Tak lama Willy berdiri di sana, ketiga gadis dari kamar sebelah keluar dari kamar mereka.
"Loh, kalian juga udah bangun rupanya."
"Ia Rin, itu bunyi kentongan apa sih?"
"Nggak tau Ndra, makanya ini kita mau liat ke luar sana."
"Kalau gitu kita sama-sama aja," ucap Willy.
"Ya udah ayo, keburu jauh nanti orang-orangnya," ucap Siska.
Mereka semua akhirnya memutuskan untuk keluar dari dalam rumah dan melihat apa yang terjadi. Saat mereka sampai di depan, ternyata mang Supri sudah ada di sana.
"Loh Mang, udah di sini aja."
"Eh non Dewi, ia mang penasaran ada apa sehingga kentongan berbunyi ditengah malam hari seperti ini."
"Ia Mang, kami juga penasaran," ucap Andre.
Tak lama orang-orang kampung pun melewati depan rumah mereka, mang Supri langsung mendekat dan bertanya, tentu saja yang lainnya ngikut dibelakang..
"Kang ada apa?"
"Hilang? Hilang gimana maksudnya Pak?" tanya Rindu.
"Katanya sih anaknya tadi masih tidur di rumah mereka Neng, tapi pas tengah malam ibunya bangun dan mengecek anaknya, udah nggak ada lagi di tempat tidur."
"Lah, kok bisa ya?" ucap Andre.
"Ia makanya ini kita lagi bantu cari anaknya kepala desa."
"Oooohhh, begitu rupanya. Makasih ya Pak," ucap Dewi.
"Ia sama-sama Neng, saya lanjut dulu."
"Silahkan Kang, silahkan," ucap Mang Supri.
Mereka semua lalu duduk di teras rumah, Rindu yang memang penasaran akan apa yang terjadi langsung bertanya pada mang Supri.
"Mang, apa sering terjadi seperti ini. Maksud saya, apa anak-anak di kampung ini sudah pernah ada yang hilang?"
"Ia neng Rindu, satu bulan belakangan ini memang sering ada anak-anak yang hilang seperti ini. Terakhir yang saya tau kalau nggak salah sudah lima orang. Tiga orang ditemukan, dua orangnya lagi tidak ditemukan."
"Kok bisa, sebenarnya ada apa di kampung ini Mang?" tanya Andra.
"Mang juga kurang tau perihal ada apa nak Andra."
"Hmmmmm, besok saja kita cari informasi. Sebaiknya kita kembali tidur, hari masih tengah malam," ucap Dewi.
Mereka semua setuju dan akhirnya kembali ke kamar masing-masing. Mang Supri juga kembali ke kamarnya yang ada di bagian belakang..
******
__ADS_1
Pagi-pagi mereka sudah bangun dan menikmati suasana pagi di kampung, segar, tentu saja. Pagi-pagi tanpa asap kendaraan seperti di kota Jakarta.
Mereka berenam menikmati kopi yang dibuatkan Dewi dan Siska.
"Makasih ya Wi, Sis udah buatin kopi untuk kita semua," ucap Andre.
"Sama-sama Ndre," jawab Dewi mewakili.
Kopi pagi di suasana seperti di kampung memang sangat menyenangkan.
"Habis ini kita jalan-jalan lagi ya, kita ke rumah kepala desa saja langsung. Aku penasaran tentang semalam soalnya," ucap Rindu.
"Ia aku juga penasaran," ucap Willy dan Andre.
Yang lain hanya mengangguk setuju bahwa mereka juga sama seperti Rindu. Penasaran akan apa yang sebenarnya terjadi di kampung ini, bagaimana anak-anak itu bisa hilang saat mereka ada di rumah sendiri tengah malam seperti itu.
Setelah kopi dalam gelas mereka habis, mereka berpamitan pada mang Supri. Rupanya mang Supri sedang berada di kebun belakang rumah, beliau sedang mengurus tanaman yang ditanamnya di sana.
"Eh Mang, lagi ngapain?"
"Eh neng Rindu, ini mamang lagi nyiram tanaman. Ada sayur-sayuran yang sengaja mamang tanam di sini."
"Wah bagus ya Mang, jadi kalau mau makan sayur nggak perlu beli lagi," ucap Andre.
"Ya begitulah nak Andre, jadinya lebih hemat bukan. Hehehhehe."
"Ya benar sekali itu Mang," sahut Dewi dan Siska barengan.
"Wih, kompak bener kalian berdua," ujar Andra.
"Hahahaha ye kita kan bestie," sahut Siska.
Mereka tertawa sesaat lalu kemudian berpamitan.
"Mang, kita ke sini mau pamit sebentar. Kita mau jalan-jalan, soalnya penasaran sama yang semalam."
"Oh silahkan non Dewi, tapi jangan lupa balik ke rumah ya."
"Ya balik lah Mang, masa kita balik ke Jakarta jalan kaki. Hehehhe," ucap Willy sambil cengengesan.
"Kamu aja Will kalau mau pulang jalan kaki ke Jakarta," ucap Andra.
"Enak aja, yang ada bukan nyampe Jakarta malah nyampe akhirat."
Hahahahaha
Mereka semua tertawa mendengar perkataan Willy..
...--------------------------------...
...Hai hai hai....
...Terimakasih ya udah baca Novel Nunna sampai episode ini, semoga kalian suka ya. Jangan lupa kalau ada saran apapun, langsung di komentar ya....
...Thanks semuanya....
...Sehat-sehat ya kalian semua, jaga kesehatan apalagi pandemi kek gini kan....
...나는 당신 모두를 사랑합니다...
...Tuhan Yesus Memberkati kalian semua. †...
...--------------------------------...
__ADS_1