Rindu Indigo Usil

Rindu Indigo Usil
Pulang ke Jakarta


__ADS_3

...--------------------------------...


"Emang ada apa? Kenapa kalian berlari seperti itu?"


"Begini Kak, tadi kan kak Rindu minta aku dan Om Besar untuk keliling kampung ini kan! Nah saat kita berdua keliling, kita berdua hanya menemukan aura tajam itu seperti mengelilingi kampung ini, entah di mana titik keberadaannya kami belum menemukannya."


"Ya benar Rindu, dan kenapa kita berdua lari tadi. Karena kami dikejar kuntilanak genit yang ada di sana."


"Hahahaha bener, ya ampun nggak habis pikir aku si Kunti ngebet banget sama si Om hahahahaha."


"Ya ellah kirain ada yang gawat, terus gimana dong ini? Apalagi ini sudah sore, kita harus pulang kan. Menurut kalian berdua gimana?"


"Kalau menurut Steven ni ya Kak, makhluk itu hanya akan muncul di malam hari! Jadi percuma kalau kita di sini siang hari."


"Lalu?"


"Lalu apa ya Om?" Steven malah bertanya pada Om Besar.


"Kamu yang ngomong kok malah nanya ke saya?"


"Hahahaha, maap om lupa skrip wkwkwkwk."


"Ciih bocill," ucap Rindu.


"Begini Rindu, kalau menurut saya pribadi! Kalau kita di sini siang hari maka kita tak akan menemukan apapun sama seperti warga, mungkin kalau malam hari kita di sini, akan beda ceritanya."


"Hmmm aku paham maksud kamu Om, sebentar biar aku diskusikan sama yang lain."


Rindu lalu mulai angkat bicara di tengah-tengah mereka yang sedang mengobrol..


"Guys bisa ngobrol sebentar?"


Mereka pun sedikit bergeser dari Pak Musa, sebelumnya mereka sudah menjelaskan bahwa ini bukan sesuatu yang berbahaya. Mereka hanya akan membahas soal kepulangan mereka.


"Ada apa Rin?" tanya Siska.


"Ya ada apa? Apa Om Besar dan Steven sudah kembali?" tanya Dewi.


Rindu membalas dengan anggukan kepalanya.


"Lalu?" tanya Andra.


"Gini, menurut Om Besar dan Steven di sini memang ada sesuatu yang berhubungan dengan hal mistis dan makhluk tak kasat mata. Namun kata mereka, kita pasti tidak akan menemukan apa-apa jika kita di sini siang hari seperti ini."


"Maksud kamu?" tanya Andre.


"Maksud aku, makhluk itu hanya akan muncul di malam hari, jadi percuma saja kita di sini siang hari seperti ini. Kita tidak akan menemukan apapun sama seperti apa yang dialami warga di sini saat mencari sesamanya yang hilang."


"Terus gimana dong sayang, kasian juga mereka yang masih bertahan di sini."


"Menurut aku sebaiknya kita pulang dulu sekarang, karena hari sudah sore. Nanti di Jakarta kita akan pikiran langkah apa yang akan kita ambil, secara kita juga harus kuliah kan," ujar Rindu.


"Ya Rin, aku ikut apa keputusan kamu saja," ucap Dewi.


Rindu tersenyum dan mengangguk pada sahabatnya itu.


"Baiklah kalau begitu keputusannya sekarang kita pulang kan?"


Mereka semua mengangguk pada Andra, merekapun kembali mendekati Pak Musa dan Bu Laila serta Putri.

__ADS_1


"Pak, kami mohon maaf karena harus pamit sekarang. Karena hari sudah hampir senja dan kami membutuhkan perjalanan tiga jam untuk kembali ke rumah," ujar Andra.


"Ia Nak, tidak apa-apa! Sebaiknya kalian memang segeralah pulang sebelum hari gelap," ucap Pak Musa.


"Ia Nak, kalian semua hati-hati di jalan ya. Terimakasih sudah datang dan membantu kami di sini," ujar Bu Laila.


"Sama-sama Pak, Bu, kami senang bisa membantu," jawab Rindu.


Mereka semua menyalami Pak Musa dan Bu Laila sebagai tanpa pamit mereka.


"Kak Rindu, Kakak akan ke sini lagi kan?"


"Ia sayang, nanti kakak ke sini lagi. Putri baik-baik ya di sini sama mama dan papanya Putri."


"Ia Kak, sampai jumpa kak Rindu, kak Siska, kak Dewi, kak Andra, kak Andre."


"Sampai jumpa Putri," mereka semua tersenyum pada keluarga Pak Musa.


Pak Musa dan keluarga hanya bisa melambaikan tangan mengiringi kepergian Rindu dan yang lainnya.


"Nak ayo segera masuk, hari sudah senja."


"Baik Pa," jawab Putri.


Merekapun langsung masuk ke dalam rumah dan langsung mengunci pintu rumah mereka.


 


Di mobil Rindu dan yang lainnya.


"Kasian ya mereka," ucap Siska.


"Sungguh kasihan nasib mereka," Andra menimpali.


Andra melajukan mobil lebih cepat agar mereka meninggalkan kampung itu sebelum senja hilang dari peradabannya.


"Akhirnya kita melewati batas kampung itu sayang, sungguh menyeramkan."


"Ndre kamu jangan terlalu penakut kek gitu, mana bisa nanti kamu lindungi aku kalau ternyata Kamunya aja penakut bukan main."


"Ya maaf sayang, tapi kampung itu benar-benar menyeramkan."


"Ya aku setuju soal itu, tapi soal kamu! Jangan terlalu penakut, You have to be a strong guy, don't be coward like this."


Dewi kesal melihat ekspresi takut di wajah Andre yang dirasanya berlebih, bahkan melebihi ketakutannya yang notabene seorang perempuan.


Beberapa jam dalam perjalanan, Rindu terus memikirkan apa yang akan dilakukan mereka selanjutnya. Apalagi sekarang mereka harus kuliah tiap hari.


"Huumm gimana ini? Kuliah terus, nggak mungkin dong kita semua nginap di sana."


"Tapi kalau kita semua diam dan nggak ngelakuin apa-apa, kasian juga mereka."


"Semoga Tuhan buka jalan untuk kami membantu warga yang masih hidup di sana. Amin."


"Masalahnya mereka tidak bisa meninggalkan kampung karena tidak tau harus kemana, tidak ada sanak saudara di kota. Sungguh kasian!"


Rindu terus berdialog dengan pikirannya sendiri hingga tak tahu kalau Andra sering melihat ke arahnya.


Siska yang berada di kursi belakang hanya bisa tersenyum melihat tingkah Andra dan Rindu.

__ADS_1


"Sebaiknya aku ngabarin Willy soal ini," ucap Siska dalam hatinya."


Siska mengambil handphonenya dari tas kecilnya lalu mengirim chat ke Willy.


"Halo sayang."


"Hai sayang, gimana?"


"Ini kita semua lagi di jalan pulang ke Jakarta sayang."


"Syukurlah, lalu apa yang terjadi?"


Siska kemudian menceritakan secara ringkas apa yang terjadi di sana kepada Willy melalui chat.


"Sepertinya sangat menyeramkan ya kampung itu."


"Ya begitulah sayang, tapi aku lebih kasihan sama warga yang masih di sana. Beruntung tadi Rindu beli roti dan jajan banyak sehingga kami bisa membaginya untuk mereka."


"Ia sayang, puji Tuhan ya."


"Ya udah sayang, ntar sampai rumah aku kabarin lagi ya."


"Ia sayang, kalian hati-hati di jalan ya, bye sayang."


"Ia sayang, bye."


Selesai ngechat Willy, Siska menyandarkan kepalanya di kursi mobil dan menutup matanya sejenak menunggu mobil yang mereka semua tumpangi tiba di rumah.


Sedangkan di kampung Sukawati.


"Papa apakah kita akan seperti ini terus?"


"Nak, berdoa saja semoga kita bisa hidup seperti dulu lagi ya. Minta Allah agar selalu melindungi kita semua," ucap Pak Musa.


"Baik Papa."


Bu Laila hanya bisa tersenyum getir melihat anaknya, ia merasa kasihan pada anaknya yang masih kecil itu, ia harus bersembunyi dalam kegelapan seperti ini.


"Ya Allah, selamatkan kami, jauhkan kami dari segala macam bahaya. Hanya kepada Mu kami memohon, Amin," Bu Laila berdoa dalam hatinya.


Saat mereka sedang bersembunyi di dalam rumah, di luar sana ada sosok yang melayang bagaikan gel, bentuknya tidak jelas seperti apa, yang terlihat hanyalah dua buah titik merah seperti mata namun tanpa kepala.


Sosok itu bergerak kesana-kemari mencari mangsanya, namun kegelapan menutupi kampung itu, tak ada satupun titik terang di sana!


Tak ada api, atau apapun yang memberikan cahaya. Sosok itu bergerak berkeliling dari satu rumah ke rumah yang lainnya, namun ia tak menemukan apapun..


...--------------------------------...


...Hai kesayangan :)...


...Thanks ya udah baca novel aku, jangan lupa like dan komen ya.....


...Jangan lupa vote juga, thank you semuanya....


...Sehat-sehat ya kalian di sana....


...Tuhan Yesus memberkati....


...--------------------------------...

__ADS_1


__ADS_2