
...--------------------------------...
Seperti yang sudah disepakati pagi ini mereka akan mengecek ke gua yang kemarin malam dilihat oleh mereka semua.
Mereka menceritakan apa yang yang dilakukan mereka semua semalam.
"Ya Allah Nak, beruntung kalian semua tidak apa-apa ya."
"Ia Pak, insyaallah kita semua baik-baik saja," ujar Siska.
"Jadi kalian sekarang akan pergi ke gua itu? Bapa bahkan baru tau kalau ada gua di sana."
"Ia Pak, gua itu memang ditutupi tanaman rambat sehingga jika tidak diperhatikan dengan baik maka tidak akan tau bahwa di sana ada gua," ucap Rindu.
"Apa bapak boleh ikut kalian?"
"Boleh Pak, tapi bagaimanapun dengan Bu Laila dan Putri?"
"Mereka di rumah saja, biasanya kalau pagi, siang, sore makhluk itu tidak terlihat."
"Ya sudah kalau begitu Pak, Bapak boleh ikut kami," ucap Andra.
Mereka kemudian berpamitan pada Bu Laila, lalu mereka berjalan bersama ke arah gua dengan ditemani Steven, Om Besar dan anjing Rindu.
Setelah beberapa saat kemudian mereka tiba di sekitaran gua itu, Rindu meminta mereka semua untuk tetap hati-hati.
Siska dan Dewi sudah berpegangan tangan, Andre dan Andra menjaga dari belakang, sedangkan Rindu sudah pasti dibarisan paling depan, ia ditemani Pak Musa. Di belakang mereka ada Steven, Om Besar dan anjing berkepala dua penjaga Rindu.
Rindu kemudian meminta mereka untuk bersembunyi di semak sekitar gua, ia akan mendekat ditemani Andra dan anjingnya.
Steven dan Om Besar bertugas menjaga Siska dan yang lainnya, Andra dan Rindu semakin dekat ke pintu gua.
"Rindu."
Tiba-tiba anjingnya berbicara pada Rindu lewat pikiran.
"Ya paman anjing ada apa?"
"Keluarkan pedang mu, sepertinya kita akan menghadapi lawan yang cukup tangguh."
"Baiklah."
Rindu kemudian diam dan memusatkan konsentrasinya untuk mengeluarkan pedangnya, perlahan pedang itu keluar dari perut Rindu. Pak Musa yang melihat itu nampak sangat terkejut.
"Ba-bagaimana bisa seperti itu?"
"Bapak tenang ya, nanti Rindu jelaskan. Sebaiknya kita lihat saja dulu apa yang akan dilakukannya," ucap Siska.
"Baiklah Nak Siska."
Mereka kembali melihat Andra dan Rindu, Rindu memegang pedangnya dan berjalan ke pintu gua, perlahan ia menyingkirkan semak yang menutupi pintu gua itu.
Setelah semak-semak itu disingkirkan, Rindu dan Andra masuk kedalamnya.
"Sayang hati-hati."
"Ndra, kamu yang harusnya lebih hati-hati ya."
"Ia sayang, tapi aku juga mau lindungi kamu."
__ADS_1
"Ia sayang aku tau kok, udah ya! ayok."
Mereka berdua perlahan-lahan masuk lebih jauh ke dalam gua itu, sesampainya di dalam gua itu ternyata gua yang nampak tidak terlalu besar dari luar tapi di dalamnya sungguh luas! Seperti aula yang mampu menampung ratusan orang di dalamnya.
"Wow, ternyata sebesar ini?"
"Ia Ndra, nggak nyangka aku."
Mereka kemudian masuk lebih dalam lagi, memeriksa semua sudut gua itu namun belum ada tanda-tanda keberadaan makhluk itu.
Rindu dan Andra terus bergerak mencari sesuatu yang mungkin bisa menjadi petunjuk untuk mereka, tentu saja anjingnya selalu menemani.
"Rindu, aku merasakan keberadaannya, tapi aku tidak melihatnya."
"Ia Paman, aku juga tidak melihatnya! Andra apa kamu melihat sosok itu?"
"Nggak Rin, sampai sekarang belum tuh, kemana dia?"
Saat mereka akan melangkah lagi, tiba-tiba pandangan Andra tertuju pada dinding yang nampak seperti pintu. Andra langsung memberitahukan itu pada Rindu.
"Sayang coba lihat itu? Bukankah nampak seperti pintu?"
"Ia juga ya sayang, ayo kita cek."
"Rindu berhati-hatilah."
"Baik paman anjing."
Mereka mendekati dinding itu, seraya meraba-raba, tiba-tiba pintu itu terbuka saat Rindu tak sengaja menginjak sebuah batu. Ternyata kuncinya bukan pada dinding, tetapi pada batu itu.
Perlahan mereka memasukkan kepala ke dalam ruangan yang nampak gelap itu, bau menyengat pun tercium dari sana.
"Ia, bau sekali aku bahkan mau muntah juga ini," ucap Andra.
"Biar aku periksa Rindu."
"Silahkan paman, berhati-hatilah."
Anjing Rindu masuk kedalam lalu mengecek apa yang ada di sana, ternyata di dalam ruangan itu terdapat tulang belulang yang sudah menumpuk dan ada beberapa jasad yang kini menghasilkan bau busuk itu.
Ia kembali menemui Rindu dan Andra dan langsung memberitahukan apa yang ada di dalam, lalu Rindu kemudian memberitahukan pada Andra.
"Apa? Jadi? Oh aku tau, pasti mereka adalah warga kampung yang hilang satu persatu itu."
"Ia Rin, aku setuju sama kamu," ucap Andra.
"Lalu bagaimana Rindu?" tanya anjingnya.
"Sebaiknya kita beritahu Pak Musa dan warga lainnya perihal ini."
"Ia benar, lagian kita juga nggak tau mau buat apa sekarang kan?"
Rindu mengangguk pada Andra, dan diputuskan bahwa mereka akan keluar dari sana terlebih dahulu. Namun saat mereka berbalik badan, makhluk yang semalam dilihat mereka sudah berdiri di sana.
Rindu dan Andra sontak saja langsung mundur, beruntung pedang ditangannya tidak terjatuh..
"Sayang, ini dia makhluknya. Apa dia bisa berbicara ya?"
__ADS_1
"Nggak tau sayang, coba aja kita tanya, siapa tau dia bisa ngomong ya kan."
Andra mengangguk.
"Hei manusia gel, apa kau bisa berbicara?"
"Siapa yang kau katakan manusia gel?" suara bariton itu memenuhi seisi gua.
"Waduh, gawat! Suaranya aja mengguncangkan gua ini."
Ternyata selama mereka masuk, sosok itu ada di sana! Hanya saja dia menyatu dengan atap gua itu, sehingga mereka tidak melihat keberadaannya.
"Begini gel, aku sebut kau gel, karena kau memang gel."
Andra yang mendengar perkataan Rindu berusaha menahan tawanya sedangkan anjing Rindu hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Jangan bermain-main dengan ku, kau sudah melihat apa yang ada di dalam sana kan?"
"Tentu, dan itu semua karena kamu kan?"
"Ya, apa kau mau jadi seperti mereka? Menjadi makanan ku?"
"Wah sombong kali kau, aku ke sini justru untuk menghentikan aksi gila mu makhluk gel. Beraninya kau membunuh warga-warga kampung ini, sekarang aku yang akan membunuh mu."
"Hahahaha bahkan menyentuh aku saja kau tak bisa anak kecil."
"Wah songong ni gel, beraninya ngatain gue anak kecil. Awas aja loh."
Rindu langsung mengangkat pedangnya dan menyerang makhluk itu, anjingnya tentu saja langsung membantu. Mereka berdua menyerang makhluk itu bergantian, Andra berusaha mencari cara, apa yang harus dilakukannya. Nggak mungkin kan dia diam saja, sedangkan Rindu dan anjingnya bertarung.
Tebasan pedang Rindu sedikitpun tidak melukai makhluk itu, tubuhnya yang seperti gel membuat pedang Rindu seakan tak ada gunanya.
"Bagaimana ini, bahkan dia tak mempan sama pedang ini?" Rindu berucap dalam hatinya.
Saat ia sedang berpikir, tiba-tiba Andra mendekatinya.
"Sayang, bukankah makhluk itu takut pada matahari? Mungkin dia takut tubuhnya melebur karena panas, atau apa gitu."
"Hmmm ia juga ya, baiklah aku akan berusaha memancingnya keluar."
Rindu kembali bertarung membantu anjingnya, serangan-serangan Rindu dan anjingnya seakan tak berasa sedikitpun pada sosok itu.
"Hahahaha sudah ku katakan, percuma kalian melawan ku! Hahahaha."
"Baiklah makhluk gel, seperti permen karet, permen apalah. Kalau kau benar-benar jago ayo kejar aku, lawan aku."
Rindu memancing sosok itu, ia bertarung sambil melangkah mundur langkah demi langkah agar bisa keluar dari dalam gua.
Dengan petunjuk Andra, Rindu yang membelakangi pintu bisa mundur dengan benar..
...--------------------------------...
...Hai kesayangan :)...
...Thanks ya udah baca novel aku, jangan lupa like dan komen ya.....
...Jangan lupa vote juga, thank you semuanya....
...Sehat-sehat ya kalian di sana....
__ADS_1
...Tuhan Yesus memberkati....
...--------------------------------...