Rindu Indigo Usil

Rindu Indigo Usil
Suara Buyut


__ADS_3

...--------------------------------...


********


Saat mereka sampai tepat di depan pintu gerbang rumah itu, banyak sosok mengerikan yang dilihat Rindu, sosok-sosok itu seperti menjaga rumah ini layaknya prajurit.


Rindu yang melihatnya tentu saja kebingungan, ia menghentikan langkah dan otomatis yang lainpun ikut berhenti.


"Ada apa Rin?" tanya Andra.


"Sssstttttt jangan ribut, jangan sampai kita ketahuan."


"Maksud kamu ketahuan sama siapa Rin? Nggak ada siapa-siapa loh di sini.!"


"Ckckckck Ndre, otak kamu ko lambat banget sih, pasti maksud Rindu jangan sampai kita ketahuan sosok-sosok yang ada di sinilah."


"Hm benar tu kata Neneng," ujar Siska.


Rindu hanya mengangguk mengiyakan.


"Kalian diam dulu ya, jangan berbicara apapun, aku mau ngomong sama Steven dan Om Besar dulu."


Mereka semua mengangguk, Rindu kemudian berbicara pada kedua sosok yang selau mengikutinya.


"Steven, Om, lalu bagaimana caranya kita masuk?"


"Kenapa rumah ini seperti sedang ada di zaman penjajahan?"


"Bahkan ada penjaga di depan pintunya, lalu bagaimana kita masuk?"


Rindu membandrol Steven dan Om Besar dengan pertanyaan.


"Kak, kalau aku sama Om Besar kan makhluk satu jenis sama mereka, makanya kami lebih mudah masuk ke dalam. Nah sekarang kan Kakak sama teman-teman Kakak."


"Ia benar kata Steven Rindu, waktu itu kami berdua masuk lewat pintu belakang, di sana hanya ada satu yang menjaga jadi lebih mudah masuknya."


"Jadi sekarang kita harus masuk lewat pintu belakang, gitu maksud kalian?"


"Entahlah Kak, Steven bingung. Kakak kan bisa melihat mereka, sedangkan teman Kakak tidak bisa, kalau kita masuk lewat depan takutnya teman Kakak akan diganggu, kalau kita masuk lewat belakang nanti juga akan sama kalau kita sampai di dalam rumah itu."


"Hmmm gimana kalau aku buka mata batin mereka saja?"


"Nah, kayaknya itu ide bagus Rindu. Oyahh lebih bagus lagi kalau kamu minta bantuan anjing kamu Rin."


"Oh ia ya, aku bisa minta bantuan paman anjing juga. Baiklah, aku akan coba menyampaikan pada mereka semua."


Rindu berhenti berbicara pada Steven dan Om Besar lalu beralih pada teman-temannya.


"Gimana Rin?" tanya Andra yang tak sabaran.


"Gini, asal kalian semua tau ya. Rumah ini udah kayak rumah masa penjajahan, jadi di depan pintu rumah itu ada dua sosok yang menjaga kayak prajurit gitu tapi serem-serem wajahnya. Lalu di belakang ada juga yang jaga, tapi hanya satu sosok saja."


"Nah memang kalian nggak bisa melihat mereka, tapi yang aku takutkan karena kalian tidak bisa melihat mereka, mereka akan semakin mudah mengganggu kalian."


"Terus gimana dong Rin?"


"Gini Wi, menurut aku sebaiknya aku buka aja mata batin kalian semua, jadi nanti kalian bisa melihat mereka, bisa bersembunyi, bisa hati-hati dan nggak akan gampang diganggu sama mereka."


"Duh, gimana ini pasti serem-serem semua ya kan."


"Ia Sis, emang serem tapi serem mana dari pada nanti tiba-tiba ada yang masuk ke tubuh kalian."


"Iiih ngeri, aku sih nggak mau ya," ujar Andre.


"Semua juga nggak mau Ndre," ujar Andre.

__ADS_1


"Ya sudah, aku mau Rin dibuka mata batin. Aku nggak apa-apa kok," ujar Neneng.


"Baiklah, Neneng setuju, kalian gimana?"


"Aku juga setuju deh, dari pada kerasukan amit-amit."


"Aku Jugaa deh, ikut Dewi dan Neneng.


"Ok, jadi cewek-cewek udah setuju. Para cowok gimana?"


"Aku juga setuju," ujar Andra.


"Aku juga," sahut Willy.


"Baiklah, aku juga setuju."


Andre akhirnya setuju dan Rindu mulai membuka mata batin mereka satu oersatu. Setelah itu ia meminta anjingnya untuk keluar dan menjaga mereka.


Anjing berkepala dua hadir di depan mereka semua, tentu saja mereka semua terkejut tapi berusaha tidak buat heboh.


"Ini penjaga aku, nggak usah takut ya, dia baik kok. Penjaga ini diwariskan buyut untuk ku."


"Baiklah Rin, kami akan berusaha santai," ujar Siska.


"Ia Rin, lagian kita kan udah pernah liat Harimau besar juga ya kan?" ucap Andra.


"Ia benar," jawab mereka.


"Baiklah, kita akan masuk lewat pintu belakang saja."


***********


Mereka berputar arah dan menuju pintu belakang rumah, Steven dan Om Besar memimpin jalan, sampai di sana keduanya berusaha mengalihkan perhatian penjaga di gerbang belakang.


"Eh kamu ngapain di sana?" ucap Steven.


"Lah memangnya kenapa, ini kan rumah kosong tentu siapapun boleh masuk kan?" ucap Om Besar.


"Tidak, ini bukan tempat yang bisa sembarangan kalian masuki, pergi dari sini."


"Maaf kita mau masuk."


Steven dan Om Besar melayang dan hendak menerobos masuk, penjaga itu langsung menghadang keduanya.


Sosok yang menjaga pintu belakang adalah sosok berbadan besar namun tidak sebesar Om Besar, ia memiliki badan yang dipenuhi bulu-bulu halus dan matanya merah.


Langsung saja Steven dan Om Besar mengalihkan perhatiannya, Rindu dan yang lainnya yang sedang bersembunyi langsung mengendap dan pelan-pelan masuk ke dalam.


Steven dan Om Besar masih bertarung dengan sosok itu, saat mereka pastikan Rindu dan yang lainnya sudah masuk ke dalam, mereka langsung berhenti bertarung.


"Stop, baiklah kami akan pergi dari sini," ucap Steven.


"Ya benar, malas banget harus bertarung sama kamu, bye."


Keduanya langsung menghilang, mereka kemudian bersembunyi dari sosok penjaga itu. Penjaga gerbang belakang berpikir mereka berdua sudah pergi, namun saat ia lengah, Steven dan Om Besar langsung masuk.


"Hahaha akhirnya kita masuk lagi Om, ayok temui kak Rindu."


"Ayookk."


Mereka melayang ke tempat Rindu dan yang lainnya berada.


"Akhirnya kalian berdua datang, gimana aman kan?"


"Aman Kak, mungkin dia berpikir aku dan Om Besar sudah pergi."

__ADS_1


"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang Rin?" tanya Neneng.


"Steven, apa di dalam ada banyak sosok?"


"Ia Kak, banyak dan serem-serem. Beda lagi sama yang sedang dikurung Kak, mereka yang bergerak bebas di dalam itu seperti pekerja di dalam rumah ini."


"Hmmmm begitu rupanya, kalo gitu ayo kita masuk."


Mereka mengendap dan masuk ke dalam rumah dengan pelan-pelan, saat mereka baru saja menginjakkan kaki ke lantai rumah itu, satu sosok langsung menghardik mereka.


"Hei manusia, ada apa yang membawa kalian ke sini."


"Emang kenapa kalau kita ke sini, ini kan rumah kosong," ujar Andra.


"Tapi di sini ada kami."


"Ya tapi kalian tetaplah hantu dan kami manusia, dunia kita berbeda kok, jadi anggap aja kita nggak saling kenal ok."


Rindu berucap santai, teman-temannya yang mendengar perkataan Rindu hanya bisa menahan tawa. Padahal mereka sedang ketakutan namun Rindu tetaplah Rindu yang jail sama sosok-sosok tak kasat mata.


"Ya memang kita tidak saling kenal, tapi kami tidak mengizinkan siapapun masuk ke rumah ini."


"Lah, emangnya kalian yang bangun rumah ini? Nggak kan, makanya nggak usah larang-larang."


"Dasar anak manusia, susah sekali dikasih tau."


"Ya kamu juga, susah banget dikasih tau. Maklum sih, kan kamu nggak punya otak."


Ucapan Rindu membuat sosok itu marah, matanya memancarkan kemarahan yang sangat besar, lidah yang awalnya biasa saja tiba-tiba menjadi panjang, kuku-kukunya pun sama, taring-taring panjang keluar dari sela gigi-giginya.


Mereka semua yang melihat perubahan sosok itu merasakan kengerian, mata merah menyala itu melihat mereka dan langsung menyerang Rindu. Rindu dengan sigap langsung menghalau serangan sosok itu, ia meminta teman-temannya untuk menghindar.


"Kalian mundur dikit, biarkan aku dan Steven juga Om yang mengurus sosok ini. Paman anjing tolong jaga teman-teman Rindu, pastikan mereka tidak kenapa-kenapa."


"Baik Rindu."


Setelah itu Rindu, Steven dan Om Besar langsung bertarung dengan sosok yang menjadi lawan mereka, mereka menyerangnya dari berbagai sisi.


Tiba-tiba cincin Rindu bercahaya.


"Rindu, dengarkan buyut."


"Buyut."


"Ia sayang, ini buyut. Kamu hanya bisa mendengar suara buyut, kamu harus tau sayang kalau cincin yang kamu pakai sekarang bisa mengurung makhluk tak kasat mata dan mereka tidak akan pernah bisa keluar dari sana."


"Benarkah itu Buyut?"


"Ia sayang, semua yang buyut katakan adalah kebenaran. Hanya itu yang ingin buyut katakan, buyut pamit sayang. Buyut menyayangi mu."


"Aku juga sayang sama Buyut."


...--------------------------------...


...Hai hai hai....


...Terimakasih ya udah baca Novel Nunna sampai episode ini, semoga kalian suka ya. Jangan lupa kalau ada saran apapun, langsung di komentar ya....


...Thanks semuanya....


...Sehat-sehat ya kalian semua, jaga kesehatan apalagi pandemi kek gini kan....


...나는 당신 모두를 사랑합니다...


...Tuhan Yesus Memberkati kalian semua. †...

__ADS_1


...--------------------------------...


__ADS_2