Rumah Di Tengah Sawah

Rumah Di Tengah Sawah
Hunian nyaman


__ADS_3

Bulan februari tahun 2011 pagi, hujan rintik-rintik. Cokelat hangat menemani aku yang duduk-duduk santai di teras rumah. Udara yang dingin membuat kepulan asap dari cokelat di cangkir bertuliskan Pesona Fm.


Namaku Dani, mahasiswa yang sekaligus kerja part time di salah satu stasiun radio di kota. Aku tinggal di pelosok desa, di ujung selatan jawa timur. Rumah yang aku tempati bersama kedua orangtuaku dan adik perempuan yang masih balita berada di tengah tengah sawah, yang kali ini baru di panen.

__ADS_1


"Dan, ibuk mau ke pasar dulu yoo, itu adiknya dijaga!" si ibuk ngomong plus "ngongkon" sambil berlalu.


Hadeh, padahal lagi menikmati ngelamun sambil lihat hujan. me time, me time. Aku seret kaki, mendekati adikku yang lagi asyik main lego. Adikku masih berusia 4 tahun lebih 1 bulan. Jarak kami cukup jauh. Aku yang sudah kuliah semester 4 sementara adikku masih balita. Dulu, semua orang berpikir aku ini anak tunggal. Bahkan perlakuan orangtua ku pun selayaknya aku anak tunggal. Manja banget. Eh, tak tahu nya si adik "launching" pas aku duduk di bangku SMA. Tapi itu semua membuat aku bener-bener seneng dan bersyukur. Pada dasarnya aku nggak begitu suka di manja-manja. Bagiku laki-laki itu harus bisa mandiri. Mengingat hal itu, aku jadi senyum sendiri kepala adik aku usap usap dengan sedikit kasar. Dia tidak terganggu tetep asyik dengan lego nya.

__ADS_1


Oiya, rumah yang kami tempati ini kata ibuk, dibangun tepat setelah aku lahir. Jadi bisa dikatakan, rumah ini seusia denganku. Rumah yang nyaman, udara seger, sejuk, dan meskipun di pelosok desa tapi kualitas jalannya bagus lho. Jalan tidak beraspal, namun dari semen, orang sekitar menyebutnya jalan "rabat". Jarak rumah ini dari kota sekitar 35 kilo meter, dengan waktu tempuh biasanya sekitar 45 menit. Rumah ini berada tepat di tengah sawah berdiri sendirian tidak ada bangunan lain. Tetangga terdekat berjarak sekitar lima ratus meter , cukup jauh, memang di desa rumah kan jarang jarang, tidak seperti di kota yang berdiri berjejer.


Entah kenapa, aku sangat betah berlama lama di rumah. Rasanya bener bener nyaman. Saat banyak tugas menumpuk, atau jadwal siar radio dengan jadwal kuliah yang tiba tiba berubah akhirnya berbenturan, atau saat aku bermasalah dengan teman atau gebetanku, semua problem itu akan menghilang ketika kaki ku sudah menginjak rumah ini. Mungkin karena aku dan rumah ini "lahir" ditahun yang sama, kita jadi seperti saudara, rumah ini mengerti aku. Memberi keteduhan dan kenyamanan.

__ADS_1


Rumah ini biasa saja, jangan membayangkan seperti villa mewah di tengah pedesaan. Rumah ini cukup kecil, berlantai satu dengan ukuran 8 x 9 meter. Tembok ber cat putih polos, dengan lantai keramik dan sebagian tegel. Memiliki 3 kamar tidur, 1 kamar mandi tanpa ada toilet. Iya, memang nggak ada toiletnya, biasanya kalau buang air, warga desa sini ke sungai terdekat. Ini bukan sesuatu yang benar, tapi begitulah, dari yang aku ingat, mulai dari aku di dalam perut, sampai saat ini, semua orang buang air nya ke sungai. hihihi . . .


Rumah dengan fasilitas seadanya seperti itu, bagiku adalah tempat ternyaman di seluruh alam semesta jagat raya. Rumah adalah tempatku untuk pulang, menampung segala keluh kesah, tersenyum bersama, tertawa bersama, bahkan menangis pun juga bersama. Rumah ini benar-benar telah melakukan yang terbaik untuk aku dan keluargaku selama sembilan belas tahun ini.

__ADS_1


__ADS_2