Rumah Di Tengah Sawah

Rumah Di Tengah Sawah
Aku pergi


__ADS_3

Aku memesan satu ice lemon tea dan kembali duduk di tempatku sebelumnya. Hasan dan Nita kompak mengernyitkan dahi nya melihatku yang ngos-ngos an.


"Ngapain kowe? Kayak habis lari maraton", Hasan melihatku heran.


"Huuhh, habis lari-lari, biar steak yang masuk ke perut langsung tercerna dengan sempurna", Aku masih mengatur nafasku. Aku memang setengah berlari kembali dari parkiran tadi.


"Lha Irul mana?", tanya Nita.


"Mana kutahuu, wong nggak ketemu", Aku segera menenggak minuman yang telah diantar oleh waitress. Huuhh, kerongkonganku terasa segar.


Lima menit berikutnya Irul sudah kembali duduk di sampingku.


"Gimana? Udah beres urusan perutmu?", Aku bertanya, pura-pura nggak tahu yang sebenarnya telah terjadi.


"Beres doongg, udah leegaaaaaaa ~", Irul terlihat seperti si kunyuk yang biasanya, seolah-olah tidak terjadi apapun. Aku harus berpura-pura tidak tahu terlebih dahulu, agar aku bisa menyelidiki apa yang sebenarnya telah dilakukan Febi kepada sahabatku ini. Sejujurnya aku merasa sangat kecewa pada Irul. Bagaimana bisa dia bersekongkol dengan Febi untuk menjauhkan aku dengan Erni. Namun, dari percakapan yang ku saksikan tadi kelihatannya Irul berada di bawah intimidasi dan diancam oleh Febi.


Febi, gadis yang selama ini terasa sangat baik padaku. Ternyata, mempunyai sisi yang kejam, mengancam Irul hingga dia ketakutan. Namun, apa yang membuat Irul begitu takut pada ancaman Febi? Aku jadi teringat pesan Bu Sumini istri Lik Wo, untuk tidak terlalu dekat dengan Febi. -Raga yang bernyawa tak seharusnya berhubungan terlalu dalam dengan dunia orang mati-.


"Yok balik yuk", Aku mengajak pulang, setelah menghabiskan sisa minumanku.


"Ayok, . . udah kenyang, jadi ngantuk", Irul berdiri, menyetujui ajakanku untuk pulang.


"Eee. . .kita bentar lagi aja deh, kalian duluan saja", Hasan mempersilahkan aku dan Irul pulang duluan.


"Ya udah deh, kita duluan", Aku beranjak dari kursiku, meninggalkan Hasan dan Nita, yang kelihatannya masih betah berlama-lama di tempat duduknya. Padahal tadi Nita katanya pengen pulang duluan. Hmmm . . .


"Eits, ngati-ati Nit kalau sama Hasan, suka nggigit soal e. . .ha . .ha . .ha", Irul tertawa keras, kemudian menyusul mengekor di belakangku. Sementara Hasan dan Nita terlihat melanjutkan obrolannya, entah ngobrolin apa.

__ADS_1


......* * *......


Setelah mengantarkan Irul ke rumahnya, aku bergegas meluncur ke toko. Selama di perjalanan aku terus memikirkannya dan aku sudah membulatkan tekad, untuk bertanya pada Bapak. Apa yang sebenarnya terjadi, kenapa rumah yang selama dua puluh tahun ini kita tempati nyaman-nyaman saja, namun tiba-tiba berubah menjadi tempat ritual nan seram. Aku terus memacu motorku dengan kecepatan tinggi.


Sampai di toko, terlihat masih ada satu dua pembeli meski waktu hampir menuju malam. Terlihat Ibuk dan adik (masih, dan selalu dengan lego nya) berada di emperan toko, asyik bermain sambil makan. Sementara Bapak terlihat sibuk melayani pembelinya, mengukur dan memotong-motong kain.


Aku langsung masuk ke dalam toko, berdiri di hadapan Bapak. Bapak yang masih memotong motong kain terlihat bingung denganku yang menatapnya dengan tajam.


"Ada apa? duit mu habis? minta sama Ibuk sana. Bapak masih repot", Bapak berbicara tanpa memandangku terus memotong-motong kain pesanan pelanggannya. Apa yang dipikirkan Bapak hanya duit saja, apa aku ini anaknya hanya butuh duit saja, nggak butuh nasehat ataupun komunikasi yang baik dengannya.


"Aku mau ngomong", darahku terasa mendidih. Aku nggak mampu menahannya lagi. Aku harus bicara sekarang. Tidak bisa ditunda lagi.


"Ngomong opo? ngomong yo dang ngomong", Bapak masih bersikap acuh tak acuh padaku.


"Kapan kita kembali ke rumah?", Aku mengeraskan suaraku, berharap Ibuk juga mendengar apa yang akan kusampaikan.


"Kenapa? Kenapa kita pindah ke sini?", nafasku terasa mulai tidak beraturan.


"Kamu yang kenapa? Adikmu sing masih kecil wae tenang-tenanng saja. Kamu kenapa merengek-rengek seperti ini?!", Bapak mulai meninggikan suaranya, terlihat dia tidak nyaman dengan pertanyaanku.


"Pokoknya aku minta kita balik ke rumah sekarang!", Aku pun tak mau kalah, kami mulai berbicara setengah berteriak.


"Banyak sesajen di rumah. Bapak karo Mbah pesugihan atau gimana? Hah?!", Aku melotot, aku marah.


Plaakkkkkk


Sebuah tamparan keras menghantam pipi kananku. Beberapa detik berikutnya aku merasakan panas yang berdenyut di area bekas tamparan. Tapi, hatiku jauh lebih panas lagi, jauh lebih sakit lagi.

__ADS_1


"Bocah kurang ajar! Kamu ngerti apa? Hah?! Aku ngajak pindah ke sini juga demi kamu, demi kita semua. Lek nggak ngerti diam saja! Nggak usah kakehan pertanyaan!", Bapak terlihat benar-benar marah. bagiku Bapak tak ubahnya Mbah Kadir, sama saja.


Beberapa pengunjung toko, terbengong-bengong melihat adegan percekcokan antara Bapak dan anak ini. Sementara Ibuk menggendong adik yang sedang menangis, tanpa mampu melerai anak dan suaminya.


"Kalau aku nggak ngerti ya di jelasno. Itu tugas Bapak. Kalau Bapak kayak gini, aku semakin yakin Bapak itu melakukan hal yang nggak bener", Aku memegang pipiku yang berdenyut, masih menatap Bapak dengan amarah.


"Ngapain jaluk penjelasan, iki urusan e Bapak. Kamu, tugasmu, sekolah, kuliah yang bener. Bikin Ibuk Bapak bangga. Ngapain ngurusin urusan Bapak, koyok ngerti wae!', Bapak terlihat mengepalkan tangannya. Aku bersiap, jika memang dia hendak memukulku.


Bruuuaakkk


Bapak menghantam meja kasir sekuat tenaga dengan tinjunya. Terlihat kulit tangannya terkelupas dan berdarah.


"Wes paakk, cukup. Cukup Dannn. . .huu huuu~", Ibuk terlihat menangis, sambil menggendong adik yang juga menangis. Para pngunjung toko satu persatu beringsut keluar dari toko.


"Ibuk tahu nggak, rumah ku, rumah kita penuh sesajen Buuk. Orang ini, yang aku sebut Bapak ini, melakukan hal yang nggak bener. Hidup dan makan kita dari hasil ritual Bapak dan Mbah Kadir buk. . .", Aku menangis. Segala emosi bercampur aduk saat ini. Marah, kecewa, benci dan kesedihan menyatu dan tumpah malam ini. Dadaku sesak, nafasku tersengal, air mata terus jatuh membasahi pipiku.


"Kalau Bapak, nggak mau memberi penjelasan, lebih baik aku pergi dari sini. Aku nggak bisa hidup dengan uang dari sesuatu yang nggak jelas asalnya!", Aku bergegas menuju ruangan belakang. Mengambil tas ransel besar, dan memasukkan barang-barangku. Aku juga memasukkan buku tabunganku yang berisi uang gaji siaran radio ke dalam tas. Aku sudah membulatkan tekadku aku akan pergi.


"Kamu mau kemana lee~", Ibuk masih sesenggukan.


"Sementara aku tinggal di radio buk. Tenang saja, aku udah gedhe bisa jaga diri. Kalau ada apa-apa telepon saja Buk. Dan kasih tahu sama Bapak stop kirim uang padaku. Aku nggak sudi nerimanya.", Aku melihat Ibuk yang terus menangis. Kucium tangannya. Ku cium juga pipi adik kecilku, aku menangis, aku memeluk Ibuk sebentar.


Menggendong tas ransel besar kutinggalkan Ibuk dan adik yang terduduk di ruang belakang, tersedu. Kulihat Bapak masih di depan meja kasirnya memunggungiku.


Aku pergi, memecah dinginnya malam dan hati bersama si "Thor".


Bruuummmmmm

__ADS_1


__ADS_2