
Aku terduduk di bawah pohon trembesi parkiran kampus. Aku sangat kaget dan masih belum percaya dengan apa yang kulihat barusan. Kenapa Iwan menjadi gila? Kenapa Iwan menunjuk nunjukku ketakutan? Apa yang sebenarnya terjadi?
Pertemuanku terakhir kali dengannya adalah ketika dia memohon mohon maaf padaku. Mengatakan dia diteror paku berkarat yang selalu mengikutinya. Waktu itu dia memang terlihat kurang sehat, namun aku tak menduga perkembangan selanjutnya menjadikan Iwan seperti itu. Aku jadi merasa bersalah di pertemuan waktu itu berakhir dengan tidak terlalu baik.
"Dan. . .Dani", sebuah suara memanggilku, menyadarkanku dari lamunan. Febi, gadis itu berdiri di sampingku dengan senyumannya yang terlihat manis. Ya, harus diakui terlepas dari segala hal buruk yang mungkin telah dia lakukan, dia memang manis.
Aku hanya diam, memandangnya. Febi berjalan mendekatiku, masih dengan senyumnya. Berjongkok di depanku, menggenggam lenganku.
"Dani . . . siapapun yang berani menyakitimu, akan bernasib sama seperti Iwan. Aku berjanji padamu, nggak akan ada yang berani mengganggumu. Kamu akan bahagia. . .asalkan kamu mau denganku", Febi menatapku, tersenyum dan mengedipkan mata kirinya. Detik berikutnya dia mengecup pipiku, lembut. Aku hanya terdiam membisu, mencerna apa yang dikatakannya. Apa maksud Febi??
Fllaaaappppp
"Dan, heii. . . Danii!", Hasan mengguncang guncangkan tubuhku.
Aku tersentak kaget. Hah? Apa yang terjadi? Barusan tadi, mimpi? lamunan? Tapi terasa begitu nyata. Pipi kananku terasa seperti benar benar baru saja menerima sebuah kecupan. Aku mencubit lenganku. Aauuuww. . . sakit.
"Heh. . . kesambet bocah iki", Hasan masih bernafsu mengguncang guncangkan tubuhku.
"Ah . . . eh", Aku masih bingung dengan apa yang telah terjadi.
" Ah eh ah eh, kamu itu lho kenapa?", Hasan bertanya padaku.
"Aku barusan, kenapa San?", Aku balik bertanya pada Hasan.
"Lhah, piye sih. Lha kamu bengong kayak kebo ketulup di bawah pohon trembesi kok e", Hasan menempelkan punggung tangannya di dahiku.
"Lha Febi tadi . . .", Aku tidak meneruskan kalimatku, bingung.
"Febi? Nglindur kamu", Hasan geleng geleng kepala.
"Eh San, tadi si Iwan . . . jadi gila", Aku bergumam memastikan, apa adegan Iwan jadi gila tadi juga khayalanku semata.
"Iya, aku tahu. Aku juga lihat. Kasihan ya dia", Hasan ikutan duduk selonjoran di dekatku.
"Jadi. . .benar si Iwan gila", Aku kembali meyakinkan diriku. Aku memijat mijat keningku.
__ADS_1
"Kamu kenapa sih? Lihat Iwan kok jadi kayak syok banget gitu", Hasan mengernyitkan dahi.
"Nggak pa pa. Ayok masuk kelas", Aku berdiri. Aku nggak mau menceritakan hal hal yang kualami pada Hasan. Aku nggak mau melibatkan lebih banyak orang lagi dalam masalahku. Aku juga kapok cerita kepada orang lain yang kuanggap teman, nyatanya bisa saja dia mengkhianatiku.
"Oke deh", Hasan garuk garuk kepala.
Aku dan Hasan masuk ke kampus, naik tangga ke lantai dua. Ruang kelas C. Kelas sudah cukup ramai, tapi dosen belum terlihat hadir. Aku mengambil tempat duduk paling belakang. Hasan menyusulku.
"Dan, si kunyuk Irul kok nggak ada lagi sih? Bolos lagi dia. Mau jadi apa itu anak. Oh iya, dia kan udah kaya raya yo, nggak lulus pun tetep kaya", Hasan bertanya sendiri dan menjawabnya sendiri.
Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh penjuru kelas. Bener kata Hasan, si Irul nggak ada. Begitupun Febi, juga nggak terlihat. Perasaanku jadi nggak enak. Terakhir kali aku bertemu dengan Irul saat aku dan dia berdebat di parkiran studio. Ini pola yang sama. Saat aku bertemu Erni terakhir kali, aku berantem dengannya, kemudian Erni terkapar di rumah sakit. Itu juga terjadi dengan Iwan, bedanya Iwan jadi gila. Irul, jangan jangan terjadi sesuatu juga padanya.
Aku mengambil HP di dalam tas, kupencet nomor si Irul. Aku mencoba meneleponnya.
Tuut tuutt tuuttt
Nomor yang anda tuju tidak dapat menerima panggilan ini.
Kucoba sekali lagi
Nomor yang anda tuju tidak dapat menerima panggilan ini.
Sial! Kemana si Irul? Aku nggak tenang. Aku menggigiti kuku jari tanganku, gelisah. Ada yang nggak beres nih.
"San, aku nitip absen ya", Aku menepuk pundak Hasan.
"Hah? Kamu mau kemana?", Hasan kaget dengan permintaanku yang tiba- tiba.
"Aku ada urusan, penting. Tolong kali iniii aja. . . nitip absen ya, lagian dosen juga nggak hafal kalau aku nggak ada. Dosen e udah tua kan", Aku menangkupkan kedua tanganku, memohon pada Hasan.
"Hadeh. . .iya deh. Tapi kapan kapan gantian ya, aku yang mbolos kamu yang tanda tangan absennya he he he. . .", Hasan tertawa, mengedipkan ngedipkan matanya.
"Deal! Gampanglah itu", Aku menjabat tangan Hasan.
Setelahnya, aku segera menggendong tas ranselku, setengah berlari menuju pintu keluar. Saat aku di ambang pintu, tepat saat itu pula dosen datang, dan masuk ke dalam kelas.
__ADS_1
"Hei, kamu mau kemana?", Bu Sari, Dosen mata kuliah bimbingan dan konseling di sekolah dasar bertanya padaku.
"Eemmm. . .anu, saya salah masuk kelas Bu. . . permisi", Kepalang tanggung, aku sudah berniat untuk membolos. Dua dosa telah kulakukan kali ini, membolos dan berbohong pada dosenku.
Aku berlari menyusuri tangga. Sampai di tempat parkir segera ku naiki Thor, ku geber habis habisan. Tak peduli meskipun beberapa mahasiswa dan kakak tingkat melihatku jengkel. Aku meninggalkan kampus dengan kecepatan penuh. Aku menuju rumah Irul.
Beberapa menit kemudian, aku telah sampai di depan rumah ber pagar besi warna hitam, dengan cat tembok warna abu abu gelap. Pagar tidak tertutup, aku langsung nyelonong masuk. Kuparkir Thor, dan segera menuju pintu masuk rumah Irul.
Tok tok tok
"Assalamualaikuum. . .", Aku mengetuk pintu dan mengucap salam.
"Waalaikum salam. . .", Bibi asisten rumah tangga keluarga Irul yang muncul.
"Irul nya ada Bi?", Aku bertanya, sedikit ngos ngosan karena memang tergesa- gesa tadi.
"Ah, Mas Irul nya lagi di atas, tapi nggak mau diganggu katanya", Bibi menjawab terlihat menutupi sesuatu.
"Bi. . . tolong panggilin Irulnya ya. Bilang ke Irul ada Dani di bawah. Penting gitu", Aku mencoba bernegosiasi dengan Bibi.
"Ta- tapi. . .tadi Mas Irul udah pesen jangan ganggu gitu. Bibi nggak berani e", Bibi terlihat bingung.
Aku mendesah. Ngapain sih si kunyuk itu, sampek mbolos kuliah dan nggak mau diganggu segala. Sialan! Bikin aku khawatir dan penasaran saja.
"Ayok lah Bi . . . Bibi kan tahu aku temennya si Irul, biasanya juga nginep sini. Nanti kalau Bibi sampaikan ke Irul ada Dani di bawah gitu, Irul pasti nggak marah", Aku masih ngeyel, karena aku sangat khawatir si kunyuk kenapa napa. Jangan- jangan terjadi hal buruk padanya, hingga nggak mau ditemui.
"Aduh mas, beneran Bibi nggak berani", Bibi tidak goyah, benar benar menurut pada pesan majikannya.
Terpaksa nih, meskipun tidak sopan dan lancang aku memutuskan untuk menerobos masuk ke dalam. Dan langsung menuju tangga, naik ke ruangan atas.
"Hei mas mas, . . piye to iniii", Bibi kaget hanya mampu berteriak teriak melihatku berlari masuk tanpa ijin.
Aku nggak peduli, aku hanya ingin memastikan sahabatku (atau mantan sahabatku) itu baik baik saja. Sampai di ruangan atas dengan ngos ngos an, ternyata Irul sedang duduk di sofa bersama seorang gadis. Terlihat kaget dan salah tingkah melihatku datang tanpa permisi.
"Kunyuukkkk", Aku setengah berteriak, jengkel.
__ADS_1