
Selesai menyantap sajian mata kuliah Bimbingan dan konseling di sekolah dasar, Aku, Nita dan Hasan makan siang bareng di kantin Mak Emi.
"Dan, kita jadi nih ketempat Febi?," Nita membuka percakapan, sementara aku dan Hasan masih fokus menuangkan kecap ke batagor yang baru dihidangkan.
"Ya jadi dong," Aku menjawab singkat, menyuapkan satu potong batagor ke mulut, rasa pedas manis gurih langsung menyebar di indera perasa.
"Emang mau ngapain sih kita kesana?," Nita bertanya lagi.
"Kamu po nggak ngerasa aneh sama cewek satu itu?," Aku balik bertanya pada Nita.
"Aneh gimana?," Nita masih belum mengerti.
"Ya aneh, beberapa minggu ini nggak masuk kuliah, nggak ke kampus," Aku beralasan, sulit menjelaskan kecurigaanku yang tanpa bukti nyata.
"Ngomong ngomong kunyuk Irul kok tiba tiba pindah ke luar jawa ya," Hasan berbicara dengan mulut penuh batagor, suaranya seperti orang kumur.
"Nggilani jorok yang . . .," Nita memukul lengan Hasan.
"Yang? Yangkemmuuu opooo," Aku sewot, seperti menjadi obat nyamuk bagi pasangan di hadapanku ini.
Aku menghela nafas, menimbang nimbang untuk menceritakan atau tidak hubungan Irul dengan Febi, hingga Irul terpaksa pindah atau mengungsi ke luar jawa.
"Kayak ada yang mbok sembunyikan Dan, ada apa sih?," Nita bertanya melihat gelagatku.
"Cerita saja lah, kayak sama siapa wae, kita kan udah temenan lama," Hasan sok asyik.
Aku kembali menghela nafas, dan akhirnya menceritakan apa yang terjadi antara Irul dan Febi. Bagaimana Irul mendapat mantra dari Febi hingga bisa menaklukkan cewek cewek di kampus. Juga Irul yang akhirnya harus menjadi anak buah Febi, diancam dan dikirim i teluh oleh Febi. Kak Iwan yang jadi gila, juga karena ulah mantra Febi. Serta kecurigaanku pada Febi yang menjadi dalang jatuhnya Erni dari lantai 3 kampus. Hanya sebatas itu yang aku ceritakan pada Nita dan Hasan, cerita seperlunya agar mereka tak terlalu banyak bertanya.
" Hah? Gendeng!," Hasan dan Nita kompak kaget mendengar ceritaku.
"Ceritamu nggak masuk akal bray," Hasan sedikit melengos.
__ADS_1
"Makanya, ayok kita ke rumah Febi. Aku harus bertemu dengannya. Tapi aku nggak berani sendirian," Aku sedikit tersenyum.
"Oke lah, aku juga nggak yakin sama ceritamu. Yah kita jenguk lah si Febi, mungkin dia nggak ngampus karena sakit atau apa gitu," Nita juga tidak mempercayai ceritaku.
Reaksi yang sudah kuduga. Karena memang bagi yang tidak mengalaminya langsung semua ceritaku ini seperti cerita khayalan anak kecil.
"Kalau gitu, ayok kita berangkat sekarang," Aku sudah menghabiskan batagorku di piring. Hasan dan Nita mengangguk setuju.
"Makanan kalian kan yang bayar? Itung itung traktiran udah baikan. Kemarin kan sempet berantem," Aku cengengesan.
"Hah? Kamu cerita sama Dani yang?," Nita bertanya pada Hasan.
"Yah, sedikit," Hasan tersenyum, Nita bersungut sungut.
" Yang Yang Yang, Yang di goyang yaang," Aku kembali jengkel dan risih mendengar panggilan sok mesra Nita pada Hasan. Mungkin aku iri kali ya.
Aku menaiki thor, sementara pasangan sejoli berboncengan mesra menuju rumah Febi. Rumah Febi berada tidak terlalu jauh dari pusat kota. Sekitar dua puluh menitan kami bertiga telah sampai di area industri rumahan. Ada industri, tahu, tempe, dan beberapa kripik serta makanan ringan. Sementara keluarga Febi adalah pembuat rengginan.
Kami bertiga sampai di rumah ber cat merah maroon dengan halaman seluas lapangan basket. Terdapat pohon mangga besar dengan buahnya yang sedang lebat dan ranum. Aku turun dari Thor, berjalan menuju pintu rumah. Hasan dan Nita mengekor di belakangku.
"Assalamualaikum," Aku mengucap salam.
Beberapa saat kemudian muncul anak kecil usia SD, adiknya si Febi.
"Waalaikumsalam, mau beli rengginan?," tanya adiknya Febi.
"Ah, Mbakmu ada dek?," Nita bertanya, tersenyum menatap adiknya Febi.
"Aku ra duwe embak (Aku nggak punya mbak)," jawab adiknya Febi kemudian berlari ke dalam rumah. Aku, Hasan dan Nita geleng geleng kepala melihat kelakuan nyeleneh adiknya Febi.
Sejurus kemudian, Ibuknya Febi datang tergopoh gopoh, sedikit kaget melihat kedatangan kami bertiga.
__ADS_1
"Nak Dani ya? Masuk masuk," Bu Surti Ibuknya Febi mempersilahkan tamunya masuk.
"Mau pesen rengginan buat Ibukmu atau gimana Nak?," Bu Surti bertanya kepadaku setelah aku duduk di kursi kayu ruang tamu. Dulu memang beberapa kali aku pernah kesini ngambil pesanan rengginan nya Ibuk, ternyata bu Surti masih cukup hafal denganku.
"Hmm, ternyata diam diam kamu sering kesini to bos?," Hasan berbisik menggodaku. Ku sikut perut Hasan, namun dia malah terkekeh.
"Anu Bu, sebenarnya kami kemari mau nyari Febi, Febi nya ada Bu?," Nita mengambil alih pembicaraan ketika melihat aku dan Hasan yang malah bercanda. Saat Nita mengucapkan pertanyaan itu, ekspresi Bu Surti langsung berubah menjadi gelisah.
"Ah, iya Bu. Emm, Febi sudah lama nggak datang ke kampus," Aku menambahkan.
Bu Surti masih tetap diam saja, seperti kebingungan.
"Anak itu sudah bukan anggota keluarga ini lagi!," Tiba tiba Bapaknya Febi datang dari belakang, berbicara setengah membentak.
"Pak, sabar. . .sabar. Mereka nggak tahu apa apa. Bapak ke belakang lagi ya. Biar Ibuk yang bicara," Bu Surti berdiri menenangkan suaminya. Meminta suaminya untuk kembali ke belakang.
"Jadi gini nak . . .," Bu Surti duduk kembali, mengambil nafas dalam dalam.
"Anak itu sudah beberapa minggu pergi dari rumah. Dia . . . telah membuat marah seisi rumah dengan kelakuannya," Bu Surti terlihat bersedih. Aku, Nita dan Hasan diam menyimak.
"Mungkin kalian sudah tahu, kalau Febi itu punya keistimewaan. Sedari kecil anak itu sudah bisa melihat dan berkomunikasi dengan makhluk makhluk lain. Kami sebagai orangtuanya sempat khawatir. Kami dulu pernah mencoba menghilangkan kemampuan itu. Adik iparku, kebetulan yang menanganinya. Namun ternyata kemampuan seperti itu nggak bisa hilang. Yah, kami sekeluarga mulai terbiasa dengan Febi. Tapi beberapa waktu ini dia semakin menjadi jadi, entah apa penyebabnya. Dia pernah mencoba memakan ikan khoi hidup hidup di kolam belakang milik adiknya. Lalu, ketika adiknya memergoki dan hendak mengadukan kepada Bapak, Febi mencoba menenggelamkan adiknya ke kolam. Mencelup celupkan kepala adiknya ke dalam kolam, hingga hampir saja hal buruk terjadi. Untunglah Bapak waktu itu datang dan menghentikan Febi. Setelah itu Febi pergi dan belum pernah kembali ke rumah lagi," Bu Surti menutup ceritanya, beberapa butir air mata menetes dari matanya yang sudah penuh kerutan.
Baik aku, Hasan ataupun Nita hanya diam membisu. Bingung mau ngomong atau berkomentar apa.
"Maafkan kami, membuat njenengan menjadi bersedih," Nita meminta maaf memecah keheningan.
"Bu, mungkin njenengan tahu, Febi sekarang dimana?," Aku bertanya lirih. Bu Surti menggeleng.
"Bapaknya Febi sudah terlanjur marah, sudah nggak mau tahu lagi kabar ataupun keadaan anaknya," Bu Surti mengusap air matanya.
"Tapi Nak, seandainya kalian tahu atau ketemu anak itu dimanapun tolong sampaikan bahwa saya, ibunya, merindukannya," Bu Surti kembali menitikkan air mata.
__ADS_1
Tidak ada satupun dari kita bertiga yang bersuara. Karena memang kami nggak mampu menjanjikan kapan bisa ketemu lagi dengan cewek itu. Satu lagi pertanyaan yang tak terjawab, sebenarnya apa yang terjadi pada Febi?
Mungkin hanya sang waktu yang mampu mengungkap semua misteri ini . . .