
Aku sampai di bangunan ruko kosong dengan nafas ngos ngos an. Peluh membasahi wajah dan punggungku. Aku duduk di pelataran ruko. Terlihat langit mulai menghitam, matahari telah terbenam di ufuk barat. Ku rogoh HP di saku celana, terlihat puluhan panggilan tidak terjawab dari Lik Diran. Mungkin saat ini dia sedang kebingungan dan mengkhawatirkanku.
Aku mencoba menelepon balik Lik Diran.
Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan, cobalah beberapa saat lagi.
Nomor Lik Diran tak bisa kuhubungi. Kucoba sekali lagi pun hasilnya tetap sama.
Kulihat jam di layar HP, ternyata sekarang sudah jam 6 lebih. Pantas saja langit nampak gelap, ternyata malam hampir datang. Aku melihat benda yang ada di genggaman tanganku, mengingat apa yang disampaikan Mbah Ginah tadi.
Narsih berada di tempat dimana semua kejadian ini bermula.
Satu tempat yang terlintas di benakku, rumah. Ya, semua hal yang menimpaku, semua kejadian selama ini bermula dari Rumah di tengah sawah itu. Rumah yang selama sembilan belas tahun telah dihuni oleh keluargaku.
Aku mengatur nafas, nggak ada pilihan lain. Aku harus berjalan menuju ke rumah. Jalanan sini sepi jika sudah malam hari. Aku nggak boleh membuang waktu, atau nyawa Erni yang jadi taruhannya.
Cukup jauh jarak antara ruko kosong dengan rumah. Setengah jam berjalan kaki tidak ada satupun kendaraan yang lewat. Kakiku mulai terasa pegal.Tenggorokan pun terasa kering. Sebenarnya setelah belokan di depan ada beberapa rumah warga, tapi aku sedikit berharap ada kendaraan lewat yang searah dengan tujuanku.
Nyatanya ketika sampai di area perumahan warga pun, tak ada kendaraan yang lewat dan tak ada aktivitas sama sekali. Terasa sepi dan lengang. Toko kelontong tutup, dan tidak ada satupun orang yang terlihat. Apa mungkin mereka semua transmigrasi bedol desa? Ah, sial. Aku merasa sangat lelah.
Aku kembali merogoh HP di saku celana, sambil tetap melangkahkan kakiku. Beberapa ratus meter lagi aku sampai di rumah. Aku mencoba nenghubungi Lik Diran.
Tuut Tuutt Tuutt . . .
kali ini telepon tersambung.
"Hallo Dannn? Danii . . . Kamu dimana?," Lik Diran terdengar khawatir, bertanya dengan panik.
"Aku di jalan arah ke rumah Lik," Aku menjawab sambil mengatur nafas.
"Hah? Ngapain? Semua orang kelabakan nyari kamu. Cah gendeng! Bikin khawatir wae!," Lik Diran sedikit membentak. Mungkin dia jengkel karena tiba tiba aku menghilang, aku memakluminya.
__ADS_1
"Ceritanya panjang Lik. Njenengan dimana sekarang?," Aku balik bertanya pada Lik Diran.
"Aku dan pekerjaku masih menyisir hutan. Kami masih di area bukit manik manik. Nyari kamu! Mbah Kung belum ketemu, kamu ngikut ilang juga. Siapa yang nggak panik? Pancen bocah gendeng!," Lik Diran kali ini marah marah, aku tersenyum kecut.
"Ya maaf Lik. Pokoknya aku butuh bantuan njenengan semua sekarang," Aku memberi penekanan pada perkataanku.
"Ada apa lagi?," Lik Diran mendengus kesal.
"Cepet turun dari bukit Lik. Susul aku ke rumah, ini penting!," Aku tetap terus berjalan sambil menelepon. Lamgkah kakiku telah sampai di jembatan dekat persawahan, sudah dekat dengan rumah.
"Rumah mana maksudmu?," Lik Diran meminta penjelasan.
"Rumahku Lik. Rumah di tengah sawah," Aku berhenti di tengah jembatan, memandang sungai. Nampak bayangan besar bergerak gerak pelan di antara bebatuan. Makhluk 'itu' lagi. Aku menelan ludah. Ku genggam erat kinang sirih dan keris pemberian Mbah Ginah. Aku membulatkan tekad, apapun yang akan kutemui nanti akan kuhadapi. Aku mengalihkan pandanganku, aku melangkah maju, tekadku lurus, niatku tulus.
"Pokoknya penjelasannya nanti Lik. Yang jelas aku butuh bantuan njenengan semua. Tolong aku Lik, segera susul aku ke rumah," Aku kembali mengulang permintaanku.
"Baiklah. Atau mungkin sebaiknya kamu tunggu sampai kami datang," Lik Diran memberi saran kemudian menutup teleponnya.
Haruskah aku menunggu Lik Diran datang? Aku menimbang nimbang, berpikir sejenak. Ada benarnya juga, sendirian ke rumah itu tanpa tahu apa yang nanti akan menyambutku tentu sebuah tindakan konyol. Aku berdiri di ujung jembatan sambil mengatur nafas.
Sebuah suara memanggilku. Suara yang familiar. Suara yang mengingatkanku pada sebuah rasa. Rasa rindu.
Sosok itu berada tak jauh dari tempatku berdiri. Terlihat di antara dedaunan padi yang tinggi. Wajahnya yang cantik samar samar terpancar ketika sinar rembulan meneranginya. Erni berdiri mematung melambai lambaikan tangannya yang putih pucat.
Erni seperti mengajakku untuk cepat cepat ke rumah. Mungkin saja dia tidak ingin aku menunda untuk melakukan apa yang telah dijelaskan Mbah Ginah. Baiklah, aku segera melangkahkan kakiku kembali. Aku seperti mendapat kekuatan dan keberanian tambahan setelah melihat Erni. Entah itu benar benar Erni atau bukan aku tak peduli.
Sedikit berlari, sampailah aku di rumah. Nampak lampu teras berkedip kedip. Suasana sepi, sunyi, tak ada tanda tanda kehadiran orang selain diriku. Aku berjalan sedikit berjingkat agar tidak menimbulkan bunyi. Aku mencapai pintu depan. Aku berusaha membuka pintu pelan pelan. Sedikit kuangkat daun pintu, agar tidak menimbukan bunyi.
Kriieetttt
Nyatanya suara pintu kubuka tetap saja terdengar dan bergema, memecah kesunyian saat ini. Aku masuk ke dalam rumah. Berdebu, gelap dan pengap. Aku meraba raba dinding mencari dan mengingat letak saklar lampu ruang tamu.
__ADS_1
Klik
Aku berhasil menemukan saklar, dan memencet tombolnya. Tak ada perubahan, tetap saja gelap.
Klik Klik
Aku mencobanya kembali, kali ini lampu berhasil menyala. Saat lampu menyala aku tersentak kaget, di depanku sosok Febi duduk di kursi dengan tangan bersedekap menatapku. Senyumnya mengembang terlihat aneh dan mengerikan. Aku tertegun, terdiam mematung.
Beberapa saat lamanya kami hanya saling menatap.
"Kamu kok tahu aku ada disini Dan?," Febi bertanya padaku. Kali ini ekspresinya berubah seperti biasa.
"Ka- kamu bukan Febi," Aku sedikit tergagap. Rasa capek, haus dan takut bercampur.
"Hah? Apa maksudmu?," Febi terlihat kebingungan seolah olah tidak mengerti maksud perkataanku.
"Kamu boleh mengambil tempat ini, tanah ini. Tapi tolong jangan ganggu aku. Jangan ganggu teman temanku. Lepaskan Febi, lepaskan Erni," Aku menggeser badanku beringsut mundur ke arah pintu. Mata Febi bergerak mengikutiku.
Febi berdiri dari duduknya.
"Kamu nggak ngerti apa apa Dani," Febi berjalan mendekatiku. Sementara aku terus berjalan mundur, keluar dari rumah.
"Apa yang nggak kumengerti? Aku sebagai ahli waris dari rumah dan tanah ini menyerahkan padamu. Mau kamu buat istana mu disini silahkan, tapi tolong biarkan aku hidup tenang," Aku sudah berdiri di pelataran depan rumah. Febi berdiri di tengah tengah teras rumah, sementara di dalam rumah terlihat bayangan bayangan hitam menatapku. Belasan orang terlihat berdiri di ruang tamu.
HA HA HA HA HA
suara tawa menggema dari ruang tamu.
"Dasar bocah! Dari awal tempat ini memang milik kami. Wes Wayah e (Sudah waktunya) untuk mengambil kembali milik kami!," suara orang orang bergema membentak aku dari ruang tamu.
Aku ngeri, sendirian berhadapan dengan begitu banyak makhluk seperti itu. Aku menggenggam erat kinang sirih dan keris pemberian Mbah Ginah.
__ADS_1
"Danii, kamu begitu mirip dengan Mbah buyutmu. Aku ataupun mereka yang di dalam rumah takkan menyakitimu. Ulurkan tanganmu dan ikut denganku. Kebahagiaan, kekayaan, kesuksesan dunia ini kujanjikan padamu. Kemarilah," Febi terlihat melayang mendekat padaku.
Bersambung . . .