
Sepulang dari rumah Febi aku meluncur ke studio. Aku lebih memilih untuk numpang tinggal di studio lagi daripada harus bertemu dengan Mbah Kung Kadir di rumah. Membayangkan wajahnya saja aku sudah ndongkol, apalagi kalau bertemu langsung?
Jam 5 sore nanti aku juga ada jadwal siaran hingga jam 7 malam. Setelah jam siarku nanti, aku berencana ke Rumah Sakit sebentar menemui Bapak dan Ibuk. Saat ini masih jam 4 sore, Krisna terlihat asyik ngoceh di depan michropone. Aku seperti biasa duduk di singgasana, sofa depan ruang siar. Mengambil koran harian di depanku dan membacanya.
Sebuah lagu diputar Krisna, lagu yang entah kenapa mengingatkanku pada rumah, sebuah lagu berjudul pulang.
Dan lalu
Rasa itu tak mungkin lagi kini
Tersimpan di hati
Bawa aku pulang, rindu
Bersamamu
Mm-Hmmm
Dan lalu
Air mata tak mungkin lagi kini
Bicara tentang rasa
Bawa aku pulang, rindu
Segera
Aku meletakkan koran di tanganku ke meja. Kupejamkan mata, menikmati alunan lagu yang kalem nan syahdu. Terbayang di benakku, masa lalu yang indah. Saat dimana hujan datang, Ibuk membuat sambal bawang dalam cobek dan telur dadar yang agak ke asinan. Aku, Bapak dan Ibuk makan dalam satu cobek bersama sama. Saat dimana Adik lahir di tengah malam, belum sempat Ibuk dilarikan ke puskesmas terdekat, Adik sudah keburu ngebet pengen melihat dunia. Saat merayakan hari raya bersama sama. Sajian opor ayam, ketupat, dan jajanan manis manis yang begitu melimpah di meja depan. Saat dimana aku belajar naik motor dan tanpa sengaja menarik gas sembarangan hingga masuk ke parit sawah.
Masa yang ketika kuingat sekarang, hanya terkenang senyum dan tawa. Masa dimana aku seperti lupa caranya bersyukur. Kini, aku seperti diingatkan, seakan ditegur bahwa hal yang dirasa biasa, ternyata adalah hal yang berharga dan membahagiakan jika dilihat di masa sekarang.
__ADS_1
Aku rindu rumahku yang dulu, aku rindu Bapak, aku rindu berkumpul dengan keluarga kecilku yang penuh tawa bersama. Apakah itu semua tak kan kembali lagi seperti sedia kala? Aku menutupi mataku dengan punggung tangan kanan. Menghalangi air mataku yang hendak menetes.
Sebuah tepukan pelan terasa di bahu kiriku. Krisna telah duduk di sampingku.
"Sudahlah mas, jangan bersedih terus. Aku melihatmu terus menerus kayak gini kok jadi ikutan perih hatiku. Meskipun aku nggak tahu ya apa masalahmu," Krisna memandangku dengan tatapan sayu, dia tidak bercanda dengan ucapannya. Aku hanya diam saja.
"Aku nggak ngerti sih mas apa yang sedang kamu alami. Tapi yakin deh, semakin besar sebuah masalah maka semakin besar pula hikmahnya. Bagaikan besi yang ditempa, kamu akan jadi orang yang luar biasa suatu saat nanti," Krisna tersenyum, menggerak gerakkan alisnya, mencoba menghiburku.
"Wehh, kayak pujangga aja. Kata katamu politis broo," Aku tersenyum, namun suaraku serak tersendat sendat.
"Masak politis? Puitis kaleee," Krisna cemberut. Aku tertawa, meskipun air mata menetes dari sudut mataku. Aku mengusap mataku, membenarkan dudukku, dan menarik nafas dalam dalam. Menghembuskannya pelan pelan. Krisna memperhatikanku.
"Udah? Lega?," Krisna bertanya penuh selidik.
"Eh, lagumu habis itu lho, waktunya ngoceh sana," Aku menepuk lengan Krisna, lagu telah terhenti, seharusnya Krisna sudah masuk agar tidak ada jeda di radio.
"Duhh, dimarahin kepala marketing niihh," Krisna berlari tunggang langgang masuk ruang siar. Aku terkekeh, ada ada saja polah tingkah lucu manusia satu itu.
"Oke gaes, sebuah lagu bertajuk di ujung jalan yang baru saja Dani puterin buat kamu, sepertinya harus mengakhiri perjumpaan kita kali ini. Thank you so much untuk kalian yang udah gabung, udah request lagu juga, udah telepon telepon juga. Pokoknya kita ketemu lagi besok di jam yang sama dan tentunya dengan suasana hati yang sama. Salam jomblo gabut bahagia, dan sampai jumpa," Aku menutup siaranku dengan penuh semangat.
Radio akhir akhir ini terasa semakin berkurang pamornya di kota ini. Kian hari makin berkurang saja orang orang yang request lagu. Padahal beberapa tahun yang lalu, waktu aku awal awal gabung bekerja di radio ini, setiap hari ada ratusan SMS masuk request lagu. Sekarang tinggal beberapa puluh saja. Aku menyukai radio ini seperti rumahku. Jangan sampai radio ini ditinggalkan juga seperti nasib rumahku.
Beberapa menit berikutnya terlihat Mas Henri datang dan masuk ruang siar.
"Ngapain bengong?," Kalimat pertama yang muncul dari mulutnya ketika melihatku yang duduk termenung.
"Ngalamun Mas. Eh, mata kenapa tuh?," Aku bertanya pada Mas Henri yang terlihat mata kanannya memerah dan berair.
"Ya ini, gara gara ini aku hampir telat kesini," Mas Henri menunjuk nunjuk matanya sendiri.
"Emang kenapa sih?," Aku bertanya sekali lagi.
__ADS_1
"Itu tadi kan di depanku ada mobil. Nah, pengendaranya tuh buang puntung rokok sembarangan. Masih nyala pula. Yah langsung apinya nyamber tuh kena mata. Gini deh," Mas Henri terlihat jengkel. Menunjukkan matanya yang mungkin saja iritasi.
"Eh, minta tolong dong, ke apotek beliin obat tetes mata biar mendingan. Perih nih," Mas Henri terlihat memelas. Menyodorkan selembar uang lima puluh ribuan.
"Iya deh," Aku menerima uang tersebut dan bergegas keluar ruang siar. Meskipun sebenarnya saat ini aku berencana untuk segera ke Rumah Sakit, menengok Bapak dan Ibuk. Namun, aku nggak tega juga melihat kondisinya Mas Henri.
Aku buru buru ke apotek depan studio, membeli obat tetes mata. Kemudian kembali ke ruang siar, membawakan obat yang Mas Henri minta.
"Ok, tengkiyu yah," Mas Henri mulai meneteskan obat di matanya. Aku tiduran di karpet dalam ruang siar. Aku merasa sedikit capek, beberapa kali menguap. Kok jadi ngantuk? Padahal aku berencana ke Rumah Sakit menengok Bapak dan Ibuk. Namun kantukku semakin menjadi jadi. Ditambah lagi saat ini Mas Henri sedang memutar lagu lagu pop indonesia lawas, karena memang program siarnya bingkai nostalgia. Semakin terasa berat saja nih mataku.
"Kamu mau tidur disini lagi to Bro?," Mas Henri bertanya padaku.
"Ah iya mas, tapi rencananya ini mau ke Rumah sakit lebih dulu. Tapi sekarang kok nguantuk banget ya. Piye iki?," Mataku semakin terasa berat.
"Tidur sajalah. Ke Rumah Sakitnya besok saja. Kayak e kamu lagi capek tuh," Mas Henri menyuruhku untuk tidur. Aku sudah di ambang batas antara dunia nyata dan dunia mimpi. Dan akhirnya secara perlahan, bulu mataku terlihat turun dan beberapa detik berikutnya aku tertidur, pulas dan nyaman.
* * *
Drrtt Drrtt Drrrttt
Sebuah telepon menggetarkan HP ku. Aku setengah sadar melihat jam di dinding ruang siar. Ternyata jam 6 pagi. Kulihat HP, nomor Lik Diran tertera di layar HP sedang memanggil.
"Hallo, assalamualaikum," Aku mengangkat telepon dan memberi salam terlebih dahulu.
"Dan, cepet ke rumah sakit Dan. Sekarang!," Lik Diran terdengar panik.
###
Tinggal beberapa chapter lagi RTS tamat lhoo
Jangan lupa Like, Coment dan Vote.
__ADS_1