
Mobil pick up Lik Diran melaju cukup kencang, tanpa mempedulikan jalanan yang penuh lubang. Beberapa kali aku terantuk, hendak menubruk dashboard mobil.
"Maaf yo Dan, agak kesusu (tergesa gesa) aku. Soale Bapakmu sakit, kamu ilang. Nek nggak cepet nyampek rumah aku khawatir Ibuk mu stres mikir sendirian nge drop nanti kesehatannya. Malah repot", Lik Diran ngomong sambil tetap menyetir mobilnya dengan kencang.
"Iya Lik", Aku menjawab lirih, memahami apa yang disampaikan Lik Diran.
Beberapa menit berikutnya pick up telah sampai di halaman rumah Lik Diran. Disusul Thor yang dinaiki pekerja Lik Diran. Aku bergegas turun dari mobil. Pekerja Lik Diran menyerahkan kunci Thor padaku, dan bergegas pulang.
Aku segera berlari, masuk rumah Lik Diran. Aku membuka pintu, Ibuk yang melihat kedatanganku langsung memelukku.
"Hoalah Lee . . . kamu kemana aja too, Ibuk khawatir kamu kenapa napa", Ibuk mendekapku erat.
"Aman Buk, aku sendiri juga nggak begitu mudheng kejadiannya. Yang penting aku sudah pulang utuh. . .he he", Aku mencoba bercanda, menenangkan Ibuk. Adikku setengah berlari ikut ikut an memelukku, memeluk pahaku lebih tepatnya. Karena tinggi adikku memang sepahaku. Aku tersenyum melihatnya.
"Buk, Bapak mana? Bapak sakit apa?", Aku celingak celinguk mencari cari sosok Bapak yang tak terlihat menyambutku. Ibuk melepas pelukannya.
"Bapakmu tadi itu telepon Paklik mu minta dijemput dari toko. Ternyata badannya puanas. Sama Paklik diajak ke dokter belum mau. Katanya mau tiduran saja besok sembuh. Sekarang Bapak sudah tidur di kamar. Ojo diganggu", Ibuk menjelaskan dengan sedikit menurunkan volume suaranya. Aku mengangguk faham.
"Tadi Ibuk panik. Nelepon kamu tak suruh cepet pulang soale pas siang tadi tuh Bapakmu sempet puanas banget, sampek mlilik, kejang kejang gitu. Tapi di kompres akhirnya mendingan", Ibuk menambahkan.
"Besok kita bawa ke Rumah Sakit Buk nek kayak gitu", Aku melangkah, mengintip ke dalam kamar. Bapak terlihat tidur dengan posisi miring berselimut sarung kotak kotak kumal.
"Ngomong ngomong Mbah Kung Kadir kemana Buk? Bapak sakit, terus heboh aku ilang, kok nggak nongol sama sekali?", Aku bertanya penasaran. Apa mungkin kakek tua itu memang benar benar nggak peduli pada anak dan cucunya?
__ADS_1
"Pagi tadi pas Pak likmu nyoba ngirim sarapan di rumah belakang, Mbah Kung sudah nggak ada di rumah. Entah pergi kemana. Sebenarnya Pak likmu itu ya khawatir, tapi ya gimana . . . tahu sendiri kan kamu, Mbah Kung mu itu datang dan hilang secara ajaib kayak gitu kok", Ibuk menjelaskan, dan memang benar kakek satu itu ajaib. Datang dan pergi nggak ada yang tahu lewat pintu mana. Mungkin dia ngantongi pintu kemana saja doraemon di sakunya.
"Dang bobok, istirahat sana. Eh, mandi dulu gih. Kucel bener wajahmu", Ibuk kembali ke mode Ibuk bawel suka ngomel.
"Kayak kulup kacang panjaangg", Aku menjawab, teringat dengan kalimat Krisna.
Aku segera mandi, membersihkan diri, ganti pakaian dan setelah itu merebahkan badanku di sofa. Lik Diran terlihat masuk ke dalam rumah membawa kresek besar, kemudian meletakkan kresek di meja depanku. Ternyata di dalam kresek ada makanan kesukaanku, bakso. Pak likku satu ini memang luar biasa pengertian.
"Yuk maem bareng", Lik Diran tersenyum padaku.
Aku segera beranjak menuju dapur. Mengambil mangkok, sendok dan garpu. Menuangkan bakso ke mangkok, membumbui dengan sambal banyak banyak, menyeruput kuahnya dan menggigit bakso nya, hmmm. . . rasanya . . . aku jadi lupa baru dikeroyok dan dikubur hidup hidup di dunia lain. Memang benar mengkonsumsi makanan favorit nan pedes ternyata mampu mengurangi kadar stres kita.
"Paakkkkk ", Ibuk tiba tiba saja menjerit dalam kamar. Aku tersentak kaget. Begitupun Lik Diran. Kami langsung berlari menuju sumber suara.
"Lik, ayok kita ke Rumah Sakit saja", Aku panik. Ibuk dan adik menangis.
"Ayok. Kita bopong Bapakmu Dan", Lik Diran menyetujui usulku.
Aku dan Lik Diran mencoba mengangkat Bapak. Lik Diran dari sisi kanan aku dari sisi kiri. Benar benar terasa berat dan kaku. Badan Bapak terasa benar benar panas. Kami membopongnya, dan masuk ke dalam mobil pick up Lik Diran. Lik Diran berada di depan kemudi, sementara aku duduk memeluk Bapak di sebelah Lik Diran. Agak sempit bagian depan pick up diisi tiga orang, namun nggak ada pilihan lain.
"Buk, Ibuk tenang saja di rumah. Aku tak ngobatne Bapak dulu ya", Aku mencoba menenangkan Ibuk.
"Tak SMS Bu Minah dulu biar malam ini tidur disini, nemenin mbak yu", Lik Diran mengambil HP nya, mengirim pesan pada Bu Minah. Bu Minah adalah isteri salah satu pekerja kepercayaan Lik Diran.
__ADS_1
"Mbak Yu,. .bentar lagi Bu Minah datang, aku dan Dani berangkat ya", Lik Diran langsung menyalakan mobilnya dan segera melesat menuju rumah sakit.
Diperjalanan, Bapak terus saya meracau, badannya panas. Namun kali ini matanya terpejam dan tidak kejang kejang lagi.
"Ini kenapa ya Lik? Nggak pernah seingatku Bapak sakit kayak gini", Aku membuka pembicaraan. Jalanan sudah sangat lengang, karena memang sudah malam.
"Mungkin kecapek an Dan. Tapi nggak dirasakan sama Bapakmu, dipaksakan untuk terus kerja. Capek badan dan pikiran juga sepertinya", Lik Diran menghela nafas.
"Bisa jadi sih", Aku masih memeluk Bapak, entah kenapa hatiku merasakan trenyuh. Wajah Bapak yang terlihat jelas dengan banyak kerutan di dahinya. Rambut yang sudah memutih, tulang pipi yang terlihat cekung. Tanpa kusadari, Bapak telah semakin tua. Betapa nggak perhatiannya aku sebagai anak sulungnya. Pernahkah aku bertanya, Bapak sudah makan? Bapak capek? Atau pernahkah aku menawarkan diri untuk memijat bahu dan punggung Bapak? Semua pertanyaan itu jawabannya adalah TIDAK. Beberapa bulir air mataku menetes tanpa sanggup kubendung.
"Tenang, sabar, Bapakmu kuat, pasti segera sembuh", Lik Diran menenangkan aku, mungkin dia melihatku yang menangis. Aku mengusap mata menggunakan punggung tangan kananku.
"Jeneng e Narsih. . . jeneng e Narsih (namanya Narsih, namanya Narsih)", Bapak meracau, kali ini jelas apa yang diucapkannya.
Aku dan Lik Diran bertukar pandang dalam diam. Siapa Narsih?
"Pa- Pak?", Aku mencoba memanggil Bapak, lirih.
"Narsih kon lungooo (suruh Narsih Pergi)", Bapak setengah berteriak, badannya kembali kejang. Aku memeluk erat erat badan Bapak. Lik Diran yang sedikit kaget, refleks menginjak rem dan menghentikan mobilnya.
"Kang eling Kang, eling (sadar Kang sadar)", Lik Diran ikut memegangi Bapak yang masih saja kejang kejang.
Aku menangis, memeluk badan Bapak yang terasa keras dan kaku. Beberapa menit setelahnya Bapak kembali tenang, Bapak terlihat seperti sedang tidur dan tidak lagi meracau. Lik Diran kembali menjalankan pick up nya. Kami bergegas menuju ke Rumah Sakit.
__ADS_1