
Hari berganti hari, aku mulai lupa dengan kejadian-kejadian mistis yang menimpaku. Pikiranku beberapa hari ini teralihkan oleh kegalauan, patah hati. Namun hari ini aku janjian dengan Lik Wo, yang katanya mau datang ke rumah. Meskipun sudah hampir satu bulan semenjak aku kecelakaan nggak ada kejadian yang aneh-aneh lagi, aku merasa aku nggak boleh terlena. Aku merasa perlu untuk memastikan bahwa rumahku ini baik-baik saja. Biar bagaimanapun mimpi ketika aku di Rumah Sakit waktu itu terasa sangat nyata. Aku masih sangat hafal dengan setiap detailnya. Aku merasa perlu untuk ngobrol dengan Lik Wo.
Suara motor terdengar di depan rumah. Kulihat Febi datang sendirian. Kali ini dia datang memakai kaos kuning lengan panjang dengan celana jeans dengan riasan wajah yang cukup menor. Jujur, sebenarnya gadis ini cantik dan manis. Banyak cowok di luar sana yang naksir padanya. Namun, bagiku dia belum bisa mengalahkan Erni di hatiku. Poin plus Erni bagiku adalah ke natural an nya. Erni tanpa dandanan pun akan terlihat sangat luar biasa. Kemarin aku sempat berpikir untuk mencoba lebih dekat dengan Febi untuk melupakan Erni, tapi . . .entahlah, hati ini masih sangat terikat dengan sosok Erni.
"Hei, kok sendirian?", tanyaku pada Febi, sebelum sempat dia mengucapkan salam.
"Lik Wo nanti nyusul", jawab Febi sambil nyelonong masuk ke ruang tamu.
"Belum tak suruh masuk lho", aku tersenyum, mringis.
"Lha kamu, ada tamu, bukannya disuruh masuk dulu, duduk dulu, malah nyari yang belum datang", jawab Febi pura-pura sewot.
__ADS_1
"Ya kan aku butuhnya sama Lik Wo Fee", aku terkekeh, entah kenapa kali ini aku ingin sedikit menggodanya.
"Lhoo, gitu ya, aku ndak dibutuhin nih? Aku tak pulang aja nek gitu?", Febi beranjak dari tempat duduknya, terlihat jengkel. Apa mungkin dia jengkel beneran?
Buru-buru aku meraih tangannya, takut dia marah beneran. Niatku kan cuma bercanda. Namun tarikan tanganku ternyata cukup kuat, hingga Febi tertarik dan terjatuh di pangkuanku. Kepalanya terantuk di dadaku. Tercium aroma rambut yang wangi. Sial, dadaku berdesir. Febi mendongak, kali ini pandangan kami bertemu, dengan jarak yang terlampau dekat.
Detak jantungnya terdengar di gendang telingaku. Kelihatannya dia sama kagetnya denganku. Momen yang seperti skenario FTV ini benar-benar di luar rencanaku. Apa yang mesti aku lakukan? Aku terdiam, mematung.
Tiba-tiba, Febi semakin mendekatkan wajahnya, dan. . .bibirnya menyentuh bibirku. Kali ini, jantungku rasanya mau meledak, darahku terpompa (bukan dengan pompa manual, tapi pake' diesel) dengan sangat cepat, momen yang benar-benar diluar dugaanku. Aku terkaget melotot, namun tak mampu menolaknya. Detik berikutnya mulai terasa, sentuhan bibirnya yang lembut dan. . .manis, entahlah, aku nggak bisa menggambarkannya. Febi memejamkan matanya.
"Daann??", panggilnya lirih, melepas ciumannya, namun tetap di pangkuanku.
__ADS_1
"Hmmm?", hanya itu suara yang bisa keluar dari tenggorokanku saat ini.
"Aku menyukaimu. . .", bisiknya lirih, beranjak dariku, beralih ke kursi tempat duduknya tadi.
Aku terdiam, membisu, mematung. Bodoh, bodoh kau Dani . .ayo jawab dia, tembak dia, gadis secantik ini menyukai pemuda nggak mbois macam kau, itu anugerah wahai Dani Bawana. . .ayo katakan, aku juga menyukaimuu. . .Kali ini suara hatiku berkecamuk. Namun di lubuk hatiku yang terdalam tetap mengatakan, sampaikan dulu perasaanmu pada Erni, jangan jadikan Febi pelarian atas kegagalan cintamu.
Kulihat Febi, kali ini dia tidak melihatku, dia sibuk memainkan HP nya. Mungkin, dia lega telah menyampaikan perasaanya padaku, dan mungkin. . .aku rasa aku juga perlu menyampaikan perasaanku kepada Erni terlebih dahulu, baru kemudian memberikan jawaban kepada Febi. Apakah seperti itu hal yang benar? Mungkin. . .entahlah . . .
"Feee?" aku memanggil Febi, pelan.
_______
__ADS_1