Rumah Di Tengah Sawah

Rumah Di Tengah Sawah
SURUP


__ADS_3

Jam empat sore, aku masih di depan microphone studio. Menikmati lagu pop Indonesia di senja seperti saat ini sebenarnya lumayan syahdu. Sayangnya suasana hatiku masih gundah gulana. Erni yang terkesan menjauh dariku seharian ini membuat mood ku berantakan. Aku lebih banyak memutar lagu daripada bersuara di jam siar saat ini.


Kriingg . . .Kriinggg . . .Kriiingggg


Telepon kantor berdering. Aku berjalan dengan gontai, mengambil gagang telpon dan menempelkan ke telingaku. Belum sempat aku bersuara, suara di seberang langsung terdengar nyaring.


"Daniii. . .kok radio isi nya lagu terus? Kamu nggak mau ngomong? Kenapa? Yang profesional dongg . . .", hardik suara di sana, kepala bagian marketing. Pasti pengiklan ada yang komplain ini tadi, pikirku.


"Maaf mbakk, aku lagi nggak enak badan", jawabku mencari alasan.

__ADS_1


"Kalo sekiranya sakit, ijin dong, biar digantiin yang lain, jangan kayak gini, banyak yang komplain!", masih dengan nada tinggi dan nyaring.


"Iya mbak, maaf . .", Tuutt. . .Tuutt . . .Tuuttt. . . kalimatku belum selesai telepon sudah tertutup.


Ya, memang aku yang salah sih. Untuk mengembalikan semangatku, aku butuh cuci muka. Aku berjalan menuju ke kamar mandi, masih dengan setengah menyeret langkah kaki. Sekembalinya dari kamar mandi, aku mengudara dengan mood yang masih belum membaik. Saat on air, ku buka request lagu jalur telepon.


Kriingg. . .Kriingg. . .Kriinggg


"Hallooo, selamat sore, dengan siapa dimana?", tanyaku ramah, masih dalam keadaan on air.

__ADS_1


Telepon hening. Tidak ada jawaban. Hanya ada suara seperti dedaunan kering bergesekan.


"Hallooo, silahkan request lagu atau nitip salam?", aku masih mencoba ramah. Telepon masih hening. Oke, fix, ini telepon iseng. Akupun menutup telepon tersebut.


Aku melanjutkan membacakan request dari SMS dan fanpage facebook, telepon berdering kembali. Aku angkat, hening kembali. Kejadian tersebut berlangsung sebanyak tiga kali. Aku benar-benar jengkel, kenapa disaat mood ku sedang berantakan seperti saat ini, ada pula telepon-telepon iseng semacam itu. Jam siarku selesai jam enam tepat. Setelah penyiar program berikutnya sudah datang, aku langsung bergegas pulang.


Di perjalanan pulang aku masih melamunkan bagaimana Erni cuek kepadaku tadi. Aku bingung, kalau aku jelaskan ke Erni bahwa aku membonceng Febi kemarin karena kami pergi ke rumah Lik Wo jelas itu akan membuatnya kecewa. Karena aku berbohong, berjanji untuk mengajak Erni jika aku ke rumah Lik Wo, nyatanya aku pergi berdua dengan Febi. Namun, jika aku tidak menjelaskannya, pasti Erni berpikir aku benar-benar sedang menjalin hubungan dengan Febi. Aku menjadi sedikit jengkel dengan Febi, kenapa dia nggak membantuku meluruskan kesalahpahaman ini. Dengan segala kejengkelan di hatiku, kutarik gas motorku lebih dalam. Tanpa kusadari motorku melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi.


Kulirik jam di pergelangan tangan kiriku. Jam enam lebih seperempat. Jalanan menuju rumahku terasa lengang. Jam segini, orang daerahku menyebutnya "surup". Pergantian antara siang dengan malam. Waktu dimana orang-orang lebih baik berdiam diri di rumah daripada bepergian. Tiba-tiba bulu kudukku berdiri. Area tengkuk dan sekitar leher terasa dingin. Aku merinding hebat. Ada yang nggak beres, pikirku. Berikutnya aku teringat "pageran" dari Lik Wo, berada di saku celanaku sebelah kiri. Kuraba, masih ada di sana. Namun aku teringat, sebuah keteledoran yang kulakukan. Saat aku ke kamar mandi untuk cuci muka di studio tadi, aku juga buang air kecil, namun aku lupa tidak melepas "pageran" itu terlebih dulu. Padahal itu adalah pantangan. Ah, sial.

__ADS_1


Tanpa sengaja aku melirik spion kanan motorku. Terlihat samar sosok laki-laki sedang beradu pandang denganku melalui kaca spion. Kelopak mata menghitam, dan bibir yang membiru. Jelas, ini bukan manusia. Sosok ini terlihat duduk nyaman di belakangku, seolah aku sedang memboncengnya. Aku coba menoleh kebelakang, tidak ada siapa-siapa. Naas bagiku, dengan kecepatan yang cukup tinggi, keseimbanganku terganggu, motorku oleng. Aku tidak dapat mengendalikan motorku, dan menabrak pembatas jalan. Aku terpelanting cukup tinggi dan terlempar ke semak semak. Suara badanku menghantam tanah terdengar nyaring di telingaku. Bersama dengan itu muncul suara tertawa laki-laki, serak. Mencoba mengingat suara itu, seperti suara yang membisikkan "wes wayah e" padaku beberapa waktu lalu. Aku pusing, badanku nggak bisa digerakkan, pandanganku mulai kabur dan hilang, aku tidak mampu mempertahankan kesadaranku.


 


__ADS_2