Rumah Di Tengah Sawah

Rumah Di Tengah Sawah
Erni yang menjauh, Febi yang mendekat??


__ADS_3

Akhirnya mata kuliah sosiologi kelar juga. Satu setengah jam berasa satu setengah abad. Kumis ku serasa memanjang sepuluh senti saking lamanya. Bukan karena mata kuliahnya ngebosenin atau dosennya garing. Melainkan karena satu setengah jam duduk di samping Erni dan dia tidak menggubrisku sama sekali. Seakan aku ini tidak ada.


"Err. . .emmm, bisa ngomong sebentar?" aku masih mencoba membangun obrolan dengan Erni sambil merapikan buku di mejaku.


"Lain kali ya Dann, aku lagi ada perlu hari ini", jawab Erni tanpa sedikitpun melihatku. Erni segera beranjak dari tempat duduknya dan pergi.


Kulihat Hasan beberapa bangku di depanku. Aku ingin menanyainya, dapat darimana dia foto aku berboncengan dengan Febi. Saat aku hendak memanggil Hasan, tiba-tiba Febi menepuk lenganku.


"Heii, jadi nraktir bakso nggak?", tanya Febi, masih dengan senyum manisnya.


"Ahh. iya. . .oke, gas lahh. .", jawabku sedikit tergagap.


Aku tunda mengintrogasi Hasan, aku harus memenuhi janjiku nraktir Febi dulu. Bagaimanapun aku berhutang budi padanya. Aku dan Febi berjalan meninggalkan ruang kelas, menuju kantin. Febi memesan bakso jumbo super pedas, sementara aku yang sebenarnya nggak mood untuk makan, memesan bakso campur biasa. Aku masih kepikiran dengan Erni. Erni terasa menjauhiku. Bukankah akhir-akhir ini dia terasa mendekat padaku? Bagaimana jika dengan gosip aku dengan Febi dia menutup dirinya untukku? Aahhhh, aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal.


"Dan? Daniii?? Heeiii. . .kamu kenapa?", Febi bertanya padaku sambil menguncang-guncangkan tanganku.

__ADS_1


"Hehee. .nggak pa pa Feee. .", jawabku cengengesan.


"Lha kamu, makan sambil bengong, kesambet nanti susah aku", Febi menggerutu.


"Sorry Fee. . .lagi nglamun aja, soalnya tadi anak-anak sibuk nge gosipin kita, aku jadi nggak enak", aku menjelaskan sambil mengaduk ngaduk mangkok bakso ku.


"Haallllaaahh. . .gitu aja kok mbok pikirin, cepet tua cepet jelek lho dirimu nek kayak gitu terus", jawab Febi cuek.


"Iya juga sih. . .tapi emang e kamu nggak ke ganggu digosipin kayak gitu?", aku bertanya, masih mengaduk-aduk mangkok baksoku.


"Biasa aja", jawab Febi singkat.


"Aku malah seneng kok di gosipin sama kamu", lanjut Febi, yang membuat aku tersedak. Terasa panas tenggorokanku, juga dadaku.


"Heemm, nggak usah pake keselek lah Dan, biasa aja, jangan dipikir serius", Febi mengelap bajunya yang terkena muncratan kuah bakso dari mulutku.

__ADS_1


"Aku tahu kamu suka sama Erni, omonganku tadi becanda kok", Febi melanjutkan kalimatnya dengan sedikit terkekeh.


Aku mengelap mulutku.


"Sorry Fee nyemburr. . .duh, becandamu gak seru deh, sakit tenggorokanku, panas pedes", aku ngedumel, Febi tertawa.


Febi mengambil tissue dan dengan cepat, cekatan mengelap mulutku. Dadaku bergetar. Sial, apakah Febi sedang mempermainkanku?


"Aku bisa sendiri", aku mengambil tissue dan mengelap mulutku sendiri. Mungkin saat ini wajahku terlihat memerah.


"Eh Fee, ngomong-ngomong aku nraktir kamu hari ini, sebagai ucapan terimakasih karena sudah mengajakku ke tempat Lik Wo.


Berkat "pageran" Lik Wo uripku tentrem lagi iki. Nggak ada yang ganggu-ganggu lagi, nggak ada yang aneh-aneh lagi", ucapku kali ini dengan bersungguh-sungguh.


"Oke lah Dan, namanya temen itu memang harus saling bantu membantu, dan syukurlah sekarang mata mu iku nggak kayak panda lagi", Febi melingkarkan telunjuk dan ibu jarinya di kedua matanya. Aku tersenyum, sedikit tertawa.

__ADS_1


Selesai makan, Febi pamit pulang lebih dulu, sementara aku ada jam siar di radio jam tiga nanti. Jadi aku masih malas beranjak dari kursi kantin, memandangi mahasiswa-mahasiswi yang berlalu lalang. Aku menarik nafas pelan dan menghabiskan sisa es teh ku yang terasa tidak manis lagi.


 


__ADS_2