Rumah Di Tengah Sawah

Rumah Di Tengah Sawah
Alasan sebuah persahabatan


__ADS_3

"Apakah Febi yang mencelakai Erni? Jawab aku Rul!", Aku mendesak Irul.


"Sumpah Dan, kalau perkara Erni aku nggak tahu. Febi nggak cerita apapun soal Erni", Irul bersumpah, terlihat dia tidak berbohong.


"Kamu ingat Rul, malam sebelum Erni ditemukan terjatuh di parkiran, kita ke kampus untuk memeriksa karena aku punya firasat buruk. Waktu itu tengah malam Febi beberapa kali meneleponku", Aku mengingat ingat kembali kejadian itu.


"Emm . . . ya aku ingat Dan. Namun sungguh, sumpah, suwer! aku nggak tahu apapun soal itu", Irul bersungguh sungguh. Aku menghela nafas.


"Darimana kamu tahu, kalau aku disuruh Febi untuk memasukkan mantra ke minumanmu Dan?", Irul kali ini balik bertanya padaku.


"Waktu itu aku menyusulmu ke toilet, karena aku khawatir kamu beneran sakit. Sama seperti saat ini, aku khawatir dengan keadaanmu. Dua kali sudah aku mengkhawatirkanmu dan dua kali juga aku merasa seperti kamu tipu. Dasar sialan!", Aku menggerutu, jengkel.


"Ngomong ngomong waktu itu kamu terlihat ambruk di parkiran, apa yang terjadi?", Aku sekali lagi mengingat ingat apa yang kulihat di parkiran Oslo steak kala itu.


"Ah iya, waktu itu Febi mendorongku dengan jari telunjuknya saja. Kuat banget, gila. Gendeng! Kalau kupikir pikir lagi, segala hal tentang cewek itu di luar nalar. Ngeri aku. . . Hiii", Irul geleng geleng kepala.


"Kamu dikejar kejar cewek, cantik sih tapi nggak waras", Irul sedikit terkekeh, seakan mengejekku.


"Sialan kamu Rul! Kamu sebenarnya juga sama saja. Berteman denganku karena ada maunya, ada kepentingannya. Kamu memang pantas bersama cewek sesat itu!", Aku jengkel, kesal bercampur aduk.


"Jangan naif Bro. Setiap hubungan antar manusia itu selalu dilandasi oleh faktor kepentingan. Hubungan dengan pasangan, hubungan percintaan, persahabatan selalu ada alasan dibaliknya. Contoh saja kenapa Febi suka sama kamu, pasti itu ada alasannya. Bahkan Bapakmu menikahi Ibukmu pun juga pasti ada alasannya. Entah itu cantik, pinter masak, perhatian atau. . .macam macam alasan lainnya. Bohong jika ada seseorang menjalin hubungan dengan orang lain nggak ada alasannya, nggak ada unsur kepentingannya. Karena manusia pada dasarnya selalu mementingkan keuntungannya sendiri. Memikirkan dirinya sendiri!", Irul tersenyum sinis padaku.


"Jangan samakan aku dengan orang macam dirimu. Ternyata kamu memandang orang lain dengan pikiran seperti itu ya Nyuk" Aku membantah argumen dari Irul. Sedikit kaget dengan pola pikir kunyuk satu ini.


"Terus? Kamu mau berteman denganku tanpa alasan? Tulus gitu? mbelgedheesss. . . he he he", Irul tertawa.


"Kamu mau berteman denganku pun mungkin karena aku kaya, aku loyal, aku orangnya enak untuk dimintai tolong, gitu kan Bro. It's okay, akui saja", Irul masih terkekeh, mengusap ngusap matanya yang berair saking lamanya dia tertawa.


"Akui saja lah Broo, nggak masalah. Semua temanku juga sama sepertimu kok", Irul melanjutkan tuduhannya.

__ADS_1


Wajahku merah padam mendengar itu semua. Tak kusangka Irul punya pikiran sepicik itu. Ya mungkin memang sebagian dari apa yang dia sampaikan, dia tuduhkan itu benar. Namun tak seharusnya dia blak blak an seperti ini. Kupikir setelah hari ini aku sudah tidak bisa lagi menganggap dia sahabat, ataupun temanku. Aku beranjak dari dudukku, hendak pergi dari tempat ini.


"Oke Rul, lusa kamu pindahan kan? Aku doakan selamat sampai tujuan, dan sukses di tempat barumu", Aku melangkah keluar, hanya itu yang bisa kusampaikan untuk perpisahan, "mantan sahabatku".


"Okay Broo. . . jaga dirimu juga", Irul membalas, terdengar dia melangkah kembali ke ruangan atas.


Aku menaiki Thor, memacunya dengan kecepatan tinggi. Tanpa terasa beberapa bulir air mataku menetes, entah apakah karena ada kesedihan di sudut hatiku atau hembusan angin yang terlampau kencang menerpa mataku.


Aku berbelok di jalan mayjend sungkono, aku memilih untuk menenangkan diri ke radio. Mau pulang pun enggan, mengingat aku sedang numpang tinggal di rumah Lik Diran. Mau ke kampus pun, sudah malas, sudah niat ingsun membolos hari ini.


Ternyata di studio ada Mas Henri, Amel, dan Krisna. Dengan kedatanganku formasi pekerja part time radio pesona lengkap sudah.


"Nggak janjian tapi bisa lengkap gini ya", Mas Henri tersenyum melihat kedatanganku.


"Aku hafal, kalau Mas Dani nggak waktunya ada jam siar terus mampir studio pasti lagi ada masalah", Krisna berlagak seperti cenayang, duduk di pinggiran sofa.


"Sok tehoongg. . . Lha emang, ngapain ini kok pada ngumpul?", Aku bertanya pada mereka bertiga.


"Aku siaran lah", Mas Henri melangkah masuk ke dalam ruang siar.


"Kamu ngapain Mel", Aku bertanya pada Amel, yang sama sekali nggak melirikku. Asyik dengan laptop dan kripik kentang di tangan kanannya.


"Nonton drakor lah, kalau di rumah adik adikku berisik, ngeganggu. Pindah kesini, ketemu kalian, lebih nge ganggu", Amel masih nggak menatap lawan bicaranya.


Aku menghel nafas, menjatuhkan pantatku di sofa.


"Lihat Mel, wajahnya Mas Dani. Tiap kesini selalu kayak gitu. Kayak kulup kacang panjang, layuuu", Krisna meledekku dengan cara bicaranya yang apa ya nyebutnya, luwes mungkin (terlampau luwes sih).


"Hmm hmm, penting nggak gelut lagi aja di sini. Gelut kalah an, temennya nih yang repot", Amel berbicara sambil tetap menatap laptop.

__ADS_1


"Ngomong ngomong, kalian mau temenan sama aku alasannya apa?", Aku bertanya, menatap langit langit berwarna putih yang sudah sedikit usang.


"Haahh? Pertanyaan apa itu mas? Kita itu nggak berteman, tapi soulmate . . . kikikikikik", Krisna tertawa nyaring, nyaris seperti tawa mbak mbak rambut panjang yang menerorku.


"Au ah. . . aku baru denger seseorang berkata bahwa setiap hubungan manusia itu, selalu ada alasan unsur kepentingan dibaliknya", Aku mengingat ingat apa yang diucapkan Irul tadi.


"Siapa yang ngomong kayak gitu? Suka bener deh", Krisna masih terus bercanda.


"Auwww", Krisna menjerit, pundaknya ditabok Amel dengan cukup keras.


"Danii Dani, ngapain sih terlalu mikirin kata orang. Koncoan ya koncoan, kalau merasa dimanfaatin ya jauhin aja, kalau ngerasa salah ya minta maaf, kalau merasa nyaman ya diteruskan. Bikin simple aja lah, ahh. Banyak mikir cepet sepuh", Amel bersuara, menggerutu tapi ada benarnya juga. Aku manggut manggut.


"Dah lah, ojo galau saja, nonton drakor po gimana? Obat galau", Amel tersenyum.


"Yang ceritanya seru gitu, apa judulnya?", Aku bertanya, penasaran.


"Ya semua seru Dan, ahh kamu nggak ngerti", Amel bersungut sungut.


Drrtt Drrtt Drrttt


HP ku bergetar, kulihat nomor Ibuk menelepon. Aku beranjak meninggalkan Amel dan Krisna, mencari tempat yang nggak berisik untuk menerima telepon.


"Haallo Buk, Assalamualaikum", Aku mengangkat telepon dan mengucap salam.


"Waalaikumsalam, Dani . . .kamu dimana Nak?", Ibuk bertanya, dari nada suaranya seperti sedang panik.


"Aku . . . lagi kuliah Buk", Aku berbohong pada Ibuk, karena memang tadi pas berangkat minta ijinnya mau kuliah.


"Nak, Bapakmu . . . ini tadi tiba tiba jatuh sakit. Kamu cepet pulang ya. . ."

__ADS_1


.... . ....


__ADS_2