
"Siapa Narsih Pak?", Aku bertanya pada Bapak, teringat dengan kalimat yang terus menerus diucapkan Bapak ketika suhu badannya sedang tinggi tadi malam. Bapak terlihat bingung mendengar pertanyaanku.
"Woiya Kang, tadi malam pas badanmu puanas, Kakang nyebut nama itu, mbok suruh lungo (pergi) gitu. Aku juga penasaran, emang e siapa sih Kang si Narti, eh Narsih?", Lik Diran ikut ikutan nimbrung bertanya.
"Aku juga nggak tahu, ingatanku samar samar", Bapak mengerutkan dahinya, mencoba mengingat ingat.
"Kayaknya sih tadi malam aku mimpi. Kayak tidur di kamar rumah, terus tiba tiba ada perempuan itu bangunin aku. Iya. . . dia menyebut dirinya Narsih", Bapak menceritakan mimpinya.
"Orangnya kayak apa Pak?", Aku mendesak ingin tahu, bisa jadi perempuan di mimpi Bapak itu ada hubungannya dengan mbak mbak rambut panjang yang beberapa kali menerorku.
"Aku lupa Dan. Kayaknya perempuan itu ngomong sesuatu sama Bapak, tapi aku juga lupa. Lagian itu kan mimpi, ngigau, karena badanku lagi panas. Jangan dipikir terlalu serius, itu hanya mimpi", Bapak menasehatiku.
"Pak, apa nggak sebaiknya kita pindah rumah saja?", Aku melanjutkan pertanyaanku.
"Dani, Bapakmu lagi sakit. Biar istirahat dulu. Jangan mbok ajak mikir macem macem dulu lah", Kali ini Lik Diran mengingatkanku, menasehatiku. Aku tersadar, aku mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan Lik Diran.
"Sudah Pak, pokoknya Bapak istirahat saja nggeh", Aku menyudahi pertanyaan pertanyaanku. Memberikan waktu pada Bapak untuk beristirahat. Bapak terlihat menata posisi tidurnya, dan memejamkan mata. Aku ikut duduk lesehan bareng Hasan dan Lik Diran.
"Lik, nanti Ibuk kesini. Sama pekerja ne njenengan bawa motorku. Aku nanti kuliah dulu", Aku berbisik pada Lik Diran, Hasan disebelahku ikut mendengarkan.
"Lha adikmu gimana?", Lik Diran bertanya padaku, dengan berbisik.
"Sama Bu Minah di rumah Lik, seneng kok", aku menjawab juga berbisik. Jadilah aktivitas saling berbisik, nggak mau mengganggu Bapak yang hendak tidur.
"Lha kuliah kenapa nggak bareng aku aja Dan?", Hasan membuka suara, cukup keras, tidak ikut berbisik.
"Sssttttt . . . ", Aku dan Lik Diran kompak meletakkan telunjuk di bibir. Hasan refleks menutup mulutnya memakai kedua tangan.
"Kuliahmu kenapa nggak bareng aku saja Dan?", Hasan mengulang pertanyaannya kembali, kali ini dengan berbisik.
"Lha mosok kamu ngantar aku bolak balik San? Lagian aku mau ke studio juga", Aku memberi penjelasan pada Hasan. Hasan manggut manggut mengerti.
__ADS_1
Bapak kelihatannya sudah tidur pulas. Mungkin sudah merasakan kondisi badannya membaik. Aku mengajak Hasan keluar untuk mencari udara segar. Kami duduk di taman dekat kantin Rumah Sakit.
"Ada tugas nggak sih hari ini?", Aku membuka percakapan, sambil mengingat ingat, tugas kuliah yang mungkin terlupa belum aku kerjakan.
"Nggak ada sih. Moga wae nanti jam kosong. Aku lagi males", Hasan ngomong dengan entengnya.
"Hilliihh, males kuliah mungkin gegara lagi ada problem sama Nita", Aku mengejek Hasan.
"Kok tau sih, jasit", Hasan memaki, ternyata dugaanku tepat.
"Ya itu kelemahan punya hubungan khusus dengan teman sekelas. Kalau pas mesra mesranya, kuliah sehari penuh pun betah. Kalau ada masalah, males masuk kelas", Aku menyampaikan teoriku dengan menggebu gebu.
"Sok tehoonggg luuu", Hasan menyanggah.
"Kamu pacaran saja belum. Sok mau nasehatin aku, preettt. . .", Hasan bersungut sungut, aku hanya terkekeh.
"Eh, kamu udah ketemu pemilik akun Sogo Girl?", Hasan tiba tiba bertanya padaku.
"Ngomong ngomong, Irul kemana sih? Jan nggak kelihatan batangnya. Eh, batang hidungnya maksudku", Hasan kembali menanyakan hal yang nggak mau aku bahas.
"Tauk tuh, semedi kali", aku menjawab asal asalan.
"Yok kita ke rumah Irul, nanti atau besok gitu. Aku khawatir jangan jangan lagi sakit tuh anak", Hasan mengajukan usul yang tentu saja akan kutolak. Percuma mengkhawatirkan manusia satu itu, buang buang waktu dan tenaga.
"Nggak usah, Irul sehat walafiat kok. Eh, emang e kamu ada masalah apa sama Nita? Kelihatan e mesra mesra aja tuh", Aku mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Ah. . . Engg. . . Anu, salah faham aja sih", Hasan terlihat gelagapan dengan pertanyaan dariku.
"Ha ha ha. . . kamu kelihatan gugup broo, wah kayaknya berantem sama Nita gara gara ulahmu nih", Aku tertawa.
"Kamu selingkuh jangan jangan", Aku menaikkan salah satu alisku.
__ADS_1
"Nggak lah. Ah, kenapa jadi ngintrogasi aku sih", Hasan bersungut sungut.
"Lagian kamu tuh belum traktiran, nggak ngomong ke temen juga kalau udah sama Nita", Aku melanjutkan mengolok olok Hasan.
"Nggak perlu pengumuman juga udah pada tahu", Hasan menjawab datar.
"Udah hampir jam sepuluh, aku tak balik dulu ya . . . ntar kuliah meski males he he ", Hasan melihat jam di HP nya.
"Ha ha. . . Oke, sampai ketemu di kampus", Aku menepuk nepuk punggung Hasan.
Setelah Hasan pulang, aku kembali ke kamar tempat Bapak dirawat. Ternyata sudah ada Ibuk disana. Sementara Lik Diran dan pekerjanya yang datang bareng Ibuk, pamit pulang terlebih dulu. Bapak cukup lelap tidurnya, belum tahu dengan kedatangan Ibuk.
"Buukk. . . Aku tak ke radio ya, mau numpang mandi di sana. Terus mau kuliah", Aku berbisik pada Ibuk.
"Iya, ngati ati, naik motor ojo ngebut ngebut", Ibuk berpesan padaku. Aku mengangguk mengacungkan dua jempol dan segera pergi keluar kamar.
Aku berjalan di lorong menuju tempat parkir, ketika tiba tiba perutku terasa nggak beres. Mungkin efek minum minuman bersoda dan nggak sarapan pagi tadi. Ahh . . . aku segera berlari kesetanan menuju toilet terdekat.
Masuk toilet, di dalamnya terdapat beberapa bilik. Yang ternyata semuanya kosong, nggak ada orang sama sekali. Tapi apesnya aku kebetulan toiletnya tipe duduk semua. Ah, kenapa. sih nggak disiapin yang jongkok. Aku nggak terbiasa, biasanya juga nongkrong di kali. Sekarang harus buang air dengan cara duduk manis, membuatku agak segan. Namun, perut sudah tidak bisa diajak kompromi. Aku langsung menghambur ke salah satu bilik, menutup dan menguncinya.
Beberapa saat terdengar bunyi berdebum, dari perutku. Setelah itu barulah aku sadar, toilet ini benar benar sepi dan sunyi. Aku menjadi agak takut juga. Aku harus buru buru, pikirku. Baru saja selesai, hendak membuka pintu bilik toilet, terdengar suara wanita bersenandung. Suara terdengar seakan tepat di depan pintu. Sial! Aku salah masuk toilet cewek kah?
Tok tok tok tok
Pintu di hadapanku diketuk pelan.
"Mas Dani. . .sampun (sudah)?", suara perempuan bertanya padaku. Suara yang merdu, namun langsung membuat bulu kudukku berdiri.
Apa yang harus kulakukan sekarang? Beberapa bulir keringat menetes, aku yang baru saja buang air merasakan kebelet buang air kecil (lagi). Plis deh, ngapain pake neror aku sampek ke toilet sihh. Kuputuskan untuk membuka pintu dan berniat berlari secepat mungkin keluar dari toilet.
Aku menghitung mundur dalam hati. 3, 2, 1 . . . Aku membuka pintu cepat. Dan ternyata tidak ada siapapun di depan pintu. Aku langsung berlari tunggang langgang keluar dari toilet. Aahhhh . . .
__ADS_1