Rumah Di Tengah Sawah

Rumah Di Tengah Sawah
Bongkar!


__ADS_3

Aku tersentak kaget ketika dibangunkan Amel pagi ini. Kulihat jam di dinding studio, jam 7 pagi. Sial! Aku bangun kesiangan. Seharusnya aku bangun lebih pagi. Hari ini kan rencananya Lik Diran dan pekerjanya mau ngebongkar rumah.


"Ah, Mel kok baru bangunin aku jam segini sih?," Aku menggerutu, menyalahkan Amel atas keteledoranku sendiri.


"Lhah, masih untung tak bangunin. Nggak terimakasih malah nyemprot. . .Wooh, dasar!," Amel bersungut sungut tak terima.


"Lha bukan e jadwal siarmu dari setengah 6 pagi Mel. Kenapa nggak daritadi bangunin aku. Ah, . .," Aku masih melanjutkan melampiaskan kekesalanku pada Amel.


"Eemm, ya aku tadi datang telat sih. Udah hampir jam 6. . .he he," Amel tertawa sendiri.


"Eh, lagian kan mana ngerti aku, kalau kamu mau bangun pagi. Lagian salahmu sendiri juga, siapa suruh molor kayak orang modar," Amel kembali bersungut sungut.


"Ah, males aku ngomong sama kamu Dan," Amel beranjak dari sofa tempat tidurku kemudian masuk ke dalam ruang siar.


Aku mengucek ngucek mataku, beberapa butir belek rontok dari sana (jorok sumpah). Aku melipat sarung dan memasukkanya ke dalam loker. Setengah berlari aku menuju kamar mandi. Untuk mempersingkat waktu kuputuskan untuk nggak mandi pagi ini. Aku gosok gigi, mencuci muka dan mengucek ngucek mata. Terakhir, aku menepuk nepuk kedua pipiku agar terasa lebih segar dan nggak ngantuk.


Aku bergegas, nangkring di atas jok si "Thor", memanasinya sebentar, lalu meluncur dengan kecepatan tinggi. Setelah sekian lama akhirnya hari ini aku akan pulang ke rumah. Jalanan cukup rame di jam sekarang. Jam sibuk, waktunya orang orang berangkat kerja. Namun ketika sudah keluar dari pusat kota jalanan mulai lancar, masuk jalan kecamatan kencana semakin lancar, dan ketika masuk jalan desa karang jalanan lengang, sepi, bebas hambatan.


Setelah melewati rumah rumah yang berjejer, menyeberang i jembatan dan persawahan, sampailah aku di rumah yang masih selalu aku rindukan. Rumah yang telah menemani aku selama hampir dua puluh tahun. Rumah yang menjadi saksi bagaimana aku belajar merangkak, berdiri, berlari, belajar berbicara, mengeja, bernyanyi. Ahh, aku merasa sedikit sentimentil saat ini.


Mobil pick up ber stiker Cinta ditolak Dukun bertindak telah terparkir gagah di halaman rumah. Beberapa orang terlihat menikmati kopi dan gorengan sambil bercengkerama di teras depan. Sementara Lik Wo keluar dari dalam rumah. Melihatku datang, buru buru dia berjalan mendekat.


"Darimana saja sih? Ditungguin lho daritadi . .,"Lik Wo melihat jam tangannya. Aku pun ikut ikutan melihat jam tanganku. Jam delapan kurang seperempat.


"Maaf Lik, aku mbangkong (bangun kesiangan)," Aku garuk garuk kepala yang sebenarnya tak terasa gatal.

__ADS_1


"Gek cowok macam apa tuh, jam segini baru bangun. Rejekimu keburu dipatok ayam," Lik Diran menggerutu, aku hanya mampu senyum cengengesan.


"Yok, masuk rumah. Mana saja yang perlu dipindahin? Kalau alat alat elektronik sih sudah pasti, tapi lemari lemari apa iya dibawa semua? Lha wong sudah ada yang mau lapuk. Sudah mau rusak, nanti diangkat khawatirnya malah ambrol," Lik Diran mengajakku masuk rumah. Aku mengekor di belakang Lik Diran.


Aku melangkah ragu ragu masuk rumah. Debu dan sarang laba laba sudah cukup tebal menyambutku. Di tembok ruang tamu terlihat barisan semut merangkak dari lubang lantai keramik menuju plavon rumah. Semut merah kecil kecil, aku hafal jenis semut ini kalau menggigit sakitnya luar biasa. Beberapa bagian plavon terlihat berjamur.


Praaanggggg


Suara benda jatuh mengagetkan aku dan Lik Diran. Suara berasal dari dalam kamar tengah, kamar Ibuk. Aku dan Lik Diran bergegas menuju kamar. Saat pintu kamar kubuka, terlihat sebuah figura berisi sebuah foto jatuh ke lantai. Seharusnya foto itu terpasang di tembok. Pecahan kaca berserakan, aku dan Lik Diran berjalan setengah berjinjit agar tidak terkena pecahan kaca.


Aku mengamati foto yang terjatuh. Ternyata itu adalah foto Bapak. Sementara foto Ibuk masih kokoh tertancap di tembok. Aku mengambil foto Bapak, menyingkirkan dan membuang pecahan pecahan kaca yang menempel.


"Auuww," Pecahan kaca menusuk ujung jari telunjukku. Darah menetes dari luka yang terbuka.


"Lhah, ngati ati Dan," Lik Diran memberi peringatan yang telat.


"Iya Lik," Aku mengangguk dan meletakkan foto di atas meja kamar.


Aku dan Lik Diran terdiam sesaat, mungkin firasat buruk sama sama kami rasakan. Namun, kami nggak mau membahasnya. Firasat hanyalah sebuah perasaan yang seolah olah memberitahu kejadian di masa mendatang, namun terkadang juga dipengaruhi oleh suasana hati orang tersebut. Aku harus berpikir positif, singkirkan praduga buruk dan perbanyak berdoa.


"Dan, ayo kita keluar," Lik Diran memecah keheningan. Aku mengangguk setuju.


Setelah beberapa saat, membuka lemari, laci dan memeriksa semua ruangan aku duduk di teras bersama Lik Diran dan para pekerjanya.


"Lik, nanti lemari yang di depan tv itu yang di boyong. Isinya surat surat, ijasah dan yang penting penting di situ semua. Lemarinya juga masih kokoh. Terus meja di kamarku itu juga. Foto foto, hiasan dinding jangan lupa," Aku beberapa kali bersin karena memang banyak debu beterbangan di dalam rumah.

__ADS_1


"Iya, sementara itu dulu ya?" Lik Diran bertanya memastikan. Aku mengangguk mantap.


"Oiya Lik, ini nanti apa langsung dibongkar semua to?," Aku menatap Lik Diran, dalam hati kecilku ada sedikit keraguan dan rasa sedih harus melihat rumah ini dirobohkan. Mungkin memang benar bahwa harta benda bisa dicari, rumah bisa dibuat dan dibangun lagi. Namun kenangan di dalamnya tentu tak akan kembali.


"Kita pindahin dulu barang barangmu tadi. Nah habis itu nanti baru mulai mbongkar. Rencana sih bagian belakang dulu, kamar mandi sama dapur, kita ambil genteng sama kayu kayu nya. Gimana menurutmu Dan?," Lik Diran balik menatapku.


"Iya aku manut," Aku menjawab pasrah. Apapun itu, yang penting Bapak sehat dulu, sembuh dulu.


Memindahkan barang barang elektronik, lemari dan beberapa barang lainnya membutuhkan waktu yang cukup lama ternyata. Sekitar jam 10 baru selesai proses memindahkan barang barang dari rumah ini ke rumah Lik Diran.


Para pekerja Lik Diran berpindah ke bagian belakang rumah. Mereka terlebih dahulu membongkar kamar mandi. Bagian yang paling belakang terpisah dari bangunan rumah utama. Atap asbes di angkat dan diboyong ke halaman depan. Kayu penyangga atap yang terbuat dari pohon sengon juga diangkat dan dipindahkan.


"Aarrrgghhhh," salah satu pekerja Lik Diran berteriak kesakitan. Semua orang menoleh ke sumber suara. Seorang pekerja terlihat duduk di tanah memegangi kakinya.


"Ada apa?," Lik Diran bertanya, panik.


"Ada ular hitam pak, nggigit betis saya," Pekerja Lik Diran menjawab serta menunjukkan betisnya yang terlihat luka bekas gigitan reptil.


"Pak, Pak. . . Ada banyak serangga dari dalam tanah," pekerja Lik Diran yang lain berteriak teriak, berada tak jauh dari pekerja yang baru tergigit ular.


"Hah? Serangga apa?," Lik Diran bertanya setengah membentak. Aku penasaran, ikut mendekat dan melihat. Ternyata dari dalam tanah, bermunculan canthang balung (sejenis semut dengan kepala besar mirip rayap), kelabang, kalajengking, lipan, kaki seribu dan beberapa serangga lain. Semut merah juga terlihat menggunung dari sudut yang lain. Bulu halus dilenganku berdiri, aku merasa jijik dan ngeri.


"Ayok kita bawa Manto ke Rumah Sakit dulu. Hentikan dulu mbongkar rumah e," Lik Diran memberi komando pada para pekerjanya. Sementara pekerjanya yang tergigit ular, Pak Manto, sedang mengerang kesakitan.


"Hei kalian! Ayoo, bantu angkat Manto. . . cepeettt," Lik Diran berteriak teriak kepada para pekerjanya, karena sebagian besar terbengong bengong, tak bergeming.

__ADS_1


Akupun demikian, hanya mampu terdiam dan terbengong bengong. Aku merasa heran dan aneh. Aku merasa seolah olah rumah ini menolak untuk dirobohkan.


__ADS_2