Rumah Di Tengah Sawah

Rumah Di Tengah Sawah
Kunjungan Lik Wo


__ADS_3

Hari ini berakhir tanpa ada kejelasan kenapa Lik Wo nggak jadi berkunjung ke rumah. Febi juga tidak menghubungiku sama sekali. Sehabis waktu maghrib, aku masih bermalas-malasan di dalam kamar. Kurebahkan badanku di kasur yang kali ini memakai sprei bermotif pulkadot, pasti ibuk yang ngganti sprei lusuh sebelumnya, aku nggak terlalu peduli. Kusumpalkan earphone ke telingaku. Kuputar lagu favorit di HP ku. Bergumam menyanyikan lagu sambil memejamkan mata.


Biarkan aku menjaga perasaan ini


Menjaga segenap cinta yang telah kau beri


Engkau pergi aku tak kan pergi


Kau menjauh aku tak kan jauh


Sejujurnya diriku masih mengharapkanmu


Tok . . .Tok . . .Tokkk


Samar-samar terdengar suara pintu depan diketuk. Kulepas earphone di telingaku, kutajamkan pendengaranku.


"Kulonuwuunn. . .", terdengar jelas suara orang di depan pintu.


Aku bergegas keluar kamar, dan membuka pintu depan. Ternyata. . .Lik Wo yang datang.


"Monggoo Lik . . .", Aku mempersilahkan masuk, tamu yang kutunggu dari siang tadi


"Nak Dani, kita duduk di luar saja nggeh", Lik Wo membuka suara, datar. Sekilas kuamati, Lik Wo terlihat lebih pucat dari terakhir kali kita bertemu. Mungkinkah beliau sakit?


"Kenapa nggak masuk Lik, di luar asrep lho", Aku mencoba membujuk Lik Wo untuk masuk ke dalam, karena memang saat ini udara terasa dingin.

__ADS_1


"Nggak usah, sebentar saja kok Lee", Lik Wo berucap, datar.


Akhirnya aku mengalah, kami duduk di teras depan rumah.


"Lhoh, kesini naik apa Lik?", Aku bertanya ketika tidak terlihat motor Lik Wo di halaman rumah.


"Jalan kaki", jawabnya singkat, membuatku sedikit bingung, jalan kaki? Pantas saja seharian aku tunggu nggak datang-datang.


"Tadi Febi menunggu njenengan lho Lik, belum ketemu Febi?" Pertanyaanku hanya dijawab gelengan kepala dari Lik Wo.


"Oh iya. .Lik Wo mau minum apa?" Lik Wo sekali lagi menggeleng, hening. Udara terasa semakin dingin. Padahal mungkin saat ini masih sekitar jam setengah tujuh malam.


"Itu nggak penting", Lik Wo membuka suara, datar.


Aku belum bisa mencerna maksud kalimat tersebut.


"Sebaiknya kamu dan keluargamu pergi Lee, jangan di sini. Terutama kamu Lee. . .", Lik Wo mengatakannya dengan wajah datar dan dingin, sedingin udara malam ini. Aku begidik, entahlah perasaanku nggak nyaman.


"Ke-kenapa Lik? Kok mendadak, tiba-tiba matur begitu? wonten nopo?", Aku memberanikan diri bertanya setengah berbisik.


Lik Wo mendadak menoleh padaku, melotot. Aku terkaget, aku menelan ludah, gugup. Apakah salah aku bertanya demikian? Hening. Baik aku maupun Lik Wo tidak ada yang bersuara. Hanya saling memandang. Aku merasa ngeri, ada apa ini? Kenapa Lik Wo terasa berbeda?


Detik berikutnya, Lik Wo tersenyum, lebar. Terlihat barisan gigi depannya yang menguning akibat terlalu banyak merokok. Aku semakin merasa aneh dan . . . ngeri.


"Kowe dadi bocah kok kakehan takon!", Lik Wo berkata penuh tekanan, namun dengan nada yang mengejek. Lagi, aku menelan ludah.

__ADS_1


"Ra sah kakehan tanya, cepet lungo!", kali ini Lik Wo setengah membentak, berdiri dari duduknya. Lik Wo melangkah hendak pergi. Aku ikut berdiri, menyusul Lik Wo. Aku tidak paham dengan situasi aneh saat ini.


"Itu saja yang pengen tak sampaikan, aku mau pulang", ucap Lik Wo memunggungiku.


"Ta-tapi Lik . .", aku tergagap, nggak ngerti.


Belum sempat aku melanjutkan kalimatku, secara tiba-tiba Lik Wo membalikkan badan, langsung mencengkeram kedua pundakku. Aku terkaget, kulihat Lik Wo melotot, dan mencengkeramku lebih erat lagi.


"LUNGO OOOOO!", Lik Wo berteriak serak dan mendorong badanku keras.


Gedabrukk . . .


Aku terjatuh. Aduh, sakit rasanya. Kubuka mata perlahan. Aku di dalam kamar? Earphone di telinga, dan aku tersungkur di bawah dipan tempatku rebahan. Aku bermimpi ternyata, sialan.


Drrttt . . .Drrttt . . .Drrttttt


Belum sempat aku bangun dari tempatku terjatuh, HP bergetar. Kuraih HP yang berada di atas kasur, Febi menelepon.


"Hallo", ucapku terlebih dahulu.


"Daannn. . .", suara Febi lirih sedikit terisak.


"Ada apa Fee? Kamu kok kayak nangis gitu?", Aku bertanya, khawatir.


"Lik Woo Daan. . .Lik Wo kecelakaan. . .hiks hiks", Febi terisak.

__ADS_1


Hah?! Aku terperangah, kaget.


_ _ _ _


__ADS_2