Rumah Di Tengah Sawah

Rumah Di Tengah Sawah
Pesan Bu Sumini


__ADS_3

Aku berbaring di sofa depan ruang siar. Badanku menggigil, suhu tubuhku lumayan panas. Setelah tiduran di mushola SPBU subuh tadi, jam tujuh pagi aku meluncur ke studio. Aku nggak pulang ke toko dulu, karena sekujur tubuhku lecet lecet dan ada beberapa lebam di wajah yang masih terlihat membiru. Aku nggak mau membuat Ibuk khawatir dan berpikir macem-macem. Anak laki nya yang sedari Taman Kanak-kanak nggak pernah berantem, tiba-tiba saja datang seperti habis bertarung dengan Jackie chan, tentu akan membuat Ibuk kaget. Lebih baik aku beristirahat di radio, begitu pikirku.


Saat ini yang sedang ngoceh di depan microphone si Krisna. Dia tadi sempat panik melihatku datang dalam keadaan baju basah, kotor dan penuh luka lecet. Untung saja di lokerku ada baju ganti, jadi aku sudah berganti baju, tiduran dalam keadaan bersih. Saat Krisna memutar iklan, aku minta tolong padanya untuk membelikan paracetamol di apotek depan studio.


"Aduh Broohh, kamu kenapa lagi sih? Setiap ketemu sama aku selalu benjut kayak gini", Krisna duduk di depanku, menyodorkan paracetamol pesananku.


"Ini . . .tadi pagi aku jatuh dari motor, nyemplung sawah", Jawabku ngasal.


"Motormu tak lihat bersih-bersih aja tuh, nggak ada bekas-bekas sawah apa lumpur gitu", Krisna nyerocos bertanya dengan nada bicaranya yang luwes nan lemes.


"Yang nyemplung ke sawah aku tok. Motor sih aman. Au ah jangan banyak tanya, badanku berasa dingin banget nih", Aku menyudahi wawancara Krisna, mengambil botol paracetamol dan menenggaknya menggunakan tutup botol.


"Kan belum makan broo, kok udah minum obat", Krisna geleng-geleng kepala.


Aku tak menggubrisnya, dan mencoba memejamkan mataku. Semoga kondisi badanku segera membaik. Nanti sore aku berencana menjenguk Erni. Dari kemarin aku belum sempat menengoknya.


* * *


Jam empat sore, aku sudah bebersih, menyisir rambutku di depan cermin dalam ruang siar. Aku merasa sudah lebih baik. Suhu badanku sudah normal, seperti manusia pada umumnya. Menyisakan hidungku yang terasa mampet, mungkin mau pilek. Wajarlah semalaman tidur di atas lumpur sawah.


"Makin hari kayaknya kowe kok kelihatan makin nggak sehat to Dan", Mas Henri yang saat ini sedang bertugas siar memperhatikanku.


"Nggak waras maksudmu mas?", Aku tersenyum, nyengir.

__ADS_1


"Ya itu juga sih, tapi kamu hari ini bener-bener kayak opo ya, kulup kangkung, ijo ijo lemeess", Mas Henri manggut-manggut.


"He he. . .kasih sambel pecel enak tuh", Aku terkekeh mendengar perumpamaan Mas Henri.


"Yaudah Mas aku duluan, mau njenguk temen di Rumah Sakit. Eh, yang siar malem siapa nanti Mas?", Aku bertanya pada Mas Henri yang nampak asyik menata lagu yang akan diputar.


"Emm, kayaknya Mas Iyon nanti pas bingkai nostalgia", Mas Henri melihat-lihat buku jadwal.


"Tolong nanti di pesen ya, pintunya jangan dikunci, ntar malem aku balik kesini lagi", Aku nyengir.


"Hah? Nginep sini lagi?", Mas Henri mengernyitkan dahi, aku mengangguk, nyengir lagi dan segera pergi. Aku menuju Rumah Sakit sambil berdoa semoga Erni sudah bangun kembali.


...* * *...


Sampai di Rumah Sakit, ternyata harapanku urung terwujud. Erni masih dalam perawatan. Meskipun kata dokter kondisinya sudah semakin membaik, namun dia masih juga belum sadarkan diri. Aku bersandar pada bangku di salah satu ujung lorong Rumah Sakit. Beberapa orang lalu lalang, dengan membawa ekspresi masing-masing. Ada yang nampak cemas, ada yang menangis, ada juga yang terlihat bahagia karena kesembuhan anggota keluarganya.


"Nak Dani? Ini nak Dani kan?", seorang perempuan menyapaku. Ternyata, Bu Sumini istrinya Lik Wo.


"Lhoh, Bu Sumini? Kok di sini?", Aku terkaget bertemu bu Sumini.


Oiya, kenapa aku bisa lupa dengan Lik Wo. Orang yang sempat menolongku, memberiku "pageran" , dan beliau harus mengalami kecelakaan ketika hendak ke rumahku. Bagaimana bisa aku terlupa tidak pernah menengoknya atau menanyakan kabarnya. Betapa berdosanya aku.


"Iya, ini lagi nebus obat untuk bojoku", Bu Sumini terlihat ramah, beda dengan terakhir kali pertemuan kami. Bu Sumini terlihat marah padaku waktu itu.

__ADS_1


"Lik Wo gimana kabarnya Bu? Maafkan saya atas kecelakaan Lik Wo. Dan maafkan saya yang tidak pernah datang untuk menjenguk", Aku tertunduk menyesal.


"Lhoo, bukan salahmu lho. Yah namanya juga musibah kan nggak ada yang tahu. Lik Wo sudah pulang ke rumah beberapa hari yang lalu, cukup sehat, tapi masih kesulitan berbicara, kata dokter ada kerusakan di pita suara karena benturan di leher. Tapi nggak pa pa, bojoku itu semangat orangnya, yakin bakalan cepet pulih", Bu Sumini menepuk-nepuk bahuku.


"Maafkan saya yang mungkin waktu itu terlihat menyalahkanmu atas kecelakaan e bojoku yo Nak. . .", Bu Sumini berkata tulus, bersungguh-sungguh. Aku mengangguk dan memahami apa yang disampaikan Bu Sumini.


"Nak, saya pengen pesen sama kamu", Bu Sumini menoleh kanan dan kiri. Aku ikutan toleh kanan dan kiri, bingung apa maksud dari Bu Sumini.


"Sebaiknya kamu jangan terlalu dekat sama Febi", Bu Sumini berbicara setengah berbisik.


"Memangnya kenapa Bu?", Aku sedikit kaget dengan perkataan Bu Sumini kali ini.


"Ya, anak itu punya kemampuan untuk melihat bahkan berkomunikasi dengan dunia "lain". Ada baiknya kamu jangan terlalu dekat dengannya. Tidak sewajarnya raga yang masih bernyawa terlibat terlalu dalam dengan dunia itu. Sedangkan nak Febi setahu saya setiap hari berkomunikasi dengan hal-hal semacam itu. Aku khawatir dia kenapa-kenapa dan itu juga bisa berimbas ke orang-orang di sekitarnya", Bu Sumini masih tetap dengan suara berbisik.


"Aku selalu eling dengan pesene bojoku, jangan terlalu percaya terhadap setiap apa yang kamu dengar dan dapatkan dari "dunia itu" karena bisa jadi itu merupakan tipu muslihat untuk menjebakmu", Bu Sumini menatapku, serius. Tengkukku terasa dingin, aku menelan ludah, pelan.


"Ngomong-ngomong Nak Dani tadi di sini sedang apa?", Bu Sumini mengalihkan pembicaraan.


"Emm anu, njenguk temen yang sakit Bu", Aku sedikit tergagap.


"Owalah, semoga cepet sembuh ya temen e. Saya mau balik dulu, kasihan nanti bojoku kalau tak tinggal lama-lama", Bu Sumini berpamitan, tersenyum padaku.


"Inggih Bu, hati-hati di jalan", Aku menjabat tangan Bu Sumini.

__ADS_1


Bu Sumini melangkah pergi meninggalkanku. Aku kembali meneguk minuman kaleng yang masih tetap saja terasa hambar. Langit perlahan-lahan meredup menandakan malam segera datang. Aku bergegas membuang kaleng minuman yang telah kosong ke tempat sampah. Aku agak ngeri juga jika harus duduk sendirian di lorong Rumah Sakit ini.


- - -


__ADS_2